
"Aku ijin ke kamar duluan." kata Nanta pada semuanya setelah mereka selesai makan malam.
"Aku juga." kata Raymond, Kenan dan Opa menganggukkan kepalanya karena keduanya pasti lelah setelah aktifitas hari ini. Belum lagi Nanta yang harus mengantar mertuanya pulang harus bermacet-macetan.
"Balen ayo bobo sama Abang." ajak Nanta pada adiknya.
"Ndak." Balen menggelengkan kepalanya.
"Sama Bang Ray?" tanya Raymond.
"Yah." Balen mengulurkan tangannya minta digendong Raymond, Roma pun mengikuti suaminya ijin masuk kamar, begitu juga Dania. Raymond menggendong Balen dan menciuminya gemas.
"Wangi betul." kata Raymond membuat Balen kembang kempis hidungnya merasa dipuji Abangnya.
"Susu Baen janan upa ya." pesan Balen saat melewati Ncusss yang berdiri didepan pintu kamar menggoda Richi.
"Siap bu boss." jawab Ncusss membuat Balen terkekeh.
"Bubos ladi." katanya tertawa geli.
"Bu boss bobo sama siapa?" tanya Roma menggoda Balen.
"Tata Yoma tayan Baen." katanya menggombali Roma.
"Balen sayang Kak Roma." Roma membenarkan.
"Hahaha sama aja Tata Yoma." katanya sok tahu. Gemas sekali Raymond dibuatnya, langsung saja digigitnya pipi Balen dengan bibirnya.
"Ih, tiumna ditu ladi." Balen menghapus pipinya yang sedikit basah.
"Siapa yang cium sih? itu gigit tahu." Raymond terkekeh dan memasuki kamar tempatnya menginap dirumah Kenan. Balen ikut terkekeh sok tua sekali.
"Ray, sabtu menginap dirumah Ayah ya." Roma mengingatkan.
"Iya." jawab Raymond terkekeh, ia lebih sering menginap dirumah Kenan padahal Ayah dan Bunda juga pasti sangat merindukan Raymond dan Roma. Hanya saja Ayah tidak seperti Om Kenan yang jika kangen spontan bilang kangen, seperti saat Nanta ada di Bandung, meminta Nanta untuk pulang lebih cepat. Kalau Ayah tidak akan diungkapkan, apa jangan-jangan Ayah tidak rindu, pikir Raymond, begitu meletakkan Balen dikasur, ia langsung menghubungi Ayah via telepon.
"Assalamualaikum..." jawab Ayah Eja saat mengangkat telepon dari anaknya.
"Waalaikumusalaam, tidak rindu anak ya. Tidak pernah dicari." gerutu Raymond pada Ayahnya. Reza terbahak mendengarnya.
"Kenapa? kamu rindu Ayah dan Bunda?" tanya Reza disela tawanya.
"Iyalah pasti, Ayah saja yang tidak rindu aku." sungut Raymond.
"Fitnah." Reza semakin terbahak.
"Buktinya Ayah tidak cari aku."
"Kamu sibuk, ke Bandung, ke Sukabumi." jawab Reza pada Raymond.
"Nah Ayah tahu kok?"
"Ayah kan tanya terus sama Om kamu." jawab Reza.
"Kok tidak telepon aku langsung?" tanya Raymond.
"Kamu juga tidak telepon Ayah, keenakan ya dekat Kenan. Kamu anak Ayah apa anak Kenan sih? Tidak di Jakarta tidak di Malang maunya dekat Kenan terus." Hahaha gantian Ayah yang ngomel pada Raymond.
"Ih Ayah jangan begitu, aku sayang semuanya. Aku tetap anak Ayah dong." Raymond membujuk ayahnya, Reza kembali tertawa, terdengar Kiki ikut tertawa dibelakang Reza.
"Bundaaa..." teriak Raymond seperti anak kecil.
"Apa?" jawab Kiki sok judes.
"Ih Bunda aku kangen. Sabtu aku pulang." kata Raymond pada Bundanya.
"Iya." jawab Bunda biasa saja.
"Ish kok cuma jawab iya sih?" protes Raymond.
"Kamu kenapa sih Ray, jarang telepon sekali telepon marah merasa tidak dirindukan?" tanya Kiki pada anaknya
"Habis Ayah dan Bunda kok acuh saja sih."
"Kamu juga kan masih sibuk disana, Bunda mengerti kok." kata Bunda pada Raymond.
"Iya aku merasa tidak diperhatikan."
"Hahaha Raymond Bunda cubit kamu ya, jangan drama deh. Kalau kangen malam ini menginap saja disini." kata Bunda pada Raymond.
"Balen lagi menginap dikamarku." kata Raymond.
"Ajak saja Balen menginap disini, nanti tidur sama Ayah dan Bunda." kata Kiki lagi.
"Mau Balen kita bobo rumah Bunda?" tanya Raymond.
"Mau." jawab Balen senang.
"Nanti Balen bobo sama siapa?" tanya Raymond lagi.
"Sama Ayah Bunda don." jawab Balen.
"Aku menginap di rumah Ayah ya ajak Balen." kata Raymond begitu menemui Kenan dan Opa yang masih ngobrol didepan tv.
"Tumben?" Kenan terkekeh.
"Aku merasa diacuhkan sama Ayah." Kenan terbahak mendengarnya.
"Siapa yang mengacuhkan kamu sih? drama deh." kaya Kenan pada Raymond.
"Aku merasa ya begitu karena Ayah tidak pernah telepon aku." kata Raymond menjelaskan.
"Tuh kamu saja tidak ditelepon sensitive, apalagi Opa." sindir Opa pada Kenan.
"Hahaha Papa nih, iya mulai Papa di Malang aku telepon Papa juga, buka. Mama saja." kata Kenan pada Papanya.
"Ya sudah sana nanti kemalaman." kata Opa pada Raymond.
"Ayo." ajak Ray pada Roma yang sedang menggandeng Balen.
"Opa, Papon Baen ninap umah Ayah ya." ijin Balen.
"Pamit sama Mamon dulu sayang." kata Kenan pada gadis kecilnya.
"Yah." Balen melepaskan tangannya dari Roma lalu berlari kekamar Mamon, tidak lama ia keluar dan berlari kekamar Oma, rupanya mau pamit dengan Omanya. Setelahnya ia keluar dari kamar Oma lalu tersenyum melewati semuanya.
"Eh mau kemana?" tanya Roma pada Balen.
"Tasih Tau aban duu." katanya berlari ke kamar Nanta.
"Abaaan." teriaknya karena kamar Nanta terkunci.
"Aban buta deh pintuna." teriak Balen lagi.
"Ya, tunggu." teriak Nanta dari dalam.
"Janan lama-lama aban." katanya pada Abangnya.
"Iya sabaar." teriak Nanta lagi. Tidak lama Nanta muncul membuka pintunya, tapi ia bingung karena Balen tidak berlari masuk kedalam.
"Kenapa?" tanya Nanta dari balik pintu. Balen mengulurkan tangannya seperti ingin bersalaman. Nanta pun menyambutnya.
"Baen bobo umah Ayah duu sama Ban Lemon." pamitnya pada Nanta. Nanta terkekeh dan menggendong Balen.
"Salam juga sama Kakak Dania." kata Nanta pada adiknya lalu masuk menghampiri Dania yang sudah terbaring bergelung selimut.
"Tania, Baen pedi duu ya." katanya pada Dania.
"Mau kemana?" tanya Dania pada Balen, tidak bangun dari tidurnya.
"Mau bobo umah Ayah Bunda." jawab Balen.
"Hati-hati ya. Salam untuk Ayah Bunda." kata Dania pada Balen.
"Banun don." kata Balen pada Dania.
"Iya." Dania pun menurut bangun dari tidurnya, ia menutupi badannya dengan selimut.
"Ndak pate baju ih." teriak Balen pada Dania karena melihat pundak Dania terbuka.
"Iya Kakak Dania lagi Abang kerok badannya." kata Nanta pada adiknya.
"Oh masuk anin ya." kata Balen sok tahu.
"Iya." jawab Nanta cepat segera keluar dari kamar mengantar Balen yang sedang digendongnya.
"Aban..." panggil Balen.
"Apa?"
"Baju aban tebaik tuh." tunjuknya pada baju Nanta yang terbalik.
"Ah kamu nih. Kedepan sendiri saja ya." kata Nanta menurunkan Balen dari gendongannya. Tadinya mau mengantar Balen kedepan, tapi dari pada dibikin malu lagi lebih baik lepaskan Balen sendiri.
"Aban mau benein baju ya?" tanya Balen.
"Iya, jangan kasih tahu yang lain ya, Abang malu." bisik Nanta pada adiknya
"Napa? oo udah dede pate bajuna tebaik ya." Balen terkikik geli. Nanta ikut terkikik dan menyekap gemas adiknya.
"Ah Aban nih epasin." teriak Balen meronta. Nanta terbahak.
"Baleen, ayo lama betul." teriak Roma tidak sabaran menyusul Balen yang sedang disekap Nanta.
"Aban nih natal." tunjuknya pada Nanta yang akhirnya melepaskan sekapannya.
"Ih Nanta nih, baju terbalik tuh." tunjuk Roma terkekeh.
"Iya mau dapat rejeki." jawab Nanta malas, tapi mendelik pada Roma.
"Iya-iya rahasia." kata Roma lagi terkikik geli meninggalkan Nanta yang berbalik ke kamarnya. Ah ketahuan melulu Nanta nih.