
"Tadi Aditia sudah datang, minta atur waktu bertemu di Unagroup. Apa Winner dan Lucky bisa? kalau jadi syutingnya di S'pore." kata Kenan pada Micko.
"Bisa." jawab Micko pasti.
"Mereka tidak sekolah?" tanya Kenan mengerutkan dahinya.
"Untuk syuting bisa diatur kan, kalau pertemuan pilih setelah jam sekolah saja." jawab Micko santai. Kenan menganggukkan kepalanya mengerti.
"Aku pulang dulu, Bang." pamit Kenan pada Micko setelah melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah pukul Lima sore.
"Aku juga, ayo." ajak Micko pada besannya. Sudah punya perusahaan masih belum mau tinggalkan Syahputra Group, padahal Suryadi Corporation menunggu sentuhan tangan Micko.
"Kapan Abang ke Suryadi Corporation? kasihan juga mereka tidak terurus." tanya Kenan pada Micko.
"Yuk temani." ajak Micko.
"Seperti bocah saja minta ditemani." tertawa sambil melangkah beriringan menuju lift. Staff sudah banyak yang pulang.
"Kamu kan juga harus ikut urus Suryadi Corporation, Ken."
"Aku hanya bayangan, Abang lah yang harus urus itu semua." jawab Kenan terkekeh.
"Tapi harus dibantu kamu, mana mungkin aku sendiri, kita ini tim." Kenan tertawa mendengarnya, bagaimana bisa bilang tim untuk perusahaan yang bukan milik keluarga Syahputra.
"Ingat anakmu menantu keluarga Suryadi." Micko menaikkan alisnya. Dasar Micko menggunakan Nanta supaya Kenan mau ikut terjun membantu perusahaan keluarganya.
"Mau rekrut Nanta urusannya sama Bang Eja." jawab Kenan cengengesan, mana berani Micko ngotot sama Reza.
"Aku akan bujuk Reza." Micko terkekeh.
Sementara itu di Warung Elite, Nanta masih berada di Cabang Selatan, sudah sesore ini ada saja yang ditanyakan staff di sana, jadi Mario dengan sabar meladeni dan menjawab pertanyaan mereka.
"Apa masih ada pertanyaan?" tanya Mario pada pimpinan cabang selatan.
"Untuk penyanyi yang akan mengisi acara hari jumat sore, apa bisa acaranya dipindahkan kesini?" tanya pimpinan cabang yang bernama Cyla.
"Cabang Selatan kan ada jadwal tersendiri. Jumat besok untuk cabang Utama." jawab Mario, Nanta hanya menyimak untuk sementara belum bisa ambil keputusan, ia masih mempelajari segala sesuatunya.
"Tapi penyanyi itu sangat diminati, jika sudah tampil dicabang Utama, kita cabang selatan hanya dapat sisanya." Cyla menghela nafas panjang.
"Kalau cabang Utama maju bukannya cabang selatan ikut senang?" Nanta akhirnya buka suara.
"Setiap cabang punya target masing-masing. Tetap saja kita seperti bersaing." jawab Cyla pada Nanta.
"Mestinya sih jangan ditanamkan sikap bersaing, karena menurut aku harus seiring sejalan. Bukankah setiap pelanggan memiliki karakteristik masing-masing? Kita tidak bisa pukul rata. Setiap wilayah polanya berbeda-beda." kata Nanta santai tanpa bermaksud memojokkan.
"Bicara saja gampang." jawab Cyla sengit. Seperti tidak suka mendengar apa yang Nanta katakan. Nanta tersenyum saja tanpa meladeni Cyla yang sedikit sewot.
"Apa kamu mau sementara di cabang Utama, Sementara Nanta saya perintahkan untuk handel disini, supaya dia tidak sembarang bicara?" tanya Mario pada Cyla.
"Boleh juga begitu." jawab Nanta tersenyum. Ia perlu membuktikan pada Cyla jika ia tidak sembarang bicara.
"Kenapa saya harus di cabang Utama?"
"Supaya kamu tahu bagaimana situasi di cabang Utama, kami juga tidak mau pilih kasih. Anggap saja kamu sedang study banding." kata Mario pada Cyla, terlihat sekali Cyla tidak suka kehadiran Nanta yang menurutnya anak kemarin sore yang asal bicara.
"Aku ikut arahan saja mau letakkan dimana." jawab Nanta pada Mario, ia harus siap dan tunjukkan jika ia mampu. Rupanya dunia kerja tidak seindah Dunia kampus, bentuk persaingan dan senioritas tampak jelas sekali. Beda lagi dengan dunia Atlit yang sudah Nanta tekuni.
"Saya dimana Pak?" tanya Cyla pada Mario.
"Kamu mau ke cabang mana? mau tetap disini memantau Nanta atau bekerja sama dengan Nanta. Kalau ingin bersaing harus ke cabang Utama." Mario tersenyum memandang Cyla.
"Mungkin kita bisa bekerja sama." Nanta menawarkan, ia tidak suka gaya Cyla yang berasa senior, tapi bagaimanapun Nanta harus bersikap tenang.
"Saya dicabang Utama saja sementara Nanta disini, setelah Nanta kembali Ke cabang Utama baru saya ke sini lagi." Mario anggukan kepalanya.
Kadang suka bingung sama orang yang memang bekerja di perusahaan orang lain, tapi tidak terima jika keluarga petinggi datang dan aktif di perusahaan tersebut, walaupun orang baru tapi orang tersebut sudah disiapkan untuk menjadi pemimpin, dan sepertinya Cyla tidak siap menerima itu.
"PR kamu lumayan berat, Boy." Mario terkekeh saat keluar dari cabang selatan.
"Menghadapi Cyla maksud Papi?" tanya Nanta pada Mario.
"Iya, jiwa bersaingnya tinggi. Banyak dari cabang lain yang mengeluh soal Cyla. Tapi bagaimanapun kinerja Cyla cukup Bagus. Cabang Selatan terus saja kebanjiran orderan. Papi mau lihat kalau kamu yang di cabang selatan, akan bertambah orderan atau bagaimana." Mario menepuk bahu Nanta.
"Semoga saja Cabang Selatan tidak merugi selama aku disana." jawab Nanta tersenyum.
"Mestinya sih tidak Boy, Papi yakin kamu bisa."
"In syaa Allah Pi." jawab Nanta tersenyum.
"Jadi bagaimana iklan makanan sehat?" tanya Mario kemudian setelah Nanta melajukan kendaraannya keluar dari area Cabang Selatan.
"Hari ini Mas Aditia ke kantor Papa untuk membahas lebih lanjut." jawab Nanta berikan informasi.
"Syutingnya di S'pore Pi." lapor Nanta lagi.
"S'pore dekat hanya satu jam lebih sedikit." Mario tersenyum.
"Sepertinya kamu juga akan jadi modelnya temani Balen." kata Mario kemudian, ia sudah dapat laporan terbaru dari Steve.
"Aku? mana mungkin lah Pi, kemarin yang dibahas hanya Balen saja." jawab Nanta fokus menyetir.
"Kenapa tidak mungkin, kamu terkenal loh."
"Cyla saja anggap aku remahan rengginang yang asal bicara." Nanta terkekeh.
"Cyla jangan kamu ambil hati, memang Dunia kerja modelnya macam-macam. Kalau dikampus sih rasanya permasalahan hanya pelajaran dosen dan percintaan, kalau ini urusannya sudah duit dan perut." Mario tertawa melihat ekspresi Nanta yang memberengut.
"Kadang kalau sudah pikirkan uang bisa halal semua itu, Boy."
"Duh aku jangan begitulah Pi. Jauh-jauh deh." Nanta terkekeh.
"Kamu sih, tinggal kerja yang benar saja. Uang sudah datang terus."
"Tetap harus dicari Pi, mana bisa datang sendiri." Nanta jadi nyengir lebar.
"Boy, kamu tidak berasa ya, diusia sekarang bahkan dari lahir kamu tidak pernah dipusingkan soal uang. Bahkan setelah remaja kamu pun bisa hasilkan uang dari Basket, sekarang kamu sudah mulai bekerja di Warung Elite pastinya akan dapat uang juga. Dikejar uang ya kamu, belum lagi nanti dari Iklan."
"Semua itu kan hasil jerih payah Pi, Pusing yang aku dapat pun beda sama orang lain. Keluargaku broken home walaupun akhirnya membaik bahkan sudah sangat baik. Untuk bisa masuk Basket juga aku latihan keras, tidak asal masuk."
"Semua harus melewati jalur kompetisi dulu. Semua pakai proses dan yang pasti tidak semudah yang orang bayangkan, walau tidak sesulit yang aku bayangkan juga. Mengalir saja karena Allah." cerocos Nanta, Mario pun jadi tersenyum memandang kebanggaan Reza ini.