I Love You Too

I Love You Too
Survey



Pagi ini jumat yang direncanakan, Nanta menjemput Doni lalu menjemput Larry dan adiknya Daniel. Setelah itu mereka langsung menuju Warung Elite Cabang Utara.


Seperti biasa, Mike yang selalu datang lebih dulu dan memilih untuk menunggu diparkiran. Nanta dan seisi mobil tertawakan Mike yang tampak sibuk dengan handphonenya, mereka menduga Mike sedang menghubungi Seiqa, jadi belum juga keluar mobil walau mobil Nanta sudah parkir disebelah mobilnya.


"Bukan main calon sepupu lu." kata Larry pada Doni.


"Kenapa dia?" tanya Doni.


"Biasanya langsung sambut kita, sekarang sibuk saja dengan handphonenya." kata Larry lagi.


"Seperti tidak pernah sibuk ditelepon dengan wanita saja." kata Doni lagi, semua langsung tertawa.


"Jangankan dengan wanita, kalau sudah bicara dengan Balen saja dia sibuk sendiri." kata Daniel malah komentari Abangnya.


"Oh yang satu itu tidak bisa diabaikan. Gue pernah diacuhkan seminggu karena merajuk. Sepi betul rasanya." jawab Larry terkekeh.


"Makanya menikah, bikin yang model seperti Balen." jawab Nanta terkekeh.


"Iya bagaimana mau menikah, lagi malas gombal gue." kata Larry malah curhat.


"Eh ini Kepala Cabang disini, orangnya lucu tidak perlu digombali." Nanta langsung teringat Ambar.


"Perempuan?" tanya Larry.


"Ya kali gue mau promosiin Kepala Cabang laki-laki sama kamu tsayy." kata Nanta tertawakan Larry yang ikut tertawa.


"Nan, itu hall nya?" tanya Doni tunjuk gedung di sebelah kanan restaurant.


"Iya."


"Yuk kesana." ajak Doni tidak sabar.


"Ketemu bosnya dulu dong." jawab Nanta, matikan mesin kendaraannya, lalu mengajak semuanya turun. Daniel ikuti saja tanpa bersuara, yang penting tidak bengong dirumah.


"Mike, ayo." Doni mengetuk kaca mobil Mike, tidak lama barulah si calon pengantin keluar dari mobilnya.


"Tidak puas-puas online." omel Doni pada sahabatnya.


"Gue lagi ngobrol sama wedding organizer nyong." kata Mike pada Doni.


"Selama itu? pedekate lu?" Larry ikut mengomel.


"Ish asal tuduh saja, Koordinasi nyong, tinggal hitungan minggu nih."


"Mau dibantu apa?" tanya Nanta.


"Tidak usah semua sudah siap." jawab Mike.


"Yakin?" tanya Doni terkekeh, main semua sudah siap saja.


"Sepertinya begitu." jawab Mike, langsung Doni toyor kepala sahabatnya karena jawabannya tidak meyakinkan. Semua tertawakan Mike. Mereka pun berjalan masuki gedung Warung Elite.


"Selamat Pagi." sapa Ambar dengan senyum merekah, tidak dibuat-buat apa adanya.


"Pagi." jawab Nanta dan rombongannya bersamaan.


"Mbak Ambar?" teriak Daniel panggil Ambar. Berhubung ia paling belakang jadi Ambar celingukan mencari siapa yang manggilnya.


"Aku Daniel, masih ingat?" tanya Daniel, Ambar mengernyitkan keningnya.


"Temannya Rudi." Daniel menjelaskan.


"Ya ampun, yang di kantor polisi waktu itu ya?" kata Ambar menepuk bahu Daniel.


"Daniel, kok kemana elu pergi tetap saja yang diingat orang kantor polisi." celutuk Mike membuat semuanya tertawakan Daniel.


"Ish Mbak Ambar ingatnya itu saja, tidak ingat gue tawuran karena siapa." Daniel bersungut sementara Ambar tertawa puas.


"Jangan bilang elu tawuran karena Ambar." kata Nanta pada Daniel.


"Memang." jawab Ambar sementara Daniel terkekeh.


"Kenapa bisa begitu?" tanya Doni. Mereka jadi heboh padahal belum saling kenal.


"Jadi Mbak Ambar ini Kakaknya temanku Rudi, dulu dia punya pacar, eh punya pacar lagi. Pacarnya pada ribut deh tuh ya, Mbak Ambar ditarik-tarik, Rudi jadi gebukin Pacar-pacarnya Mbak Ambar, lah gue bantuin Rudi deh." Daniel ceritakan penyebab ia tawuran.


"Cerita begitu kesannya gue playgirl. Itu yang ribut Pacar sama Mantan Pacar." Ambar meluruskan agar imagenya tidak buruk.


"Kenapa jadi berakhir di kantor polisi?" tanya Mike.


"Tidak mengerti, aku juga bingung." jawab Daniel, Ambar mendorong bahu Daniel.


"Pacarku dibikin masuk rumah sakit, orang tuanya nuntut deh." jawab Ambar tertawa.


"Putuslah." jawab Ambar.


"Karena aku ya Mbak?" tanya Daniel.


"Memang tidak jodoh." jawab Ambar terkekeh, kemudian kembali fokus dengan pekerjaan.


"Pak Nanta mau langsung ke ruangan atau bagaimana?" tanya Ambar pada Nanta.


"Ke Hall dulu deh." jawab Nanta.


"Oh iya kenalkan ini temanku yang akan aktif disini." kata Nanta pada Ambar. Ambar ulurkan tangannya salami satu persatu.


"Nanti kalau sudah aktif disini, jika butuh sesuatu hubungi Ambar saja ya." katanya ramah.


"Siap." jawab Doni dan Mike bersamaan.


"Rudi apa kabar Mbak?" tanya Daniel pada Ambar, sementara Nanta dan sahabatnya berjalan lebih dulu.


"Dia masuk pesantren setelah kejadian itu." kata Ambar pada Daniel.


"Sama saja aku juga langsung masuk home schooling." Daniel terkekeh.


"Kok kamu bisa ikut Pak Nanta? saudara?" tanya Ambar.


"Itu Larry abangku, sahabat Bang Nanta. Sudah seperti saudara lah mereka." jawab Daniel.


"Yang mana yang masih single?" tanya Ambar cari informasi.


"Abangku masih single, Bang Doni sudah menikah, Bang Mike dua minggu lagi menikah." Daniel jadi informant, Ambar langsung manggut-manggut. Yang manapun yang masih single Ambar terima dengan lapang dada.


Tugas Ambar hanya dampingi Nanta berkeliling, jika ada pertanyaan baru Ambar jawab, selebihnya ia lebih banyak ngobrol dengan Daniel.


"Mbak Ambar, mau keruangan." kata Nanta akhirnya setelah mereka berkeliling survey lokasi dan tentukan perlengkapan apa saja yang harus mereka penuhi.


"Ayo." ajak Ambar memimpin berjalan lebih dulu.


"Sigap betul." Larry terkekeh.


"Masih single." bisik Nanta.


"Tapi gue tidak berani jodohkan, takut kaya Rumi." bisik Nanta lagi, Larry tertawakan sahabatnya yang kalok jodohkan orang.


"Pendekatan sendiri saja kalau minat." lanjut Nanta lagi.


"Lagi malas gombal." jawab Larry ikut berbisik kemudian keduanya tertawa.


"Silahkan, berarti sudah tidak perlu Ambar dampingi ya. Nanti kalau perlu sesuatu tekan tombol ini saja Pak Nanta, nanti akan ada yang datang bantu Pak Nanta disini." kata Ambar bersiap kembali keruangannya.


"Terima kasih ya Mbak Ambar." kata Nanta pada Ambar.


"Daniel, mau ikut keruanganku?" Ambar tawarkan Daniel.


"Boleh." Daniel langsung saja mau, Dari pada mengganggu Abangnya lebih baik mengganggu Ambar.


"Pak Nanta, Jus murni kan? sedang disiapkan." kata Ambar lagi kemudian tinggalkan Nanta dan sahabatnya kembali keruangannya bersama Daniel.


Handphone Nanta berdering sebelum mereka memulai pembahasan, langsung saja Nanta angkat walau dilihatnya nomor yang tidak dikenal.


"Siang Mas Nanta ya, saya Mamanya Darwin. Nanti sore jadi ya di cabang Utama, Darwin mau datang bersama temannya." rupanya Mamanya Darwin yang ingin berlatih basket tempo hari.


"Oh iya bu, kalau langsung ke Cabang Utara saja bagaimana Bu, kebetulan kami sedang di cabang Utara." jawab Nanta.


"Oh boleh, malah lebih enak dekat rumah." jawaban si Ibu membuat Nanta menarik nafas lega.


"Jam berapa Mas Nanta?"


"Setelah sholat jumat dan makan siang saja bu. Sekitar jam dua." kata Nanta ajukan waktu siang hari karena ingat Mike akan pergi bersama Seiqa sore harinya.


"Oke saya sampaikan pada Darwin Dan rombongannya, nanti kami ada Lima belas orang ya."


"Oh banyak juga, iya boleh." jawab Nanta cengengesan, kemudian matikan sambungan teleponnya.


"Jam dua Darwin bawa rombongan lima belas orang." kata Nanta pada sahabatnya.


"Widih, langsung banyak saja." Larry terkekeh.


"Perlu dibatasi tidak?" tanya Mike.


"Lihat sikon saja. Kalau kita tidak bisa handel kan masih banyak teman yang lainnya." kata Doni pada sahabatnya.


"Oke." jawab Mike tersenyum, sementara Larry ikut tersenyum, tanpa berkomentar.