
"Aban Leyi Baen catep amat sih Mamon." kata Balen menepuk Mamon saat Larry dan Mike masuki restaurant untuk sarapan. Nona langsung membesarkan matanya pelototi Balen.
"Napa sih Mamon? Maah-maah." kata Balen tanpa merasa bersalah, ia asik nikmati buah potong yang ada dipiring Kenan. Mulai ikuti gaya sarapan Papanya.
"Bingung ah bilangnya bagaimana." kata Nona pada Kenan yang hanya tertawa lihat kelakuan gadis kecilnya.
"Aban Leyiiii!!!" teriak Balen lambaikan pada Larry, Larry tersenyum lebar dan balas lambaikan tangan pada Balen. Diletakkannya kembali piringnya lalu hampiri Kenan dan Nona, menyalaminya. Sementara Mike sudah berkeliling mencari makanan yang diinginkannya, juga sibuk bertanya mana yang halal mana yang tidak.
"Nanta masih tidur Om?" tanya Larry pada Kenan.
"Masih, begadang dia semalam." jawab Kenan terkekeh.
"Suami siaga, siap-siap kalau punya istri begitu kamu Larry." kata Nona pada Larry.
"Doakan Mamon." jawab Larry terkekeh.
"In syaa Allah bertemu jodoh yang tepat, jangan terburu-buru." kata Kenan pada Larry.
"Bisa ya, bicara begitu. Nanta saja kalian buru-buru nikahkan." protes Nona pada suaminya.
"Itu kan Nanta juga mau." jawab Kenan terkekeh.
"Aku juga mau kok seperti Nanta menikah muda, tapi belum bertemu yang tepat seperti Om Kenan bilang." jawab Larry jadi tertawakan Nona dan Kenan.
"Pasti akan bertemu jika sudah waktunya." jawab Kenan bijaksana, pikirkan ia dan Nona dulu, tidak menyangka akan menikah lagi, dengan yang jauh lebih muda pula.
"Iya Om, Aamiin." Larry anggukan kepalanya.
"Balen makan apa? buah saja?" tanya Larry kemudian pada Balen yang dari tadi belum diajaknya bicara.
"Iya, Baen tatut ndak haal." jawabnya membuat semuanya terkekeh.
"Boleh kok makan yang lain, banyak yang halal." kata Nona pada anaknya.
"Ndak, matan buah aja." jawabnya menggelengkan kepala.
"Ichie mana Mamon?" tanya Larry pada Nona.
"Sama keluarganya Steve tuh." tunjuk Nona pada Richie yang sedang disuapi Ayu."
"Hahaha Selinnya tidak ada." Larry terbahak karena hanya ada Steve dan Ayu saja.
"Iya tuh padahal tidak ada Selin." jawab Nona gelengkan kepalanya.
"Sepertinya dekati calon mertua." jawab Kenan terbahak. Semuanya jadi ikut terbahak memandangi Richie.
"Apa sih?" tanya Balen bingung.
"Makan saja buahnya." kata Kenan pada Balen sambil tersenyum. Singkong Rebus jadi hanya meringis saja.
"Yah." jawabnya menurut tanpa mendebat Papon.
"Aku makan dulu Om, Tante." pamit Larry pada Kenan dan Nona karena sudah melihat Mike datang hampiri mereka.
"Sini Mike." tunjuk Larry pada meja dekat Nona dan Kenan. Mike letakkan makanannya dimeja tersebut lalu salami Kenan dan Nona. Larry berlalu tinggalkan mereka.
"Baen..." sapanya mengacak anak rambut Balen.
"Aban matan apa?" tanya Balen pada Mike.
"Nasi goreng." tunjuk Mike pada makanannya.
"Haal?" tanya Balen ingin tahu. Mike tertawa anggukan kepalanya.
"Pintar betul sih tahu mesti tanya halal apa tidak." kata Mike pada Balen.
"Ncusss biangna ditu, talo matan tana duu haal ndak." jawabnya, rupanya dengar ocehan kedua Ncusss dirumah. Kenan dan Nona tertawa saja mendengarnya.
"Nanti siang kita semua diundang makan Opa Santoso." kata Kenan pada Mike.
"Big boss ya Om." tanya Mike langsung semangat, dari dulu penasaran dengan rupa Opa Santoso yang tajir melintir tapi jarang tersorot media. Kenan anggukan kepalanya.
"Asik bisa bertemu juga akhirnya." jawab Mike tidak menutupi rasa senangnya.
"Aban Lutiii." teriak Balen panggil Lucky yang datang bersama Dania dan Winner, dibelakangnya menyusul Micko dan Lulu.
"Apa tuh?" tanya Balen tidak mengerti.
"Telur dadar bungkus isi daging atau mau telur orak-arik." Winner bantu menterjemahkan.
"Haal?" lagi-lagi itu yang ditanya, Kenan terbahak, Balen benar-benar menjaga makannya.
"Kalau halal mau?" tanya Kenan.
"Ndak, Baen tenyan matan buah." jawabnya. Kenapa juga tanya halal atau tidak kalau sudah kenyang.
"Ya sudah Abang pesan dulu ya." kata Lucky pada Balen.
"Aban janan upa tanain haal ndak." Balen ingatkan Lucky.
"Iya cantik." jawab Lucky tertawa. Balen langsung hidungnya kembang kempis dibilang cantik oleh Lucky. Winner ikuti Lucky mengambil sarapannya, sementara Dania duduk di bangku yang masih tersedia disebelah Nona.
"Papa dan Mama duduk disini saja." tunjuk Dania pada bangku kosong yang ada didekatnya.
"Iya." jawab Micko turuti kemauan putrinya.
"Kasihan Mas Nanta semalam tidak bisa tidur." kata Dania pada Kenan dan Nona.
"Biarkan saja sekarang dia tidur sampai jam sepuluh. Jam sebelas kita bersiap makan siang bersama keluarga Papi Mario. Opa dan Oma menunggu." kata Kenan pada Dania.
"Iya." jawab Dania, mengingat Nanta sudah cukup hanya dengan sarapan buah. Stok buah di Meja masih banyak. Tinggal Dania nanti pinjamkan pisau untuk potongi buah apel untuk suaminya.
"Dedekna tenapa?" tanya Balen pada Dania.
"Minta dielus terus baru tenang." jawab Dania.
"Oh, tanen sama Aban ya anakna." jawab Balen kalem. Seperti yang mengerti saja.
"Sok tahu ah." celutuk Mike yang sudah selesai nikmati nasi gorengnya tapi Larry belum juga muncul. Mike berdiri mencari keberadaan Larry, rupanya tertahan di meja Steve dan Ayu bersama Richie. Tampak Larry belum juga sarapan.
Doni dan Dona tidak ada kabarnya dari tadi, Mike sudah hubungi tapi tidak diangkat.
"Kamu dimana?" tanya Mike yang akhirnya hubungi Seiqa.
"Masih dikamar, Rumi masih tidur." jawab Seiqa melalui handphonenya.
"Sini sarapan, aku sudah di restaurant." ajak Mike pada Seiqa.
"Rumi?" tanya Seiqa bingung, ia sudah rapi dari tadi tapi Rumi tidak juga bergerak padahal sudah Seiqa bangunkan.
"Tadi malam apa dia keluar lagi?" tanya Mike pada Seiqa.
"Tidak, tapi ada yang antarkan sesuatu pada Rumi, aku tidak tahu." jawab Seiqa apa adanya.
"Ya sudah tinggalkan saja, nanti biar saja Mas Aditia yang bangunkan." kata Mike, pikirnya pasti Seiqa minta orang lain antarkan minuman semalam setelah diambil Larry botol minumnya.
"Oke." jawab Seiqa menurut, perutnya sudah lapar, lagi pula nanti ia harus pergi bertemu sahabatnya sesuai rencana. Mike menutup sambungan teleponnya sambil senyum senang.
"Om, Seiqa sebentar lagi turun." lapornya pada Micko.
"Lalu?" tanya Micko mengangkat alisnya.
"Katanya Om mau lamar Seiqa untuk aku." Mike tersenyum lebar, Micko langsung saja meringis.
"Melamar kan harusnya ke orang tuanya bukan ke anaknya." protes Lulu pada Mike.
"Iya, kamu bagaimana sih." Dania ikut protes.
"Memangnya kamu sudah bicara berdua?" tanya Micko pada Mike.
"Belum." jawab Mike menggaruk kepalanya. Bingung bagaimana mau bilang pada Seiqa tentang perasaannya.
"Jadi kamu mau Om yang sampaikan pada Seiqa kalau kamu berniat serius nikahi Seiqa?" tanya Micko tertawakan Mike.
"Apa boleh begitu?" tanya Mike polos.
"Tidak boleh!!!" jawab Dania cepat, Kenan dan Nona tertawakan Mike yang bingung tapi berharap.