
Rombongan yang dipimpin Steve pun tiba di restaurant, Opa Santoso sudah duduk manis didampingi istrinya dan adiknya tersayang, jadi ada duo Oma yang menemani Opa Santoso.
"Selamat datang..." sambut Opa Santoso pada semua yang hadir.
"Papi sehat?" sapa Kenan pada Opa Santoso.
"Sehat, Ken. Seperti yang kamu lihat, bagaimana tidak sehat ini duo Oma selalu dampingi Opa." jawab Opa Santoso terkekeh.
"Bang Mario mana, Pi?" tanya Kenan mencari keberadaan Mario dan Regina, juga Andi dan Pipit yang belum terlihat batang hidungnya.
"Masih dalam perjalanan, tadi Oma tidak sabar mau bertemu Nanta dan teman-teman." jawab Opa Santoso menunjuk Oma Lani adiknya.
"Nanta, ini ditunggu Oma Lani." panggil Kenan pada Nanta yang asik bercanda bersama sahabatnya, menunggu antrian menyalami Opa dan Duo Oma karena Papa masih asik bicara dengan Opa Santoso.
"Iya..." Nanta segera mendekat, menarik lembut lengan istrinya dan juga memberi kode pada sahabatnya agar mengikutinya.
"Apa kabar Opa?" tanya Nanta sopan pada Opa Santoso.
"Selalu merasa muda." jawab Opa Santoso membuat Nanta dan sahabatnya bersorak.
"Jadi ikut semangat." Mike terkekeh.
"Harus semangat terus." jawab Opa Santoso.
"Aku penggemar Opa." Mike mengangkat kelima jarinya.
"Penggemar dari mana? masuk tv juga bisa dihitung dengan jari, itu pun hanya sambil lewat." Opa Santoso terkekeh.
"Ken, sambil duduk, kamu juga Micko. Nanti kita ngobrol ya, sekarang sama anak muda dulu." Opa bercandai Kenan dan Micko.
"Sein mana sih?" Richie mencari Selin yang belum juga terlihat.
"Sein beum datang ya, Aban Setip?" tanya Balen pada Steve.
"Iya masih sama Papi Mario dan Papa Andi, tunggu ya." kata Steve pada Balen dan Richie.
"Papa Setip, atu dudukna dimana?" tanya Richie pada Steve.
"Sini dekat Mamon." ajak Nona pada.
bungsunya.
"No! atu mo duduk detat Papa Setip." tolak Richie tegas, jadi menyita perhatian Opa Santoso kelakuan Richie.
"Son, kamu duduk dekat Opa sini." ajak Opa Santoso yang gemas melihat Richie.
"Nama atu Ichie, Opa. Janan pandil son." tolak Richie pada Opa Santoso.
"Dia selalu menolak kalau aku panggil Boy, Papi." Kenan menjelaskan, Opa Santoso terbahak.
"Ichie, come here." Opa menepuk bangku disebelahnya.
"Atu duduk situ ya?" pamitnya pada Steve.
"Iya duduk disitu saja dekat Opa, biar kebagian aset Opa kamu, Chie." goda Steve pada Richie. Semua terbahak mendengarnya. Sambil merangkul Richie yang duduk disebelahnya, Opa kembali mengajak Nanta dan sahabatnya bicara.
"Ini istri Nanta, Opa." Nanta kenalkan Dania pada Opa Santoso.
"Anakku." sahut Micko bangga. Opa Santoso ulurkan tangannya minta disalami oleh Dania.
"Mirip Misha kamu." katanya pada Dania yang salami Opa dan Oma.
"Masih turunannya." sahut Micko terkekeh.
"Jadi anakmu berapa, Micko?" tanya Opa Santoso pada Micko.
"Tiga, ini dua lagi." tunjuknya pada Lucky dan Winner.
"Mirip dengan mertuamu yang ini." tunjuknya pada Lucky, Lucky tersenyum lebar dibilang mirip dengan Opa dari Mamanya, sudah banyak yang bilang begitu.
"Kalau aku mirip siapa Opa?" tanya Winner penasaran.
"Kamu perpaduan Micko dan Lulu." jawab Opa Santoso apa adanya.
"Kenapa begitu?" tanya Micko.
"Kalau jalan berlima, aku yang dibilang anak kandung Papa dan Mama." Lucky langsung saja mendorong bahu Abangnya.
"Aku sama Kakak, kamu mau bilang anak angkat?" dengusnya tidak terima.
"Semua ada miripnya, Micko itu mirip Misha, jadi kakakmu mirip juga dengan Papamu, Lulu mirip Opamu kan, jadi kamu mirip Mamamu, Winner yang perpaduan wajah kalian berdua." Opa Santoso menengahi.
"Nah kalau begitu baru adil." jawab Lucky senang. Semua tertawakan Lucky.
"Kenalkan temanmu pada Opa." kata Opa Santoso pada Nanta.
"Ini Doni dan istrinya Dona." Doni dan Dona langsung menyalami Opa Santoso.
"Hai Don, ajak istrimu duduk, kasihan berdiri lama." kata Opa Santoso pada Doni.
"Iya Opa." jawab Doni, kemudian salami Duo Oma, Dona pun mengikuti, lalu mereka duduk dibangku yang masih kosong.
"Ini Mike penggemar Opa." Nanta menunjuk Mike.
"Micko, ini masih keturunan Suryadi kah? mirip sekali." tanya Opa Santoso pada Micko.
"Iya Papi, anaknya Julia Kris." jawab Micko.
"Oh pantas saja, Mama dan Papamu baru minggu lalu bertemu Opa." kata Opa pada Mike.
"Wah aku tidak tahu pergerakan Mama dan Papa, Opa. Kalau tahu aku minta ikut." jawab Mike membuat Opa dan Oma terbahak.
"Duduk sini dekat Oma, Mike." kata Oma Santoso pada Mike. Ia suka dengan celutukan Mike dari tadi. Mike mengikuti duduk disamping Oma.
"Bukan dalam rangka minta aset seperti Boyle loh ya." katanya konyol membuat semua kembali tertawa.
"Aset Suryadi lebih banyak, Mike." Opa Santoso terbahak.
"Ah Opa suka merendah deh, dari dulu juga semua tahu Unagroup nomor satu." jawab Mike apa adanya.
"Suryadi corporate pun begitu, masih-masing punya pasar tersendiri." jawab Opa Santoso, kemudian memandang Larry dengan seksama. Sementara Nanta masih berdiri kemudian meminta istrinya duduk dikursi yang ditariknya.
"Ini Larry, Opa." Nanta menunjuk Larry. Opa Santoso tersenyum pada Larry lalu memandang Oma Lani.
"Oma Lani sangat ingin bertemu kamu." kata Opa Santoso, Larry menganggukkan kepalanya tersenyum pada Opa Santoso dan Duo Oma. Kemudian ulurkan tangannya, menyalami sesepuh. Larry tidak banyak bicara, ia tahu kenapa Oma Lani ingin bertemu dengannya, pasti berhubungan dengan Rumi, cucu Oma Lani. Seperti yang tadi diceritakan Steve saat sarapan.
"Duduk disini Larry." Opa Santoso menunjuk bangku untuk Larry, Larry pun mengikuti, lalu Nanta duduk disebelahnya.
"Rumi tidak temani kita makan siang hari ini, tapi nanti malam akan kembali Ke Jakarta menemani kalian." Oma Lani menjelaskan tanpa diminta.
"Iya Oma." jawab Larry anggukan kepalanya.
"Makanan sudah tersaji, sudah minta disantap." kata Opa pada semuanya, memberi kode pada Pelayan agar membuka tutup pada wadah makanan yang sudah disiapkan.
"Tidak tunggu Bang Mario dan yang lainnya?" tanya Kenan pada Opa Santoso.
"Mario tidak usah ditunggu, kita mulai saja." jawab Oma Santoso persilahkan yang lain makan.
"Enak saja tidak usah ditunggu." protes Mario yang baru saja tiba bersama besan dan cucunya.
"Terlambat Lima belas menit." jawab Opa Santoso pada anaknya.
"Aku urus cucuku dulu, Pi." tunjuknya pada Selin dan adiknya Tori.
"Selin dan Tori dijadikan alasan." Oma Santoso terkekeh.
"Ichie, cantik mana Selin sama Tori?" bisik Steve pada Richie, ingin tahu apa Richie masih mengidolakan Selin setelah melihat Tori.
"Ah?" Richie memandangi keduanya bergantian.
"Aduh, atu jadi binun, yan mana yan cuwiwit nih Papa?" tanyanya pada Kenan membuat semuanya terbahak. Opa Santoso tertawa paling keras diantara yang lain. Diacaknya anak rambut Richie.
"Mamon aku bilang juga apa, Ichie Boyle ya Boyle saja." celutuk Mike, semua kembali terbahak.