
"Mama Ayu atu itut mobin mama Ayu ajah." teriak Richie saat mereka bersiap menuju ke restaurant yang sudah dibooking dimana Opa Santoso sudah menunggu.
"Mama Ayu? sejak kapan?" tanya Nona bingung, Kenan kembali tertawa.
"Sejak sarapan tadi Kak Nona, fixed kita nanti besanan." jawab Ayu tertawakan Richie.
"Ayo." ajaknya menggandeng Richie yang maunya nempel sama keluarga Steve walaupun tidak ada Selin disana. Kalau Papi Mario dan Papa Andi datang, sudah pasti Selin dan adiknya lupakan Steve dan Ayu.
"Bisa aja si Boyle." Mike ikut tertawakan Richie, ia tidak lagi bersama Seiqa, karena gadis pujaan hatinya sudah berangkat bertemu sahabatnya dulu
"Mike jangan panggil anakku begitu." Nona ingatkan Mike.
"Hahaha..." Mike langsung terbahak. Nanta tersenyum saja mendengar Nona dan Mike. Ia sibuk rangkul istrinya saat ini, tidak mau Dania menganggapnya tidak ada, jadi khawatir sendiri dengar jawaban santai Dania tadi pagi, anggap saja lagi solo traveller, enak saja bilang begitu. Nanta tidak terima.
"Peluk terus istrinya, takut betul hilang." goda Larry pada sahabatnya.
"Semalaman anakku sudah komplen." Nanta terkekeh menunjuk perut Dania.
"Papanya sibuk sih sama teman-teman." kata Dania terkekeh.
"Yang komplen Papanya apa Mamanya?" tanya Mike menggoda Dania.
"Aku sih santai saja, kan ada Dona dan yang lainnya juga." jawab Dania tertawa.
"Psssttt, sudah jangan banyak bicara." kata Nanta pada istrinya. Tidak mau Dania keterusan, nanti bilang solo traveller lagi, miris sekali Nanta mendengarnya, bagaimana bisa jalan sama suami tapi serasa sendiri.
"Kenapa tuh Nanta?" tanya Kenan terkekeh.
"Tidak tahu, mungkin karena semalam dikerjai anaknya." Nona ikut tertawakan Nanta.
"Tapi kan gue sudah nasehati cucu gue." kata Micko pada Kenan.
"Cucu Abang sendiri saja memangnya?" protes Kenan pada Micko, mereka menuju Mobil yang disiapkan Steve, Rumi dan Aditia entah kemana, mungkin acara bebas.
"Iya kenapa cucu gue sih?" Nona ikut protes.
"Sama saja suami istri begitu saja jadi masalah." Micko mendengus kesal.
"Betul dong, harusnya kamu bilang cucu kita." oceh Lulu membela besannya. Nanta tertawakan calon Oma dan Opa yang sedang ributkan kata Cucu gue itu.
"Tiga lawan satu, terang saja saya kalah." sungut Micko pada istrinya. Kenan dan Nona jadi tertawakan Micko.
"Oke cucu kita. Senang?" tanya Micko kemudian.
"Senan don." jawab Balen wakili Mamon dan Papon, Micko jadi gemas sendiri diangkatnya Balen dan diciuminya perut singkong rebus Nanta ini.
"Om Mito, deli..." teriaknya, tetap pada prinsipnya panggil Micko Om, walaupun sudah disuruh panggil Papa.
"Papa..." tegas Micko pada Balen.
"Om aja." jawabnya ngeyel, Micko kembali mencium perut Balen, siunyil jadi berteriak tertawa kegelian.
"Aban Leyi toong." minta tolong sama Larry.
"Kenapa minta tolong sama elu sih Leyi." protes Nanta jadi kesal sendiri. Larry terbahak melihat Balen dan juga Nanta sahabatnya.
"Jangan salahkan kalau ternyata gue tuh lebih diandalkan dibanding Abangnya sendiri." Larry terbahak menggoda Nanta.
"Larry sudah berangkat ke Jakarta." teriak Nanta pada Balen.
"Janan boon, masut neaka nanti." katanya pada Nanta bikin ngeri saja.
"Hahaha iya maaf bohong kok." Nanta jadi terbahak dengar peringatan Balen. Yang lain juga ikut tertawa.
"Don tadi tidak sarapan?" tanya Nanta pada Doni.
"Dona mau makan buah saja, sayang tidak dimakan itu parcel buahnya." jawab Doni pandangi Dona.
"Sudah habis?" tanya Nanta pada Dona.
"Sudah, kita makan berdua." jawab Dona tersenyum.
"Banyakan kamu sih." Doni menggoda istrinya.
"Iya sih." jawab Dona terkekeh.
"Habis makan masih bisa shopping kan?" tanya Dona pada suaminya, kebiasaan selalu saja ingin belanja kalau sudah diajak liburan.
"Ada titipan siapa lagi?" tanya Doni pada Dona.
"Ish, Kak Dini ini dikira kita banyak waktu ya, carikan keperluannya saja sudah setiap liburan." gerutu Doni kesal sendiri dengan Kakaknya.
"Sudah tinggal belikan saja apa susahnya sih." jawab Dona santai, mereka sudah dimobil saat ini. Gunakan minibus hari ini menuju restaurant. Harapan Richie untuk dimobil hanya dengan Steve dan Ayu saja tinggal hayalan, ternyata Steve sudah siapkan minibus untuk mereka semua.
"Kalau begini seperti turis beneran saja." kata Nanta pada Steve.
"Memang hari ini kalian akan jadi turis, mau kemana setelah makan tinggal bilang." kata Steve seperti tour guide saja.
"Steve kita pesawat jam berapa?" tanya Nona semangat.
"Bebas, Kak Nona mau pulang jam berapa?" tanya Steve terkekeh.
"Memang mau kemana?" tanya Kenan pada Nona.
"FO yang di johor saja Steve." pinta Nona pada Steve.
"Aih anaknya cari uang, Mamanya shopping." Kenan gelengkan kepalanya Nona cengengesan pandangi suaminya.
"Yang lain tapi mau apa tidak, tergantung yang lain saja." kata Nona minta pendapat yang lain.
"Mauu..." Nanta dan sahabatnya malah menjawab mau, mereka benar-benar mendukung keinginan Mamon untuk shopping. Bukan itu saja sih, Mike dan Larry semangat karena keduanya juga ingin berburu barang branded murah, kalau di counter pasti lebih mahal.
"Gue mau beli sepatu." Mike langsung menghayal.
"Adik gue juga mau sepatu, ukuran kakinya di Jakarta susah." kata Larry pada Mike.
"Kak Dini titip apa?" tanya Doni pada Dona.
"Apa saja yang aku bilang bagus minta difotokan." kata Dona pada suaminya.
"Dia kasih uang ke kamu?" tanya Doni pada istrinya.
"Pelit betul sama Kakak sendiri." Nanta mendorong bahu sahabatnya.
"Bukan begitu, kakak gue ini titip terus, mestinya bilang saja minta dibelikan." oceh Doni.
"Tante gue tuh." omel Nanta pada Doni.
"Ya sudah nanti elu yang bayar belanjaan Kak Dini." Doni menyeringai jahil.
"Tidak masalah, gue tinggal telepon Om Deni." Nanta terkekeh.
"Iya telepon Deni saja, Nanta. Bilang ya Mamon juga minta dibelikan." Nona ikut-ikutan.
"Jangan begitu ah." protes Kenan pada Nona.
"Sudah lama Deni tidak traktir aku." kata Dona tersenyum jahil.
"Nanta telepon sekarang." perintah Nona pada Nanta. Nanta menuruti keinginan Mamon hubungi Om Deni.
"Assalamualaikum..." Deni menjawab telepon Nanta.
"Waalaikumusalaam, Aku lagi di S'pore." lapor Nanta pada Om Deni.
"Kenapa memangnya, kurang duit ya?" tembak Deni membuat Nanta terkekeh.
"Mana pernah kurang sih." jawab Nanta terbahak.
"Sombong kamu, mentang-mentang sudah banyak duit dan jadi model juga." Deni terbahak.
"Tapi kalau Om mau traktir ya boleh juga." Nanta tertawa geli sendiri.
"Nanti Om transfer ya. Om mau ada rapat penting." kata Deni terburu-buru.
"Tidak sempat cerita padahal bukan soal duit." sungut Nanta pada Om Deni.
"Iya maaf Om harus meeting, nanti kita cerita lagi ya. Kak Dini minta apa? aduh Om harus masuk." Rusuh sekali Om Deni, sudah tanya malah matikan telepon. Tidak lama notifikasi uang masuk muncul di handphone Nanta. Cepat tanggap sekali Om Deni, seperti cenayang saja tahu kenapa Nanta menghubunginya.
"Oke Mamon dan Kak Dini mau apa ini sudah ditransfer Om Deni." Nanta terkekeh.
"Sudah punya suami masih saja minta sama Abangnya." omel Kenan pada Nona.
"Nanta belum sempat minta tapi Deni sudah tahu duluan." kata Nona pada suaminya.
"Iya ya, kok bisa Om Deni cepat tanggap sih kirimi uang untuk belanja Mamon dan Kak Dini." Nanta jadi bingung sendiri.
"Ikatan batin kakak sama adik itu kuat sekali." kata Nona pada Nanta dan suaminya kemudian tersenyum sendiri. Terang saja waktu Doni rusuh soal pesanan Dini, Nona kirimi Deni pesan agar kirimi uang untuk belanjaan Dini, sekalian ingatkan Deni agar dilebihkan juga untuk belanja Nona.