I Love You Too

I Love You Too
Pendiam



"Jadi begini, Pak. Karena situasi yang tidak memungkinkan untuk Bapak dan Ibu tinggal berdua saja di Sukabumi, demi keamanan dan kenyamanan bersama, sementara waktu Bapak dan Ibu terpaksa kami sembunyikan, tapi tidak disini karena terlalu riskan." Kenan langsung pada pokok permasalahan.


"Aduh di Indonesia saja, saya tidak kuat kalau harus ke luar negeri." Nenek langsung saja buka suara.


"Takut mabok kan, Nek?" Raymond menggoda Nenek yang jarang bicara jika tidak penting.


"Iya." jawab Nenek tersenyum. Nanta ikut tersenyum, Nenek ini seperti Dania tua saja rasanya.


"Ibu dan Bapak nanti ikut Raymond ya ke kota Malang." kata Kenan lagi.


"Jadi merepotkan Nak Raymond." kata Kakek tidak enak hati.


"Repot kah Ray?" tanya Micko terkekeh.


"Demi Kakek, Nenek dan adikku yang mau tugas negara, aku tidak merasa repot." Raymond mengangkat alisnya pada Nanta.


"Matatih Aban." jawab Nanta meniru gaya Balen, Richi yang masih dipangku Nanta terkekeh seakan mengerti Abangnya meniru kakak Balen.


"Maaf ya Kakek dan Nenek terpaksa aku titip sama Bang Ray dan Opa Oma di Malang. Karena aku tidak berdaya. Lusa aku sudah diasrama." kata Nanta menangkupkan kedua tangannya.


"Ini saja Kakek sudah sangat berterima kasih." Kakek tersenyum manis.


"Peter itu mantan pacarnya Maya, Kakek pernah bertemu beberapa kali, orangnya baik. Kenapa dia jadi mengancam keselamatan kami dan cucu kami?" kata Kakek lagi sambil berpikir.


"Semua ada hubungannya dengan saya." jawab Micko.


"Kenapa?"


"Peter masih saudara saya sebenarnya, tapi karena masalah keluarga, semua jadi berkembang kesana kemari."


"Jadi kamu menikah dengan mantan pacar saudara kamu sendiri ya saat itu."


"Saya juga baru tahu beberapa bulan ini. Sebelumnya saya pikir Peter hanya ingin mengacau dengan mengaku sebagai ayah biologis Dania." Micko terkekeh.


"Anak saya tidak sekacau itu." Kakek membela Maya. Micko mengangguk dan tersenyum, suasana hening sesaat.


"Ayo, makan siang dulu." kata Kenan ketika asisten rumah tangga memberi kode jika makan siang sudah siap, meskipun sedang diluar rumah, Nona tetap mengarahkan asistennya agar menyiapkan makan siang untuk semua yang ada dirumah saat ini.


"Ayo Pak, Ibu." Micko langsung saja berdiri menuju meja makan, sepertinya memang lapar.


"Sudah habis energi, Om?" Raymond tertawa.


"Makan harus tepat waktu, Ray." Micko melihat pergelangan tangannya, bertepatan dengan adzan.


"Bagaimana tuh Om, sudah adzan?" tanya Ray lagi.


"Kalau makanan sudah didepan mata, makan dulu baru sholat." kata Micko bergaya ala ustadz.


"Kali ini kita jamaah dirumah saja ya." kata Kenan pada yang lainnya, sudah terlanjur mengajak makan tamu baru adzan.


"Iya." jawab Nanta dan Raymond bersamaan.


"Om, berarti kami ke Malang besok saja, lebih cepat lebih baik." kata Raymond setelah semua duduk dimeja masing-masing mulai menyendokkan makanannya setelah mempersilahkan Kakek dan Nenek mulai terlebih dulu.


"Kenapa begitu?" Nanta setengah protes, Richi sudah diserahkannya pada Ncusss.


"Karena sabtu itu semua pasti sibuk urus kamu masuk training camp, aku khawatir pandangan mata akan mengarah kesini, mengerti kan maksudku? Kita sebaiknya meminimalisir resiko." Raymond menjelaskan pada adiknya. Nanta pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti, ia mulai menyuap makanannya, semua pun begitu.


"Naik heli saja ya, pakai pesawat komersil terlalu berisiko." kata Micko pada Raymond.


"Tidak apa naik komersil saja." kata Kakek pada Micko.


"Nanti ketahuan Bapak dan Ibu ada di Malang. Besok akan saya siapkan, mau berangkat jam berapa?" Tanya Micko pada Raymond.


"Atur saja Bos." Kenan terkekeh memandang Micko yang konsen mengurus semuanya.


"Kalau Nenek memang pendiam ya, jarang sekali bicara?" tanya Nanta kepo. Nenek dari tadi bicara seperlunya saja, selanjutnya lebih banyak mendengar.


"Nenek memang begitu." Kakek terkekeh menepuk bahu istrinya pelan.


"Tante Maya tidak pendiam, mungkin ikut Kakek. Dania seperti Nenek sebenarnya ya Om, lebih sering menyimak kalau dikumpulan orang banyak." kata Nanta pada Micko.


"Masih keturunannya." jawab Micko terkekeh.


"Kalau dikamar bagaimana?" bisik Micko yang duduk diapit Nanta dan Kenan. Nanta tertawa saja sambil meringis tidak menanggapi pertanyaan konyol mertuanya, sempat-sempatnya menggoda Nanta.


"Nenek ini sebenarnya dari dulu tidak suka bersosialisasi, kami sempat cukup repot tetangga banyak yang komplain Karena kami tinggal di daerah padat penduduk, tapi Nenek tidak bisa bergaul." Kakek kembali terkekeh.


"Iya malah waktu masih gadis orang tua saya sempat ditegur tetangga, mereka bilang Ibu anaknya terlalu sombong. Bayangkan dikampung tapi tidak bergaul, itu aneh. Kalau diperkotaan mungkin biasa karena saling masa bodo." Nenek mengedikkan bahunya. Semua tersenyum, pantas saja Dania seperti itu sudah ada keturunannya.


"Nanti bertemu Omaku loh Nek, orangnya asik. Bisa jadi Nenek terpengaruh Oma, seperti Dania terpengaruh kita." Nanta mengacungkan jempolnya, Kenan dan Micko tertawa melihatnya.


"Nanti di Malang Bapak dan Ibu bersama orang tua saya juga. Sekarang mereka lagi keluar bersama Dania." kata Kenan. Kakek menganggukkan kepalanya.


"Maaf ya jadi merepotkan kalian semua." kata Nenek pada semuanya.


"Kita hadapi sama-sama, karena sekarang jadi masalah kita bersama." jawab Kenan tersenyum.


"Beginilah kedekatan kita, Pak, Bu. Masalah saja kita saling berbagi." Micko masih saja bercanda, semua jadi tertawa dibuatnya.


"Sejak jadi besan, jadi ikut kebagian masalah ini." jawab Kenan sambil tertawa. Kakek menganggukkan kepalanya sambil tertawa.


"Kenapa cepat sekali Nanta dan Dania menikah? mereka masih sangat muda." tanya Kakek pada Kenan dan Micko. Kenan mengarahkan tangannya pada Micko agar menjawab.


"Salah satunya karena masalah ini. Saya dan Dania tidak bisa bertemu selama sepuluh tahun. Bahkan saat menikah kemarin Maya hanya meminta saya membuat surat wali hakim agar Nanta dan Dania bisa menikah. Pertemuan saya dan Dania karena Nanta tidak sengaja berkenalan dengan Dania di Malang." Micko menjelaskan.


"Sementara keluarga kami sudah saling kenal dari sebelum Nanta dan Dania lahir. Bisa dibilang keluarga Kenan itu keluarga saya juga, karena sama keluarga sendiri Mama saya tidak diterima. Ya keluarga Peter itu. Kami satu Kakek beda Nenek. Maya terintimidasi oleh Peter sampai kami harus bercerai Dan Dania tidak bisa bertemu Papanya."


"Waduh, kenapa Maya melakukan itu?"


"Karena Maya diancam Peter sepertinya, sekarang saja setelah tahu Dania bersama saya, Peter mengancam keselamatan Bapak dan Ibu juga pada Maya."


"Iya Maya telepon kami menangis tengah malam, minta kami segera keluar dari Sukabumi, Takut diganggu Peter, padahal banyak tetangga yang akan membantu kami. Tapi pagi hari Maya bilang Nanta akan datang menjemput agar kami bersiap."


"Bodoh sekali Maya bisa dikendalikan Peter, ada apa antara mereka." Kakek jadi kesal sendiri.


"Sudah Kek tidak usah dipikirkan, kalau tidak aku jemput Kakek tidak bertemu Dania kan." Nanta menenangkan.


"Iya sih, tapi kalau tidak menuruti Peter pasti Dari dulu kami sudah bertemu Dania." kata Kakek masih Kesal.


"Waktu dulu Maya memang setiap saya ajak ke Sukabumi tidak pernah mau." kata Micko mengenang sedikit kebelakang.


"Iya dia hanya telepon saja. Sempat datang bersama Jack waktu akan menikah, tapi tidak bersama Dania." kata Kakek.


"Oh iya pernah Dania dititip sama saya satu hari, menjelang pernikahannya, saya sempat bilang, tidak usah dibawa ke London, tinggalkan saja terus sama saya. Maya tidak mau." Micko terkekeh.


"Kalau tinggal sama Om Micko pasti aku sudah bertemu Dania dari dulu ya Om." kata Nanta pada Micko.


"Iya, tapi belum tentu Om jodohkan sama kamu Nan, Papamu dulu tidak asik." Micko membercandai Kenan.


"Bawa-bawa tempo dulu lagi, Bang Micko juga tidak asik loh, kami sekeluarga baru tahu kalau beliau ini dulu pernah menikah dan punya Dania. Saya hanya tahu anak istrinya yang sekarang saja, tertutup sekali Bang Micko ini, Pak. Masalah dihadapi berdua saja sama Mamanya."


"Ck, pernikahan sama Maya ini kusut juga, Maya maunya serba rahasia. Ternyata semua karena Peter." Micko menggelengkan kepalanya.


"Mewakili Maya kami minta maaf, Nak Micko. Hidupmu jadi begini terpisah dengan Dania sepuluh tahun dan menikahkan Dania dengan surat wali hakim." Nenek menatap Micko sendu.


"Tidak usah sedih Bu, Hidup saya penuh warna dan saya sudah bahagia dengan keluarga baru saya, bertambah bahagia karena Nanta, saya bisa bertemu dengan Dania, semakin lengkap kebahagiaan saya bisa berbesan dengan keluarga Kenan." Micko menepuk bahu Kenan.


"Ah bisa saja Abang nih, mau naik gaji kah?" Kenan balik bercandai Micko dan mereka semua tertawa, Nenek jadi ikut tertawa lepas. Nanta senang melihatnya karena tadi Nenek hanya diam saja, mengganggu penglihatan Nanta yang terbiasa dengan keluarganya yang tidak bisa diam.