I Love You Too

I Love You Too
Bukan hayalan



"Aban banun." Nanta terbangun karena Balen memukul wajahnya cukup keras, sepertinya kepintaran baru Balen saat berlibur di Malang memukul wajah, kemarin Ando, sekarang Nanta ikut merasakan. Nanta membuka perlahan bola matanya, tampak adiknya sudah cantik dan wangi, tapi kok wangi Dania, Nanta terkekeh pikirannya sudah ke Dania saja, jam berapa ini, rasanya baru saja tertidur sudah harus bangun lagi.


"Hmm..." Nanta tersenyum pada Balen dan mengulet, capeknya masih terasa, tapi harus kekampus pagi ini, jam 10 Nanta ada kelas. Nanta melihat jam di handphone, sudah pukul 8.40, ia buru-buru bangun dari kasurnya. Tadi habis sholat shubuh Nanta bermaksud merebahkan badannya sebentar, malah tertidur pulas.


"Tuiyah padi Aban." Balen mengingatkan Abangnya.


"Iya." jawab Nanta berlari ke kamar mandi meninggalkan Balen sendiri.


Setelah Nanta masuk kekamar mandi, Balen keluar kamar seperti orang dewasa ia menggelengkan kepalanya, tua sekali gayanya. Sampai di depan Mamon, Balen menghela nafas panjang, lebih ke arah ngos-ngosan sih.


"Sudah bangun Abangnya?" tanya Nona pada Balen, Kenan yang duduk disebelah Nona terkekeh melihat gaya sok tua Balen.


"Ladi mandi." jawab Balen duduk kepangkuan Kenan.


"Tania mana?" tanyanya dengan mata berkeliling menyapu ruangan.


"Lagi menyiapkan sarapan untuk Abang." jawab Nona terkikik.


"Baen bantuin ya." Balen berusaha turun dari pangkuan Kenan.


"Tidak usah, sama Papa saja, Papa kangen." Kenan memeluk gadis kecilnya.


"Papon butan Papa." protes Balen, Kenan terkekeh, ia lebih senang dipanggil Papa oleh anaknya, tapi Balen dari kecil tengil sekali tidak mau merubahnya.


"Iya-iya Papon." kata Kenan saat Balen memberontak ingin turun.


"Mau tuun, Papon." Balen membujuk Papon.


"Mau apa?" tanya Kenan.


"Bitin jus Aban." kata Balen, memikirkan sarapan untuk Abangnya.


"Loh, kan sudah dibikin Kakak Dania." Nona ikut menenangkan Balen.


"Nanti Aban ndak suta." sungut Balen sok tahu.


"Kalau Balen yang bikin memang Abang suka?" tanya Dania yang sudah meletakkan segelas jus untuk Nanta di meja makan, ia juga sedang minum jus saat ini.


"Suta." jawab Balen.


"Memang pernah bikinkan Abang jus?" tanya Kenan.


"Beum." Balen terkikik geli, bikin tambah gemas saja.


"Kamu ke kampus juga, Dan?" tanya Nona pada Dania.


"Iya Mamon, kuliah jam sepuluh." kata Dania pada Nona.


"Oh sama ya, sama Nanta."


"Sama sih, tapi sepertinya Mas Nanta ada dua mata kuliah deh dari pagi." kata Dania mengingat minggu lalu saat janjian dengan Nanta mengantar titipan Nek Pur.


Nanta keluar kamar sudah rapi dan sedikit pilek, sesekali ia menggaruk hidungnya yang gatal.


"Kamu kena flu?" tanya Kenan pada bujangnya.


"Sedikit, nanti juga hilang." jawab Nanta dan sedikit terkejut melihat Dania, ia lupa semalam membawa Dania pulang kesini.


"Seperti lihat hantu." kata Dania terkekeh.


"Aku lupa kamu menginap disini." kata Nanta ikut terkekeh.


"Aku ikut ya ke kampus." kata Dania kemudian. Nanta menganggukkan kepalanya. Langsung menuju meja makan, mengambil jus yang terletak disana dan meminumnya, jus yang sudah dibikin Dania, yakin saja itu milik Nanta karena biasanya Papa minum jus lebih pagi.


"Jus apa nih enak." tanya Nanta pada Nona.


"Dania yang bikin." kata Nona terkekeh.


"Wah kamu yang bikin jusnya, enak loh, mix ya?" tanya Nanta pada Dania.


"Iya, kamu suka?" Dania senang karena Nanta menyukainya, wajahnya tampak sumringah.


"Itu bisa buat steam cell terapi, jadi tidak perlu kesalon lagi." kata Dania promosi, ia dapat resep itu saat berada di London.


"Wah Mamon minta resepnya ya Dan." kata Nona tertarik.


"Nanti aku chat Mamon ya, beraneka ragam jus dengan khasiatnya." kata Dania pada Nona sedikit bangga, sempat kursus singkat saat di London dulu.


Dalam perjalanan ke kampus, Nanta fokus menyetir kendaraannya, ia tidak banyak bicara. Ini yang Dania tidak suka, Nanta dari kemarin tidak banyak bicara pada Dania, mungkin Nanta mulai menjaga jarak seperti keinginan Dania. Agak sedih rasanya, tapi lebih baik dari sekarang, dari pada nanti sudah terlanjur cinta tapi Nantanya tidak ada perasaan pada Dania.


"Aku turun disini saja." kata Dania memecahkan kesunyian membuat Nanta heran, mereka belum lagi sampai kampus.


"Kenapa?" tanya Nanta bingung.


"Aku mau pulang saja, rasanya capek kalau kuliah hari ini. Tidak apa kan bolos sehari." Dania tertawa dibuat seriang mungkin.


"Suka begitu kalau habis travel, apa lagi kemarin jadwal kita padat." kata Nanta terkekeh.


"Aku antar." kata Nanta tidak mau menurunkan Dania di pinggir jalan.


"Nanti Mas Nanta terlambat kekampus." kata Dania mengingat sudah pukul sembilan saat ini.


"Tidak apa, telat sedikit." jawab Nanta.


"Cari parkir kan susah jam segini." kata Dania lagi mengingatkan waktu Nanta akan habis untuk mencari parkir.


"Aku sudah punya tempat parkir khusus." jawab Nanta sedikit sombong.


"Ya sudah nanti jangan salahkan aku loh, kalau terlambat." kata Dania kemudian.


"Tidak, kalau Dosen marah aku kasih saja nomor handphone kamu." Nanta membercandai Dania, membuat Dania menarik nafas lega, Nanta kembali bersikap biasa, mungkin tadi lagi capek.


"Mas Nanta, maaf ya untuk yang kemarin di Malang, anggap saja rencana itu tidak pernah ada." kata Dania setelah Nanta memarkirkan kendaraannya di depan rumah Nek Pur.


"Maksudnya?" Nanta sedikit bingung, apa lagi nih, pikirnya.


"Anggap saja rencana perjodohan itu tidak pernah ada. Kita berteman seperti biasa saja. Aku tidak akan menjaga jarak, tapi aku juga tidak akan mengganggu Mas Nanta. Natural saja, saat waktunya kita bertemu, ya bertemu. Tidak bertemu berapa bulan pun ya tidak apa, teman kan tidak harus setiap hari bertemu, tidak harus setiap hari bertukar kabar." cerocos Dania panjang lebar, Nanta tersenyum saja mendengarnya.


"Berarti aku boleh mengantar atau menjemput Kamu kan?"


"Boleh saja, tapi tidak harus. Aku juga tidak harus menerima diantar atau dijemput Mas Nanta, ada kalanya aku lebih suka sendiri dari pada bersama teman." jawab Dania lugas.


"Jadi?"


"Yah aku akan kembali menjadi Dania sebenarnya, kemana-mana sendiri, serba mandiri, tidak bergantung sama orang lain. Cukup merepotkan saat kemarin sampai tadi malam aku merasa ketergantungan sama Mas Nanta." Dania terkekeh.


"Aku tidak masalah kamu mengandalkan aku." kata Nanta pada Dania.


"Aku yang masalah, kita tetap berteman kok." kata Dania terkekeh.


"Tapi kamu jaga jarak."


"Tidak jaga jarak, hanya mengandalkan Allah dan diri sendiri saja, seperti biasanya aku. Lupakan saja niat Papa, maafkan membuat Mas Nanta jadi berpikir keras, terima kasih sudah membantu aku bertemu Papa." kata Dania tersenyum dengan manis.


"Kok aku merasa kamu mengucapkan perpisahan ya, ini sama saja dengan jaga jarak." Nanta menghela nafas.


"Siapa yang ucapkan perpisahan sih. Sudah tuh Mas Nanta nanti telat." Dania turun dari Mobil, mengeluarkan koper dan pempek yang sudah beberapa kali keluar masuk kulkas.


"Dania..." Nanta memanggil Dania yang akan masuk kedalam rumah Nek Pur.


"Ya?" Dania menghentikan langkahnya dan menoleh pada Nanta.


"Kenalkan aku sama Mamamu, kita mulai dari Mama." kata Nanta pada Dania.


"Maksudnya?"


"Bukannya aku harus pendekatan dengan Mamamu. Minta restu agar diijinkan hidup bersama anaknya"


"Eh...!" Dania serasa mimpi, siapa yang bisa bantu mencubit pipinya, menunjukan kalau ini nyata, bukan hayalan Dania saja.