I Love You Too

I Love You Too
Kunjungan



Nanta menghubungi Doni begitu sampai dikamarnya, langsung saja bergerak karena menunggu Om Deni bicara sama Kak Dini terlalu lama.


"Kenapa?" tanya Doni begitu mengangkat telepon Nanta.


"Eh calon keponakan jangan dijudesin." katanya terkekeh, sementara Dania asik menonton film di televisi berbayar.


"Don, elu sudah tanya Kak Dini, bagaimana kesan-kesannya terhadap Om Deni? Kalau ternyata tidak suka, kasihan menderita di Abu Dhabi nanti." kata Nanta pada Doni.


"Iya juga ya. Om Deni bagaimana kesannya terhadap Kak Dini?" tanya Doni pada Nanta.


"Om Deni suka, malah tadi bilang ingin menikah sebelum ke Abu Dhabi." jawab Nanta apa adanya.


"Pa..." langsung saja Doni heboh memanggil Papanya.


"Kenapa?" tanya Papanya terdengar oleh Nanta.


"Yang aku kenalkan sama Kak Dini itu serius loh mau menikah, dia siap saja kalau menikah sebelum berangkat ke Abu Dhabi." Doni memberitahu Papanya, sepertinya tidak ada Kak Dini disana, Doni santai sekali membahas dengan Papanya.


"Kalau serius datang dong temui Papa." waduh Papa Doni malah menantang.


"Eh beneran ini, malam ini juga loh Om Deni kuajak kesana." kata Nanta pada Doni.


"Mau datang malam ini Pa, sama Om Kenan." eh Doni malah bawa-bawa Om Kenan.


"Ya sudah Papa tunggu." kata Papa Doni santai.


"Tuh Nan, ditunggu bokap."


"Serius? Nanti Kak Dini kabur bagaimana?" tanya Nanta khawatir.


"Tenang, kalau Papa sudah turun tangan Kak Dini tidak akan berani." kata Doni, langsung saja Nanta mematikan sambungan teleponnya dan mendatangi Papa yang masih ngobrol dengan On Deni dan Om Samuel.


"Pa..." gantian Nanta yang memanggil Papanya.


"Kenapa?" tanya Kenan bingung melihat nafas Nanta memburu.


"Om Deni kalau memang serius sama Kak Dini, ditunggu Papanya sekarang dirumahnya." kata Nanta membuat Deni terperangah.


"Oh ayo Den, saya temani." kata Kenan memandang Deni.


"Yang benar saja malam-malam begini." protes Deni.


"Ayo gue ikut." kata Samuel segera berdiri.


"Ayo Boy." Kenan ikut berdiri.


"Eh kalian yang benar saja gue belum siap." teriak Deni panik.


"Menunggu kamu siap tidak akan menikah." jawab Kenan membuat Deni pasrah mengikuti langkah ketiganya, satupun dari mereka belum ada yang berganti pakaian. Masih dengan pakaian kantornya, Nanta pun belum sempat berganti pakaian.


"Aku ijin dulu." kata Nanta pada Papa.


"Ijin pakai telepon saja Boy supaya tidak terlalu malam." kata Kenan yang juga meninggalkan Nona di kamarnya bersama Balen dan Richi, begitu juga Samuel meninggalkan istrinya bersama sikembar.


Nanta pun melakukan panggilan telepon bersama, menghubungi para istri yang tinggal dikamar atas saran Papa. Satu persatu mengangkat teleponnya. Mereka sudah dalam perjalanan saat ini.


"Aku, Papa dan Om Samuel mengantar Om Deni menemui orang tua Kak Dini." kata Nanta pada semuanya.


"Doakan biar lancar." teriak Kenan pada semuanya.


"Maaf tidak sempat pamit karena buru-buru." kata Samuel lagi.


"Ya." jawab Dania.


"Kasihan anak-anak sayang." jawab Kenan memberi alasan Karen memang sudah malam.


"Semoga lancar ya Mas Deni." doa Dari istri Samuel di Aamiinkan oleh semuanya.


Perjalanan hampir memakan waktu satu jam karena bersamaan dengan orang-orang yang pulang kantor. Nanta tersenyum menepuk bahu Om Deni, lucu juga ikutan melamar untuk Om Deninya.


"Aduh..." Deni menghembuskan nafasnya berkali-kali tampak sekali ia panik. Beruntung Nanta tidak menemui kondisi seperti Om Deni yang harus menyampaikan keinginannya pada calon mertua yang belum dikenalnya, apa lagi kenal Dini baru tiga hari dan baru jalan dua kali.


"Nanti Dini lari bagaimana?" Deni panik.


"Kalau lari bukan jodoh." jawab Samuel santai, langsung saja ditoyor oleh Deni.


"Kalau mau jodoh ya usaha sama doa." kata Samuel lagi, Nanta dan Kenan cengengesan saja.


"Pa, nanti aku tidak usah ikut masuk ya." kata Nanta pada Papa.


"Masuk lah Boy, kita kan wakili Opa Baron." Kenan merangkul putranya.


"Muka gue berminyak tidak?" hahaha Deni masih saja pikirkan penampilannya.


"Ganteng Om." kata Nanta pada Om Deni.


"Beneran Boy?" tanya Deni tidak percaya.


"Betul Om, tapi masih gantengan aku." jawab Nanta bercandai Deni mereka semua terbahak jadinya.


Mereka mulai memasuki rumah Doni, ternyata kedatangan mereka benar-benar ditunggu orang tua Doni dan Dini.


"Ayo masuk." sambut si Om ramah, Tante juga ikut menyambut mereka. Doni belum terlihat, mungkin lagi memanggil Dini. Tapi Nanta sudah beritahukan lewat handphone jika ia dan keluarganya sudah datang.


"Maaf datangnya kemalaman ini." kata Kenan pada orang tua sahabat anaknya, mereka sudah beberapa kali bertemu saat mengantar putra mereka bertanding.


"Tidak apa, itu berartiemang serius, muka-muka lelah bela-belain datang kemari." kata Om Jonas pada Kenan.


"Ayo silahkan duduk. Nanta jadi ikut repot ya." Tante Jonas tersenyum ramah.


"Demi ini Tante." kata Nanta tersenyum lebar sambil menepuk Om nya.


"Oh iya, kalau tahu tadi habis antar Dini langsung saja bicara tidak usah pulang lagi." kata Tante Jonas.


"Hahaha iya ini Nanta kasih tahunya mendadak." kata Om Deni pada orang tua Dini. Mereka mulai duduk ditempat yang disediakan.


"Loh Mas Deni ada disini, tadi Doni bilang Nanta sama Om Kenan saja." kata Dini tidak menyangka ada Deni dan Samuel.


"Duduk Din." tegas Om Jonas pada putrinya, Dini langsung saja tegang, sementara Doni cengengesan pada Nanta dibelakang Dini.


"Ayo diminum" kata Om Jonas ketika asisten rumah tangga sudah meletakkan minuman dimeja.


"Langsung saja, Pak Jonas, jadi begini maksud kami datang malam hari ini untuk menyampaikan niat baik untuk lebih mempererat Tali persaudaraan kita." Kenan mulai dengan kata pembuka, Om dan Tante Jonas manggut-manggut, sementara Dini tampak pucat.


"Silahkan Den..." kata Kenan pada Abang Iparnya.


"Jadi begini, Dini mohon maaf mungkin ini terlalu mendadak, tapi jika Om Dan Tante berkenan, juga Dini mau menerima, saya mau menjadikan Dini istri saya." kata Deni dalam satu tarikan nafas seperti Ijab kabul saja. Dini menutup mulutnya dengan tangannya, tidak menyangka Deni akan bergerak secepat ini.


"Om Dan Tante sangat setuju, sekarang keputusan ada di tangan Dini. Bagaimana Din? kesempatan tidak datang dua kali, Deni ini banyak yang naksir loh, Papa sudah selidiki." kata Om Jonas to the point.


"Dia juga dari keluarga baik-baik, ibadahnya juga bagus sudah tiga hari ini orang Papa amati dia rajin ke Mesjid sholat lima waktu." kata Om Jonas jujur sekali. Kenan terkekeh, sementara Deni menepuk dahinya tidak menyangka jika calon mertuanya eh itu kalau Dini mau, bisa bergerak sampai segitunya.


"Aku minta waktu untuk berpikir." kata Dini pada Papanya, tapi Om Jonas menggelengkan kepalanya, kalau kamu setuju besok langsung menikah saja." kata Om Jonas yang rupanya lebih parah dari Oma dan Opa. Main besok saja, pikir Nanta lusa. Dini masih termenung bingung harus jawab apa, Deni debar-debar tidak karuan menunggu jawaban Dini.