
Seharian berkumpul, bercanda dan ngobrol ngalor ngidul bersama Wilma dan Ando, ditambah pesan makanan mulai dari rujak, gorengan dan Mie Ayam, makanan enak tapi ya gitu deh, dibilang sehat tidak, dibilang tidak sehat ya belum tentu juga.
"Gue balik ya, bokap sudah datang tuh." pamit Ando saat mobil Kenan memasuki garasi, Om Kenan sudah pulang kantor berarti sebentar lagi Nanta akan pergi acara keluarganya.
"Wah kalian kumpul disini, tidak jadi pergi kah?" tanya Kenan saat memasuki rumah melihat Nanta berempat duduk di karpet dengan banyak piring dan minuman berserakan dilantai.
"Tidak, kita kumpul saja disini." jawab Nanta sementara Ando dan Wilma menyalami Kenan.
"Ajak saja makan malam dirumah Ayah Eja." kata Kenan pada Nanta.
"Mau, ikut yuk. Kami makan malam dirumah Ayah malam ini, Bunda masak." kata Nanta pada sahabatnya. Ando memandang Wilma mengangkat alisnya meminta pendapat sudah pasti, ia takutnya Wilma akan dicari Mommy dan Daddynya.
"Ayo aku mau saja, tapi belum mandi." Wilma terkekeh.
"Bisa mandi disini sih, tapi kamu kan tidak bawa baju." kata Ando memandang Wilma.
"Kalau mau ke rumah Ame dulu, aku mandi disana. Bajuku banyak dirumah Ame." pinta Wilma pada Ando.
"Terserah kamu saja, aku sih bawa baju ganti." jawab Ando tersenyum.
"Kamu mandi dulu di sini, Ndo, setelah itu kalian berangkat duluan." Nanta memberi saran pada Ando dan Wilma, setelah dipikir-pikir apa yang Nanta bilang betul juga, Maka Ando pun mandi dan berganti pakaian, setelah badannya segar dan gantengnya bertambah, Ando pun mengantar Wilma ke rumah Ame, Eh Ando belum kenal Ame, jadi dag dig dug der, mengingat Ame sedang patah hati karena Nanta menikah dengan Dania bukan dengan Wilma ataupun Jelita.
"Kita bertemu dirumah Bunda ya." kata Wilma pada Nanta dan Dania, mereka pun pamit pada Kenan yang masih sibuk diruang kerjanya. Setelahnya giliran Nanta dan Dania yang bersiap mandi dan berganti pakaian. Asisten rumah tangga langsung sigap merapikan piring dan partnernya, yang tadi Nanta dan tamunya pakai untuk menemani mereka ngobrol ngalor ngidul.
"Pa, kita berangkat jam berapa?" tanya Nanta pada Papanya, mengintip ke ruang kerja yang memang Nanta dan Dania lewati.
"Kamu sudah sholat?" tanya Kenan pada Nanta.
"Sudah tadi sama Ando." jawab Nanta berdiri didepan pintu rumah kerja Kenan.
"Papa mandi dulu ya, setelah mandi baru kita jalan." jawab Kenan, Nanta pun mengangguk setuju.
"Ya sudah aku juga mandi deh. Satu jam atau setengah jam?" Nanta memastikan mengingat Papa masih bekerja.
"Satu jam saja Boy, santai saja."
"Papa juga masih sibuk kan, mau dua jam juga boleh." Nanta terkekeh.
"Jangan terlalu sore, adikmu sudah telepon Papa terus." Kenan menunjuk puluhan Miss called dari Nona, sudah dipastikan itu ulah Balen, karena tadi Kenan sempat menghubungi istrinya dan Balen yang menjawabnya, menanyakan keberadaan Papanya.
"Kok tidak telepon aku." Nanta sedikit heran tidak mendapat teror dari Balen.
"Papa bilang kamu sedang ada tamu, jangan diganggu." Kenan tertawa.
"Hahaha pantas saja handphoneku anteng." Nanta terbahak.
"Ya sudah aku siap-siap dulu Pa." kata Nanta kemudian menggandeng istrinya segera ke kamar karena mereka harus bersiap kerumah Ayah.
"Dania..." panggil Kenan pada menantunya.
"Iya, Pa." Dania dan Nanta menghentikan langkahnya menunggu apa yang mau Kenan katakan.
"Ini handphone dari Papa kamu, untuk komunikasi kamu dengan Kakek dan Nenek kamu di Malang. Jangan dipakai untuk menghubungi yang lain." Kenan menyampaikan pesan dari Micko.
"Hubungi aku boleh Pa?" tanya Nanta
"Kalau untuk nomor kamu di Amerika nanti boleh, tapi nomor Indonesia jangan." tegas Kenan.
"Berarti tidak boleh hubungi Mama pakai nomor ini ya?" tanya Dania pada mertuanya.
"Tidak boleh, hanya untuk Kakek dan Nenekmu, mulailah jalin komunikasi dengan mereka, kasihan sekali selama ini hanya berdua saja, Mama kamu jauh, cucu tidak kenal. Sedih sekali Papa membayangkan mereka. Kita sangat bersyukur bisa punya keluarga seperti sekarang."
"Tidak disalahkan juga karena kamu juga baru bertemu, tapi Papa minta perhatikan mereka."
"Iya Pa."
"Aku juga telepon Pa?" tanya Nanta.
"Ya pakai saja handphone itu." tunjuk Kenan.
"Kan besok aku sudah diasrama."
"Sementara jangan dulu kalau masih pakai nomor yang sekarang, Papa khawatir nomor mertua kamu diretas jadi merembet kekontak yang ada di handphonenya." Kenan menjelaskan.
"Apa bisa begitu, Pa?"
"Apa sih yang tidak bisa? kita berjaga-jaga saja. Kasih ketenangan untuk Kakek Nenek di masa tuanya."
"Iya, Pa. Aku kekamar dulu ya."
"Oke sayang." jawab Kenan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Mas Nanta, aku tidur dulu lima belas menit ya. Tadi kan asik ngobrol tidak jadi tidur." pinta Dania saat mereka sudah di dalam kamar. Nanta mengernyitkan hidungnya, istrinya yang hobby tidur ini pintar sekali memaksimalkan waktu.
"Ya sudah kamu tidur, aku mandi deh." Nanta gerak cepat, kalau ikut tidur juga kasihan Papa menunggu kelamaan. Bisa saja Nanta minta Papa berangkat duluan, tapi Nanta tidak tega kasihan sekali Papa sudah bela-belain pulang kerumah dulu demi menjemput Nanta, eh yakin sekali hehehe tapi Nanta yakin Papa sengaja menjemput Nanta, karena biasanya Papa akan langsung kerumah Ayah Eja sepulang dari kantor.
"Iya." jawab Dania sambil menguap. Ia membaringkan badannya dikasur dan segera terlelap seketika, kebanyakan makan tidak jelas seperti tadi membuat Dania mengantuk.
Selesai mandi Nanta melihat istrinya masih tertidur pulas, tidur saja cantik batin Nanta sambil tersenyum, tidak disangka sekarang dikamarnya sudah ada peri cantik yang menemaninya tidur. Nanta yang mandiri sudah mengambil pakaian yang akan dipakainya ke rumah Bunda. Celana jeans, tshirts dengan warna senada membuat Nanta terlihat semakin tampan, sayang Dania tidur jadi tidak bisa lihat betapa kegantengan suaminya bertambah setelah mandi.
"Sayang aku, bangun." Nanta berbisik ditelinga Dania, dekat sekali hampi-hampir menempel.
"Hmmm..." Dania menggeliat tapi matanya masih terpejam.
"Lima belas menit." bisik Nanta lagi mengecup dahi istrinya.
"Masih ngantuk." rengek Dania.
"Ish Papa menunggu." Nanta mengingatkan.
"Iya yah," Dania mengulet kemudian mengulurkan tangannya minta dibangunkan oleh suaminya.
"Besok tidak ada yang bangunkan aku seperti ini, seminggu dibikin seperti ini bikin aku limbung ketika Mas Nanta pergi jauh." keluh Dania dengan wajah sendu.
"Jangan begitu dong, kamu bikin aku berat untuk berangkat kalau begini." Nanta memeluk istrinya yang masih duduk di tempat tidur.
"Kenapa sih Mas Nanta mesti jadi Atlit?" lagi-lagi Dania mengeluh.
"Kenapa sih kamu mau menikah sama Atlit?" Nanta terkekeh menciumi istrinya.
"Hu hu, bodo ah." Dania jadi kesal sendiri tapi mau tidak mau tertawa ketika suaminya menggodanya dengan wajah yang dibuat selucu mungkin.
"Jahil begini bikin kangen tahu." Kata Dania lagi membuat Nanta kembali menciumi istrinya. Tapi tahu diri tidak berlebihan karena Papa menunggu, satu jam, ya hanya satu jam tadi Papa.
"Sayang, lima belas menit lagi limit waktu dari Papa." bisik Nanta pada istrinya, langsung saja Dania gerak cepat, ingat mertuanya tadi bilang jangan terlalu sore.
*Mau cerita dikit ya, seneng banget dibikin cover baru ama NovelToon untuk Novelku "Never Say Never." Tq NT dan semua yang udah bolak balik kesana kemari ya hahaha. Yang lucunya tiap kali nih karya muncul, aku jadi lupa kalau ini Novelku sendiri wkwkwk, efek cover baru, trus aku bingung nih kenapa cowoknya di cover ada dua sih wkwkwk, pas kebaca review baru ngeh oh iya, dasar aku.