
Hari senin, Kiki memulai kembali aktifitasnya sebagai mahasiswi, walaupun masih terasa lelah karena waktu akhir pekannya dipakai dengan banyak aktifitas, pagi ini Kiki terlihat lebih ceria.
"Kamu kuliah jam berapa Ki?" tanya Nina saat sarapan pagi.
"Jam sembilan aku berangkat ma, nanti Pak Min jemput." jawab Kiki, sudah seminggu ini Kiki rutin sarapan pagi dengan Jus Buah, begitu juga dengan Reza.
"Walaupun papa di Jakarta kamu tetap kekantor ya Ja, kamu sudah harus membiasakan diri, karena sebentar lagi kamu yang akan menjabat sebagai Presiden Direktur. Hari ini Papa mau istirahat dulu. Kalau ada yang penting, telepon aja." kata Dwi sambil menikmati hamburger bikinan Nina.
"Iya pa, apa ga kecepatan pa aku jadi Presdir, aku mau lanjut S2 kayanya Pa, Jadi aku seperti sekarang dulu ajalah, bantuin Papa."
"Kamu mau menunggu sampai kapan, Papa sudah perlu rileks liburan keliling dunia dengan Mama, menikmati masa tua kami sambil menunggu cucu. Kuliah kan kamu bisa atur waktu." jawab Dwi tersenyum penuh harap menatap anak menantunya.
"Cucu on process pa, harap bersabar, baru juga tiga minggu." sahut Reza mesem-mesem, sedang Kiki pura-pura tidak mendengar.
"Ki pulang kuliah temani Mama ke Mal ya, ada yang mau Mama beli." ajak Nina pada Kiki yang segera berpikir akan memakai sendal saja ke kampus hari ini, karena tak mau kaki keram dan lecet melanda lagi.
"Jangan dibikin capek ma, mau cucu kan?" bujuk Reza supaya Mama tak berlama-lama di Mal nya.
"Iya mama cuma mau beli baju kerja buat Kenan, biar ga kalah keren sama kamu Ja. Dia banyak yang suka di kantor kata Wulan." Wulan sekretaris Dwi di cabang malang, yang dijadikan sumber informasi oleh Nina.
"Jodohin sama Wulan aja Kenan Ma." Reza memberi ide. Nina segera menggeleng dan memonyongkan bibirnya.
"Jangan ajarin Mama." katanya sambil tersenyum simpul.
"Biar rajin masuk kantornya Ma." Reza tampak bersemangat. Dwi terkekeh menatap anak sulungnya.
"Kamu sudah kaya Biro jodoh Ja." kata Dwi masih terkekeh.
"Ya dari pada Mama pusing mikirin Kenan yang lagi galau."
"Nanti ada saatnya buat Kenan, biarkan dia fokus Kuliah dan belajar di kantor. Sudah banyak kemajuan papa lihat. Kalau masih memikirkan Sheila ya wajarlah, baru juga tiga minggu." Kata Dwi membalikkan ucapan Reza membuat mereka semua tertawa bersama.
"Aku berangkat ya Pa, Ma. Assalamualaikum." Reza menyalami Papa dan Mamanya dan berjalan menuju garasi di dampingi Kiki.
"Waalaikumusalaam." jawab Nina dan Dwi berbarengan. Sebelum naik ke mobil Reza mengecup pucuk kepala istrinya, Kiki pun memeluk suaminya dengan manja. Aktifitas rutin yang mereka lakukan beberapa minggu ini, setiap Reza berangkat kerja. Tapi hari ini Reza sedikit membungkuk dan mencium perut Kiki.
"Calon anak sholeh, Papa berangkat kerja dulu ya." Katanya sambil membelai perut Kiki. Ada sesuatu yang terasa menjalar ditubuh Kiki.
"Kak Eja, aku kan belum hamil." kata Kiki bersungut.
"Ga papa kan bisa jadi doa." jawab Reza kembali mengecup pucuk kepala Kiki dan segera masuk ke Mobil. Nina yang melihat aktifitas anak menantunya menggelengkan kepala.
"Kalah mesra kamu Pa." katanya menyolek dewi agar melihat pemandangan di garasi.
"Kurang mesra apa sih ma, anaknya sudah ganteng-ganteng gitu." Jawab Dwi sambil memeluk Nina yang berdiri disampingnya.
"Ih Papa apa hubungannya." Nina menepuk bahu suaminya. Dwi terbahak dan menarik tangan Nina hingga duduk dipangkuannya.
"Malu sama Kiki, Pa. Nanti dia risih loh."
"Ga papa, biar Kiki tau Reza itu meniru siapa." katanya sambil tertawa mengecup pipi istrinya.
"Duh Papa Mama aku jadi malu." Kata Kiki spontan sambil menutup matanya. Pantas aja Kak Eja begitu, pikirnya.
"Lihat kamu sama Reza barusan bikin Mama iri Ki. Katanya Papa kalah mesra sama Reza." jawaban Dwi membuat Nina dan Kiki tergelak.
"Aku siap-siap dulu ya Pa, Ma." Kiki ijin kekamarnya, meninggalkan Dwi dan Nina yang sedang bermesraan. Segera berganti baju sambil membuat video Endors yang tersisa sambil menunggu Pak Min menjemput.
Sampai dikamar Niat Kiki untuk berganti baju terhenti saat mendengar handphone berdering.
"Ya Cin. Gimana?" Rupanya Cindy yang meneleponnya.
"Bingung gue Ki."
"Sambutan Bokap Nyokap ke Andi lumayan hangat . Andi diajak makan bareng dirumah gue. Disuruh nginap dirumah, ga dikasih nginap di hotel. Tapi kenapa Andi pulangnya lebih cepat, ga sesuai rencana?"
"Lu ga tanya Andi?"
"Sudah, dia bilang ada urusan mendadak dan sampai sekarang Andi ga hubungi gue. Penasaran kan?"
"Iya sih, nanti ya gue tanya Kak Eja. Mungkin Andi cerita. Lu sabar-sabar aja. Gue kira ada cerita bahagia Cin, gue berharap banget lu jadi istrinya Kak Andi."
"Ga secepat itu juga Ki, kan perlu proses, lu aja sama Reza lumayan ga enak prosesnya. Memendam rasa." Cindy tertawa mengingat Kiki yang selalu curhat kalau habis ketemu Reza.
"Rese.. ya udah gue mau ke kampus dulu. Gue kabari secepatnya."
"Tengkiu darling i love you honey boney."
Kiki menutup sambungan teleponnya, dan langsung mengganti bajunya. Tak mandi lagi karena Kiki sudah mandi sebelum sholat subuh tadi. Memakai baju Endors yang terakhir diterimanya. Kiki tak menerima endorsan lagi sesuai permintaan suaminya. Sebenarnya sayang, tapi dari pada kualat melawan suami, lebih baik Kiki menurut. Toh Reza sudah memberikannya ATM yang isinya fantastis walaupun tak bisa digunakan membeli seisi Mal, tapi lebih dari cukup. Lebih banyak dari jumlah saldo ATM Kiki yang terkumpul selama menerima Endors.
Saat bersiap untuk membuat video endors layar handphone Kiki berkedip.
"Hari ini ada acara kah?" *Regina
"Pulang kuliah temani Mama ke Mal, Ikut Re?"
"Mauuu, bosan di rumah."
"Ya sudah nanti dijemput Pak Min, Ijin Kak Mario dulu.
Hahaha Kiki tertawa membayangkan, sekalian uji fisik Regina apakah sanggup melayani Mama keliling di Mal, pikirnya jahil.
"Reee, pakai flatshoes aja." Pesan Kiki untuk Rere diterima, Kiki tak mau kaki Rere keram dan lecet. Nanti kalau Mario minta pertanggung jawaban bagaimana.
"Iya, Mario tadi juga bilang begitu." pesan masuk dari Regina dibaca Kiki. Sepertinya Kak Mario cepat tanggap, langsung memperingati Rere, mungkin Kak Eja sudah cerita. Belum lagi mulai membuat Video, lagi-lagi dering telepon Kiki berbunyi. Siapa lagi, batin Kiki.
"Sombong amat sih, ga pernah telepon gue." Suara Wina terdengar nyaring ditelinga.
"Hmm kangen sama gue?" Kiki bergaya tengil.
"Mas Herman mau dengar lu nyanyi Jingle iklan lu. Kemarin cuma kedengaran sayup-sayup."
"Kedengaran dimana, kan lu ga datang, belum tayang juga iklannya."
"Mama Nina yang kirim video lu lagi shooting. Makanya kita mau dengar. Katanya itu ciptaan Reza."
"Ish sok tau, itu yang bikin rame-rame."
"Hmm istri Reza lu bukan sih, gue aja tau itu lirik Reza yang bikin, mungkin musik dan nadanya mereka rame-rame." Wina menjelaskan.
"Ntar deh gue tanya Kak Eja." Kiki mulai menyanyikan jingle iklannya kemarin. Sementara Ririn menitikkan air mata, terharu mendengar anaknya menyanyikan lagu yang dibuat suaminya. Mama Ririn memang suka melankolis. Padahal irama maupun lirik dari lagu tersebut sangatlah ceria tak ada sedih-sedihnya.
"Mama mana kak, gue kangen. Kok mas Herman ga kerja sih?" setelah bernyanyi Kiki mulai mencari Mama yang sangat dirindukannya, tanpa jeda memberondong Wina dengan banyak pertanyaan. Papa tak ditanya karena Kiki tau papa lagi ke kantor biasanya jam segini.
"Iya sayang, gimana kamu jadi ketemu Koka?"
"Jadi ma, kayanya Kak Koka lebih cocok jadi kakak aku, mirip banget kata teman-temanku. Kok kak Wina ga mirip aku Ma? ketuker ga tuh waktu mereka lahir?" Ocehan Kiki membuat Wina berteriak mengomel dan mereka akhirnya tertawa bersama.
"Gue pecat jadi Adik lu, Ki. Gue kan mirip Papa, Lu Mirip Mama. Kalau Koka mirip Mama juga ya wajarlah masih garis keturunannya."
"Penjelasan Anda diterima, anda lulus jadi kakak saya."
"Ish nyebelin istrinya Reza." Wina mematikan sambungan teleponnya, sepertinya ibu hamil ngambek. Kiki hanya tertawa sendiri sampai mengeluarkan air mata.