
"Sayang, bangun. Ashar... Ashar... Ashar." Kenan menepuk-nepuk pipi Nona, sudah satu jam Kenan pulang, Nona masih saja pulas. Nona membuka matanya, masih terlihat mengantuk dan kembali memejamkan mata, belum sadar sepenuhnya, tak lama Nona membuka matanya lagi.
"Sudah pulang, sampai jam berapa?" tanya Nona dengan suara bantalnya, tanpa menjawab pertanyaan Kenan.
"Sudah satu jam, kamu tidur seperti pingsan saja." Kenan terkekeh berdiri disamping tempat tidur, mengulurkan tangannya agar Nona juga ikut berdiri.
"Capek." kata Nona malas beranjak.
"Ngapain saja bisa capek, hari ini bukannya tidur terus?"
"Iya, tidur terus malah capek. Harusnya jalan-jalan." jawab Nona sambil memberengut.
"Kata kamu kalau sudah pulang kita kuliner diluar." sambungnya lagi masih memberengut.
"Sholat dulu sana." kata Kenan pada Nona, uluran tangannya belum juga disambut Nona yang masih malas bergerak.
"Setelah sholat?" tanya Nana berharap diajak makan diluar oleh suaminya.
"Tidur lagi." jawab Kenan terkekeh membuat Nona kesal dan membalikkan badannya, tak mau melihat Kenan.
"Nona, ayo sholat."
"Sholat apa?"
"Ashar."
"Sudah." jawabnya masih memberengut.
"Ya sudah kalau begitu, kita mandi saja."
"Setelah mandi?" tanya Nona masih berharap.
"Tidur lagi." jawab Kenan kembali menggoda Nona.
"Aaah!" berteriak kesal seperti anak kecil saja. Kenan terbahak, segera mengangkat tubuh Nona menuju kamar mandi, sementara Nona berteriak minta diturunkan.
"Saya kangen mandi sama kamu." kata Kenan membuat Nona terdiam, Kenan tersenyum memandangi Nona yang mau tidak mau mengalungkan tangannya dileher Kenan.
"Setelah mandi makan diluar ya." pinta Nona pada Kenan, tidak bertanya suaminya capek atau tidak karena habis dari luar kota. Tanpa menjawab Kenan menutup pintu kamar mandi dengan kakinya.
"Tidak mau makan di dalam kamar saja?" tanya Kenan setelah aktifitas mandi bersama, kini mereka sudah rapi menunggu adzan magrib.
"Tidak mau, aku dirumah terus tiga hari." sungut Nona membuat Kenan tertawa.
"Seperti dikurung berbulan-bulan saja, padahal dirumah saja sudah bikin Bi Wasti dan yang lainnya sibuk dengan aktifitas kalian." kekeh Kenan mengacak anak rambut Nona.
"Eh..." Nona terkikik menutup mulutnya mengingat betapa lelahnya Bi Wasti beberapa hari ini.
Sebelum adzan magrib berkumandang, Kenan mengajak Raymond ke mesjid, sementara Nona dan Roma sholat dirumah, keduanya sibuk berembuk akan makan malam dimana mereka.
"Kak Nona mau makan apa?" tanya Roma setelah sholat magrib sambil menunggu Kenan dan Raymond kembali dari mesjid.
"Steamboat." jawab Nona cepat, air liurnya seperti mau keluar saja. Nona jadi ikut membayangkan steamboat dan tak sabar menunggu suaminya segera datang. Keduanya sudah rapi dan duduk manis di sofa.
"Di Mall?" tanya Roma, Nona menggelengkan kepalanya,
"Di resort Batu lebih enak." jawab Nona tersenyum lebar hingga gigi yang berbaris rapi terlihat jelas, semakin cantik saja.
"Mau kemana kita?" tanya Kenan begitu melihat Nona dan Roma sudah cantik dan menunggu di sofa.
"Makan steamboat di Batu ya Mas." pinta Nona pada Kenan.
"Boleh." jawab Kenan, ikut saja. Berhubung yang meminta Ibu hamil tidak ada yang mendebat.
"Mbak Tari, Mas Bagus dan Nanta menyusul." kata Nona ketika mereka dalam perjalanan menuju Batu Malang.
"Kamu mengundang mereka? perpisahan?" tanya Kenan pada Nona.
"Ish, tidak ada perpisahan karena kita pasti bolak balik Jakarta Malang." jawab Nona yakin mengingat bisnisnya bersama Kevin tetap harus dipantau.
"Tidak sekalian ajak Papa dan Mbak Mita?" tanya Kenan sekaligus mengingatkan Nona.
"Oh iya aku lupa, Mas Kenan saja yang telepon." jawab Nona merebahkan kepalanya dipaha Kenan. Kenan mencubit pipi Nona gemas, membuat Nona meringis.
"Sama Papa sendiri lupa." sahut Raymond sambil menyetir.
"Bukan begitu Ray, aku tidak kepikiran mengajak Papa."
"Dilupakan, pasti Opa Baron sedih." kata Raymond lagi.
"Kenapa sayang." suara Baron terdengar sok manis menyambut telepon Kenan.
"Saya dan Nona ke Jakarta hari senin malam." kata Kenan pada Baron.
"Kenapa jadi lebih cepat?" tanya Baron tidak terima.
"Karena Nanta hari Rabu sudah mulai karantina, kami berangkat bersama." jawab Kenan.
"Ish kalian ini seenaknya saja, tidak ada rindunya sama orang tua." Omel Baron pada Kenan.
"Ini karena rindu aku telepon Abang, Nona ngidam makan steamboat di Batu." Kenan menyebutkan nama salah satu resort di sana.
"Mau aku temani?" tanya Baron menawarkan diri.
"Iya, Abang dan Mbak Mita menyusul ya, kami dalam perjalanan kesana."
"Kalian ini mengajak mendadak sekali." gerutu Baron yang baru saja bersiap makan malam bersama Mita dirumah.
"Memang tidak ada rencana, namanya saja ngidam." jawab Kenan membelai perut Nona.
"Baiklah, saya makan dulu sedikit disini." kata Baron akhirnya menyetujui.
"Benar ya Om, seperti perpisahan karena mau ke Jakarta, malam ini kita kumpul bersama." kata Roma menyadari berapa hari kedepan Kenan dan Nona sudah tidak di Malang.
"Iya, Senin kalian ikut acara lepas sambut ya, sekaligus berkenalan dengan Fero dan istrinya." kata Kenan pada Nona dan Roma.
"Fero itu wakil kamu nanti, Ray?" tanya Nona sambil memegangi pipi Kenan.
"Iya, seumuran aku juga, lebih tua sedikit." jawab Raymond pada Nona yang masih membelai pipi Kenan.
Mereka tiba paling pertama, setelah memilih meja yang disesuaikan dengan jumlah personal yang akan datang nanti, sambil menunggu yang lain langsung saja Roma dan Nona memilih menu yang diinginkan. Roma yang baru pertama kali kesana mengajak Raymond berpose dengan berbagai macam view yang ada di restaurant, sementara Nona bersandar manja dibahu suaminya.
"Masih capek?" tanya Kenan pada Nona.
"Lesu saja, apa vitaminnya kurang banyak ya?" tanya Nona pada Kenan, bersyukur ia tidak lagi kesal melihat suaminya. Bisa dibayangkan capeknya pasti bertambah jika hati selalu kesal.
"Manja, kemarin sama Nanta jingkrak-jingkrak lupa kalau sedang hamil. Berapa kali Roma berteriak mengingatkan kamu." kata Kenan sesuai dengan apa yang dilihatnya di CCTV.
"Ish Mas Kenan tahu dari mana?" tanya Nona yang tidak menyadari dirumah ada CCTV.
"Dari kuku." jawab Kenan asal, membuat Nona terkekeh.
"Aih mesra-mesraan ditengah keramaian." kata Tari yang baru saja datang bersama Bagus dan Nanta.
"Mbak Tari..." Nona terkekeh segera berdiri memeluk Tari dan mencium pipi Kiri kanan. Tari mengelus perut Nona sambil tertawa.
"Sama ya kita." kata Nona ikut tertawa.
"Nanta kita bikin sibuk nanti, di Jakarta ngasuh pulang ke Malang pun ngasuh." Tari kembali terkekeh memandang Nanta yang sudah duduk disebelah Bagus.
"Siap Nan?" tanya Nona pada Nanta.
"Apa?"
"Mengasuh adik kiri kanan." jawab Tari terkekeh.
"Siap, asal saja Mama dan Kak Nona tidak protes adiknya ku bikin jungkir balik." jawab Nanta terkekeh.
"Asal tidak kamu pelintir saja." jawab Tari, yang lain ikut tertawa mendengarnya.
"Harusnya aku jadi Om, kenapa malah jadi Abang." oceh Nanta kemudian.
"Biar awet muda terus." jawab Bagus membuat Nanta tertawa mendengarnya. Tak lama makanan yang dipesan Nona dan Roma pun datang.
"Kalau mau pesan menu lain, pesan saja." kata Nona sementara meja sudah penuh dengan makanan.
"Nanti saja kalau sudah kosong mejanya." jawab Bagus.
"Opa Baron belum datang?" tanya Raymond yang baru saja menjadi photographer pribadi Roma.
"Sudah diparkiran." jawab Kenan yang terus berbalas pesan dengan Baron. Kemudian memesankan menu yang diinginkan Baron. Benar saja tidak lama Baron datang merangkul Mita dengan mesranya, tidak ada beban karena Nona sudah bisa menerima kehadiran Mita, bahkan sangat akrab seperti Ibu dan anak. Kenan segera berdiri menyambut kehadiran mertuanya, diikuti oleh yang lain.
Makan malam bersama yang tidak direncanakan, tapi sangat membahagiakan untuk semuanya. Suasana akrab dan hangat penuh senda gurau. Hilang rasa lelah Nona seharian ini, ia semangat sekali bercerita kegiatan mereka selama Nanta menginap dan menunjukkan foto-fotonya pada semua yang hadir. Semua terbahak, hanya Kenan yang senyum santai karena sudah melihat tayangan live terlebih dulu.