
Aku haus kak.
Reza membaca pesan yang dikirim Kiki. Segera Ia beranjak dari meja makan "Kiki haus." katanya sambil menuju kedapur mengambil minum untuk Kiki.
"Ga disuruh kesini aja?" tanya Kenan masih ingin berlama-lama ngobrol dengan Abangnya.
"Ga usah, biar dia istirahat." Jawab Reza meninggalkan Kenan menuju kamar tamu.
"Aku masih mau ngobrol..!!!" Kenan mengencangkan suaranya. Reza mengacungkan jempol "Tunggu ya." katanya pada adik kesayangannya.
Tok... tok.. tok... Reza mengetuk pintu kamar tamu, tak lama Kiki membuka pintu kamar. Matanya tampak memerah seperti habis menangis. Sesekali menghirup hidung menahan ingus biar tak jatuh.
"Kamu kenapa?" tanya Reza heran sambil menyodorkan gelas ditangannya. Kiki menggelengkan kepalanya mengambil gelas minum dari Reza. "Makasih kak." katanya hendak menutup pintu tapi tertahan tangan Reza.
"Kenapa menangis?" Reza menghapus ujung mata Kiki yang sedikit basah. Keningnya sedikit berkerut, memikirkan penyebab Kiki menangis. Sekali lagi Kiki menggelengkan kepalanya. Reza menghela nafas, tak mau cerita bikin penasaran saja, batinnya.
"Kamu kesepian...???" Reza mengira Kiki kesepian, digenggamnya tangan Kiki dengan kedua tangannya sambil menatap Kiki dalam.
Kiki masih menunduk, merasa malu ketahuan habis menangis. Meratapi kebodohannya dalam hati, dan sekarang bingung harus menjelaskan apa kalau Reza bertanya lagi. Syukurlah Reza mengira Kiki kesepian. Kalau saja Reza tahu Kiki sempat mencuri dengar pembicaraannya dengan Kenan yang membuat Kiki melow tak jelas. Huh Kiki menarik nafas melepaskan beban di dadanya.
"Daripada menangis sendiri, seperti orang patah hati lebih baik kita ngobrol dimeja makan, kita dengarkan Kenan curhat." Reza membungkuk mendekatkan wajahnya pada wajah Kiki. lalu menarik Kiki keluar kamar, tak lupa menutup pintu kamar perlahan supaya tak terbanting. Mereka menuju meja makan dimana Kenan masih menunggu si abang tersayang.
"Kakak iparku, belum tidur apa terbangun?, sayurnya disikat habis bang Eja." Kenan kembali konyol, tak seserius saat curhat tadi. "Terbangun, aku masih kenyang banget, cuma haus aja." jawab Kiki sambil duduk di seberang Kenan, meneguk air hangat yang masih di pegangnya. Reza mengikuti duduk disebelah Kiki.
"Kenan yang lagi galau, kamu yang menangis dek." Kata Reza sambil memperhatikan mata Kiki, sudah tak basah lagi, hanya sedikit memerah.
"Kenapa menangis? sudah punya bahu untuk bersandar masih aja menangis." Kenan menggoda Kiki.
"Maksudnya?" tanya Kiki bingung.
"Bahasamu ketinggian Ken." kata Reza
"Maksudku, kamu kan sudah ada Bang Eja, kalau sedih ceritalah sama Abang, cerita sama aku juga boleh, nanti kupeluk supaya kakak ipar tenang." Kenan menjelaskan. Seketika Reza melempar tissue berikut bungkusnya kewajah Kenan. Kiki tertawa dibuatnya.
"Calon suami kamu tuh lihat, tadi aku dijewer sekarang dilempar tissue setebal ini." Adu Kenan pada Kiki sambil meringis.
"Kenapa dijewer?" tanya Kiki pada Reza
"Dia bilang kalau aku mau sama Sheila biar dia sama kamu dek, kan ngeselin." balik Reza yang mengadu.
"Kak Eja mau sama Sheila?" tanya Kiki kesempatan, ingin tahu jawaban Reza.
"Kamu juga minta dijewer dek?" Reza mulai kesal.
"Ih kan aku cuma tanya."
"Jangan mikir macam-macam, Aku cuma mau kamu yang jadi istri aku." Jawab Reza sambil merangkul erat Kiki, membuat Kiki salah tingkah dan Kenan meringis iri dibuatnya seperti ingin menggaruk tembok rasanya.
"Hmmm..." Kenan berdehem "Aku lagi galau jangan ditambah galau." katanya tanpa ekspresi.
"Kenapa galau?" tanya Kiki.
"Sheila bilang siapa yang cepat melamarnya, itu yang dia terima. Aku belum lulus kuliah, belum belajar bantu perusahaan papa juga. Belum kuat pondasi aku. Kalah aku sama Erwin, sama orang percetakan, siapa bang namanya?" Kenan mendengus kesal.
"Lupa." Reza mengangkat kedua bahunya.
"Fokus selesaikan kuliahmu Ken, sambil belajar bantu cabang usaha papa di Malang. Benar yang Sheila bilang, ga ada yang bisa menebak kedepan seperti apa. Biarkan aja Sheila, seperti aku membiarkan Kiki yang selalu cari cara menghindariku kemarin kemarin. Serahkan sama Allah." Reza menasehati Kenan, Kiki terbelalak saat namanya disebut. Rupanya Reza tau kalau ia selalu cari cara menghindari Reza. Kiki hanya melirik Reza sesaat lalu kembali menetralkan ekspresi wajahnya.
"Kenapa lirik-lirik?" tanya Reza sambil memandang Kiki. Kiki memajukan bibirnya beberapa senti. Kenan tertawa melihat ekspresi Kiki.
"Ga jelek jelek amat." sahut Reza.
"ih..!" Kiki memukul pundak Reza kesal. Segera beranjak dari kursi makan. "Aku ngantuk." katanya meninggalkan Reza dan Kenan. Tapi tangannya keburu ditahan Reza.
"Tidur ga boleh sambil kesal. Ngobrol dulu sebentar, Kenan masih curhat." tahan Reza masih bersandar santai. Kiki pun kembali duduk disebelah Reza.
"Aiih kakak iparku ternyata selain cengeng, suka ngambek juga." kembali Kenan menggoda Kiki. Reza bersiap ingin melempar Kenan lagi, tapi ternyata Tissue masih didekat Kenan.
"Nanti balapan nangis tuh mama sama anaknya kalau cengeng gitu." bisik Reza membuat wajah Kiki bersemu merah. Apa sih Kak Eja.
"Besok sore aku balik ke Malang, nanti kalau kalian menikah aku kesini lagi." Putus Kenan.
"Mendadak sekali, bukannya sabtu?" tanya Reza
"Aku mau fokus kuliah, Papa kemana? aku dari tadi ga lihat Papa." Kenan segera beranjak menuju garasi ingin melihat apakah mobil papa ada digarasi.
"Papa lagi ke Cirebon, tadi pagi berangkat." Jawab Reza sebelum Kenan sampai ke garasi. Kenan pun kembali keposisi semula.
"Aku mau konsul sama papa."
"Telepon aja."
Nanti kutelepon, kalau perlu besok kususul kecirebon" kata Kenan semangat.
"Demi Sheila, semangat sekali." goda Kiki mulai ikut nimbrung.
"Bukan Sheila aja kakak iparku, demi diriku sendiri, keluargaku dan siapapun nanti yang akan aku lamar menjadi istriku." jawaban Kenan dengan senyum manisnya. Reza senang mendengarnya.
"Semangat Ken." Kata Reza
"In syaa Allah bang, support aku terus ya." Reza mengangguk
"Panggil aku Kiki aja, jangan kakak ipar." Kata Kiki tiba tiba.
"Ga mau ah, Kalau panggil Kiki takut nanti kutambah sayang." jawab Kenan membuat Reza memutar bola matanya malas.
"Ya sudah terserah Kak Kenan aja." jawab Kiki
"Hei kenapa panggil aku kakak, panggil nama aja." protes Kenan
"Kamu kan lebih tua dari aku." jawab Kiki serius. Sambil memandang Reza meminta dukungan. Reza hanya mengangkat kedua bahunya.
"Tapi kamu calon istri abangku." Tegas Kenan. Kiki mengerucutkan bibirnya. Tak tahu harus menjawab apa.
"Kak Eja..." Kiki meminta dukungan Reza. Hanya hanya mengangkat kedua alisnya seakan bertanya kenapa.
"Aku benar kan?" tanya Kenan juga meminta dukungan Reza. Membuat Reza tersenyum kecil. Lucu melihat adik dan calon istrinya.
"Aku juga benar kan, Kak Eja? Kiki tak mau kalah
"Iya benar semua ga ada yang salah." jawab Reza.
"Panggil aku Kiki." Kiki tersenyum pada Kenan.
"Sudah biarkan dia mau panggil kamu apa, yang penting jangan pakai embel-embel sayang dan sejenisnya." Jawab Reza cepat. Kenan tertawa senang, sementara Kiki hanya bisa menurut pasrah.