I Love You Too

I Love You Too
Nona



"Yang benar saja, aku satu kamar dengan pasien laki-laki." gadis cantik dengan wajah Indonesia asli tampak emosi tampak berbicara via telepon sementara inpus ditangannya. Ia benar-benar tidak nyaman dengan kondisinya saat ini. Entah apa jawaban dari lawan bicaranya.


"Iya aku tahu mereka bilang semua kamar penuh. Tapi aku mau pulang dan kamu jemput aku sekarang." tegasnya lagi.


"Hei kalau aku diperkosa bagaimana? bisa saja dia pura-pura tidak sadar. Kamu dan teman-temanmu gila ya, mana boleh lawan jenis ada dalam satu kamar." suaranya mulai naik satu oktaf.


"Aku akan tuntut kamu dan rumah sakitmu ini!!!" dia berteriak marah, kemudian menutup sambungan teleponnya.


Kenan terbangun dari tidurnya, ia mengerjapkan matanya, dimana ini? Kenan mulai mengingat apa yang terjadi. Putih semua, ia terbaring di kasur dengan ruangan tertutup tirai. Kenan menghela nafas panjang, ia teringat terakhir sedang menyetir kendaraan di tol menuju Jakarta. Ini di rumah sakit, Kenan belum tahu pasti apa yang terjadi. Yang ia ingat abangnya Reza memintanya pulang, terkait pekerjaan pastinya, apalagi? Tidak mungkin karena perceraiannya beberapa tahun yang lalu. Malas berpikir Kenan kembali tidur karena matanya masih terasa berat, mungkin efek obat batinnya.


Kenan kembali terbangun karena wanita disebelahnya tidak bisa diam. Kali ini dia berbicara via telepon, konyolnya handphonenya di loudspeaker, tentu saja bertambah ribut dan mereka tertawa tanpa mengenal tempat. Berisik sekali, keluh Kenan. Sayang saja badannya sulit digerakkan, jika bisa ia pasti akan segera mengambil handphone itu dan mematikannya.


"Disebelah gue laki-laki, konyol kan?"


"Kenapa begitu?"


"Tabrakan beruntun, tiga bus dan dua mobil pribadi sepertinya yang disebelah korban kecelakaan, katanya sih tidak sadar."


Ups, tabrakan beruntun rupanya, apa? aku sempat tidak sadar? tanggal berapa sekarang? banyak pertanyaan dikepala Kenan dan ia tidak bisa memberi kabar pada keluarganya, bagaimana ini???


'Ya sudah sabar saja, kenapa emosi? yang penting lu cepat sembuh, buruan ke Jakarta." terdengar suara lelaki lawan bicaranya.


"Iya lah emosi, masa gue di kasih satu kamar sama laki sih. Gue bakal tuntut tuh dokter gila."


"Eh dokter gila itu abang lu sendiri kan?"


"Nah, gila kan? Masa tidak bisa siapkan satu kamar buat gue."


"Keadaan darurat, sayang."


"Rumah sakitnya mau gue tuntut juga."


"Hei, itu rumah sakit Bapak lu. Kayanya yang gila elu deh."


"Mereka lah, masa gue. Anaknya sendiri dibikin seperti ini." teriaknya dan kembali menutup telepon sepihak.


Kenan terpaksa menguping karena suaranya benar-benar nyaring terdengar.


"Apa lagi???" teriak gadis tersebut saat mengangkat handphonenya berdering.


"Kenapa dimatikan? kebiasaan. Itu tidak sopan."


"Lu sahabat gue bukan? tadi lu ngatain gue gila."


"Ya gila lah masa rumah sakit lu sendiri mau lu tuntut, Abang lu juga mau lu tuntut. Padahal keadaan darurat."


"Kalau gue diperkosa bagaimana???"


"Siapa yang mau perkosa cewek bawel kaya lu sih. Sebel malah iya."


"Jangan telepon gue lagi. Kita End." kembali dimatikannya sambungan telepon itu.


"Lucu." gumam Kenan mendengar ke khawatiran gadis tersebut. Ia jadi tertawa dibuatnya.


"Sialan!!! semua sialan!!!" gadis tersebut berbicara sendiri. Bak buk bak buk, seperti menghempaskan kakinya di kasur berulang kali. Suasana mulai hening. Mungkin dia tidur. Bagaimana ini? belum ada perawat yang memeriksa kondisinya. Kenan mulai resah.


"Nona, Nona yang disebelah, bisa bantu saya?" Kenan memanggil gadis disebelahnya.


"Kamu kenal saya? kamu sudah sadar? Benar-benar sialan semuanya." kembali mengumpat.


"Tidak kenal."


"Kenapa tahu nama saya Nona?"


Kenan tertawa mendengarnya, polos sekali. Aku panggil dia Nona karena dia perempuan, katanya dalam hati.


"Bantu saya please, kabarkan pada perawat kalau saya sudah sadar, Nona."


"Kabarkan saja sendiri. Jangan kamu kira karena tahu nama saya, bisa perintah saya seenaknya."


"Kamu boleh intip, saya tidak bisa bergerak. Saya mau suster kabarkan keluarga saya."


"Oke." tidak ada bantahan.


"Iya non." terdengar suara perawat dari speaker.


"Pasien disebelah sudah sadar."


"Nomor telepon keluarga kamu berapa, aku hubungi." mulai melunak dan berbaik hati. Kenan menyebutkan nomor telepon abangnya.


"Kamu bisa teriak? suara abangmu akan aku loudspeaker."


"Kamu saja yang bilang, katakan Kenan kecelakaan dan sekarang kita ada dikamar berapa."


terdengar nada sambung pada handphonenya.


"Halo Pak Reza, adik kamu Kenan kecelakaan, sekarang ada dirumah sakit xxxx kamar xxx."


"Iya saya sebentar lagi sampai." terdengar suara Bang Reza tersayang.


Dokter dan perawat datang melihat kondisi Kenan. Setelah melakukan beberapa pemeriksaan dari ujung kepala, mata hingga kaki.


"Bagus." kata dokter tersebut.


"Apanya yang bagus Samuel, dia saja tidak bisa bergerak." teriak gadis disebelah.


"Nona?" bisik dokter tersebut pada suster sambil tertawa. Suster menganggukkan kepalanya.


"Maaf pak Kenan kalau berisik, anak owner yang disebelah." kekeh dokter Samuel. Kenan ikut terkekeh.


"Hei Samuel, kamu mengabaikan aku? lihat saja nanti ya kalau aku sehat." teriaknya lagi. dokter Samuel menggelengkan kepalanya. Ia tampak menyeringai.


"Sementara masih harus di gips, Beberapa hari yang lalu sudah dilakukan tindakan atas persetujuan Bapak Reza. Jika tidak ada keluhan satu minggu kedepan Bapak sudah bisa pulang."kata dokter Samuel pada Kenan. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih, dokter." kata Kenan. dokter Samuel tersenyum dan berjalan keruangan sebelah.


"Pura-pura sakit ya?" sepertinya mereka sudah sangat akrab.


"Rese, tidak lihat ini lagi di infus"


"Masih bawel tapi. Kenapa lagi? senang sekali di rumah sakit."


"Biar ketemu kamu Samuel. Kalau tidak dirawat mana bisa kita ketemu." mereka tertawa bersama.


"Itu sudah sadar, sudah bisa pindah kamar dong." katanya kemudian.


"Kamu yang harus pindah kamar, ini sudah di booking keluarga Pak Kenan, kamu yang sedang menumpang tahu?"


"Eh rumah sakit punya Bapak gue."


"Apa ada kamar khusus yang disiapkan Bapakmu untuk kamu?"


"Tidak ada."


"Kenapa bisa dirawat. Ini hanya vitamin." Samuel menunjuk infusan ditangan Nona.


"Kurang gizi kali gue." jawabnya sembarangan.


"Kamu boleh pulang setelah infus habis."


"Mana bisa begitu. Papa dan Deni belum membesuk."


"Kamu tidak sakit Nona, kalau mau berlibur di hotel saja jangan di Rumah Sakit." Samuel kembali terkekeh. Nona Adik dokter Deni sahabatnya, selalu saja meminta perhatian keluarganya dengan aksi mogok makan dan berakhir masuk rumah sakit.


"Deni suruh besuk gue." katanya pada Samuel.


"Telepon saja bilang minta dibesuk."


"Tadi gue ajak ribut, gue bilang mau tuntut dia dan rumah sakit ini."


"Konyol, tuntut pakai uang siapa?" Nona memonyongkan mulutnya.


"Gue digabung sama pasien laki." tanpa menjawab pertanyaan Samuel. Kenan menyimak saja sambil tersenyum membayangkan seperti apa gadis bawel ini.


"Kamu tidak dapat kamar, mau di letakkan dibangsal tapi Pak Reza kasihan, jadi beliau berbaik hati mengijinkan kasur kamu masuk keruangan Pak Kenan."


"Alasan!!!"


"Kamu yang alasan, mogok makan sampai lambungmu bermasalah."


"Samuel elu juga menyebalkan seperti Deni." Nona menutup wajahnya dengan selimut, ia merajuk.


"Dasar bocah." Samuel terkekeh dan keluar meninggalkan Nona sendiri diikuti perawat yang mendampinginya.