I Love You Too

I Love You Too
Baron



Suasana kantor yang semula ribut mendadak hening ketika Kenan dan Raymond memasuki ruangan. Bos ganteng yang beberapa bulan ini tidak muncul dikantor sudah kembali, kali ini bersama pria yang tidak kalah tampan. Hanya saja jauh lebih muda. Tampak beberapa pegawai wanita bisik-bisik melihat ke arah Raymond. Entah apa yang mereka bicarakan.


"Tari kumpulkan semua pegawai di ruang meeting, saya harus mengenalkan Raymond pada mereka." Perintah Kenan pada Tari saat baru saja sampai di depan meja Tari, sementara Raymond berjalan disebelah Kenan, sambil cengengesan memandang Tari.


"Sehat Tante?" sapanya pada Tari sambil mengulurkan tangannya.


"Seperti yang kamu lihat Ray." kata Tari menyambut uluran tangan Raymond. Tanpa menjawab perintah Kenan.


"Tambah cantik ya, Ray." kata Kenan jujur memandang Tari mantan istrinya yang semakin terlihat bersinar setelah menikah dengan Bagus. Kalau dipikir hidup ini lucu, bisa-bisanya mantan Nyonya menjadi Sekretaris, batin Kenan tertawa miris.


"Hei jangan merayuku, aku sudah punya suami." teriak Tari saat Kenan masuk kedalam ruangannya.


"Hahaha..." terdengar suara tawa Kenan dari dalam ruangannya. Raymond pun ikut tertawa mengikuti langkah Kenan.


Tepat pukul sembilan Pagi, Semua pegawai telah berkumpul sesuai keinginan Kenan. Acara perkenalan Raymond berjalan singkat padat dan jelas. Tidak ada basa-basi karena Kenan memang bukan type orang yang senang basa-basi, lagi pula ia harus mengurus pekerjaannya yang lain. Sebenarnya hampir seluruh pegawai tahu jika Raymond anak dari Reza bos besar di cabang Utama dan juga cucu pemilik perusahaan. Tapi bagaimanapun Kenan harus mengenalkan Raymond yang sekarang menjadi asistennya kepada seluruh pegawai di kantornya.


"Setelah ini apa jadwal saya?" tanya Kenan pada Tari setelah kembali berada di ruangannya.


"Jam 11 meeting dengan PT Hansel di hotel A, Jam 15 Pak Baron meminta waktumu, Pak Kenan." jawab Tari melihat agenda ditangannya, ia belum menuliskan jadwal kegiatan harian Kenan pada whiteboard.


"Pak Baron?" Kenan tersenyum karena sudah beberapa bulan ini belum lagi bertemu Baron Salah satu rekan bisnisnya yang juga menjadi teman baiknya, walau Baron lebih tua sepuluh tahun dari Kenan. Terakhir bertemu saat menjadi saksi pernikahan Baron dan Mita enam bulan yang lalu. Mita masih sepupu jauh Tari.


"Ray sebentar lagi kita ke PT. Hansel, setelah itu kita menemui Pak Baron. Kamu minta semua berkas yang dibutuhkan pada Tari ya." perintahnya Kenan mulai serius. Tari mencebikkan mulutnya sementara Raymond tersenyum melihat Om nya yang tampak serius dalam bekerja.


Tari keluar dari ruangan Kenan dan kembali ke mejanya. Raymond pun mengikuti Tari untuk mengambil lalu mempelajari berkas yang akan dibawanya nanti.


Hari pertama Raymond bekerja di cabang Malang berjalan dengan cukup lancar, pertemuan dengan PT Hansel sudah selesai. Sampai saat ini pekerjaannya tidak berbeda jauh dengan saat bekerja di Jakarta. Hanya saja di Malang Raymond merasa tidak sesibuk di Jakarta, mungkin karena kantornya juga tidak sebesar di Jakarta. Pegawai pun tidak terlalu banyak. Kantor di Malang hanya tiga lantai, lantai pertama untuk bagian pelayanan, manajerial di lantai dua dan di lantai tiga hanya Ruangan Kenan, ruangan Tari, ruangan Raymond dan juga ruang meeting. Untungnya di area parkir tersedia lift yang bisa langsung menuju ke lantai dua dan tiga sehingga tidak perlu melewati bagian pelayanan yang berhubungan langsung dengan pelanggan pengguna jasa pengiriman dalam dan luar negeri.


Saat ini Kenan dan Raymond menuju salah satu hotel di Malang, Pak Baron meminta Kenan menemuinya di restaurant hotel tersebut. Rupanya Kenan dan Raymond sudah ditunggu di VIP Room restaurant tersebut.


"Semakin tua semakin tampan saja." sapa Kenan saat melihat Pak Baron yang sudah duduk manis di meja restaurant.


"Apa kabar, Ken? Maaf saat kamu kecelakaan saya tidak sempat membesuk." Baron menyalami Kenan dan juga Raymond.


"Alhamdulillah sudah normal kembali. Yang paling penting doanya Bang." Jawab Kenan yang memang sudah kenal dari dulu dengan Baron. Saat bekerja pertama di kantor Papa Dwi, Baron sebagai konsultan yang diminta untuk mengajar Kenan.


"Ini Raymond asisten saya, bang. Jadi kalau saya kebetulan lagi dinas luar Abang bisa langsung menghubunginya, anaknya Bang Eja." kata Kenan memperkenalkan Raymond pada Baron. Baron tersenyum ramah pada Ray.


"Tiru Om kamu dalam bekerja. Dia sangat pintar dan ulet." Baron mengacungkan jempolnya. Raymond menganggukkan kepalanya sambil tertawa.


"Tapi dia bodoh soal wanita." sambung Baron lagi membuat Kenan berdecak malas. Raymond lagi-lagi tertawa tapi tidak berkomentar, ia tidak mau menjatuhkan harga diri Om nya di depan orang lain.


"Hanya minta kalian menemani Saya bertemu dengan anak Saya." jawab Baron santai.


"Diluar konteks pekerjaan itu, kenapa memakai jam kerja?" tanya Kenan protes.


"Nanti akan saya selipkan pekerjaan, sekarang tolong saya karena ini pertama kali saya bertemu dengannya setelah beberapa bulan." kata Baron pada Kenan.


"Siapa? Deni atau Nona?" tanya Kenan


"Kamu kenal anak-anak saya?"


"Waktu saya kecelakaan, saya dirawat di rumah sakit milik Abang ya ternyata, dokter yang merawat saya Deni dan Samuel." jawab Kenan.


"Anak Saya Nona juga dirawat saat itu." Baron menjelaskan.


"Nona sekamar dengan Saya. Abang tidak datang membesuk Nona saat itu, apa Abang tahu Nona sangat marah."


"Posisi saya serba salah Ken, Mita Istri saya juga sedang sakit dan dirawat di Bali, jika saya katakan yang sebenarnya pada Nona ia akan bertambah marah, Nona pasti bilang saya lebih mementingkan Mita dari pada Nona." Raymond hanya mendengarkan, ia baru tahu kalau Pak Baron ayah dari Nona.


"Assalamualaikum..." pintu VIP Room terbuka dan tampak Nona datang dengan tampilan yang sangat feminim dengan pakaian kantornya. Raymond langsung nyengir lebar melihatnya, Kenan hanya memandang tanpa senyum sementara Nona tampak terkejut melihat kehadiran Kenan dan Raymond di ruangan itu.


"Waalaikumusalaam." jawab Baron dan langsung berdiri memeluk anaknya, sementara Nona mencebik melihat Baron.


"Papa kangen." kata Baron pada Nona.


"Hmmm.. dengan tidak mau mengangkat telepon aku? menjadikan mas Deni penyambung lidah?" bisik Nona dengan wajah mencibir. Ia takut Kenan dan Raymond mendengar ucapannya. Baron menepuk bahu Nona.


"Papa lagi kurang sehat, jadi tidak sanggup mendengar teriakanmu di telepon." Baron balas berbisik kemudian duduk disebelah Kenan.


"Ih Kak Nona jelek kalau wajahnya sinis begitu." bisik Raymond saat Nona duduk disebelahnya. Nona langsung membenarkan bentuk wajahnya dan tersenyum pada Kenan dan Raymond.


"Jadi rekan bisnis yang mau Papa kenalkan itu Mas Kenan dan Raymond?" tanya Nona pada Baron.


"Iya ternyata kamu sudah kenal." kata Baron tersenyum lega karena Nona tidak mengamuk seperti yang ia khawatirkan. Benar saja kata Deni, ajak saja Kenan saat nanti bertemu dengan Nona. Maka Baron menunggu Kenan kembali ke Malang saat akan berjumpa dengan Nona. Sebenarnya tadi Baron pura-pura terkejut saat tahu Kenan mengenal Deni dan Baron.


"Aku malah sudah menginap dirumah Mamanya Mas Kenan." jawab Nona bangga.


"Kenapa sampai menginap? apa kalian pacaran?" tanya Baron dengan mata terbelalak. Hmm drama, benar-benar drama, Kenan menggelengkan kepalanya, ia hapal betul cara membedakan ekspresi wajah yang serius dengan yang berpura-pura. Kenan melipat tangannya menunggu aksi Baron selanjutnya.