I Love You Too

I Love You Too
Bos



Semua beres ya, Ndo." kata Nanta pada Ando, mereka sudah membuka rekening bersama dan juga ke kantor Notaris. Meskipun belum punya kantor sendiri tapi keduanya memulai usaha mereka secara professional.


"Iya, Mobil gue juga sore ini laku, nanti orangnya langsung transfer ke rekening kita, Nah untuk stok mobil baru, kalau pembayaran sudah masuk jangan lupa lu transfer ke rekening yang gue chat itu ya." kata Ando pada Nanta. Nanta menganggukkan kepalanya, sudah tahu berapa nominal yang harus ia transfer.


"Mobil baru siapa yang ambil?" tanya Nanta.


"Gue lah."


"Perlu rekrut driver multifungsi tidak? Nanti kuliah dan kantor keteteran." Nanta kasihan pada sahabatnya.


"Jangan dulu, lagi pula mobil sambil dijual sambil gue pakai aktifitas juga kan." kata Ando pada sahabatnya itu.


"Kabari saja kalau sudah harus rekrut orang." kata Nanta pada sahabatnya, sebagai orang yang mengendalikan keuangan ia yang akan mengalokasikan dana untuk pegawai baru nantinya.


"Ya sudah gue balik ya, kasihan Dania menunggu di mobil." kata Nanta pada sahabatnya.


"Oke semua info gue kirim via email kita. Jadi tercatat semuanya." kata Ando lagi.


"Oke Bos." jawab Nanta terkekeh.


"Bosnya elu." kata Ando, Nanta menggelengkan kepalanya.


"Gue bagian keuangan saja, bergerak kalau ada arahan bos kan, lagi pula yang puter otak kan elu." jawab Nanta terbahak. Ando meninju bahu Nanta pelan sambil ikut tertawa. Terima saja dibilang bos oleh pemodal utama.


"Dan, terima kasih ya sudah support." kata Ando pada sahabat kecilnya.


"Kan aku cuma menunggu dimobil, sukses ya Kakak Ando dan suamiku." kata Dania pada keduanya.


"Doa kamu tuh yang paling ditunggu." jawab Nanta segera masuk Mobil.


"Salam buat Wilma, dua bulan lagi kan kalian menikah?" tanya Dania pada Ando.


"Iya bulan depan Wilma lulus sekolah bulan depannya langsung aku nikahi." Ando tersenyum lebar.


"Sudah tidak sabar jadi suami ya?" Nanta menggoda sahabatnya.


"Bukan lagi, rasanya diubun-ubun." jawab Ando membuat Nanta terbahak.


"Nanti tinggal dimana?" tanya Nanta pada sahabatnya.


"Setelah menikah? gantian saja dirumah Mamaku atau dirumah Mommy." jawab Ando menghela nafas.


"Kenapa? berat sekali kelihatannya."


"Sudah siapkan rumah kecil untuk kami tinggali setelah menikah, malah tidak diijinkan pindah, kedua orang tua berebut kami harus tinggal sama mereka." Ando menggelengkan kepalanya.


"Nikmati saja, gue sama Dania juga begitu. Nanti kalau sudah dirasa cukup waktu baru boleh pindah. Itupun harus tempati rumah Oma, Alhamdulillah." jawab Nanta


"Iya itu sih Alhamdulillah dong, tidak harus keluar duit beli rumah mewah." Ando tertawakan Nanta.


"Beda dong nyong, kalau beli sendiri kan punya sendiri, Tinggal di rumah Oma sama saja rasanya seperti menumpang." jawab Nanta menyampaikan apa yang dirasakannya.


"Iya juga ya, tapi tetap harus bersyukur."


"Iya gue bersyukur kok, elu juga makanya harus bersyukur." Nanta mengingatkan sahabatnya, lalu mulai melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan Ando yang hendak kembali ke Kantornya.


"Senang ya punya bisnis sama sahabat." kata Dania pada suaminya.


"Alhamdulillah." jawab Nanta tersenyum.


"Aku juga mau bisnis deh." kata Dania lagi


"Pikirkan dulu dedek bayinya, sekarang saja suka malas ke kampus." komentar Nanta mendengar keinginan istrinya.


"Aku mau bisnis yang bisa aku atur dari rumah, semua serba online." jawab Dania pada suaminya.


"Jualan online, kamu mau jualan apa?" tanya Nanta.


"Belum tahu, belum ketemu fashionku dimana." jawab Dania, Nanta terkekeh. Ingat dulu di Malang, Dania juga mau ikut kerja saat Nanta bilang ia akan bekerja membantu Ayah, sekarang Nanta merintis bisnis, istrinya pun ingin berbisnis.


"Ingat kamu." jawab Nanta terkekeh.


"Kenapa aku?"


"Lucu, selalu mau, kerja mau, bisnis mau." Nanta masih saja tertawa.


"Berarti kan aku punya kemauan." jawab Dania bangga.


"Iya tapi kuliah saja malas-malasan." Nanta melirik istrinya sambil tersenyum.


"Aku kan mau ikut Mas Nanta kemanapun." jawab Dania tersenyum manis.


"Iya bagaimana nanti kalau bekerja dan punya bisnis? sementara kamu maunya ikut terus."


"Hehehe ya sudah tidak jadi kalau begitu." Dania tertawa geli sendiri. Bagaimana ini, sebenarnya Dania punya cita-cita apa tidak sih? Dulu ingat cita-citanya cuma satu ingin keliling dunia, berarti harus punya duit banyak kan, makanya harus bekerja. Sekarang sudah punya suami, biar suami saja yang bekerja kalau begitu, aku mendoakan. Gantian Dania yang senyum-senyum sendiri dengan lamunannya.


"Ke rumah Papa dong, kangen sama Oma Misha." pinta Dania pada suaminya.


"Mau menginap sekalian?" Nanta menawarkan istrinya


"Boleh." Dania langsung nyengir lebar, senang diajak menginap dirumah Papanya.


"Bilang Papa dulu dong kalau mau menginap." kata Nanta lagi pada istrinya


"Aku telepon Papa Micko, Kamu telepon Papa Kenan." Dania membagi tugas. Nanta tertawa.


"Telepon Papa Micko saja biasanya selalu bersama Papa kan." kata Nanta ingat keduanya suka membahas pekerjaan bersama. Dania menuruti keinginan suaminya, ia menghubungi Papanya.


"Aku menginap dirumah Papa ya malam ini." ijin Dania pada Papa ketika Micko mengangkat teleponnya.


"Pakai minta ijin, kenapa ribut sama Nanta?" tanya Micko serius.


"Aku menginapnya sama Mas Nanta juga, Pa."


"Kamu sih pakai minta ijin Papa kan jadi buruk sangka." Micko terbahak.


"Mas Nanta suruh bilang dulu sama Papa." kata Dania jujur.


"Menginap ya menginap saja, itu kan rumahmu juga. Malah kalau tinggal disana selamanya Papa juga senang." kata Micko terkekeh.


"Mas Nanta mau bicara, Pa." kata Dania kemudian menyerahkan handphonenya pada Micko.


"Kalian mau ke Malang ya?" Micko langsung saja tanyakan itu, begitu mendengar suara Nanta.


"Iya Pa hari jumat dua hari saja." jawab Nanta pada Papa Micko.


"Jangan mendekat pada Kakek dan Nenek ya." Micko ingatkan Nanta dan Dania.


"Jadi bagaimana kalau mau bertemu?" tanya Nanta bingung, lagi pula kesempatan bertemu Kakek dan Nenek Dania mumpung lagi di Malang.


"Teleponan saja lah pakai handphone Opa atau Oma kamu."


"Pa masih belum beres ya Om Peter. Capek juga harus kucing-kucingan begini." kata Nanta pada Papa Micko, ia juga kasihan Dania tidak bisa bicara dengan Maya ditelepon. Kemarin saja saat di Abu Dhabi, itupun setiap bicara dengan Maya, Dania menangis. Maya jadi tidak mau menerima telepon dari Dania. Kalau begini terus Nanta terpikirkan untuk mengajak istrinya ke London, agak bisa langsung bertemu dengan Mamanya.


"Sedikit lagi, Boy. Setelah itu akan selesai dan tidak akan diganggu lagi." janji Micko pada Nanta.


"Iya Pa. Ada Papaku didekat Papa tidak?" tanya Nanta pada mertuanya.


"Ada..." Micko langsung menyerahkan handphone pada Kenan.


"Mau ijin menginap, Boy?" sama saja seperti Micko, Kenan pun main tembak langsung.


"Iya, satu malam saja Pa." kata Nanta pada Papanya


"Enak saja satu malam, tiga Malam kalian menginap, berangkat ke Malang dari rumah saja." teriak Micko karena tadi sengaja handphonenya dia loudspeaker.


"Mertuamu posesif, ikuti saja maunya dia." kata Kenan pada Anaknya, Micko tertawa menggelegar, senang sekali anak menantunya akan menginap selama tiga hari dirumahnya.