
"Sopna tebanakan Mamon." kata Balen sambil memegang perutnya, porsi sop iga yang datang terlalu banyak untuk Balen dan Richie. Richie dari tadi sudah menyerah, ia hanya makan lima sendok saja.
"Siapa yang mau habiskan ini Mas?" tanya Nona sambil menggeser sisa sop Iga yang belum tersentuh pada suaminya.
"Jangan Saya, panggil Nanta saja suruh habiskan." Kenan menggelengkan kepalanya. Tidak tertarik untuk makan sop iga, kalau makan sekarang bisa tidak makan nanti di Kampung Laut.
"Tasih Tania aja." kata Balen ingat tadi makanannya di kereta api dibagi dua dengan Dania.
"Coba kamu telepon Abangmu." kata Nona pada Balen sambil sodorkan handphone pada si Putri Kenan ini. Balen segera mengambil handphone Mamon lalu menghubungi Abangnya.
"Baen..." panggil Nanta pada Balen.
"Aban, tadi tan Baen ditasih sop Aban Leyi, tapina banak nih, sini don Tania badi dua." katanya langsung saja bahas pokok masalah pada Nanta.
"Nanti Abang bilang Tania biar ke kamar Balen ya." kata Nanta pada adiknya.
"Baen tundu nih." katanya sok tua.
"Iya, sekalian Abang sama Papa mau ke Mesjid, Tania makan sama Balen ya." kata Nanta pada adiknya.
"Yah." jawab Balen kemudian mereka mengakhiri sambungan teleponnya.
"Balen makan sopnya tidak habis ajak kamu bagi dua tuh, ditunggu dikamar." Nanta sampaikan pada Dania sambil tertawa.
"Bisa gemuk aku kalau dekat Balen nih." Dania tertawa.
"Kalau tidak sanggup jangan." Nanta mengingatkan Dania.
"Sanggup kok." Dania terkekeh, Nanta jadi tertawakan istrinya.
"Dedek bayi Mama kamu nih makannya banyak sekali." Nanta langsung saja bicara pada baby nya sambil menciumi perut Dania.
"Makannya kan berdua." kata Dania pada suaminya.
"Iya berdua Balen." jawab Nanta.
"Bertiga kalau begitu." jawab Dania tidak mau dianggap makannya banyak. Handphone Nanta kembali berdering, tertulis nama Mamon, berarti Balen kembali mengecek posisi Abangnya.
"Ya..."
"Ya ampun masih ditamal juda, Baen udah mau selese ini matanna." langsung saja ngomel melihat dilayar Abangnya masih dikamar.
"Hahaha iya sabar dong, nih Abang sama Tania langsung jalan kesana ya, tunggu." Nanta terbahak mengulurkan tangannya pada Dania, mereka pun bergandeng tangan keluar kamar.
Balen yang bukakan pintu kamar ketika Nanta menekan bel di pintu.
"Baen udah tenyan." katanya bersungut, karena Nanta terlambat mengantar Dania kekamarnya.
"Masih ada tidak sopnya?" tanya Nanta pada adiknya.
"Adalah tapi udah dinin tau." katanya pada Nanta.
"Yah kenapa dingin?" Nanta menggoda Balen.
"Abisna datanna bau sekaang." Balen mengedikkan bahunya. Nanta tertawa melihat gaya adiknya.
"Ayo Pa." ajak Nanta pada Kenan.
"Papa ke Mesjid dulu." pamit Kenan pada kedua anaknya.
"Ote Papon." tetap pertahankan Papon
Kenan terkekeh jadinya.
"Saya jalan Non." pamit Kenan pada Nona.
"Oteh." Nona meniru gaya Balen, Nanta terbahak mirip sekali ekspresi keduanya.
"Tania Baen mo masuk tipi don." pamer Balen pada Dania ketika Papa dan Abangnya sudah keluar kamar, lupa kalau Dania juga ada dikolam berenang tadi sore.
"Ih Tania ndak tau nih, butan ditu talo masuk tipi." merasa lebih pintar dari Dania.
"Jadi bagaimana?" Dania tertawa geli sendiri.
"Dimana Mamon? ceitain deh sama Tania." malah menyuruh Mamon yang jelaskan, Nona dan Dania jadi terbahak.
"Ah Mamon nih." sungut Balen kesal karena keduanya malah tertawakan dirinya.
"Iya Kak Dania tidak tahu, maunya Balen saja yang jelaskan." jawab Dania nyengir lebar.
"Dini tan Baen suuh jaan tuh nanti ada tameana deh." menjelaskan dengan bangga.
"Coba latihan jalannya bagaimana?" Nona perintahkan Balen sambil senyum-senyum.
"Dini jaan, jaan, dadah, dadah, jaan ladi." melenggok-lenggok seperti Putri Indonesia diatas panggung, tambah tertawa saja Dania dan Nona dibuatnya.
"Bisa ndak taya ditu?" tanya Balen tengil. Dania gelengkan kepalanya sambil terkikik.
"Sudah Kak Dania suruh makan dulu tuh, nanti sopnya tambah dingin." kata Nona pada Balen kembali menggeser mangkok sop, kali ini pada Dania.
"Ayo matan Tania, berdiri disamping Dania kemudian belai-belai perut kakak Iparnya itu.
"Tania matan duu ya, anak bayi dipeut." katanya bicara pada calon keponakannya, seperti kontak batin saja dengan Abangnya yang tadi belai-belai perut Dania. Eh Richie ikut-ikutan mendekat dan ciumi perut Dania, Dania dan Nona kembali tertawa.
"Waduh Om Ichie dan Tante Baen sayang keponakan ya." Nona terkekeh melihat kedua anaknya.
"Yah." jawab keduanya kompak.
"Alhamdulillah kenyang." Dania mengusap perutnya setelah selesai melahap Sop Iga yang diberikan Balen padanya. Bukan bagi dua, tapi hampir semuanya Dania makan, Balen dan Richie hanya makan tidak sampai sepertiganya.
"Sama don tita." kata Balen bangga sambil terkekeh.
"Tos dong kalau sama." ajak Dania pada Balen, mereka berdua pun Tos, Richie menyusul minta di ajak Tos juga. Hiburan sekali kedua bocah ini kalau sedang tidak rewel.
Setelah para lelaki kembali dari Mesjid barulah mereka berangkat ke Kampung Laut bersama, Micko dan keluarga sudah menunggu lebih dulu di Lobby hotel. Menggunakan Bus medium, karena bukan hanya keluarga Kenan dan Micko saja yang ikut ke Kampung Laut, rombongan Basket Nanta pun diajak bergabung, jadi seperti rombongan tour saja mereka semua.
"Sudah pesan tempat memangnya?" tanya Nona pada suaminya, tidak menyangka akan berangkat secara rombongan begini. Kenan menganggukkan kepalanya, semua sudah beres, tinggal ikut saja. Balen tambah senang saja karena banyak sekali teman Abangnya yang ada di dalam bus itu, tapi tetap Aban Leyi lah yang melekat dihati.
"Aban Leyi..." panggil Balen pada Larry yang asik bercanda dengan teman-temannya.
"Ya..." Larry mengalihkan perhatiannya pada Balen.
"Nanti talo Baen masuk tipi, Aban Leyi juda tan?" tanyanya pada Larry, Nanta dan Mike tertawa mendengarnya.
"Sepertinya hanya Balen saja deh." kata Larry pada Balen.
"Baen mauna Aban semuana." kata Balen menunjuk Nanta, Larry, Mike dan Doni. Rupanya Balen minta ditemani geng kuartet.
"Mana bisa Balen yang atur, tergantung Om yang pegang kamera maunya Balen sendiri atau ditemani orang lain." Nanta menjelaskan pada Balen.
"Papon, Baen mauna masuk tipi sama Aban beima." rengeknya pada Kenan.
"Bukan Papon yang punya perusahaan sayang." Kenan terkekeh mengacak anak rambut putrinya yang duduk disebelahnya.
"Kenapa?" tanya Micko pada Kenan.
"Tadi ada yang tawarkan Balen jadi model iklan, sekarang langsung rusuh saja berasa sudah pasti masuk TV." Kenan jelaskan pada Micko sambil tertawa.
"Siapa yang tawarkan?" tanya Micko.
"Markom Unagroup, Bang." jawab Kenan pada besannya.
"Balen mau berlima? tidak bertujuh saja sekalian, ajak Abang Lucky dan Abang Winner." kata Micko konyol, Kenan terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
"Ote betujuh." jawab Balen semangat.
"Seperti perusahaan punya nenek moyang kita saja." gerutu Kenan pada Micko, sudah tahu kalau begini pasti Micko gunakan kekuatannya mengabulkan keinginan Balen.