I Love You Too

I Love You Too
Lemon



Keesokan harinya begitu sampai di kantor, Kenan langsung menghampiri Tari diruangannya.


"Kamu yang minta Nanta hubungi saya?" tanya Kenan pada Tari yang tampak sibuk dengan berkas ditangannya, yang rencananya akan diletakkan di meja kerja Kenan.


"Hu uh." Tari hanya melihat Kenan sekilas lalu kembali sibuk memeriksa berkas tanpa melihat pada Kenan lagi.


"Apa kamu setuju Nanta pindah sekolah?"


"Kalau baik untuk Nanta, kenapa tidak?" kata Tari akhirnya fokus pada Kenan.


"Kamu tidak kesepian?" tanya Kenan mencari tahu.


"Aku bisa video call setiap hari." jawaban Tari diluar dugaan Kenan.


"Saya keberatan, saya baru saja dekat lagi dengan Nanta. Kalau kuliah di Jakarta tidak apa-apa. Tapi selesaikan dulu sekolahnya disini." tegas Kenan.


"Keberatan karena harus memindahkan sekolah Nanta?" tanya Tari tertawa melihat ekspresi Kenan.


"Bukan itu, saya baru saja menikmati kebersamaan kami." kata Kenan jujur, tak ingin jauh dari Nanta.


"Tolak saja kalau begitu. Aku ijinkan Nanta tinggal dengan Mas Kenan setelah kembali dari Jakarta nanti." Tari tersenyum memberikan solusi pada Kenan.


"Baik sekali." Kenan terkekeh mengacungkan jempolnya.


"Aku memang baik, kamu saja dulu tidak sadar." Tari mendelikkan matanya.


"Hei jangan memancing masa lalu, saya sudah punya istri." kata Kenan tengil membalas perkataan Tari tempo hari.


"Hahaha memangnya aku merayu Mas Kenan, aku juga sudah punya suami, Bagus lagi suamiku." kata Tari membanggakan suaminya.


"Memang suamimu namanya, Bagus." mereka tertawa bersama.


"Oh iya, Mas Kenan siap-siap, sebentar lagi Mbak Melly dari PT. Cipta datang ingin bertemu Mas Kenan." Nona mulai tampak serius.


"Dalam rangka apa? bukannya sudah selesai urusannya? Komplen tidak harus ke saya bukan?" cecar Kenan dengan pertanyaan.


"Mereka ingin mengajak kerja sama."


"Raymond saja yang menemui. Saya ada urusan."


"Aku sudah bilang jadwal Mas Kenan kosong hari ini.


"Kosong juga bukan berarti tidak ada urusan Tari, kamu ini yang benar saja. Biasanya juga Melly kamu yang urus, kenapa sekarang kasih ke saya?" Omel Kenan pada Tari.


"Dia hanya mau bicara dengan owner."


"Pak Dwi lagi di Jakarta, saya bukan owner." dengus Kenan kesal.


"Perwakilan owner kalau begitu." kata Tari menaikkan alisnya.


"Oh ada Raymond cucu Pak Dwi, jadi Raymond saja." Kenan memberi alasan, Tari tertawa dibuatnya.


"Banyak gaya sekali Papanya si Nanta ini sejak sudah menikah." Kenan terbahak mendengarnya.


"Mas Kenan, Aku hamil loh. Aku mungkin akan berhenti setelah melahirkan nanti."


"Wah selamat Tari, Nanta akan punya adik. Apa Nanta sudah tahu?"


"Belum kuberi tahu, nanti saja kalau sudah selesai bertanding."


"Berarti saya harus cari sekretaris baru. Minta HRD untuk rekrut dari sekarang, jadi kalau kamu berhenti sudah ada yang handel. Sekaligus memperingan tugas Ibu hamil."


"Ok kucarikan sekretaris laki-laki yang tampan rupawan." jawab Tari senang.


"Ck.. sudah mulai genit." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Bukan begitu, kalau sekretaris Mas Kenan tampan, klien seperti Melly tidak akan mengganggu Mas Kenan yang sudah beristri. Mereka pasti lebih memilih yang single toh. Kecuali memang suka dijadikan piaraan bos." Tari memberikan alasan berdasarkan pemikirannya sendiri.


"Ya sudah saya ikuti kamu. Tapi tolong katakan pada sekretaris baru nanti, jangan genit sama istri saya." kata Kenan tampak serius, gantian Tari yang menggelengkan kepalanya.


Kenan meninggalkan ruangan Tari, tapi ia berhenti didepan pintu, "Tari..." panggilnya pada Tari yang kembali sibuk dengan berkas yang ada. Tari mengangkat kepalanya melihat kearah pintu.


"Apa Nanta cerita tentang teman barunya?" tanya Kenan ingin tahu.


"Tidak." jawab Tari mengerutkan dahinya, Nanta memang tidak menceritakan tentang temannya pada Tari.


"Wilma, anak Liana dan Leo sepupu Kak Enji." kata Kenan menjelaskan.


"Oh Kak Liana, aku sempat bertemu sekali dirumah Kak Kiki dulu. Anaknya yang nomor dua ya? dulu masih bayi waktu aku ketemu Kak Liana." kata Tari yang rupanya mengenal Liana.


"Hahaha ada ada saja. Anak kita masih kecil, Wilma apa lagi. Iseng sekali Kak Enji." Tari tertawa geli.


"Kamu siap-siap, sepertinya Nanta suka dengan Wilma. Sampai ingin pindah sekolah ke Jakarta." kata Kenan pada Tari.


"Apa Nanta bilang suka pada Wilma?" tanya Tari penasaran, Kenan menggelengkan kepalanya.


"Tapi menurut saya, Nanta suka. Dia bilang Wilma orangnya asik." Kenan terkekeh mengulang kalimat Nanta. Tari tersenyum lebar mendengarnya.


"Jadi Mas Kenan tidak mau Nanta pindah sekolah karena Wilma?" tanya Tari memastikan. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Saya tidak mau Nanta bersikap bodoh." jawab Kenan pasti.


"Seperti Mas Kenan dulu?" kekeh Tari pada Kenan.


"Hmm..."


"Jadi sadar kalau dulu Mas Kenan bodoh? bagus lah." Tari kembali terkekeh. Kenan hanya bersedekap memandang Tari.


"Nanti akan aku bilang pada Nanta, kalau kuliah saja baru pindah ke Jakarta, sekarang selesaikan dulu sekolah di Malang. Seperti itu kan yang Bapak Kenan mau?" tanya Tari sambil tersenyum lebar. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Tari." Kenan menarik nafas lega meninggalkan Tari dan masuk kedalam ruangannya.


"Kamu kenapa disini? Om tidak lihat kamu masuk." Kenan tampak terkejut melihat Raymond yang sudah duduk manis di sofa dalam ruangan Kenan.


"Om tadi serius sekali sama Tante Tari. Jadi aku tunggu didalam saja." kata Raymond membolak balik majalah otomotif yang dibacanya. Senang sekali melihat Naka sahabatnya anak Enji dan Erwin ada di majalah tersebut.


"Ray, kamu kenal Wilma? teman baru Nanta." kata Kenan pada Raymond.


"Sepupunya Naka, Chico dan Arkana. Bocah tengil itu sering menginap dirumah Ame." kata Raymond tertawa sendiri mengingat ketengilan Wilma.


"Bocah?"


"Masih empat belas tahun, masih bocah kan Om." kekeh Raymond pada Kenan.


"Ck... Kak Enji mau menjodohkan anakku dengan bocah." Kenan menggelengkan kepalanya.


"Nanta juga masih bocah kan Om." Raymond kembali terkekeh.


"Biarkan saja mereka berteman, Wilma anaknya seru. Aku pikir, mungkin Kak Nona dulu seperti Wilma ya." kata Raymond mengingat Nanta juga semalam bilang begitu.


"Iya kalau berteman saja tidak apa-apa, Tapi Nanta semalam minta pindah sekolah ke Jakarta dengan alasan basket. Padahal disini juga bisa main basket." Keluh Kenan pada Raymond.


"Adikku jatuh cinta Om?" Raymond terbahak puas sekali.


"Mungkin, apalagi Kak Enji semalam bersorak bilang Nanta dan Wilma pacaran." dengus Kenan yang tampak resah.


"Om kaya tidak pernah mudah saja." Raymond terkekeh.


"Mana boleh pacaran Raymond, Nanta masih bocah."


"Hanya berteman Om, jangan berlebihan."


"Apa Om berlebihan?" tanya Kenan memastikan. Tapi jujur ia tampak khawatir.


"Iya, menurut aku berlebihan. Wajar saja kalau Nanta suka sama Wilma, paling juga cinta monyet. Syukur-syukur kalau berjodoh, berarti Nanta jadi saudara si kembar." Raymond santai saja menanggapi keresahan Kenan.


"Enak sekali kamu bicara Lemon. Seperti banyak pengalaman dengan wanita saja." Melihat Naka di majalah, Kenan jadi teringat panggilan Naka pada Raymond saat Raymond terlihat menyebalkan.


"Hahaha aku kan sama Om itu sebelas dua belas. Hanya aku beruntung langsung menikah dengan wanita yang memang aku cintai sedari kecil."


"Maksud kamu?"


"Yah kalau Om kan harus melewati cerita sedih yang cukup lama." Raymond kembali terbahak, membuat Kenan memiting leher keponakannya dan mereka tertawa bersama.


"Sombong sekali kamu Lemon!!!" Kenan menggelitiki leher Raymond yang berusaha menyelamatkan diri. Kalau ada klien yang masuk sudah dipastikan wibawa mereka akan hilang.


"Hei, kalian masih saja seperti ini. Tamunya sudah datang, mau disambut dimana?" kehebohan mereka berdua terhenti ketika Tari masuk kedalam ruangan dan meneriaki Bos dan asistennya.


"Di ruang meeting saja." kata Raymond yang sudah diberi tahu harus menemui Melly dan rekannya. Raymond pun berdiri membenarkan baju dan rambutnya yang sedikit kusut karena ulah Om kesayangannya.


"Ayo Om." ajak Raymond pada Kenan.


"Kamu saja." Kenan beranjak dari sofa menuju kursi kebesarannya.


"Silahkan." katanya merentangkan sebelah tangan kearah pintu, mengusir Raymond, kemudian tertawa puas saat Raymond keluar ruangan dengan wajah sedikit kesal.