I Love You Too

I Love You Too
Stop



Tanpa Kiki dan Sheila sadari sepasang mata memandang dengan tangan mengepal, mata dan telinga milik Reza melihat dan mendengar percakapan itu.


"Shei..!!!" panggil Reza dengan mata memerah, ketika Sheila masih mengamati Kiki. Merasa ada yang memanggil namanya, Sheila sangat hafal suara milik siapa itu. Sheila tersenyum menghampiri Reza.


"Kesini juga Bang? Menjemput Kiki? Tuh masih di kasir." tunjuk Sheila pada Kiki yang masih membayar buku yang dibelinya dikasir. Seakan tak terjadi apapun.


"Iya gue tahu, Bisa jelaskan sama gue maksud lu barusan apa Shei?" tanya Reza yang tampak geram.


"Lu dengar bang? Gue ngomong apa adanya. Apa yang terjadi antara kita selama ini."


"Apa yang terjadi Shei? Biasa aja kan, Lu nebeng gue ke kampus. Ga ada yang istimewa."


"Perhatian lu selama ini ke gue apa Bang? Lu selalu temani gue dan selalu mengikuti apa yang gue mau. Lu selalu sediakan waktu lu buat gue, kalau lu ga sempat, lu minta salah satu sahabat lu temani gue. Apa itu bukan karena lu sayang sama gue? lu melindungi gue dengan cara lu Bang."


"Lu salah Shei, sayang gue ke elu itu sayang sebagai sahabat. Ga lebih. Beda sama rasa sayang gue ke Kiki istri gue. Lu kenapa Shei, ini bukan lu banget. Kenapa lu jadi begini? terpengaruh sama nyokap lu? Kalau lu masih mau jadi sahabat gue, stop ganggu Kiki, Kita hanya sahabat Shei. Sekiranya berat buat lu, karena ternyata lu memang ada perasaan sama gue, lebih baik lu lupakan, anggap saja kita ga pernah saling kenal." Reza bergegas meninggalkan Sheila yang masih mencerna ucapannya. Reza berlari mengejar Kiki yang sudah berjalan keluar toko buku.


"Sayaaang.." teriak Reza ketika jaraknya sudah semakin mendekati Kiki, dan segera merangkul Kiki mengikuti langkahnya.


"Beli apa?" tanya Reza melihat paperbag ditangan Kiki, Reza sengaja tak membahas apa yang baru saja dilihatnya. Khawatir Kiki menangis ditempat, bisa repot kalau orang melihat dan menduga-duga.


"Aku beli novelnya Sheila nih, tadi dia minta aku baca." Jawab Kiki dengan ekspresi datar tak menunjukkan kekesalannya, tapi juga tak menunjukan wajah cerianya.


"Kamu ketemu? ada kejadian apa?"


"Nanti sajalah ceritanya. Nanti moodku rusak dibuatnya. Kamu kenapa kesini? Bukannya ada makan siang bersama, makanya papa harus kekantor?" Tanya Kiki dengan kening berkerut.


"Tadi mama telepon aku, khawatir kamu sendirian di Toko Buku, mama tiba-tiba ingat kamu pernah diserang Tante Retno sementara Pak Min tak bisa dihubungi." Reza masih merangkul Kiki.


"Kamu membolos Kak, Papa tahu kamu kesini?" Kiki mulai tertawa, kekesalannya menghilang mendengar apa yang Reza katakan. Reza menganggukan kepalanya dan mempererat rangkulannya.


"Aku sayang kamu dek." Bisik Reza dengan senyum manisnya.


"Sudah tahuuuu." jawab Kiki membuat Reza mendengus kesal. Maksud hati ingin romatis apalah daya istri kurang peka. Langsung saja dicubitnya pipi Kiki.


"Auwww." teriak Kiki kesal. Hahaha Reza serius mencubitnya sesuai dengan suasana hati.


"Istrinya disakiti, katanya sayang." Kiki bersungut, bibirnya ikut mengerucut.


"Istrinya ga romantis, kesal." Reza mengikuti ekspresi Kiki. "Kita mau tunggu mama dimana?" tanyanya kemudian.


"Coffeeshop yang dekat pintu barat saja Kak, Pak Min parkir disana."


Reza menyetujuinya lalu mereka pun berjalan menuju Coffeshop tempat Kiki dan Regina menunggu mama tadi.


"Kak, kamu sudah bertemu Andi?" tanya Kiki setelah duduk manis di coffeeshop.


"Belum, kenapa?"


"Kak..dengar ga sih?" tanya Kiki melihat Reza seperti tak menyimak.


"Dengar."


"Aku bilang apa?"


"Cindy curhat kan? tentang Andi. Aku belum ketemu, jadi belum tahu cerita. Nanti kita ke Warung ya? Kita tanya langsung." katanya tersenyum. "siapa lagi yang curhat?" tanya Reza kemudian.


"Rere, mereka belum pernah ML." bisik Kiki polos. Tawa Reza langsung berderai.


"Kamu tanya urusan kamar orang, itu Privacy, dek."


"Aku mengajak Regina untuk hamil masal, Rere bilang kalau belum dibikin mana bisa hamil. Ya sudah langsung aku tanya sudah pernah bikin apa belum. Salah ya?" wajah Kiki tampak memelas, kalau bukan di keramaian rasanya ingin reza cium pipinya tanpa henti, bahkan kalau bisa digigit saja pipinya. Reza menggelengkan kepalanya.


"Coba kita main kerumahnya Kak, kita lihat apakah mereka pisah kamar."


"Kalau pisah?"


"Kita liburan aja dirumahnya, kita menginap, ajak yang lain." Kiki mengerlingkan matanya. Serasa punya ide briliant.


"Good idea." Reza mengacungkan jempolnya, mengikuti ide Kiki. Sebenarnya kalau saja tak ingat pesan Papi Mario, Reza sangat malas. Tetapi demi memenuhi janjinya saat di Semarang pada Papi Mario, maka sepertinya ide Kiki cukup cemerlang.


"Sayang, coba telepon Mama, masih lamakah? Kita belum sholat Ashar." Reza melirik ke pergelangan tangannya. Tanpa diperintah dua kali, Kiki menghubungi Mama Nina, begitu tersambung langsung disodorkannya pada Reza.


"Masih lama Ma? kalau masih kami Sholat dulu." kata Reza tanpa mendengar suara Mama Nina.


"Ini baru sampai Coffeshop" Jawab Nina yang sudah mematikan sambungan teleponnya dan berdiri didepan Reza.juga Kiki. Tangannya penuh dengan kantong belanja. Regina pun begitu.


"Kalian sholatlah, Mama sudah barusan. Musholla tepat disebelah, nanti kamu belok kiri dari sini. Belokan pertama ya." Nina segera duduk dan meletakkan barang bawaannya. Lalu memanggil pelayan untuk memesan sesuai keinginan.


Reza dan Kiki segera beranjak menuju Musholla yang dikasih tahu Mama. Ternyata tadi sudah mereka lewati, tapi ga diperhatikan. Meskipun terpisah antara pria dan wanita, saat berwudhu. Tapi saat Sholat mereka kembali menjadi Imam dan Makmum.


Selesai sholat Kiki menunggu Reza dibangku yang sudah disediakan oleh manajemen mall, didekat pintu masuk. Tak lama Reza muncul, setelah memakai sepatu, mereka langsung menuju Coffeshop. Saat akan berbelok tak sengaja mereka berpapasan dengan Sheila. Kiki tak menyapa, hanya tersenyum tipis. Sheila berlagak seakan tak melihat Kiki. Tapi yang Kiki heran baik Sheila maupun Reza tak ada yang saling menyapa, mereka hanya saling menatap sesaat lalu bertingkah seperti orang yang tidak saling mengenal. Membuat Kiki berpikir ada apakah gerangan diantara mereka.


"Kenapa Kak? Kaya orang ga saling kenal." tanya Kiki heran.


"Lebih baik ga saling mengenal, menghindari fitnah."


Kiki tersenyum mengerti maksud suaminya, tapi tetap berpikir keras, karena walaupun pembawaan Reza kadang terkesan acuh tak acuh, tapi Reza type orang yang sangat perhatian. Setidaknya mestinya mereka saling menyapa sedikit hangat, tapi sekarang seakan membeku.


"Sayang, terima kasih ya." kata Kiki pada suaminya.


"Untuk?"


"Karena kamu sudah sayang sama aku." jawab Kiki menggandeng suaminya lalu masuk ke dalam Choffeshop tempat Mama dan Regina menunggu.