
Dirumah Samuel, Balen duduk saja diteras tidak mau masuk, padahal dari tadi sudah dipanggil untuk makan bersama.
"Baen, matan dulu nih." panggil Richie untuk yang kesekian kali.
"Baen tundu Aban." selalu jawab begitu.
"Oh..." Richie kembali masuk ke dalam, lalu duduk didekat Mamon, sudah pasti minta disuapi.
"Mana Balen?" tanya Nona pada bungsunya.
"Di telas." jawab Richie santai.
"Suruh makan dong." kata Nona lagi.
"Udah tan, atu telus pandil dali tadi Baenna ndak masut juda." jawab Richie tidak jelaskan kenapa Balen tidak masuk juga dari tadi.
"Mamon panggil dulu deh, atau kita makan diteras?" Nona tawarkan pada Richie supaya bisa suapi keduanya sekalian di teras.
"Matan meja matanlah." protes Richie.
"Ichie sama Tante Dini ya." Dini tawarkan suapi Richie.
"Ndak, ama Mamon aja." tidak mau, kali ini maunya disuapi Mamon, entah kenapa padahal Mamon cepat naik oktaf. Nona segera beranjak tinggalkan semua yang sedang bersantap di meja makan sambil asik ngobrol, ada saja yang dibahas.
"Balen, masuk dong, yang lain sudah pada makan tuh." ajak Nona pada Balen.
"Baen tundu Aban." katanya memandangi setiap mobil yang lewat.
"Ya ampun dari tadi tunggu Abang?" Nona mendelik tidak percaya.
"Yah." jawab Balen memandang Mamon, Nona jadi kasihan melihat gadis kecilnya sudah berkeringat tunggui Abangnya yang pasti tidak akan datang.
"Abang tidak kesini sayang, mereka langsung ke Jakarta." Nona jelaskan pada Balen.
"Napa ndak biang dai tadi sih." langsung cemberut turun dari bangku dan masuk bergabung di meja makan, pilih bangku dekat Papon lalu senderkan kepalanya di pinggang Papon.
"Kenapa?" tanya Kenan melihat gaya Balen seperti orang yang bersedih. Semua jadi hentikan pembicaraan pandangi Balen.
"Rupanya dari tadi di luar tunggui Nanta." Nona menghela nafas gelengkan kepalanya.
"Oh sudah pulang ke Jakarta Abangnya." Deni terkekeh.
"Ndak tasih tau Baen sih Aban. Baen tunduin aja sendii." Balen memberengut.
"Om lupa bilang Balen, maaf ya." Deni tertawa ingin peluk Balen tapi sulit dijangkau.
"Kan ada Om Muel. Lagi di Cirebon masih pikirkan Abang saja." Samuel mengacak anak rambut keponakannya.
"Iya harusnya main sama si Kembar tuh." tunjuk istri Samuel pada Balen. Balen masih saja cemberut sambil peluki Papon, sesekali menghembuskan nafas kasar.
"Sekarang makan dulu, nanti kita kejar Abang ke Jakarta." kata Erwin pada Balen.
"Yah." jawab Balen mulai semangat mau kejar Abangnya.
"Dekat betul sama Nanta." Enji tertawa pandangi Balen.
"Nanta juga sih, adiknya mau apa diikuti saja." kata Nona tersenyum, senang anak-anak saling menyayangi.
"Sekarang Balen senang juga kan, meskipun Abang sudah pulang duluan, tapi bisa berkumpul kita, bertemu keluarga di Cirebon." kata Ayah Eja ikut bujuki anaknya.
"Yah senen." jawab Balen lesu.
"Atu aja senen Baen." celutuk Richie sambil menunjuk piringnya minta Nona suapi lagi.
"Baen tamu matanlah, tita mo Jatata nih." kata Richie lagi.
"Yah." Balen anggukan kepalanya meskipun belum pakai senyum.
"Papon suapi?" tanya Kenan pada Balen.
"Ndak usah." katanya lagi ambil piring yang berisi makanan untuknya. Yang lain senyum-senyum melihat Balen yang kecewa ditinggal pulang Abangnya.
"Kemarin Papi sudah bilang kan kita ke Cirebon tapi tidak bergabung sama Abang." Mario ingatkan Balen.
"Iya, Baen upa." jawab Balen mulai suapi sendok makanan ke mulutnya. Melihat Balen sudah tenang kembali obrolan santai berlanjut. Tidak kalah seru dengan rombongan Nanta, hanya saja yang ini diselipi dengan rencana-rencana pengembangan bisnis.
"Nanti kita bahas sama Nanta, sanggup tidak dia jika perluasan Warung Elite di Cirebon." kata Reza pada Deni dan Samuel yang sarankan untuk membuka cabang di Cirebon.
"Ditangan Abang-abang menjamur di Jakarta, harusnya di tangan Nanta mulai merambah ke luar kota." kata Deni pada semuanya.
"Harapannya sih begitu, tapi Nanta masih belajar." kata Reza lagi.
"Nanta inovatif kok." sahut Andi.
"Tapi waktu Nanta terbatas, dia masih aktif di basket dan tidak mau melepas itu." Reza ingatkan sahabatnya.
"Bukan tidak mungkin Syahputra atau Suryadi harapkan Nanta." sahut Kenan.
"Tidak bisa!" keempat geng ganteng kompak sekali. Kenan langsung saja nyengir lebar, anaknya sudah tidak bisa kemana-mana.
"Seperti Abang?" tanya Samuel menahan tawa.
"Iya, taya Aban, boleh tan?" bujuknya pada Ayah.
"Boleh, sekolah yang rajin ya, nanti kerja di Warung Elite." jawab Mario terkekeh.
"Atu tuwiyah aja ya Papa." pintanya pada Papa, lagi-lagi mau langsung kuliah.
"Belajar baca dan berhitung dulu baru kuliah." jawab Kenan.
"Dimana sih belajalna?" tanya Richie.
"Disekolah." jawab Kenan pandangi Richie gemas.
"Halus setolah ladi, capek atu."
"Kerja juga capek loh." kata Andi pada Richie.
"Teja sih halus capek Papa Andi." mulai sok tua.
"Kalau begitu belajar capek di sekolah ya, jadi nanti saat kerja sudah biasa capeknya." kata Reza tertawa.
"Kalau Ichie capek Bunda pijiti deh." Kiki menggoda Richie.
"Papa setolahna dilumah ajalah, atu ndak mau setolahan." pinta Richie pada Kenan.
"Ada sih homeschooling, tapi kenapa kamu tidak mau di sekolah, enak loh banyak temannya." Kenan jelaskan pada Richie.
"Lobot atu tasian, ndak boleh itut setolah nanti." rupanya pikirkan robot.
"Kalau lagi sekolah jangan pikirkan mainan, Saat sudah pintar nanti kamu bisa bikin robot sendiri." Regina ikut nimbrung, cucu mereka jauh, jadi menggoda Richie saja obat rindu.
"Sudah bisa bahasa Inggris belum?" tanya Pipit ingat Richie ingin belajar bahasa Inggris pulang dari S'pore.
"Seditit aja." jawab Richie.
"Belajar sama Mami dan Papi tuh." tunjuk Nona pada Mario dan Regina.
"Emanna Mamon ndak bisa ajalin atu?" tanya Richie, makannya sudah selesai.
"Papi sama Mami lebih jago." jawab Nona lagi.
"Atu telumah Mami tapan?" tanya Richie inisiatif.
"Mau apa?" tanya Regina.
"Belajar basa Indis." jawabnya semua terbahak.
"Nanti di Mobil kita belajar bahasa Inggris." jawab Regina terkekeh.
"Baen juda ya." pinta Balen.
"Oh iya dong, Balen juga mau pintar bahasa Inggris ya." Mario tertawa.
"Yah, Baen mo tuwiyah Hio." jawabnya.
"Apa tuh?" tanya Mario pada Kenan.
"Mau kuliah di Ohio." jawab Kenan terkekeh.
"Tahu Ohio dari mana?" tanya Reza bingung.
"Daniel adiknya Larry mau ambil kuliah di Ohio, dia juga ikutan mau kuliah disana." Kenan tertawa yang lain ikut tertawa.
"Nanti Ayah dan Bunda yang temani Balen di Ohio." janji Reza pada Balen.
"Sakia ajat ya." katanya minta Shakira di ajak.
"Ante Baen yang berangkat lebih dulu." jawab Kiki, ingat Balen minta dipanggil Tante.
"Apa Ante Baen?" Enji meledak tawanya.
"Iya Balen maunya dipanggil Ante." Nona nyengir lebar.
"Kenapa begitu Balen, ya ampun." Enji masih saja tertawa tidak percaya.
"Tan Sakia anakna Ban Lemon, butan anakna Ayah." jawabnya santai.
"Benar juga kan, jadi jangan ditertawakan." kata Kiki pada para sahabat.
"Duh ante Baen, Ame pangku sini." Enji gemas sekali ingin sekap Balen.
"Emanna Ame udah sehat?" tanya Balen khawatirkan Enji.
"Sudah dong, Balen lihat kan Ame tidak sakit." katanya pada Balen, Enji memang jauh lebih segar sejak transfusi ginjal.
"Duh Wilma saja marah-marah dipanggil Tante sama Jelita, kamu malah maunya dipanggil Ante. Baen lucu betul sih kamu." Enji kembali tertawa, mau tidak mau tawa Enji menular ke yang lain.