I Love You Too

I Love You Too
Setara



Setelah Raymond keluar dari ruangannya, Kenan segera menghubungi Nona. Rencananya hari ini Kenan akan menemani Nona bertemu dengan Kevin, setelah itu ia juga akan mengundang Bagus Untuk bertemu dengan Kevin dan Nona. Tapi Kenan lupa mengatakannya pada Tari.


"Sudah di mana Nonanya Kenan?" tanya Kenan pada istrinya via telepon, sudah tidak sabar menunggu kedatangan Nona di kantornya. Nona tertawa mendengarnya.


"Sebentar lagi sampai, Mas. Aku sudah di lobby." kata Nona dari seberang.


"Sama Kevin?" tanya Kenan ingin tahu.


"Kevin belum sampai kah?" Nona balik bertanya, aman ya berarti Nona tidak bersama Kevin, rasa cemburu Kenan masih ada sedikit walau sering kali ditepisnya.


"Belum." jawab Kenan.


"Ya sudah aku tunggu Kevin dulu disini ya?" Ups enak saja mau tunggu Kevin di lobby, Kenan tidak terima.


"Kevin sudah besar sayang, dia bisa cari lift sendiri. Kamu langsung ke lantai tiga saja. Saya tunggu di depan lift atau mau saya jemput dibawah?" sedikit ketus tapi tetap halus terdengar.


"Tunggu depan lift saja, ini aku sudah mau masuk lift." kata Nona mematikan sambungan teleponnya. Pertama kali Nona menginjakkan kakinya di kantor Kenan, belum semua karyawan di kantor tahu siapa Nona. Untung saja tadi saat di resepsionis Nona tidak di persulit untuk naik.


Begitu sampai di lantai tiga, benar saja Kenan sudah berdiri di depan lift, langsung saja tersenyum manis menyambut kesayangannya. Langsung saja merangkul istrinya, berjalan menuju ruangannya.


"Sepi sekali." kata Nona melihat disekitar tidak ada orang.


"Raymond lagi rapat, Tari mungkin sedang ke toilet." rangkulan Kenan makin erat saja, saat melewati ruang rapat Nona melihat Raymond sedang bersama Melly dan satu orang yang tidak Nona kenal. Nona melambaikan tangan sambil senyum-senyum. Raymond membalas melambaikan tangan, sementara Melly hanya terpaku memandang Kenan yang sedang merangkul istrinya tanpa menoleh keruang rapat. Padahal gue yang senyum, malah pandang-pandang Mas Kenan, sungut Nona kesal sendiri.


"Mas Kenan tidak ikut rapat?" pancing Nona.


"Saya kan ada urusan sama kamu dan Kevin." kata Kenan.


"Berarti kalau aku tidak kesini, ikut rapat juga bersama Melly." Nona mencibir kesal.


"Duh hilang cantiknya kalau lagi sewot begini." Kekeh Kenan mencium pipi Nona saat melewati tembok ruang rapat.


"Terganggu sekali aku lihat Melly pandang Mas Kenan begitu." keluh Nona menoleh pada suaminya.


"Abaikan saja." Kenan memandang wajah Nona lebih dekat, masih melewati jendela-jendela ruang rapat yang entah kenapa terbuka semua dan dengan sangat pasti, Melly masih mengarahkan pandangannya pada Kenan, kemudian dengan reflek menggelengkan kepalanya melihat Kenan mendekati wajah Nona.


"Mana bisa aku abaikan, dia selalu saja muncul disekitar Mas Kenan."


"Dia pelanggan perusahaan ini sejak lama. Pasti akan muncul terus selama menggunakan jasa pengiriman perusahaan kita, selama ini selalu berhubungan dengan Tari, entah kenapa hari ini hanya mau menemui owner perusahaan, karena Papa Dwi tidak ada maka diwakili oleh Raymond, mereka membicarakan pekerjaan baru." Kenan menjelaskan sambil membuka pintu ruangan kemudian mendudukkan Nona dipangkuannya.


"Kamu cemburu sekali sama Melly, kamu itu jauh lebih cantik." kata Kenan membelai rambut istrinya.


"Bukan soal cantik, tapi aku takut Mas Kenan tergoda." sungut Nona melingkarkan tangannya dileher Kenan.


"Kamu kira saya segampang itu?" Nona mengedikkan bahunya. Kenan mencubit pipi Nona gemas.


"Sayang coba hubungi Kevin, sudah sampai dimana?" kata Kenan sambil memeluk tubuh Nona. Nona segera mengambil handphonenya di tas, menuruti keinginan suaminya lalu menghubungi Kevin.


"Dimana Vin?" tanya Nona ketika sambungan teleponnya dijawab Kevin.


"Sudah di parkiran, lantai tiga ya?" tanya Kevin memastikan.


"Iya, dari lift lurus saja ruangannya ada disebelah Kiri." kata Nona menjelaskan.


"Ok."


"Lewati ruang rapat ya, Vin."


"Ok."


sambungan telepon pun dimatikan Nona.


"Sudah di parkiran." katanya pada Kenan.


"Hmm..."


"Mas Bagus datang sekarang?" tanya Nona.


"Hmm..." mengangguk saja.


"Cantik... Sayang ayo pindah duduknya, Kevin sudah dekat." kata Kenan kembali mencium pipi Nona dan mengangkat badan istrinya agar pindah posisi. Nona beranjak dari pangkuan Kenan dengan hidung kembang kempis, selalu saja berbunga-bunga kalau Kenan yang mengatakan dirinya cantik.


Benar saja tidak lama kemudian pintu ruangan Kenan ada yang mengetuknya, Nona segera membukakan pintu, menyambut Kevin dengan wajah sumringah.


"Loh Mas Bagus, Nona pikir Kevin yang datang." kata Nona apa adanya, walau ia juga menunggu kehadiran Bagus.


"Mau masuk dari tadi, tapi lagi pangku-pangkuan." jawab Bagus tersenyum menyeringai.


"Ih untung tidak kissing, ternyata Mas Bagus intip kita." Nona memajukan mulutnya beberapa senti. Kenan tertawa saja mendengarnya.


"Sudah halal mah bebas, bos." kekeh Bagus pada Kenan sambil menyalami keduanya.


"Mana Tari?" tanya Kenan pada Bagus heran Bagus tidak diantar Tari masuk keruangannya.


"Menemani Raymond di ruang rapat." jawab Bagus membuat Kenan menganggukkan kepalanya.


"Assalamualaikum..." Kevin berdiri didepan pintu ruangan Kenan yang terbuka lebar.


"Waalaikumusalaam, masuk Vin." balas Kenan dari sofa. Setelah Kevin menyalami semua yang ada kemudian bergabung duduk di sofa, Kenan segera menghubungi office boy agar menyiapkan minuman dan makanan kecil untuk diruangannya.


"Vin, seperti yang gue jelaskan semalam di telephone, semua tetap berjalan tapi yang handel Mas Kenan dibantu Mas Bagus ya." kata Nona pada Kevin.


"Mas Bagus sudah tahu?" tanya Kevin pada Bagus.


"Belum secara detail ya, mungkin Mas Kevin bisa jelaskan disini." kata Bagus pada Kevin. Kevin pun mulai menjelaskan rencana kerjanya dan juga pekerjaan yang akan mereka garap dalam waktu dekat.


"Awalnya sih rencana berkantor di perusahaan Papanya Nona, sekarang masih begitu atau berubah tempat Non?" tanya Kevin pada Nona.


"Baiknya bagaimana, kantor sih sudah siap pakai." jawab Nona.


"Diatas juga ada ruangan tidak terpakai, lebih baik disini saja, supaya lebih mudah saya pantau." kata Kenan pada yang lain.


"Saya dimana saja tidak masalah." jawab Kevin menyetujui.


Setelah sepakat masalah tempat, mereka mulai membahas yang lainnya. Apa saja yang harus Bagus kerjakan, juga tenaga kerja yang harus mereka rekrut dalam waktu dekat, sebelum acara dimulai.


"Untuk crew organizer kita bisa rekrut para mahasiswa/mahasiswi, yang dipakai selama event." kata Nona sesuai pengalamannya saat masih kuliah dulu.


"Setelah ruangan siap dipakai kita mulai perekrutan, sementara bisa dibantu Tari, apa ada keluhan mengenai kehamilan Tari, Gus?" tanya Kenan pada Bagus.


"Oh iya saya belum kasih selamat untuk calon Bapak." kekeh Kenan menyalami dan memeluk Bagus yang duduk disebelahnya.


"Wah Mbak Tari sudah hamil, selamat Mas Bagus, benar saja kata Nanta, pulang dari Jakarta Mama blendung." Kekeh Nona ikut senang mendengar kabar gembira tentang Tari dan Bagus.


"Target Nanta tiga orang kan? belum dapat kabar dari yang dua orang lagi." jawab Bagus terkekeh.


"Hahaha iya makanya aku berhenti kerja dalam rangka mengejar target dari Nanta." jawab Nona terbahak.


"Jadi bagaimana untuk perekrutan, memungkinkan tidak dibantu Tari?" tanya Kenan lagi pada Bagus, ingin tahu kondisi kehamilan Tari.


"Sampai saat ini belum ada keluhan, tidak pakai morning sick, seperti biasa saja." jawab Bagus.


"Kalau begitu ok, ya. Aku ikut bantu perekrutan, boleh Mas?" tanya Nona pada suaminya.


"Nanti saja kalau Tari kewalahan." jawab Kenan menatap tajam istrinya.


"Soalnya aku tidak mau kalau ada yang centil-centil tidak karuan." dengus Nona melirik pada Kenan.


"Hmmm bilang saja takut suami kamu diganggu." kekeh Kevin pada Nona.


"Yang ganteng bukan Mas Kenan saja, Non. Kita bertiga ini setara." jawab Bagus ikut terkekeh.


"Maka dari itu, belum lagi Raymond kan. Kalau kalian berempat kumpul aku khawatir staffnya pada pecicilan."


"Cuci mata boleh lah." jawab Kevin santai


"Asal jangan suami gue saja yang cuci mata." ketus Nona muncul juteknya, semua jadi terbahak dibuatnya. Kenan mengusap bahu Nona menenangkan walau ikut tertawa melihat istrinya mulai posesif.