I Love You Too

I Love You Too
Sah



"Sah!!!" Reza menarik nafas lega. Pernikahan yang terburu-buru tapi ia harapkan berjalan dengan lancar. Kiki kini sudah menjadi Istrinya. Sudah menjadi Ny. Reza Suryaputra. Tamu undangan yang hadir sangat ramai. Benar ini bukan pesta sederhana seperti yang direncanakan, dan bukan kita-kita aja keluarga dekat. Semua kerabat Mama dan Papa datang, belum lagi dari Pihak Kiki. Reza tersenyum bahagia. Diciumnya kening Kiki ketika Kiki diantar pihak keluarganya mendatangi Reza. Kemudian Reza menggandeng Kiki menuju meja untuk menandatangani buku Nikah. Mereka berdua tampak serasi. Tampak Ryan sibuk menyeka air matanya yang sedari tadi tak mau berhenti. Entah kenapa ada perasaan sedih karena harus berpisah dengan putri bungsunya.


Sahabat reza dan Kiki juga hadir. Semua ikut terhanyut dalam suasana haru nan membahagiakan. Terlebih Intan air matanya mengalir deras. Baru tahu kalau Intan ternyata melankolis. Intan hadir bersama Anto, Alex dan Monik. Cindy tampak duduk menyendiri karena ia hanya mengenal pipit yang kini sudah tak akrab lagi. Jadi tadi hanya sekedar menyapa. Sedangkan Pipit duduk bersama Ibunya, Erwin sibuk bersama Enji dan sahabatnya. Erwin selalu menebar senyumnya karena Enji selalu ada disampingnya. Mario datang bersama Maminya dan Regina calon istri yang tak dicintainya. Sementara mami sibuk berbicara dengan ibunya Erwin. Regina tampak diam saja. Kali ini Mario tak bisa menghindar dari Regina, karena Mami mengajak Regina menginap di apartement Mario, padahal ada rumah utama, sepertinya Mami mario mulai menggunakan trik seperti Nina dan Ririn.


Hanya saja komunikasi Regina dan Mario tidak sebagus komunikasi Reza dan Kiki saat awal berjumpa. Mario sibuk memoto aktifitas Reza dan Kiki, selain untuk menghindari Regina, ia tak mau ketinggalan moment sakral sahabatnya. Kasihan sekali Regina karena tak ada yang dikenalnya disitu.


Dilayar banyak sekali video Reza dan Kiki yang mereka tak sadar kapan diambil, video itu dari berbagai sumber, bahkan video saat Reza menggandeng tangan Kiki pertama kalipun ada. Sepertinya itu diambil oleh salah satu sahabatnya dari ruang kerja.


Sheila hadir bersama ibunya, Kenanpun masih sibuk menempel pada Sheila.


"Tante setuju ga kalau aku melamar Sheila." kata Kenan pada Retno.


"Terserah Sheila aja, memang kamu sudah punya penghasilan Ken?" tanya Retno.


"Yah itu sih bisa dicari tante."


"Kalau masih menganggur, jangan melamar. Mau dikasih makan apa Sheila nanti." Kata Retno dengan judesnya. Ups Kenan hanya terdiam, tak bisa menjawab karena memang ia baru saja mau mulai magang. Walaupun nanti sudah pasti Ia akan bekerja dikantor Dwi, tapi Kenan malas membahas karena tak mau dianggap hanya mengandalkan orangtuanya.


"Mama apaan sih." tegur Sheila tak enak hati pada Kenan.


"Bener lah shei, Kerja aja belum mau melamar." Sheila tak lagi membalas, tak mau berdebat dengan mamanya. Takut merusak suasana sakral. "Sorry." katanya pada Kenan dengan gerakan mulut. Kenan hanya tersenyum miris. Merasa kalah sama Farhan yang sudah mempunyai penghasilan. Kenan mulai galau.


Dari kejauhan Nina melihat Kenan yang sedang berinteraksi dengan Retno dan terlihat ekspresi wajah Kenan yang mulai tak Enak. Nina berbisik pada Wedding Organizer untuk memanggil Kenan dengan alasan akan foto keluarga. Nina tak rela anaknya disakiti oleh siapapun. Jiwa melindunginya langsung keluar.


Reza dan Kiki sudah mulai bergabung dengan tamu undangan, Berpelukan dengan sahabatnya. Kiki bertangisan dengan Intan. Ah malah terlihat kocak, ada yang tertawa tapi menangis haru melihat Intan dan Kiki. "Jagain sohib gue ya Kak Eja, Jangan disakiti." pesan Intan pada Reza sambil terisak.


"Insyaa Allah tan, aku jaga banget, pokoknya senggol bacok." jawab Reza konyol.


"Kita kapan nyusul tan?" tanya Anto pada Intan.


"Nyusul kemana? kan kita ga kemana mana." tanya Intan tak nyambung. Agak ngeblank karena kebanyakan menangis.


"Anto ngajakin lu nikah tuh." Monik memperjelas maksud Anto.


"Ngajak nikah macam apa itu, ga ada romantis-romantisnya." sungut Intan seketika Reza merasa tersindir. Padahal Intan tak bermaksud. Alex hanya tersenyum menunggu giliran menyalami Kiki karena masih saja dipeluki Intan.


"Jangan lama-lama peluknya, nanti suaminya ga kebagian." colek Anto, Intan langsung melepas pelukannya pada Kiki. Tangannya sibuk mengelap air mata yang masih mengalir.


"Boleh tan, pekerjaan yang belum selesai harus diselesaikan."


"Tawaran baru gimana kak, banyak nih antri." tanya Monik.


"Nah itu nanti dibahas dulu ya Nik. Biar sama-sama enak."


"Iya sudah ada pawangnya lu Ki sekarang. Jadi gue ga bebas lagi ngasih kerjaan ke Kiki." sungut Monik sambil tersenyum. Gimana kira-kira bentuk rupanya ya.


"Ki.." Cindy menghampiri Kiki yang sedari tadi belum sempat disapanya. Setelah heboh berpelukan karena lama tak jumpa, Langsung saja dikenalkannya pada Reza, Intan, Monik, Anto dan Alex.


"Cin, nginep dimana, pindah ke hotel ini aja ya, gue masih disini sampai Minggu." kiki menawarkan cindy. Selain itu ia berniat menjodohkan Andi dengan Cindy. Kebetulan Erwin dan Andi dari semalam menginap di hotel A.


"Emang gue nginap disini kok, Tapi belum Check in, baru sampai tadi pagi, koper masih di reception."


"Wah bagus dong, asik rame, mas alex pada nginep dong, biar rame nih. Jadi Intan sama Monik juga nginap." kata Kiki bersemangat.


"Ok Ki, Karena ini hari bahagiamu, kita nurut deh, gimana to? Alex meminta persetujuan Anto. Kebetulan ia sudah mengosongkan jadwalnya jumat ini. Sedangkan weekend libur.


"Boleh sekamar sama Intan ga gue?" Anto mulai modus. Bercanda tapi berharap.


"Enak aja lu, ijab kabul dulu dong. Tuh penghulunya belum pulang." Monik yang sewot mendengarnya. Anto pun tertawa dibuatnya.


"Ah sebenarnya malas gue sekamar sama Alex, tapi demi lu ya Ki. Ok lah." Anto menelepon Asistennya meminta mengantarkan bajunya salinnya ke Hotel A untuk dua malam. Ia juga minta disiapkan baju untuk Intan. Asistennya sudah tau ukuran Intan karena sudah pernah bertemu. Karena tadi ia dijemput Alex dan Monik, kemudian mereka menjemput Intan. Sementara Monik tak pusing lagi karena pasti sebentar lagi asisten Alex akan melakukan hal yang sama.


Kiki senang sekali keinginannya tercapai. Anggap saja liburan melepas masa lajangnya.


Setelah berfoto bersama Kiki mengenalkan Cindy kepada teman-teman Reza. Monik dan Intan keliling mencari makanan. Sedangkan Pipit sudah pulang duluan bersama ibunya, karena Erwin masih menginap di hotel.


"Kak Andi, nih cindy sahabat aku, baru datang dari KL."


"Wah jauh ya, orang sana?" tanya Andi. Kesan pertama dimata Andi, cindy tak beda jauh dengan Kiki. Tak banyak gaya sedikit cuek. Dari tadi Andi sudah memperhatikan Cindy yang duduk santai sendiri tanpa teman.


"Bukan, cuma kuliah disana aja, karena orang tuanya tugas disana." jawab Kiki padahal yang ditanya cindy.


"Kamu kenal upin ipin dong, betul betul betul." Ah Erwin merusak suasana serius menjadi derai tawa.