
Dania akhirnya berhasil pergi tanpa Richie. Mendengar suara Mamon yang menurutnya naik lima oktaf itu, Richie akhirnya masuk kedalam rumah dengan wajah tanpa ekspresi.
"Ndak jadi itut?" tanya Balen pada adiknya.
"Temana?" tanya Richie sok santai.
"Te umah satit." jawab Balen tertawakan Richie sambil menunjuk wajah adiknya. Ia tahu Ichie akal-akalan tadi.
"Tania te waung eit, Baen." jawab Richie ikut tertawa, mereka pun heboh tertawa bersama.
"Tepon Aban yuk." ajak Balen pada Richie. Ia pun mengambil handphone Mamon yang tergeletak di meja dan hubungi Abangnya.
"Hoaaa..." teriak keduanya saat wajah Nanta muncul pada layar.
"Helooowwww..." Nanta langsung saja menggoda kedua adiknya dengan wajah nyengir.
"Tania udah syampe beum?" tanya Richie, padahal belum juga lima menit keluar rumah.
"Belum dong, kan baru jalan dari rumah." jawab Nanta terkekeh.
"Aban, janan puang maam-maam ya. Besok naik sawat. Inat ndak?" pesan Balen pada Abangnya.
"Iya, begitu selesai acara Abang langsung pulang kok." jawab Nanta terkekeh.
"Puang sekaang aja." kata Balen lagi.
"Ish singkong rebus, acara baru mau mulai. Tuh lihat diluar ramai." kata Nanta pada Balen.
"Teja sampe ma'am inat tewada don (keluarga ya maksudnya)." hmm mulai bergaya ibu-ibu.
"Ingat apa?" Nanta tertawakan Balen.
"Tewada, nih ade'na dua oang ndak diajak." ocehnya membuat Nanta terbahak.
"Nih lagi urusin temannya dulu." Nanta menggeser kameranya pada Larry yang dari tadi cekikikan dengarkan Balen mengoceh.
"Baen..." panggil Larry tertawa.
"Tuh tatana teja tapi duduk aja duana." kata Balen gelengkan kepalanya.
"Ini memang lagi kerja." kata Larry tertawa.
"Tao teja janan duduk aja don." protes Balen, Dasar Ibu Balen minta di cubit pipinya.
"Harus bagaimana kalau kerja memangnya?" tanya Larry tanpa bosan ladeni ocehan Balen. Wajahnya terus saja tersenyum lebar bahkan tertawa.
"Jaan sana ambi matanan tasih oang." pikir Balen kalau kerja di restaurant layani tamu terima pesanan dan antar makanan saja.
"Oh itu sudah ada yang bantu dong." jawab Larry, gantian Nanta yang cengar-cengir.
"Baen ini ada Om yang pintar nyanyi loh, mau kenal Baen." Larry geser kamera kearah Kuskus.
"Memanna Omna pintai nani?" tanya Balen pada Kuskus yang ia panggil Om karena Larry sebut Om, bikin sedih saja padahal beda usia Kuskus dengan Nanta dan rombongannya tidak beda jauh.
"Halo Baen, jangan panggil Om dong." kata Kuskus pada Balen.
"Ya ampun, suawana badus banet." Balen menutup mulutnya.
"Belum juga nyanyi sudah bilang bagus saja." Kuskus terbahak jadinya.
"Baen jitak nih." teriak Mike sambil tertawa. Bisa-bisanya bilang suara Kuskus bagus padahal belum nyanyi. Tapi memang suara Kuskus termasuk type suara berat. Mungkin terdengar bagus ditelinga Balen, tapi Mike tidak menyangka seunyil Balen sudah bisa menilai jenis suara.
"Kongebus, tutup teleponnya ya, Om Kuskus dan Abang Doni mau nyanyi. Abang rekam dulu ya, biar besok Baen lihat videonya." kata Nanta pada Balen, sementara Richie sudah pergi entah kemana, mana betah Richie kalau harus diam lama, secara anaknya suka sekali mondar-mandir, ada saja yang dikerjakannya, yang pasti urusannya Robot deh.
"Ote, bye Om Titus." kata Balen, kembali semua tertawa.
"Kuskus cantik, Kuskus. Bukan tikuus." kata Kuskus dengan wajah meringis sementara yang lain tertawakan Kuskus. Nasib deh kenapa juga dikasih nama keren "Markus" oleh orang tuanya, berubah panggilan jadi Kuskus.
"Asli adik lu gemesin." kata Kuskus pada Nanta.
"Banget, sudah lamar gue dia kemaren pagi." sahut Larry terbahak.
"Kalau sudah gede dia saja yang jadi istri gue." Semua terbahak mendengar cerita Larry, Nanta juga cengar-cengir.
"Gemesin memang." kata Nanta tertawakan adiknya.
Dirumah Balen lagi memegang tenggorokannya, kenapa juga jadi sering keselek, pikir Balen.
"Baen, Papa atu puang tuh." lapor Richie pada Balen, Mobil Kenan baru saja masuki garasi.
"Tok Papa tamu sih?" protes Balen tidak terima.
"Atu tan Papa, talo tamu Papon. Jadi Papa atu tan." Richie menjelaskan.
"Oh iya, Papon atu." jawab Balen mengerti
"Papa atu..." sambut Richie saat Kenan masuki rumah.
"Halo sayang, Papa kira sudah bobo." kata Kenan pada Richie.
"Beum, Papa obot atu tananna epas." lapor Richie pada Kenan perihal tangan robotnya yang lepas, karena setiap mainan baru selalu saja Richie terima bongkar tidak terima pasang. Balen menghela nafas merasa diabaikan dan Kenan dikuasai Richie.
"Eh anak gadis Papa kenapa ini, tarik nafas panjang?" tanya Kenan duduk disebelah Balen.
"Baen, ditana Papon tamu tuh." Richie mengingatkan Balen.
"Papon peuk don." pinta Balen pada Kenan, sudah pasti Kenan langsung peluk erat gadis kecilnya ini.
"Janan ama-ama don." protes Richie, Kenan jadi tertawa.
"Ya udah tuh peuk deh Papa tamu." kata Balen pada Richie.
"Hadeh-hadeh, apaan sih dari tadi nih bocah. Papa atu, Papa tamu, Papon atu, Papon tamu. Bikin pusing saja." protes Nona pada kedua anaknya. Kenan terbahak, jujur ia juga pusing sebenarnya, tapi tidak tega mau protes.
"Mamon maah-maah teus ya." bisik Balen pada Richie.
"Hu uh." jawab Richie terkekeh tidak ambil pusing Mamon marah-marah.
"Mamon atu." kata Richie merayu Mamon yang dari tadi marah terus.
"Mamon atu juda." jawab Balen ikut merayu Mamon, tambah peluk dan cium, kalau sudah begini tidak marah dong harusnya, pikir Balen.
"Papa obot atu don benein." pinta Richie pada Kenan, kembali duduk dipangkuan Papanya.
"Mana robotnya?" tanya Kenan.
"Ncusss, obot atu don." pinta Richie pada Ncusss, ia malas beranjak dari pangkuan Papanya. Pengasuh Richie pun bergegas ambilkan robot yang Richie maksud.
"Kenapa sih setiap mainan datang mesti dipreteli?" tanya Nona pada Richie.
"Hehehe..." Richie tertawa saja, bingung mau jelaskan apa pada Mamon.
"Mau bikin robot sendiri mungkin, jadi perhatikan detail setiap mainan itu." Kenan ambil kesimpulan sendiri.
"Memang iya?" tanya Nona meletakkan minuman Kenan di meja, lalu duduk disebelah Kenan,
"Mungkin." Kenan terkekeh.
"Bagaimana acara Nanta, kamu sudah dapat laporan?" tanya Nona pada Kenan.
"Apa ya tadi Bang Eja bilang, Nanta dipanggil Bos Ganteng." Kenan terkekeh.
"Nanta kita kan memang ganteng." Nona ikut terkekeh.
"Padahal aku mau ikut Ke Warung Elite kalau kita tidak ke S'pore besok." kata Nona pada suaminya, mulai sandarkan pipinya dibahu Kenan. Posisi Kenan saat ini sungguh berat tapi bahagia, digelendoti istri dan anak bungsunya. Sepertinya sebentar lagi ada yang tidak mau kalah deh, karena Balen mulai mendekat dan memutari kursi seperti mencari posisi aman untuk Balen.
"Ini robotnya, Pak." Ncusss berikan robot pada Kenan.
"Ichi janan pangku Papon atu don, tan mau benein obot tamu." Balen melipat kedua tangannya didada, kembali bergaya ibu-ibu.