I Love You Too

I Love You Too
Kasih tak sampai



Sore hari Kenan menjemput Nona pulang, tepat pukul lima sore, ia sudah standby di Lobby kantor Nona. Nona langsung membereskan mejanya ketika Kenan mengabarkan ia sudah dalam perjalanan menuju kantor Nona, Nona segera turun agar Kenan tidak menunggu lama di lobby.


Dengan berlari-lari kecil Nona menghampiri Kenan, senyumnya tampak sumringah, harapannya terkabul, dua hari ini bertemu dengan Kenan. Baru saja duduk di bangku sebelah Kenan, handphone Kenan berdering. Nona melirik saat Kenan melihat pada layar, "Sheila." Masih saja Nenek lampir menghubungi Kenan, membuat mood Nona rusak.


"Ya Shei..." Kenan mengangkat sambungan teleponnya sambil perlahan menjalankan kendaraan.


"Oh lagi di Malang, sama siapa?"


"Maaf Shei, kita tidak bisa bertemu."


"Tolong mengerti Shei, Saya baru saja berbaikan dengan Nanta."


"Calon istri?" hmm Kenan tersenyum melirik Nona. Entah apa yang Sheila bahas mungkin dia mengadu pada Kenan.


"Namanya Nona, iya saya sedang bersama Nona." Nona pura-pura tidak mendengar karena dari tadi belum melepas headset ditelinganya, seakan sedang mendengarkan musik, padahal ia menguping pembicaraan Kenan.


"Ok Shei, hati-hati."


Kenan menutup sambungan teleponnya, sementara Nona tetap berlagak asik dengan handphone dan headsetnya.


"Non..." Nona pura-pura tidak mendengar saat Kenan memanggilnya. Malah Nona sibuk bersenandung.


"Non, matikan musiknya." perintah Kenan mencabut headset dari telinga Nona.


"Kenapa?" tanya Nona ketus, tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat mendengar Kenan berbicara dengan Sheila di telepon, walaupun Kenan menolak bertemu dengan Sheila tapi yang membuat Nona kesal, Kenan masih bersedia mengangkat telepon dari Sheila.


"Salaam dari Sheila." kata Kenan pada Nona yang melengos begitu mendengar nama Sheila.


"Sorry I don't like her." jawab Nona dengan wajah cemberut.


"Kenapa?" tanya Kenan tersenyum.


"Pikir saja sendiri." ketus Nona lagi, kemudian kembali memasang headsetnya. Mending dengar musik deh, dari pada kesal lihat muka Kenan yang cengengesan seperti senang mendapat telepon dari Sheila. Mau bilang cemburu juga, memang gue siapa? batin Nona yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi wajahnya. Kenan menarik kembali headset dari telinga Nona, gemas sekali rasanya melihat ekspresi Nona saat ini.


"Sheila sahabat saya dari kecil." Nona hanya melirik sesaat kemudian kembali sibuk dengan handphonenya.


"TTM berkedok sahabat." Nona mencibir.


"Kamu cemburu?" goda Kenan pada Nona.


"Memangnya aku siapa mesti cemburu?" suara Nona naik satu oktaf.


"Habisnya kamu tiba-tiba judesin saya." kekeh Kenan fokus dengan setirnya.


"Terus saja terima telepon Sheila, aku laporkan Nanta." ancam Nona dengan wajah tidak ramah.


"Kamu seperti istri yang lagi cemburu." Kenan mengacak anak rambut Nona sambil tertawa, Nona mengerucutkan bibirnya kesal.


drrttt...drrrrttt.... gantian handphone Nona yang berdering. Seperti kontak batin, baru saja menyebut nama Nanta, sekarang Nanta sedang menghubungi Nona.


"Kak Nona, sepatu sudah sampai, nih. Kapan mau pakai sama-sama?" tanya Nanta dari seberang tampak semangat sekali.


"Weekend yuk, Nan." jawab Nona tak kalah semangat.


"Aku sabtu ada basket, minggu ya Kak."


"Basket jam berapa? aku boleh nonton?


"Boleh jam empat sore ya, digelanggang remaja. Kak Nona mau datang sama siapa?"


"Sendiri saja." jawab Nona melirik Kenan malas.


"Sama Papa saja." Nanta menawarkan.


"Kamu saja yang bilang, aku malas." jawab Nona pada Nanta.


"Lagi berantem ya, ngambek-ngambekan seperti abg gitu?" goda Nanta pada Nona.


"Apa sih Nanta, sembur nih." Nona langsung tertawa digoda Nanta begitu.


"Hmm kamu juga kalau aku ceritakan kesal. Ya sudah sampai sabtu ya, kamu tidak usah bawa Mobil, Nan. Ijin Mama menginap di rumah Oma ya. Kak Nona sudah seminggu ini tinggal di paviliun."


"Iya aku tahu."


"Tahu dari mana?"


"Dari group mata-mata..eh dari Bang Ray." Nanta keceplosan.


"Apa sih group mata-mata?"


"Tidak itu hanya permainan di game, sudah ya. Sabtu pakai sepatu baru." Nanta langsung mematikan sambungan telepon takut ditanya macam-macam lagi.


"Hahaha oke." Nona mematikan sambungan teleponnya. Langsung merebahkan kursi penumpang, menghadap ke Kiri memunggungi Kenan dan memejamkan mata.


"Non, mengantuk?" tanya Kenan.


"Hmm..." jawab Nona.


"Kamu janjian sama Nanta sabtu?" tanya Kenan lagi.


"Hu uh."


"Saya boleh ikut?"


"ini acara anak muda sih." jawab Nona tanpa melihat Kenan. Ciittttt... Kenan menghentikan kendaraannya di jalan yang cukup aman untuk berhenti.


"Kenapa?" Nona terbangun, membenarkan posisi kursinya dan melihat pada Kenan.


"Kamu marah sama saya? kenapa?" tanya Kenan lembut, duh kalau begini Nona semakin salah tingkah. Nona menggelengkan kepalanya lalu membuang mukanya tidak berani menatap Kenan, Nona takut Kenan tahu perasaannya pada Kenan.


"Saya sudah berjanji, tidak akan berhubungan dengan Sheila lagi, hanya saya lupa memblokir nomornya tadi. Kalau tidak diangkat, Sheila akan terus menghubungi sampai battery saya habis." Kenan menjelaskan tanpa diminta. Kenan mengambil handphonenya dan memblokir nomor Sheila.


"Sudah nih, kamu tidak usah khawatir." kata Kenan menunjukkan handphonenya.


"Benar kata Deni ya kalau kamu itu orangnya posesif. Deni dan Samuel sudah merasakan, sekarang giliran saya." Kenan terkekeh, tak habis fikir ia sampai menjelaskan pada Nona yang jelas-jelas bukan pacar atau istri. Tapi Kenan benar-benar tidak mau Nona marah Dan menjauh darinya.


Aku juga punya sahabat cowok, Mas Kenan. Namanya Rio, sampai sekarang aku bingung sahabat apa bukan ya, yang pasti dia selalu ada disaat aku sedih atau down. Mungkin sama seperti Mas Kenan dengan Sheila. Aku bahkan pernah berharap dia jadi suami aku, tapi ternyata kami tidak berjodoh, dia menikah dengan orang lain. Nah aku tahu diri, sejak dia menikah tidak pernah sekalipun aku menghubungi Rio, karena aku tidak mau dia bermasalah dengan istrinya karena aku." kata Nona pada Kenan,


"Yang bikin aku kesal, Sheila ini seperti mau tampil ya, seakan dialah satu-satunya dihati kamu. Bahkan dia berani memarahi Nanta karena kamu usir saat dicafe. Stupid!!! aku tidak suka Sheila. Mungkin dia merasa kamu cinta mati sama dia, jadi rasa percaya dirinya over." dengus Nona tanpa menyembunyikan rasa kesalnya.


"Kamu masih suka ingat Rio?" tanya Kenan.


"Pasti ingatlah, namanya juga sahabat."


"Itu bukan sahabat tapi kasih tak sampai." Kenan terkekeh.


"Tidak beda dengan Mas Kenan dan Sheila toh?" balas Kiki tak mau kalah. Kenan mengangguk.


"Nanti kalau tiba-tiba bertemu Rio terus kamu punya pacar atau suami bagaimana?" pancing Kenan.


"Pasti aku kenalkan. Jadi kalau Rio mengajak bertemu aku pasti melibatkan suamiku lah." jawab Nona percaya diri.


"Siapa suami kamu?" pancing Kenan.


"Mana kutahu, Samuel menolak, Mas Kenan menolak, Carikan ya aku calon suami. Tahukan kriteria aku yang seperti Samuel, Deni, Mas Kenan. Kalian typeku sangat." Nona terkekeh memandang Kenan.


"Saya termasuk type kamu sangat?" tanya Kenan heran.


"Iya cowok-cowok yang selalu menyediakan waktunya untuk aku tuh, typeku sangat."


"Seperti Rio juga?"


"Iya Rio kan sudah taken. Jadi sudah bukan typeku." Nona tersenyum manis sekali. Kenan jadi mikir macam-macam kan.


"Kita jalan." katanya mulai melajukan kendaraan, bisa gawat kalau masih berhenti lihat bibir Nona saja pikiran mesum Kenan mulai muncul.


Terima kasih silent reader, pemberi like, pemberi vote dan komentator setia, I love u all ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ Terima kasih juga NT, aku suka cover barunya๐Ÿ˜˜, simak terus cerita Kenan dan Nona ya, jangan bosan beri aku semangat.