I Love You Too

I Love You Too
Apartment



"Mas, nanti di Jakarta aku mau kenalkan Mas Kenan sama sahabatku ya, namanya Rudi." kata Nona dalam perjalanan ke bandara pagi ini.


"Mantan kamu?" tanya Kenan menegaskan.


"Mantan saja terus, kan aku bilang tadi sahabat." dengus Nona kesal, tapi langsung saja merebahkan kepalanya dibahu Kenan dengan manjanya. Setelah sarapan tadi Nona, Kenan, Raymond dan Roma berangkat ke bandara diantar supir kantor.


"Sahabat kamu laki-laki semua, pusing saya." Kenan menggerakkan bahunya hingga kepala Nona ikut bergoyang. Nona terkekeh jadinya, jahil sekali Kenan.


"Cuma Kevin sama Rudi." kata Nona masih terkekeh.


"Rudi tuh siapa lagi?" tanya Kenan ingin tahu. Raymond dan Roma hanya menyimak saja.


"Rudi itu yang menemani aku di Jakarta sebelum menginap dirumah Mama tempo hari." Nona menjelaskan.


"Oh..." itu saja tanggapan Kenan, ia berusaha percaya pada istrinya. Mereka sudah tiba di bandara, tak banyak barang bawaan, Nona hanya membawa koper kecil yang berisi bajunya untuk dua hari, sementara Raymond, Kenan dan Roma hanya membawa tas kecil pengganti dompet dan tempat handphone. Mengikuti gaya Kenan yang setiap ke Jakarta tidak pernah membawa pakaian ganti, mengandalkan stok pakaian yang ada di Jakarta.


Perjalanan di udara selama satu setengah jam berjalan lancar, udara sangat cerah dan penerbangan pun nyaman tanpa guncangan yang mendebarkan. Sekitar pukul dua belas siang mereka tiba dibandara Soekarno Hatta.


Roma tersenyum begitu melihat Mami Monik saat keluar dari pintu bandara.


"Itu mamiku." bisik Roma pada Nona menunjuk Mami Monik yang tampak bersinar diantara yang lain. Masih saja cantik seperti muda dulu.


"Cantik sekali." kata Nona mengagumi kecantikan Monik.


"Mami tak terkalahkan." kekeh Raymond pada Roma dan Nona. Nona mengangguk setuju.


"Mamiii." teriak Roma begitu mendekat pada Monik dan langsung melompat memeluk Monik penuh kerinduan.


"Sayang, berat." Monik berusaha melepaskan pelukan putri kesayangan yang bergelantung dibadannya, masih saja merasa seperti bocah.


"Ih, Mami tidak sweet." keluh Roma melepaskan pelukannya.


"Susah nafas Mami, kamu main tabrak saja." heboh sekali Ibu dan Anak ini, langsung saja saling menyalahkan. Raymond dan Kenan terkekeh sudah tidak heran lagi.


"Kak Monik, sendiri?" tanya Kenan mencari Alex yang biasanya tidak pernah mau melepas istrinya sendirian.


"Alex lagi ambil mobil, ayo kalian kami antar ke kantor." ajak Monik pada yang lain, dan sedikit terpana melihat Nona.


"Ini istrinya Kenan kah?" tanya Monik sedikit ragu, takut salah tebak.


"Iya Mi, ini Kak Nona." kata Roma mengenalkan Nona pada Maminya.


"Duh sorry ya Non, Ken. Waktu itu tidak bisa datang, Alex menemani Anto yang menemani menantunya Naka, aku dan Intan menemani suami, hahaha pusing sendiri jadinya." Monik terbahak bingung sendiri dengan kalimatnya.


"Mami tinggal bilang menonton Naka balap, kita sudah mengerti." kata Roma ikut tertawa.


"Aku panggil apa ini Kak Monik apa Tante Monik?" tanya Nona bingung.


"Kamu panggil Kiki apa? Tante?" tanya Monik masih dengan suara sengaunya.


"Kakak."


"Ya sudah panggil aku Kakak juga lah, bagaimana sih." Monik menepuk bahu Nona tertawa geli sendiri.


"Mami aku sama Om Kenan dijemput supir kantor." kata Raymond pada Mami Monik.


"Oh sudah Mami batalkan, Mami masih kangen sama kamu Lemon." Hahaha langsung saja semua terbahak mendengarnya. Sepertinya Mami Monik terkontaminasi dengan Naka.


"Aih aku baru tahu panggilan sayang kamu, Ray." kata Nona terkikik.


"Itu karena waktu kecil aku belum lancar bicaranya." Raymond ikut tertawa.


"Iya setiap ditanya nama selalu jawab namanya Lemon." Roma menjelaskan pada Nona.


"Tapi diantara yang lain Ray yang cepat lancar bicaranya. Yang lain masih pada cadel Ray sudah lancar sebut huruf R." kata Monik kemudian. Mereka berjalan menghampiri Alex saat mobilnya mendekat. Alex menyetir kendaraannya sendiri, langsung saja memberi kode pada Kenan agar duduk dibangku penumpang depan.


"Kalian dibelakang sekali." perintah Monik pada Raymond dan Roma. Langsung anak dan menantunya sigap masuk kedalam mobil lebih dulu. Kemudian baru Monik dan Nona menyusul duduk di kursi tengah.


"Rajin sekali langsung ke kantor." kata Alex pada Kenan yang duduk disebelahnya.


"Ada yang harus dibahas dengan Bang Eja." kata Kenan pada Alex.


"Kapan mau pindah ke Jakarta? Reza sudah tidak sabar." tanya Alex yang rupanya sudah tahu juga berita kepindahan Kenan ke Jakarta.


"Ini makanya mau dibahas hari ini." jawab Kenan sudah tidak heran jika tidak ada rahasia antara abangnya dengan para sahabatnya.


"Mi makan di Warung Elite, biar Kak Nona tidak penasaran." ajak Roma pada Maminya.


"Boleh." jawab Monik dan Alex berbarengan.


"Ray, coba tanya ayah dimana, kasih tahu kita mau makan di cabang Utama." perintah Alex pada Raymond.


"Iya Pi." jawab Raymond patuh dan langsung menekan tombol pada handphonenya.


"Kalian sudah sampai? tadi supir mau jemput, Mamimu langsung saja ambil alih." kata Reza begitu mengangkat sambungan telepon anaknya.


"Sudah, ini lagi sama Mami dan Papi. Kita mau makan di Warung Elite cabang Utama, ayah dimana?"


"Kebetulan Ayah juga lagi disini, ayah tunggu ya, mau makan apa ayah pesankan menunya?"


"Apa saja langsung pesankan saja, Kak Eja." sahut Monik yang mendengar apa dikatakan Reza.


"Oke, ayah pesankan sekarang, nanti langsung ke ruang VIP 2 saja." kata Reza pada Raymond. Raymond pun menutup sambungan teleponnya setelah pembicaraan dengan Ayah Eja berakhir.


"Diruang VIP 2 ada alat musik, Kak Nona bisa main musikkah?" tanya Roma pada Nona ketika Raymond memberi tahu ruangan mereka nanti.


"Biola." jawab Nona tersenyum.


"Oh ya? sayang sekali di sana tidak ada biola. Andai saja ada, bisa kita minta Nona menghibur kita setelah makan." kata Monik sedikit menyesal.


"Raymond saja nanti yang bermain musik." kata Kenan pada Monik.


"Bukannya kita mau membahas kepindahan Om sama Ayah?" tanya Raymond pada Kenan.


"Ayah kan juga ada disana, ya sudah bahas sambil makan saja. Sudah tidak bisa dirubah juga keputusan Ayahmu kan? buktinya Bang Alex saja sudah tahu, berarti bukan sekedar wacana." Kenan dan Alex terkekeh.


"Kalian mau tinggal dimana nanti?" tanya Alex pada Kenan.


"Maunya dekat sekolah Nanta dan dekat kantorku, jadi tidak capek dijalan kena macet." jawab Kenan.


"Yah berarti di komplek perumahan kita saja." kata Monik memberi saran.


"Sementara belum dapat rumah, dirumah. Mama dulu kan bisa. Mama dan Papa sih kemarin sarannya begitu, tapi pertimbangan lain bisa juga di apartment ku." jawab Kenan santai, Nona menyimak penuh konsentrasi.


"Apartment Om Kenan enak tuh." kata Roma kode pada Raymond, ia sempat ingin tinggal disana, tapi Raymond tidak suka tinggal di apartment, lebih suka rumah yang ada halamannya.


"Sekali-kali numpang menginap saja di apartment Om Kenan. Kalau tinggal disana sih aku tidak mau." tolak Raymond tegas.


"Aku cuma bilang enak. Tidak minta tinggal disana." sungut Roma kesal karena Raymond langsung mematahkan harapannya.


"Kak Nona maunya tinggal di rumah apa apartment?" tanya Roma pada Nona.


"Disuruh memilih?" tanya Nona pada Roma.


"Hu uh." Roma menganggukkan kepalanya.


"Di rumah." jawaban Nona mengecewakan Roma. Mulutnya maju beberapa senti.


"Kalau Kak Nona jawab Apartment pasti Roma mau bilang Tuh Ray Kak Nona saja mau di apartment." Raymond menggoda istrinya.


"Ish menyebalkan, kamu tahu saja." dengus Roma sambil mencubit pinggang suaminya.


"Mami dan Papi juga lebih suka rumah, kamu kenapa ingin sekali di apartment sih?" tanya Monik pada Roma.


"Enak bisa lihat pemandangan Jakarta dari atas gedung."


"Hmmm kalau lift mati atau gedung goyang juga kamu langsung teriak."


"Ah Mami mah selalu menakuti aku begitu." Roma mulai ngambek karena tidak ada yang mendukungnya.


"Loh itu salah satu resiko tinggal di gedung pencakar langit, bagaimana sih. Kemungkinan seperti itu selalu ada." kening Monik langsung berkerut ikut kesal pada Roma.


"Roma kamu dan Ray mau menginap di apartment? nanti Om kasih kuncinya. Om dan Kak Nona menginap di rumah Ayah." kata Kenan pada Roma.


"Bagaimana, Mi?" Roma meminta persetujuan Mami Monik.


"Kalian menginap di rumah Papi dan Mami. Memangnya tidak jelas ya tadi Mami bilang Mami masih kangen." tegas Monik pada Roma.


"Lain kali saja Om." Jawab Roma tidak mau mengecewakan Maminya.