
"Balik, Ken." pamit Mario pada Kenan, rombongan yang lain menyusul dibelakang Mario dan Regina.
"Tidur dimana, Bang? di rumahku saja semua." Kenan menawarkan.
"Kita sudah pesan hotel." sahut Andi menggandeng Pipit istrinya.
"Aih, mana seru begitu. Bang Eja, dirumahku saja kalau tidak muat di rumah Raymond, kalian bisa berkumpul semua seru-seruan." kata Kenan pada Reza.
"Sebenarnya bosan, mereka lagi, mereka lagi. Tapi boleh lah, kamu tidur dimana?" tanya Reza pada Kenan.
"Di Paviliun." jawab Kenan menaikkan alisnya.
"Nah batalkan saja hotelnya, friend. Kita acak-acak rumah pengantinnya." kata Reza pada sahabatnya. Mereka tampak berembuk, aih bikin Kenan tidak sabaran, segera menghubungi Bi Wasti untuk merapikan empat kamar dirumah dan menyiapkan makan malam untuk tamunya.
"Sudah ya, jangan jual mahal. Makan malam sedang disiapkan." kata Kenan setelah menutup sambungan teleponnya.
"Papa, aku pulang sama Mama." kata Nanta pada Kenan, ia datang menghampiri Kenan dan rombongan bersama Tari, Bagus, Roma dan Raymond.
"Kamu tidak menginap lagi, kan masih weekend, minggu saja nanti Papa antar pulang." bujuk Kenan pada Nanta. Nanta menatap Tari dan Bagus minta persetujuan.
"Minggu depan sudah ke Jakarta aku." kata Nanta pada Mamanya.
"Ya sudah menginap saja dulu." kata Tari memutuskan.
"Kamu bisa tidur di paviliun atau di rumah Bang Raymond, karena teman-teman ayah menginap dirumah kita." kata Kenan pada Nanta.
"Di Paviliun saja kita." ajak Nona senang.
"Jangan, dirumah aku saja. Nanti kasihan Nanta tidak bisa tidur kalau ada yang histeris." sahut Raymond konyol.
"Anaknya Bang Eja nih. Anak kalian begini juga kah?" tanya Kenan pada sahabat abangnya.
"Kurang lebih." kekeh Mario menepuk bahu Raymond.
"Mami dan Papi kenapa tidak ikut?" sungut Roma kecewa karena Mami Monik dan Papi Alex tidak hadir bersama sahabat yang lain.
"Bukannya masih di S'pore ya, bersama Intan dan Anto. Memang kamu tidak tahu?" tanya Regina istri Mario pada Roma.
"Oh iya, Naka dan Papa Anto sedang ada acara, aku kira sudah pulang Mom. Steve dan Ayu tidak diajak?"
"Oh, ini acara senior, junior silahkan bikin acara sendiri." kata Regina membercandai Roma. Roma tersenyum dengan sedikit memonyongkan bibirnya menatap Raymond.
"Baiklah sayang nanti kita atur supaya para junior bisa berkumpul disini." kata Raymond pada Roma yang mengangguk senang.
"Kamu tidak ikut Naka, Win?" tanya Reza pada Erwin.
"Acara Naka sudah sering kami lihat sementara acara Kenan ini yang terakhir kan. Jadi kami harus hadir, bukan begitu, Ken?" Erwin tertawa menatap Kenan.
"Iya, ini memang bukan F1 yang beberapa tahun sekali kalian bisa hadir." jawab Kenan sambil tertawa membalas candaan Erwin. Yang lain ikut tertawa dibuatnya.
Reza dan sahabatnya sudah pulang lebih dulu, Tari dan Bagus pun mengikuti. Nanta dengan setia menunggui Kenan dan Nona ditemani Raymond dan juga Roma. Deni baru saja muncul bersama Samuel dan Wawan. Entah dimana Tante Gadis dan suaminya, mungkin masih bersama Baron juga Mita. Kenan tidak melihat keberadaan mereka.
Mama Nina dan Papa Dwi bersiap untuk pulang, rupanya Baron dan Mita mengikuti besannya dari belakang.
"Ayo pulang." ajak Mama Nina pada Kenan.
"Bukannya sesuai aturan, pengantin harus menginap dirumah orangtua perempuan?" tanya Baron berusaha menahan Nona dan Kenan.
"Aturan dari mana, saya baru dengar." kekeh Kenan mengetahui akal-akalan Baron. Memang banyak yang begitu, tapi menurut Kenan itu bukan aturan baku.
"Papa masih ingin kamu menginap, Nona." kata Deni pada adiknya. Nona menatap Kenan meminta persetujuan.
"Saya masih banyak tamu dirumah, Nanta juga mau menginap. Nanti saja minggu depan kami menginap disini." kata Kenan pada Baron.
"Deni dan Samuel juga tamu Nona." ketus Baron mencari alasan.
"Kalau begitu Deni dan Samuel menginap saja di Paviliun bagaimana?" ajak Nona pada Deni dan Samuel, Kenan mengangguk setuju.
"Ok." jawab Deni cepat.
"Jadi Papa kalian tinggal sendiri, dasar tidak peka." omel Baron pada semuanya.
"Ah Papa semalam habis makan aku ditinggal masuk kamar. Setelah ini Papa pasti langsung masuk kamar." kata Samuel terkekeh pada Papa Baron. Baron tertawa tidak lagi mendebat.
"Tapi kami mengganggu kalian, yeaaay." teriak Deni kocak. Semua ikut berteriak sambil tertawa. Kenan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar.
"Kami tidak akan terganggu tenang saja." kata Kenan disela tawanya.
"Ya sudah ayo, Dek Baron, Dek Mita terima kasih ya." kata Mama Nina tidak sabaran ingin cepat pulang, menarik tangan Papa Dwi dan merangkul Nanta.
"Deni, gue sudah undang Jessica malah menghilang, menyebalkan." dengus Nona kesal. Deni mencebikkan mulutnya menatap Wawan. Mereka berjalan menuju Mobil.
"Kenapa?" tanya Wawan memberengut.
"Mantan lu, gue males." kata Deni pada Wawan.
"Ih tidak masalah. Lanjut saja." kata Wawan santai.
"Oh ternyata mantan Mas Wawan. Jangan lah." kata Nona terkekeh.
"Kenapa?"
"Sepertinya baru putus, masih ada kemungkinan balik lagi."
"Tidak mungkin. Tantemu bisa ngamuk, kasihan Jessica." mulai curcol, pantas saja Jessica tidak menegur Wawan tadi.
"Kalau Ibu tidak setuju, jangan ya." kata Mama Nina cepat lalu membuka pintu Mobil. Kenan tertawa mengingat Mama tidak pernah menyetujui hubungannya dengan Sheila dulu, meski tidak keras melarang.
"Dengar itu Wan?" kata Kenan pada Wawan.
"Siap perintah." jawab Wawan terkekeh.
"Aku ikut Oma dan Bang Ray." kata Nanta pada Kenan. Kenan menganggukkan kepalanya.
"Kami bawa Mobil saja." Kata Deni memencet tombol remotenya.
"Ok." jawab Kenan membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Nona masuk lebih dulu, Pak Atang sudah menunggu dari tadi didalam mobil.
"Bapak sudah makan?" tanya Nona pada Pak Atang.
"Sudah, ini malah dibungkusi tadi untuk dirumah." kata Pak Atang menunjuk bungkusan lauk pauk di sebelahnya.
"Kemana kita?" tanya Pak Atang pada Kenan.
"Paviliun." jawab Kenan menyadarkan badannya pada jok mobil.
"Saya kira ke hotel, honeymoon." Kekehnya jahil, Kenan tergelak dibuatnya sementara Nona senyum-senyum malu.
"Honeymoon kemana kita? tapi setelah tiga bulan baru agak santai." kata Kenan pada Nona.
"Aku juga satu bulan ini padat, Mas. Yang kerja sama dengan Kevin itu."
"Oh iya, kalian garap apa sih?"
"Kita bikin Event Organizer, Exhibition, International Ice scating dan sejenisnya."
"Waduh, bisa lebih sibuk dari saya, kamu nanti."
"Nah itu, aku mana sangka menikah secepat ini. Jadi bagaimana tuh? diteruskan atau jangan?"
"Teruskan saja, itu kerjaan sibuk dan seru juga. Tidak masalah."
"Kalau lagi ada acara bisa pulang malam bahkan pulang pagi." kata Nona sedikit berpikir, bagaimana kalau hamil nanti.
"Dijalani saja dulu, kalau saya tidak diluar kota pasti saya dampingi."
"Betul ya?"
"Hu uh."
"Thank you." kata Nona reflek mengecup Pipi kiri Kenan.
"Satu lagi." Kenan merubah posisi duduknya dan menunjuk Pipi kanannya. Nona menurut memajukan badannya dan mengecup Pipi kanan Kenan, kemudian sedikit terkejut karena dengan cepat Kenan ******* bibir Nona.
"Sama-sama sayang." katanya tersenyum jahil, sementara Nona melotot sambil melirik Pak Atang yang pura-pura tidak melihat.