
Siang ini Baron meminta Kenan untuk menemuinya sekalian makan siang bersama, Baron juga akan mengenalkan Kenan dengan seseorang yang ingin bekerja sama dengannya. Kenan segera bersiap, kali ini tidak ditemani Raymond, karena Raymond menghandel pekerjaan yang lain. Nanti sekitar jam dua siang, baru ia akan pergi bersama Raymond.
Tepat pukul dua belas siang, Kenan menghampiri Baron yang sudah menunggu di cafe biasa dekat kantor mereka. Tampak Baron bersama seorang pria tampan berkulit putih, gayanya pun trendy, sepertinya lebih muda dari Kenan.
"Ken, kenalkan Wawan anak kerabat saya." kata Baron saat Kenan menghampiri meja mereka. Kenan tersenyum ramah dan memperkenalkan dirinya.
"Bagaimana?" tanya Kenan langsung pada intinya.
"Makan dulu, main bagaimana saja." kekeh Baron diikuti Wawan. Kenan pun ikut terkekeh.
Setelah memesan makanan dan minuman yang diinginkan, barulah mereka membahas mengenai pekerjaan dan cara bekerja sama. Wawan tertarik dengan apa yang disampaikan oleh Kenan.
"Jadi untuk tindak lanjutnya, bikin saja surat permohonan kerja sama. Kirim via email boleh." kata Kenan pada Wawan.
"Besok pagi, saya kirim ya." kata Wawan pada Kenan. Wawan yang pembawaannya santai mengingatkan Kenan pada Deni, mungkin bisa menjadi typenya Nona juga, pikir Kenan.
"Ada lagi, Bang? saya ada meeting jam tiga di hotel B." tanya Kenan sambil melihat jam di pergelangan tangannya. Sementara Wawan sedang ijin ke toilet.
"Kamu sudah mau pergi? Nona sebentar lagi kesini." kata Baron pada Kenan.
"Mau apa Nona kesini?" tanya Kenan pada Baron.
"Saya mau pertemukan dengan Wawan, bagaimana menurut kamu?" tanya Baron tersenyum lebar.
"Abang seperti menjual Nona." dengus Kenan kesal.
"Saya sudah minta kamu, tapi kamu menolak. Padahal menurut saya kamu orang yang tepat. Nona semalam bilang pada saya untuk mencarikannya jodoh. Ia akan menurut jika saya setuju. Kamu yakin tidak mau dengan anak gadis saya? ini terakhir saya menanyakan pada kamu." kata Baron santai. Kenan menarik nafas kesal.
"Terserah Abang saja lah. Bang Baron yang lebih tahu, taaruf saja butuh waktu tiga bulan." tegas Kenan dan segera meninggalkan Baron tanpa menunggu Wawan kembali dari toilet. Baron terkekeh melihat reaksi Kenan. Kita lihat sampai dimana kamu bisa menahan diri, batin Baron sambil menyeringai.
"Jadi kamu minta waktu tiga bulan, Ken?" teriak Baron sebelum Kenan menjauh. Kenan mengangkat tangannya entah apa maksudnya. Yang pasti Kenan malu pada tamu cafe yang lain, karena diteriaki Baron.
"Mas Kenan mau kemana?" teriak Nona saat melihat Kenan keluar dari cafe.
"Kamu sudah datang, ditunggu Papa didalam. Saya mau ke hotel B dulu." jawab Kenan tersenyum tipis.
"Nanti pulang jemput aku tidak?" tanya Nona berharap.
"Nanti kamu kabari saya saja ya, mau dijemput atau kamu pulang dengan cowok ganteng yang didalam." kata Kenan mengacak anak rambut Nona. Rasanya tidak rela melepas Nona dengan Wawan, tapi bagaimana, sepertinya Kenan perlu sholat istikharah.
"Jemput saja ya." pinta Nona.
"Kabari saya kalau ada perubahan." kata Kenan sebelum meninggalkan Nona di cafe.
Kenan segera menghubungi Raymond menanyakan posisinya sekarang. Raymond sudah hampir mendekati kantor, maka Kenan memutuskan untuk menunggu Raymond di lobby.
"Mas Wawan apa kabar?" tanya Nona pada sepupunya, anak dari adik Mama. Tadi Baron mengajak Nona untuk makan siang bersama, berhubung Nona banyak pekerjaan, maka ia menyusul belakangan. Wawan baru saja kembali dari Canada, ia pulang karena diminta untuk meneruskan usaha orang tuanya.
"Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat Nona, kamu kelihatan lebih bahagia sekarang." kata Wawan pada Nona.
"Masa sih?" Nona cengar-cengir senang.
"Sejak kenal Mas Kenan ya, om?" tanya Wawan pada Baron. Baron terkekeh menganggukkan kepalanya.
"Kamu setuju aku sama Mas Kenan?" tanya Nona pada Wawan.
"Setuju, kenapa tidak. Orangnya menyenangkan." kata Wawan menilai Kenan pada kesan pertamanya.
"Tapi dia tidak mau sama aku." Nona tampak memelas.
"Masa seorang Nona tidak bisa menaklukkan Mas Kenan." Wawan terkekeh memberi Nona semangat.
"Nanti kamu pulang sama Wawan ya." pinta Baron pada Nona.
"Aku sudah minta Mas Kenan jemput aku." kata Nona nyengir.
"Tidak mau, lain kali saja aku pulang sama Mas Wawan. Tadi Ray bilang, mungkin Mas Kenan besok tiga hari keluar kota." kekeh Nona memandang Wawan dan Papa Baron sumringah, ia lebih dulu tahu jadwal Kenan dibanding Kenan sendiri.
"Tapi Papa mau memastikan, kamu siap menikah dengan Duda? bisa terima masa lalu Kenan? dia berhubungan baik dengan Tari mantan istrinya. Bahkan dia juga berhubungan baik dengan Sheila." kata Baron pada gadisnya.
"Aku kenal juga sama Mbak Tari. Kalau Sheila sudah diblokir Mas Kenan kok kemarin." Nona tampak bersemangat.
"Ya sudah berarti Papa bisa tenang menitipkan kamu dengannya. Papa sangat merestui kamu dengan Kenan." kata Papa Baron, kemudian tersenyum pada Wawan.
"Papa ajak Mas Wawan untuk menilai Mas Kenan?" tanya Nona
"Hu uh."
"Papa ish."
"Tapi tadi Kenan salah sangka, mungkin dia kira Papa mau menjodohkan kamu dengan Wawan." Baron terkekeh mengingat ekspresi Kenan tadi.
"Masa begitu, Om?"
"Iya, tadi dia langsung pergi, tidak menunggu kamu dari toilet toh." Baron semakin terkekeh.
"Wah nanti Mas Kenan menjauh dari aku." Nona tampak khawatir.
"Mestinya tidak ya, justru harusnya dia semakin mendekati kamu supaya tidak diambil orang." kata Wawan menyampaikan pemikirannya.
"Mauku sih begitu Mas Wawan." Wawan dan Baron tertawa dibuatnya. Nona selalu apa adanya, tak pernah bisa menyembunyikan apa yang ada dihatinya, selalu saja spontan.
Sore hari dikantor, Nona menghubungi Kenan, minta dijemput pastinya.
"Mas Kenan masih meeting?" tanya Nona via telepon.
"sudah selesai, sekarang dalam perjalanan ke kantor. Kamu pulang sama siapa nanti?" tanya Kenan hati-hati.
"Sama Mas Kenan, bisa kan?" tanya Nona sangat berharap.
"Tunggu ya, sepuluh menit lagi saya sampai." jawab Kenan membuat Nona bersorak dalam hati. Baru pulang bersama saja sudah bahagia begini, apalagi hidup halal bersama ya, Nona mulai menghayal, tapi hayalannya pudar mengingat Kenan dengan tegas menolak Nona saat dirumah Papa.
Lihat saja ya, aku akan buktikan ucapan Mbak Tari supaya kamu bertekuk lutut sama aku, batin Nona. Ia tampak berfikir, apa yang harus ia lakukan, Nona juga tidak mau bertindak seperti gadis murahan yang mengejar-ngejar Kenan. Bagaimana caranya? pikir Nona bingung sendiri.
"Saya sudah dilobby." kata Kenan pada Nona via telepon. Ah cepat sekali, Nona buru-buru meninggalkan mejanya menuju lobby, setelah berpamitan pada staffnya dan juga rekan kerjanya yang lain.
Seperti biasa Nona berlari kecil menghampiri Kenan dan langsung duduk di bangku penumpang depan.
"Mas Kenan besok jadi ke luar kota?" tanya Nona polos. Padahal tadi Ray sudah pesan, pura-pura tidak tahu sajam.
"Kamu tahu dari mana?" tanya Kenan heran.
"Dari Nanta." jawab Nona asal.
"Oh iya, tadi saya telepon Nanta, tanya acara yang hari sabtu jam berapa. Saya usahakan hadir, jadi kamu tidak sendiri." kata Kenan tersenyum, mulai melajukan kendaraannya perlahan. Ups Nona menarik nafas lega, untung saja Kenan menghubungi Nanta tadi.
"Selama saya diluar kota, kamu berangkat dan pulang sama Ray saja, tidak usah bawa mobil." kata Kenan pada Nona.
"Apa tidak merepotkan, Ray?" tanya Nona, karena gampang saja kalau Nona mau, ia bisa meminta supir kantor mengantar dan menjemputnya selama Kenan tidak di Malang.
"Kalian kan searah, tadi Ray sudah ok kok." kata Kenan lagi, Nona menganggukkan kepalanya setuju.
"Bang Eja masih disini? aku belum bertemu Kak Kiki." tanya Nona pada Kenan.
"Besok pagi saya berangkat sama Bang Eja. Kiki agak lama disini, mungkin minggu depan baru pulang."
"Oh ya sudah, besok pagi aku ke rumah Raymond, sekalian bertemu Kak Kiki." kata Nona senang bisa ngobrol seru dengan Kiki nanti.
"Jangan gosip pagi-pagi ya." pesan Kenan sambil terkekeh. Sore ini Kenan senang sekali karena Nona tidak pulang sama Wawan. Tadi pun Kenan meminta Ray untuk mengantar jemput Nona agar Nona tidak diantar jemput oleh Wawan. Dasar Kenan!