
Gerak cepat ya, efek gala dinner kah? *Mario
Itu salah satunya. *Andi
Salah duanya? *Reza
Arahan kakak ipar tadi supaya cepat menikahπ *Andi
Gue cuma kasihan, kalau malam lu chat, kita suka slow response π *Erwin
Rese *Andi
πππ *Reza
πππ *Mario menyalin
πππ *Erwin menyalin
Pipit mengawasi Andi yang tampak sibuk dengan handphonenya, sedikit mengintip dengan siapa calon suaminya berinteraksi. Pipit segera menepis kecurigaannya. Ia harus melatih diri supaya tidak curiga pada Andi. Hubungan yang baik harus dimulai dengan rasa saling percaya.
Pipit mulai memindahkan makanannya ke piring, ternyata benar porsinya banyak sekali. Sepertinya Pipit harus minta maaf pada Erwin, abangnya.
"Ternyata memang porsi jumbo, Bang. Bagi dua ya?" kata Pipit malu-malu.
"Ini siapa yang makan?" tanya Andi menunjuk spaghetti didepan matanya.
"Abang juga." jawab Pipit seenaknya.
"Kamu mau membuat perutku buncit?" tanya Andi sambil mengembungkan pipinya.
"Kalau abang mau, nanti kupanggil bunch bunch, seperti panggilan sayang kan." Pipit terkikik geli sendiri.
"Ok lah bunch." jawab Andi mulai membelah makanan Pipit, membaginya kedalam dua piring.
"Aku yang panggil Bang Andi Bunch, bukan aku yang dipanggil Bunch." protes Pipit dengan mulut maju beberapa senti.
"Iya bunch bunch."
"Ish abang sebel aku." Andi terkekeh melihat Pipit yang cepat sekali marah.
"Jangan suka marah-marah nanti lekas tua. Ayo makan." kata Andi dan mereka mulai makan tanpa bersuara sedikitpun. Hanya sesekali saling menatap dan kemudian tertawa sendiri. Lucu sekali pasangan ini.
"Bang aku mau kita menikah tanpa banyak orang yang tahu." Pipit mengajukan persyaratan.
"Tidak mau!"
"Abang, aku masih kuliah."
"Kiki, Intan dan Monik pun masih kuliah. Aku mau mengumumkan hari bahagiaku. Tidak mau ada yang kututupi."
"Ya sudah, tapi di media sosial, Abang tutupi wajah aku ya kalau abang share foto kita."
"Tidak bisa!!" Andi tak mau mengikuti permintaan Pipit, karena nanti kalau yang upload orang lain pasti akan ketahuan juga. Lelah sekali rasanya jika harus menutupi sesuatu hal yang tak perlu dirahasiakan.
"Terserah abang sajalah." Pipit tampak merajuk dan Andi pun tak perduli.
"Aku ke mesjid dulu." kata Andi begitu mendengar adzan magrib berkumandang, Andi sudah tahu dimana letak mesjid dikomplek itu, karena sudah seperti rumahnya sendiri.
"Abang bawalah kunci, kunci saja dari luar. Takut abang datang aku masih mengaji." kata Pipit menyerahkan kunci cadangan pada Andi. Andi mengikuti apa yang dikatakan Pipit, mengunci pintu dari luar dan berjalan menuju mesjid sendiri, biasanya selalu bersama Erwin. Bisa begitu, lucu sekali rasanya.
Sementara di rumahnya setelah sholat magrib, Kiki menerima telepon dari Cindy, Kiki sedang mendengarkan Cindy mengeluarkan uneg-unegnya. Rasa tak terima Andi memutuskan menolak tawaran pertemanannya, terasa hina sekali.
"Sudahlah cari yang lain saja, yang Papa Mama suka." kata Kiki, gampang memang kalau hanya berkomentar, kalau menjalankan pasti sulit rasanya.
"Kak Andi sih banyak yang suka. Tapi dia tuh dijodohkan sama Pipit." jawab Kiki apa adanya.
"Kapan? Siapa yang menjodohkan?" tanya Cindy ingin tahu.
"Kemarin hari minggu, orang tua mereka yang menjodohkan." kata Kiki lagi benar-benar apa adanya.
"Tadi katanya orang tua gue yang menolak, ternyata dia sendiri sudah dijodohkan. Menyebalkan!! kenapa dia tidak jujur saja bilang bahwa kita pisah karena dia dijodohkan." Cindy benar-benar marah merasa dihianati.
"Jangan salahkan Kak Andi, dia baru tahu dijodohkan juga kemarin. Pipit pun begitu. Kak Andi memang menghindar dari lu karena tak mau lu jadi anak durhaka. Sudah tanya sama bokap nyokap lu belum, ngobrol apa sama Andi?"
"Sudah, mereka bilang tak ada masalah." jawab Cindy sengit.
"Entahlah, tapi gue tahu, Kak Andi tak mungkin bohong. Untuk apa habis ongkos dan tenaga ke Kuala Lumpur. Habis wisuda terburu-buru ke airport, itu butuh tenaga extra. Sampai jakarta juga lesu." Kiki tampak membela Andi.
"Tapi kenapa dia menghilang selama dia minggu, lalu telepon gue cuma mau bilang hubungan berakhir, gue minta tetap berteman, tetap saling telepon dia bilang nanti yang susah gue." Cindy keras kepala sekali.
"Memang nanti lu yang susah, pesona kak Andi luar biasa. Lebih baik berteman secara profesional. Lebih mudah nantinlu terima cowok lain yang sesuai keinginan orang tua lu."
"Lu seperti menyalahkan orang tua gue, mereka tak sedangkal itu."
"Coba ungkapin perasaan lu tentang Andi ke orang tua lu. Minta restu mereka. Eh tapi sudah terlambat Cin, Kak Andi sudah menerima dijodohkan, barusan Kak Eja bilang, Kak Andi mungkin menikah bulan depan." Kiki memang polos, tak peduli perasaan Cindy, ia hanya menyampaikan kebenaran yang ada, agar Cindy tak berharap lebih.
"Ya sudah Ki, gue serasa porak poranda." Cindy tersenyum miris.
"Move on Cin, Kalian dekat cuma dua minggu, jangan drama seakan ditinggal pacar yang sudah beberapa tahun. Kalau jodoh tak kemana, santai lah. Nanti kalau ada yang satu suku dan pegawai pemerintah gue kenalkan. Siapa tahu bokap sudah punya calon juga untuk lu."
"Iya gue akan move on, cowok bukan Andi saja. Bokap Nyokap ga pernah bahas kriteria itu."
"Semangat ya Cin. Peluk." Kiki mengakhiri sambungan teleponnya, dan Reza yang baru keluar dari kamar mandi pun memeluk istrinya.
"Kak Eja, maksud aku tuh peluk Cindy." Kiki menjelaskan sambil balas memeluk suaminya.
"Sudah tahu, karena Cindy tak ada jadi aku wakilkan." kata Reza sambil menyeringai, jahil sekali, dikecupnya dahi istrinya.
"Ada cerita apa dikampus?" tanya Reza karena tahu istrinya hari ini kuliah.
"Tak ada, tadi Monik tidak masuk, aku sama Intan saja."
"Iya aku tahu, Alex dan Monik ke S'Pore."
"Oh, ya sudah itu saja ceritanya." kekeh Kiki menatap manja suaminya.
"Makanan yang dikirim Erwin sudah kamu makan?" tanya Reza mengingat tadi ia meminta sahabatnya juga memesankan makanan untuk Kiki dan Regina.
"Sudah tadi sore kami makan berempat. Tadi Intan juga makan disini."
"Makan dirumah siapa?" tanya Reza walau sekedar ingin tahu walau tak penting.
"Dirumah Regina, ah iya aku lupa bawa pulang makanan yang tersisa sudah dibungkus kami bagi-bagi. Kak Erwin memesan makanan banyak sekali, bisa sekalian untuk besok itu. Aku telepon Regina dulu."
Kiki segera menhubungi Regina dan menanyakan keberadaan makanannya yang tertinggal.
Kusimpan dikulkas, mau diantar biar kuminta neneng yang mengantar.
"Kak Eja mau makan pakai lauk itu, biar diantar neneng." Kiki menanyakan suaminya.
"Tak usah, Tina dan Tini masak apa, makan yang ada saja." kata Reza tak mau repot.
Simpan saja Re, kalau ada yang mau, makan saja, aku sudah kenyang. Tina juga tadi sudah masak.
Kiki kemudian menutup sambungan teleponnya dan mulai menjahili suaminya yang sedang menonton TV, mereka berisik sekali bercanda seperti anak kecil, sebenarnya Kiki yang seperti anak kecil. Aktifitas rutin sebelum tidur pun mereka lakukan menelpon Mama Ririn dan Papa Ryan, lalu menelpon Mama Nina dan Papa Dwi.