I Love You Too

I Love You Too
Blonde



"Aban... Aban... Aban..." Balen berjingkrak senang begitu melihat Nanta turun dari mobil bersama Raymond dan yang lain, semua tertawa melihat ulahnya, belum lagi Richi yang ikutan Balen melompat juga berteriak "Baban..." seakan sama dengan Kakaknya.


"Aih fans Bang Nanta sudah seperti cheerleader menyambut Abang." Raymond terbahak melihat kelakuan dua bocah didepan pintu.


"Mana boneta Baen, Ban." teriak Balen begitu Nanta mendekat.


"Nana..." Richi membeo entah apa yang dimintanya, yang penting ikut seperti Balen.


"Rindu boneka rupanya bukan rindu Abang, ini juga si kecil. Boneka kan sudah dikirim kemarin sekalian, mainan Ichi juga, belum dikasih kah?" Nanta mengangkat tubuh kedua adiknya sekaligus, sekarang mereka dalam gendongan Abangnya. Balen tergelak senang, senyumnya merekah karena Abang tiba lebih cepat. Richi memeluk erat Abangnya yang sudah beberapa hari tidak terlihat batang hidungnya. Rindu juga dia rupanya.


"Beum." jawab Balen menadahkan tangannya.


"Mamon, aku kirim sekalian Bolen kemarin itu." Nanta memandang Nona yang cengengesan.


"Boen?" tanya Balen pada Nanta.


"Itu Pisang Bolen." Nanta menjelaskan.


"Talo Baen?" tanya Balen lagi.


"Singkong Rebus." jawab Nanta terbahak, Balen tak kalah heboh ikut tertawa geli.


"Aku lupa Nanta Kirim mainan juga, ada dikamar. Datangnya kemalaman sih, pagi hanya ingat Bolen saja." kata Nona segera berteriak memanggil Ncusss agar mengambilkan oleh-oleh dari Nanta yang masih didalam paperbag belum tersentuh oleh duo bocah.


"Hahaha boneta titing Baen ada dua, ini wambutnya bonde Mamon." teriak Balen sambil tertawa senang, Ia duduk di karpet saat ini, Oma dan Opa ikut bergabung bersama kedua cucunya yang sedang unboxing mainan dari Bang Nanta.


"Bisa tahu rambut Blonde sih?" Dania tertawa dengan sedikit bingung.


"Aban penah biang, ada tewek bonde tu." kata Balen meniru ucapan Abangnya, membuat Nanta meringis, bisa-bisa Dania berpikir yang tidak-tidak, pikirnya.


"Waduh Bang Nanta suka cewek blonde rupanya." Roma memprovokasi sambil tertawa jahil.


"Ish genitnya." bisik Dania sedikit kesal tapi tetap dengan wajah cengengesan, cemburu tapi tidak berani spontan karena sedang ada keluarga besar suaminya.


"Bukan begitu." Nanta meluruskan sambil mencubit pipi Balen gemas.


"Jadi bagaimana?" pancing Raymond menyeringai.


"Tuh cewek Blondenya." tunjuk Nanta pada Nona yang dari tadi acuh saja seperti tidak terjadi sesuatu.


"Kak Nona?" Roma terbahak.


"Apa?" tanya Nona pura-pura tidak tahu.


"Mamon pernah jadi cewek Blonde kan?" Nanta minta penjelasan dari Nona.


"Ah cuma satu bulan." dengus Nona kesal.


"Kenapa begitu?" tanya Oma Nina penasaran, ikut tertawa karena baru tahu ceritanya.


"Mawahin Papon." sahut Balen sambil membantu Richi membuka box mainannya, kemudian duo bocah itu terkikik geli.


"Heh ini berdua ya tertawakan Mamon." omel Nona, sementara yang lain ikut tertawa menyusul Balen dan Richi.


"Coba ceritakan dong." kata Roma penasaran.


"Ah rusuhlah Papanya Nanta. Aku pikir sekali-kali ganti suasana, habis melahirkan mau merasakan rambut pirang gitu kan, Nanta saja bilang cantik eh sampai rumah Mas Kenan langsung suruh kembalikan warna rambut seperti biasa, besok ya harus besok, saya tidak mau tahu." Nona memberengut mengulang kalimat Kenan saat itu, dengan gaya bahasa suaminya. Nanta tertawa geli karena Nona pas sekali menirukan gaya Kenan.


"Wah aku kok tidak dikasih lihat fotonya sih, kan kita juga selalu video call." kata Roma bingung.


"Ingat tidak, waktu itu setiap video call aku selalu pakai mukena?" tanya Nona.


"Hahaha iya, menutupi rambut blonde kah?" tanya Oma Nina.


"Iya Mama, duh Mas Kenan waktu itu tidak ijinkan semua lihat rambutku, katanya nanti kalau Mama bilang cantik aku tidak jadi kembali mewarnai seperti semula rambutnya." Opa terbahak mendengarnya.


"Papa kira kamu tuh rajin sekali menunggu waktu sholat." Nona menghela nafas mendengar ucapan Papa mertuanya.


"Itu juga sih Papa, tapi selain itu ada hal yang harus ditutupi, atas permintaan Mas Kenan." Nona terbahak.


"Aduh apa ini sebut-sebut nama saya?" tanya Kenan yang baru saja tiba dirumah.


"Ada deh." jawab Nona tertawa geli. Kenan melirik Nona terkekeh.


"Loh Om pulang cepat?" tanya Raymond.


"Memang kenapa? tidak boleh saya manfaatkan waktu kumpul keluarga?" tanya Kenan pura-pura galak.


"Anak kesayangannya mau tugas negara." kata Nona mencibir pada Nanta.


"Semua kesayangan Papa." jawab Kenan mengacak rambut Nanta.


"Bagaimana Boy?" tanya Kenan duduk disebelah putranya.


"Apanya yang bagaimana? mesti jelas dong Om." timpal Raymond pada Om kesayangannya juga.


"Ish, Om tahu otakmu kemana. Bukan itu yang Om mau tahu." Kenan tertawa memandang Raymond.


"Hehehe... Om nanti kalau rindu sama Nanta telepon aku saja." kata Raymond menawarkan diri.


"Tiap hari juga telepon kamu." celutuk Oma Nina.


"Iya, bahkan lebih sering telepon kamu Ray, daripada telepone Opa." kata Opa Dwi pada cucu pertamanya.


"Ah berarti aku juga kesayangan Om Kenan." kata Raymond terbahak.


"Kan sudah saya bilang semua kesayangan. Papa juga sih, tapi kan Kenan selalu telepon Mama, bukannya Papa selalu disebelah mama?" kata Kenan pada Papanya.


"Apa kalau telepon Papa juga berarti telepon Mama?" tanya Opa Dwi pada Oma Nina.


"Beda dong, kalau telepon Papa berarti belum telepon Mama." jawab Oma Nina terkekeh.


"Hahaha Om Kenan di komplen Opa." Roma terbahak.


"Iya-Iya, mulai besok Kenan telepon bersama langsung ke dua nomor Mama dan Papa, tidak boleh protes ya, duduknya harus berjauhan supaya tidak feedback." kata Kenan pada Mama dan Papanya.


"Mau telepon saja banyak aturan." Opa terbahak.


"Hahaha habis Papaku tersayang komplen" jawab Kenan dengan manisnya.


"Ini nih bontotnya Opa, Dania." kata Opa pada cucu menantunya menunjuk mertua Dania.


"Hahaha iya Opa." jawab Dania terharu bahagia melihat keakraban keluarga suaminya.


"Opanya Dania masih ada tidak sih Opa?" tanya Nanta tiba-tiba pada Opanya yang sangat mengenal Oma Misha.


"Kenapa memangnya?" tanya Opa Dwi.


"Kalau masih ada, aku dan Dania harus bertemu." jawab Nanta memandang istrinya, ia pikir Dania pasti merindukan Opanya.


"Dania saja belum pernah bertemu." kata Oma Nina pada Nanta.


"Justru itu kan kami harus berkenalan." kata Nanta.


"Kamu tanyakan saja nanti pada mertuamu." kata Kenan pada Nanta.


"Ish kok aku merinding dengar kata mertua." semua terbahak mendengar ucapan Nanta.


"Papa dan Mamaku loh itu." protes Dania pada suaminya.


"Iya sayang, aku lupa. Aku ingat Om Micko Papamu, Tante Maya Mamamu, Tante Lulu Mamamu disini. Tapi tidak berpikir kalau mereka mertuaku." Nanta terbahak.


"Tuh sudah panggil istrinya sayang, masih lupa punya mertua. Oma jewer saja kupingnya ya, Dan." kata Oma Nina pada Dania sambil terkekeh.


"Hahaha jangan Oma, biar Dania saja nanti yang jewer." kata Dania pada Oma Nina.


"Justru jangan, nanti kamu dosa loh jewer kuping suami." Oma mengingatkan sambil terbahak.


"Kalau suaminya lihat cewek blonde bagaimana Oma?" celutuk Raymond jahil.


"Tergantung cewek Blondenya siapa dong." kata Oma melirik Kenan.


"Papa tuh suka cewek Blonde." Nanta langsung saja menunjuk Papanya.


"Hahaha enak saja kamu Boy." Kenan terbahak.


"Iya kan Nan, Papa suka sekali waktu aku Blonde." Nona ikut terbahak.


"Jangan macam-macam Nona. Satu bulan itu bikin mata saya sakit tahu." omel Kenan membuat semuanya terbahak.


"Boneta Baen bonde nih Papon. satit mata ndak liatna?" tanya Balen khawatir bonekanya disimpan Papa.


"Tidak sayang, asal jangan Mamon yang rambutnya begitu." jawab Kenan pada gadis kecilnya.


"Mamon tuh janan titing bonde, mata Papon satit." Balen menasehati Mamon.


"Iya bu Balen." jawab Nona menggoda gadisnya, langsung saja Balen hidung kembang kempis memandang Papon dengan bangga karena berhasil menasehati Mamon demi Papon. Dasar Balen.