I Love You Too

I Love You Too
Passport



"Kenapa Mama tiba-tiba merestui aku sama Mas Nanta?" tanya Dania pada Mama, saat Maya melaporkan jika ia sudah meminta surat kuasa pada Micko.


"Ya kan kamu suka Nanta." jawab Maya terkekeh.


"Selain itu?"


"Dia mau pelatihan ke Amerika." jawab Maya.


"Jadi Mama restui kami karena Mas Nanta pelatihan di Amerika?" tanya Dania tak habis pikir dengan pola pikir Mamanya, memang kenapa kalau dikirim pelatihan di Amerika, namanya saja Atlit yang terpilih sudah pasti ikut pelatihan.


"Kamu masa tidak mengerti sih, kalau Nanta diikuti sertakan pelatihan di Luar Negeri, berarti dia Atlit berprestasi. Dia dibiayai negara toh, dapat uang saku. Enak kan pelatihan saja bisa dapat uang. Jadi Mama yakin dia bisa menghidupi kamu dengan layak." jawab Maya senang.


"Ya ampun Mama, kemarin Mas Nanta bilang sendiri sama Mama dia mampu. Hanya saja belum bisa beli rumah karena tabungannya belum cukup kan?"


"Iya, tadinya Mama kurang yakin, setelah Mama cek di internet ternyata terbukti."


"Mama ih matre." dengus Dania kesal.


"Kamu kira cukup hanya dengan modal cinta, setelah menikah itu banyak sekali masalah yang timbul hanya karena kurang uang. Kebutuhan rumah tangga itu luar biasa besarnya, belum lagi kalau punya anak, kamu kira biaya sekolah anak sekarang murah?" mulai nyerocos panjang lebar, Dania hanya mendengarkan.


"Semoga aku tidak ya."


"Ya jangan sampai dong. Makanya Mama setuju kamu menikah dengan Nanta."


"Doakan saja rejeki aku dan Mas Nanta nanti mengalir deras." kata Dania pada Mama.


"Kenapa nanti, Mama doakan dari sekarang supaya rejeki kalian mengalir deras dari berbagai sumber."


"Aamiin." Dania tersenyum, seandainya Mama dan Papa bisa berbaikan, pasti akan lebih bahagia lagi, pikir Dania.


"Mama..."


"Hmm..."


"Kenapa sih aku tidak boleh mencari Papa? Papaku kan kaya juga, aku juga bisa hidup layak kalau bertemu Papa." pancing Dania pada Mama.


"Duh, jangan bicara itu deh, yang penting dia sudah mau kasih kamu surat kuasa untuk menikah." Maya mengelak.


"Aku kangen Papa, Ma."


"Pandangi saja fotonya."


"Aku mau Papa datang kalau aku menikah."


"Tidak boleh. Jangan datang, jangan cari masalah."


"Masalah apa sih, aku bingung deh. Kalau Ayah dan anak bertemu masalahnya dimana?" Dania mendesak Mama. Maya menghela nafas.


"Bisa tidak, kamu ikuti saja keinginan Mama. Kamu menikah saja, nanti kalau sudah menikah mau bertemu Papa kamu silahkan saja. Sekarang tahan dulu sebentar." kata Maya akhirnya mengijinkan Dania bertemu Papanya kalau sudah menikah.


"Betul ya, boleh bertemu kalau aku sudah menikah."


"Iya, tapi kalau dia mencari kamu, bukan kamu yang mencari Papa kamu." tegas Maya.


"Dania sudah dulu ya, Mama mau jemput Dona " Dona itu anak Maya dengan Jack yang berusia enam tahun, ada lagi Kakaknya Dean yang berusia delapan tahun.


"Iya, salam buat Dean dan Dona, Ma. Aku rindu." kata Dania menyebut nama kedua adiknya sebelum menutup sambungan teleponnya dengan Maya.


----


Sementara itu dijalan, masih dalam posisi menyetir dari mengantar Dania, Nanta masih cengengesan sendiri efek kenekatannya mencium pipi dan dahi Dania. Padahal pegangan tangan saja kalau ketahuan bisa langsung dinikahka oleh Oma, apa jujur saja biar langsung dinikahkan besok, pikir Nanta jahil.


Sesampainya dirumah, Mamon belum tampak batang hidungnya, pasti masih shopping bersama Tante Lulu. Nanta langsung saja masuk, niat hati mau mengintip Balen dan Richi dulu di kamarnya.


"Aban..." sapa Balen saat melihat Abangnya memasuki rumah. Ia sedang sibuk sendiri tanpa ditemani pengasuhnya.


"Loh Balen kenapa sendiri, Ncusss mana?" tanya Nanta saat melihat Balen duduk sendiri di sofa sambil memegangi buku dan pensil warnanya.


"Baen ladi bajal." jawab Balen tanpa memberitahu dimana posisi Ncusss berada.


"Belajar?" tanya Nanta.


"Hu uh, ini." tunjuknya pada buku mewarnai miliknya dengan bangga. Senyumnya merekah seakan memiliki suatu prestasi.


"Pintar, Ichi mana?" tanya Nanta.


"Aban janan dandu, Ichi bobo." katanya memperingati Nanta. Padahal ia takut pengasuhnya terbangun dan kembali menidurkannya.


"Iya sayang, Balen kenapa tidak tidur sih?" Nanta tersenyum pada Balen dari depan pintu kamar, sedangkan Balen sedang memandangi Abangnya dari sofa.


"Bobo tan, Ichi?" tanya Balen pada Abangnya ketika Nanta kembali menghampiri Balen ikut duduk disebelah Balen. Ia tidak menjawab saat ditanya kenapa tidak tidur siang.


"Iya." jawab Nanta, melihat gambar yang sedang Balen warnai.


"Mamon pedi." katanya pada Nanta padahal tidak ditanya, sementara tadi yang ditanya Nanta tidak dijawabnya.


"Kemana?" tanya Nanta terkekeh.


"banja, mau amika tan, Baen itut naik sawat."


"Naik pesawatnya ke Malang saja, mau?"


"Mau, Baen sama Aban tapi." katanya tetap sama Abang.


"Abang ke Amerika, Balen ke Malang."


"Ndak."


"Balen ke Amerika ajak Papon saja, karena Abang harus latihan Basket disana, Nanti Balen tidak ada temannya." Nanta menjelaskan dari sekarang, supaya Balen tidak merajuk, Nanta tidak mau diacuhkan seperti saat ditinggal ke Musium Angkut


"Aban...tepon Papon don." pintanya pada Nanta.


"Mau apa?" tanya Nanta.


"Papon itut Amika." katanya, Nanta terkekeh.


"Nanti saja tunggu Papon pulang kerja bilangnya." kata Nanta.


"Aban!!!" mulai merengek sambil berteriak.


"Ish jelek kalau begitu, kecantikan kamu berkurang loh kalau teriak seperti itu." Nanta memeluk Balen gemas.


"Tepon Papon, Aban..." melunak tapi masih merengek.


"Sebentar." Nanta menekan tombol videocall pada Papanya.


"Balen..." sapa Kenan saat melihat gadis kecilnya berwajah kusut.


"Papon, Amika yuk." katanya Pada Kenan.


"Nanti ya kalau Balen sudah besar." jawab Kenan.


"Temenin Baen itut Aban, Papon." katanya pada Kenan membuat Papanya tertawa.


"Abang mau belajar disana, Nak." kata Kenan tersenyum, lucu melihat Balen dari kemarin sudah ikut menyiapkan koper untuknya berangkat.


"Baen juda bajal Papon, nih..." mengangkat buku mewarnai dan pinsil warnanya, memperlihatkan pada Kenan.


"Balen..." Micko yang rupanya berada diruangan Kenan ikut memunculkan wajahnya.


"Om Mito, pain?"


"Kerja dong sama Papon." jawab Micko melihat Balen dan Nanta.


"Balen mau ke Amerika, sama Om Micko saja." kata Micko jahil, membuat Kenan meninju lengannya pelan, bikin anaknya berharap saja.


"Mau." Balen menganggukkan kepalanya cepat, pikirnya yang penting ada yang menemani saat Nanta latihan Basket disana.


"Bikin passport dulu ya, minta Papon bikinkan passportnya, nanti Om Micko ajak." janji Micko pada Balen.


"Yah..." jawab Balen senang.


"Eh Bang yang benar saja, nanti ditagih sama Balen." tegur Kenan pada Micko.


"Kalau ditagih, tinggal ditepati." jawab Micko santai.


"Hahaha sembarangan saja bicara." Kenan terbahak, Micko memang suka konyol. Mana mungkin Kenan melepas Balen ke Amerika hanya dengan Micko, kalau begitu Kenan dan Nona pasti ikut juga.


"Papon nanti puang teja, bawa papot Baen ya." kata Balen, membuat Micko terbahak meninggalkan Kenan diruangannya. Kenan menggelengkan kepalanya dan ikut tertawa, repot sudah nanti Malam Kenan harus mencari cara membujuk Balen. Kalau dibilang Dari sekarang tidak bisa bawa Passport Balen pasti akan terus merengek, sementara Kenan masih ada satu meeting lagi sore ini.