
"Yang kamu dimana?"
pesan dari Reza baru saja dibaca Kiki. Siang ini Kiki, Monik dan Intan sedang berada di Mal diseberang kampus mereka, duduk disalah satu Restaurant siap saji, tempat andalan mereka jika sedang berada di mal tersebut, karena tak begitu ramai, cocok untuk mengerjakan tugas kuliah ataupun untuk membahas pekerjaan. Tentu saja memesan makanan tidak hanya numpang duduk.
Tugas menemani Herman sudah rampung dilaksanakan dan kemarin sore Kiki dan Reza sudah mendarat manis dijakarta.
"Masih di mal."
"Pulang jam berapa?"
"Belum tau."
"Jangan lama-lama!!!"
"Iya😘"
Setelah membalas pesan Reza,
"Jadinya kapan?" tanya Kiki pada kedua sahabatnya.
"Sabtu!!!" jawab Monik dan Intan berbarengan.
"Bentrok dong."
"Ga bentrok tapi bareng." jawab Monik.
"Kalian resepsi bareng?" dihari, tempat dan jam yang sama, hari sabtu besok?"
Kiki menatap kedua sahabatnya tak percaya.
"Ya lu tau sendiri mas Alex sama Anto udah kaya kembar dempet kemana-mana bareng." jawab Intan asal. Monik langsung menjewer kuping sahabatnya , tak rela calon suaminya dibilang kembar dempet.
"Eh tapi kok lu mau sih Nik. Gerak cepat lagi, pas acara gue kemaren belum terschedule kan?"
"Lu tau ga, pas kita lagi acara music live malam tuh, ternyata bokap nyokap sama camer gue udah rembukan."
"Ngerasain juga kan jadi gue, tak bisa mengelak kalau bokap nyokap udah gerak cepat. Nah lu kenapa Tan, kok bisa bareng?"
"Nah si Anto pas kita checkout antar gue pulang langsung ngadep bokap nyokap gue kan malamnya didampingi sama ortunya mas Alex, karena ortunya Anto harus ke Canada malam itu, Tuh anak diminta nunggu bokap nyokapnya balik dari canada ga mau, jadilah diwakili om dan tante. Ga taunya bokap gue minta disegerakan. Ya jadinya gitu deh. Tau tau pas senin sore udah jadi aja undangan. The power of mama papa. Ga minta persetujuan gue lagi." Intan menepuk jidatnya.
"Duh tapi bentrok sama acaranya Mario ini ya, Gue sama Kak Eja mau ke semarang lagi. Gimana ngaturnya nih."
"Awas ya ga datang. Pilih kita apa Mario." ancam Monik. Hiks Kiki memasang wajah memelas. Bingung karena Mario sahabat Reza sedangkan Intan dan Monik sahabatnya.
"Kalian resepsinya malam kan. Nanti gue tanya Kak Eja, Mario acaranya jam berapa. Kalau bentrok ya berarti gue sama Kak Eja pisah kota. Hiks tapi nanti gue dirumah sendirian dong kalau Kak Eja ke Semarang." Kiki jadi bingung sendiri.
"Nginap dihotel juga dong bareng Kita, nanti gue ijin sama Anto deh malam pertama pisah kamar. Aku temani kamiuu." Intan membujuk Kiki.
"Nanti gue disembur Anto lagi. Yang bener aja lu." Kiki menolak disambut tawa Monik. Merasa lucu membayangkan Kiki disembur air dari mulut Anto. Monik mulak halu.
"Telepon Kak Eja Ki, tanya acaranya Mario jam berapa. Kenapa mesti disemarang sih." cicit Intan agak kesal. Kiki menurut langsung menghubungi suaminya.
"Iya sayang." sahut Reza dari ruangan kerjanya di warung elite, disambut sorak sorai dari sahabatnya Andi dan Erwin, sementara Mario sudah berangkat ke Semarang mempersiapkan pernikahannya.
"Kak Eja, acara Kak Mario jam berapa sabtu? ternyata Monik sama Intan Nikah dihari yang sama. Aku jadi bingung kalau bentrok."
"Kok bisa yang?"
"Bisalah, kita aja bisa."
"Hehehe iya sih. Acaranya jam 11 siang, Monik sama Intan jam berapa?"
"Jam 7 malam."
Kiki dan Reza menyudahi percakapannya. "Aman. Malam pertama lu ga gue ganggu" jawab Kiki. "Ish.." Intan menutup wajahnya malu.
"Kenapa ya kita kecil kecil udah pada dikawinin." sungut Intan.
Sementara diwarung Elite "Kenapa Ja?" tanya Erwin ketika Reza menutup sambungan teleponnya.
"Monik sama Intan nikah tuh sabtu , Kiki takut bentrok, tapi aman sih Mario siang, Mereka malam. Jadi gue setelah acara Mario langsung cabut ya friend."
"Aih menularkah menikah tuh? kok bisa Mario, Intan, Monik, kita kapan Ndi?" kata Erwin sedikit Iri, ingin menikah juga.
"Nanti juga ada saatnya." jawab Andi tak ambil pusing. Sesekali melihat handphonenya sambil tersenyum dan mengetik sesuatu.
"Chat sama siapa lu?" tanya Erwin ingin tahu.
"Kepo." jawab Andi masih fokus dengan handphonenya.
"Awas ya main rahasia rahasia."
"Paling sama Cindy, pedekate." jawab Reza menebak. Andi mencebikan bibirnya. Erwin tak bersuara mengendap berjalan ke belakang Andi yang fokus dengan handphonenya. Segera mengintip isi chat Andi.
"Rayu terus anak orang." bisik Erwin ditelinga Andi, membuat Andi menoleh dan memiting leher Erwin. Memang tak pernah bisa mempunyai rahasia diantara keempat sahabatnya. Reza terbahak dibuatnya, sementara Erwin gelagapan berusaha menyelamatkan lehernya.
"Ah tadinya gue pikir nanti aja kalau sudah pasti, baru cerita." Andi segera meletakkan handphonenya dimeja.
"Tinggal cerita aja susah amat." sungut Erwin.
"Ya gue kan ga mau keliatan oon kaya lu friend."
"Siaul, oon gimana?"
"Ya deketin Sheila ga jelas, Enji juga ga jelas. Uring-uringan aja kerjanya ga ada usaha."
"Ish enak aja, Sheila blokir nomor gue friend, berarti kan ga mau sama gue. Enji ga bisa gerak bebas, nyokap bokapnya masih di Boston, dari pada gue di blacklist. Jadi gue sabar nunggu deh. Sheila aja tiga tahun gue tungguin, masa Enji cuma sampai akhir bulan gue ga bisa nunggu."
"Lu juga diblokir win?" tanya Reza terperangah.
"Lu juga?" tanya Erwin tak percaya.
"Hmmm kenapa tuh anak. Udah jadian sama si Farhan kali. Terus posesif tuh cowoknya." Andi menerka-nerka.
"Ga tau juga, pas gue nikah tuh dia blokir gue sama Kenan."
"Samperin rumahnya lah Ja, Gimana pun juga kan teman." Kata Andi
"Gue ngobrol sama istri gue dulu deh, nanti salah sangka lagi. Coba lu yang telepon Ndi."
Andi menuruti permintaan Reza menghubungi Sheila, nada tersambung. Beberapa kali Andi menekan tombol hijau tapi selalu terhubung dengan pesan suara.
"Ga diangkat friend." Andi kembali meletakkan handphonenya dimeja.
"Jadi penasaran gue tuh anak kenapa. Patah hati sama lu kali Ja." kata Andi kemudian. Reza menepis tangannya seakan mengisyaratkan itu tak mungkin.
"Pas gue dekat sama Kiki malah dia dukung, pernah ikut jemput Kiki juga bareng Kenan, gue kira malah dia tambah dekat sama Kenan." Reza menyangkal, walaupun Kenan pernah membahas dugaannya bahwa Sheila menyukai Reza, tapi Reza tak mau ambil pusing. Ia tak pernah merayu ataupun memberi harapan pada Sheila. Bahkan ia selalu membahas Kiki pada Sheila dan meminta saran saat mendekati Kiki.
"Mungkin ya merasa kehilangan, gimanapun juga lu kan selalu berdua dikampus, sampai semua orang kira kalian pacaran."
"Iya sih, Kenan tuh kerjaannya. Gue iya aja lagi."
"Oon juga lu Ja. Ngasih anak orang harapan." sungut Erwin.
"Enak aja, ga pernah ya kasih harapan. Kalau kekampus bareng juga karena jadwalnya kebetulan sama dan rumah kita dekat. Jadi bisa bareng."
"Eh gue baru mikir. Kok selama tiga tahun bisa jadwal kuliah kalian bareng terus sih?" kata Andi mengernyitkan keningnya.
"Iya juga ya." Erwin ikut berfikir.
"Meneketehe, kan emang gue datang ke kampus sesuai jadwal kuliah kita, terus tiap sampai kampus ketemunya kalian juga. Eh... iya juga ya, kalau kita kumpul Sheila ikut nongkrong bareng kita dikantin ya." Reza menggaruk kepalanya sambil nyengir. Baru sadar dia.