I Love You Too

I Love You Too
Calon menantu idaman



tak terasa mereka pun tiba di rumah Kiki. "Makasih kak Eja." Kata Kiki sambil membuka pintu mobil.


"Kii..." panggil Reza seperti ingin menyampaikan sesuatu. Kiki menoleh dan menaikkan alisnya, ingin mendengar kalimat selanjutnya. Tapi Reza menggeleng "Tidak jadi. Salam buat Om dan Tante" katanya sambil menghela nafas. "Ok!" Kiki tersenyum dan meninggalkan Reza yang masih termenung dimobilnya sampai Kiki menghilang dibalik pintu.


Drrrt..drrrt handphone Reza menyala, ada yang menelpon. Tanpa melihat layar Reza mengangkat teleponnya.


"Baaang !!!" suara Kenan terdengar nyaring, memekakkan telinga. "Kenapa Erwin jadi pengen mendekati Sheila. Sudah dua kali dia antar Sheila pulang dan abang tahu." protes Kenan terdengar emosi.


"Iya tahu." jawab Reza santai.


"Bagaimana sih, kan aku minta abang menjaga Sheila, biar cowok tidak ada yang mendekat." keluh Kenan tak terima.


"Aku bukan bodyguard Sheila, Ken. Lagi pula nasib percintaanku terancam. Mama juga sudah pesan supaya aku tidak terlalu dekat sama Sheila. Banyak orang mengira Sheila pacarku Ken. Turun kan pasaran abang dek. Kamu juga tidam kasih Sheila kepastian. Kalau Sheila naksir Abang, kamu bagaimana, karena kemana-mana Sheila selalu ikut abang. Biarkan Erwin dekati Sheila. Jodoh kan sudah diatur" Reza menjelaskan panjang lebar.


"Ya Sheila pasti pilih aku lah." Jawab Kenan tengil.


"Kalau sudah yakin kenapa masih panik?" tanya Reza.


"Hehehe aku tak suka saja Bang kalau ada yang dekati Sheila." suara Kenan sudah mulai melunak.


"Kamu tuh seperti terobsesi ya sama Sheila. Kalau sayang biarkan dia bebas, biarkan dia bahagia." Reza menasehati Kenan bak pujangga.


"Bang itu barusan siapa yang ngomong." Kenan menggoda Reza yang mulai emosi.


"Sudah ya Ken, Abang mau fokus sama skripsi Abang, biar cepat melamar Kiki." tegas Reza tanpa menghiraukan Kenan yang menggodanya.


"Abang jahat!!!" Kenan menutup teleponnya. Entah benar merajuk atau cuma menggoda, Reza tak peduli. Kalau dulu belum ketemu Kiki sih, pasti dengan senang hati Reza membantu adiknya. Sekarang ada Kiki, yang Reza tahu Kiki termasuk orang yang menduga bahwa Ia dan Sheila punya hubungan khusus. Tadi Reza ingin menjelaskan, saat Kiki turun dari mobil. Tapi sepertinya tak perlu. Biar nanti Kiki tahu sendiri.


Sampai dirumah, Kiki disambut mama dengan senyum lebar. "Sekalinya diantar Reza, pulangnya malam. Mampir dulu ya." tanya Mama ingin tau.


"Iya Ma, Kak Eja ada kerjaan dulu di Warung. Kayanya mereka mau buka cabang baru." lapor Kiki pada mama.


"Bagus dong. Ngobrol apa saja?" tanya mama lagi.


"Biasa saja Ma, Oh iya tadinya aku jumat diajak manggung lagi sama temannya Kak Eja. Tapi kita kan mau ke Kak Wina. Temannya sih bilang aku nyusul saja ke S'Pore setelah acara, karena teman Kak Eja mau kesana juga. Nah kata kak Eja tak usah, aku ke kak Wina saja. Kalau menyusul nanti sampainya jam 2 malam. Capek aku." Kiki merapikan sepatunya sambil terus bercerita pada mama.


"Iya, yang ada disana nanti kamu tidur terus. Percuma saja ikut." jawab mama yang duduk di sofa.


"Iya itu." Kiki tertawa mengingat kelakuannya sendiri.


"Terus apa lagi." pancing mama Kepo.


"Ya sudah itu saja Ma. Tak ada cerita lagi." jawab Kiki yang lupa menceritakan soal Rino karena menurutnya tidak penting, nanti Mama marah lagi.


"Kita berangkat jumat pagi ya Ma?" tanya Kiki lagi.


"Iya ma. Aku ke kamar ya Ma, ngantuk." setelah mama mengangguk Kiki pun meninggalkan Mama ke kamar. Mama masih menunggu Papa yang sedang keluar mencuci mobil ditempat langganan Papa.


Mama senang sekali waktu papa cerita, Reza menelpon Papa meminta ijin pulang bersama, tapi mampir dulu ke Restaurant Warung Elite. Mama berharap hubungan mereka dapat berjalan secara natural sampai hari H. Supaya tidak seperti kebanyakan orang yang dijodohkan ribut terus atau pisah kamar di awal. Mama tak mau seperti itu.


Enam bulan kemarin waktu Nina melapor bahwa Kiki seperti menjauhi Reza, Ririn sibuk memantau aktifitas Kiki, sampai dengan siapa saja Kiki berteman. Kalau ada teman lelaki yang mengantar Kiki pulang, langsung saja Kiki mendapat ceramah dari Ririn. Pernah Kiki diantar Rino pulang, Ririn mengoceh sampai tiga hari. Kiki sampai sakit kepala.


Hari ini Kiki diantar Reza, bahkan diajak pergi dulu, Ririn malah bahagia. Pesona Reza memang menghipnotis Ririn dan Ryan. Calon menantu idaman. Kiki juga hampir terkesan jika saja tak ingat Sheila.


Sampai dirumahnya Reza langsung menemui Nina mamanya. "Ada yang dekati Kiki dikampus Ma." lapor Reza.


"Kamu cemburu?" goda mama.


"Ish mama. Aku tidak tahu cemburu atau bukan. Cuma karena Kiki calon istriku, aku tidak suka ada cowok lain yang dekat dengan Kiki." Jawab Reza bersungut.


"Kamu aja selalu dekat dengan Sheila. Makanya Kiki menghindar dari kamu." mama ikut bersungut.


"Kenan tuh ma. Barusan saja dia telpon, marah karena aku minta Erwin mengantar Sheila, kan aku pulang bareng Kiki tadi." Reza mengadu membuat Mama tersenyum.


"Mama lamarin saja Sheila buat kenan, jadi aku aman." Reza memberi ide.


Nina menggeleng, "Beresin urusan kamu dulu saja." katanya kemudian.


"Ma, aku tidak sabar pengen dekati Kiki. Tapi kalau berduaan terus nanti aku khilaf." Mimik muka reza membuat mama ingin menjewer telinganya.


"Makanya cepat selesaikan Skripsi kamu. Begitu kamu selesai sidang dan lulus, kita langsung datang melamar." tegas Nina.


"Ma hubungan Kiki sama Rino tuh mengkhawatirkan, dipepet terus calon istri aku. Tadi dikantin dia tidak malu bilang kalau dia calon pacarnya Kiki." Reza kembali resah mengadu pada Nina.


"tidak apa, Nak. Biarkan dulu enam bulan ini." Nina tampak santai.


"Nanti Kiki naksir Rino ma kalau dibiarkan." Reza tampak khawatir.


Nina senang melihat kekhawatiran putra sulungnya. Berarti Reza betul sayang dari hati pada Kiki. Bukan karena dijodohkan dan terpaksa menurut pada orang tua.


"Sabar ya nak. Yang penting kamu fokus skripsi. Jodoh tidak kemana. Mama yakin Kiki akan pilih kamu." Mama kembali menenangkan Reza.


"Tante Ririn dan Om Ryan pasti menjaga Kiki buat kamu." kata Nina mantap.


"Kenan Ma?" tanya Reza lagi mengingat adiknya yang tadi sedikit sewot.


"Ah dia sih biarkan saja. Kamu kaya tak tahu Kenan aja." Kata Mama yang sangat paham dengan sikap putranya satu persatu.


"Ya sudah kamu istirahat, mama juga mau kekamar. Papa masih dibandung mungkin tengah malam baru sampai." Nina menepuk pundak Reza lalu meninggalkan Reza masuk ke kamar. Reza pun naik ke atas menuju kamarnya sambil melamun memikirkan Kiki.