I Love You Too

I Love You Too
Men's talk



"Bagaimana Nona?" tanya Reza mencoba mengorek isi hati Kenan di depan Papa Dwi, mereka bertiga sudah berada dikamar saat ini.


"Cantik." jawab Kenan apa adanya.


"Terlalu muda, apa bisa jadi Ibu sambung Nanta?" tanya Papa Dwi.


"Papa mikirnya terlalu jauh, aku belum ingin menikah lagi." jawab Kenan jujur.


"Iya Nona juga belum tentu mau sama kamu kan?" kekeh Reza jahil.


"Nah itu siapa juga yang mau sama duda yang jalannya saja tidak lurus." kekeh Kenan membayangkan nasibnya saat ini.


"Nanti juga sembuh." Papa Dwi menghibur Kenan.


"Tidur ya, aku mengantuk." kata Kenan lagi malas ngobrol lebih lanjut, malas juga jika Papa dan Abangnya membahas Nona atau siapapun itu.


"Sheila bagaimana, masih dihati?" tanya Reza lagi.


"Aku ngantuk, Bang." jawab Kenan dengan suara dibikin sepelan mungkin, seakan sudah diawang-awang.


"Jangan menghindar. Kalau bahas yang begini ada saja alasanmu." kata Reza lagi.


"Pikirkan Nanta saja dulu ya, boleh tidak? Walau dekat serasa jauh anak itu. Hanya bisa kupandang tapi tidak boleh ku sentuh, seperti ke toko keramik saja ya." Kenan kembali tertawa pilu, menghela nafas panjang.


"Setidaknya sekarang sudah bisa kamu pandang toh. Bersyukurlah, ini proses." kata Papa Dwi, yang berada di kasur di sebelah Kenan saling bicara sambil melihat ke langit-langit kamar. Sementara Reza tidur di sofa kamar. Demi anak tercinta merelakan kamarnya dan quality time dengan Papa dan Adiknya, men's talk in the midnight.


"Aku bersyukur Pa, meski proses ini harus kubayar mahal."


"Menyesal?" tanya Reza


"Hu uh. Siapa yang tidak menyesal sih. Orang yang kamu sayang menjauh dan memusuhimu."


"Hahaha makanya cari gara-gara sih. Berapa kali sudah diingatkan, tapi tidak mau dengar. Nikmati saja yang sekarang, semoga Nanta melunak." Reza mentertawakan Kenan.


"Hmmm..."


"Zzzzzzz...." suara ngorok terdengar disebelah Kenan. Menghentikan percakapan mereka, Reza dan Kenan terbahak.


"Tidur yuk." kata Reza masih tertawa.


"Iya." balas Kenan juga tertawa.


Pagi hari Mama sudah sibuk didapur dibantu Kiki dan Roma, sementara Nona masih didalam kamar. Mungkin sungkan mau keluar, eh apa iya Nona ada rasa sungkan.


"Tante masak apa?" suara ceria Nona mengalahkan bunyi penggorengan yang berada dengan sodetnya.


"Aih sudah cantik pagi-pagi. Sini Tante masak nasi goreng seafood." jawab Mama Nina menyerahkan sodet pada Roma dan mematikan kompor.


"Rom, pindahkan ke mangkok besar." katanya kemudian menghampiri Nona.


"Oma, aku rebus sayur ya. Mau dibikinkan sambelan Oma?" tanya Roma.


"Bikin saja yang kamu mau." jawab Oma Nina.


"Pagi-pagi sarapan berat begitu?" tanya Nona tidak percaya.


"Disini macam-macam gaya, kalau Kenan dan Papa cuma mau sarapan buah, kita yang lain makan berat langsung. Kamu tim mana?" tanya Mama Nina terkekeh.


"Aku biasanya makan roti, dimsum, pastry sejenis itu sih, Tante."


"Kamu timnya Nanta kalau begitu." Kiki tertawa renyah.


"Aku tim Kak Nona juga kok." kata Roma


"Tapi kamu masak sayur dan sambel." kata Nona bingung.


"Hmmm untuk suami tercinta." jawab Roma centil.


"Kak Kiki, anak masih muda sudah dinikahkan ya. Kenapa begitu?"


"Dari pada pacaran bikin dosa, lebih baik dihalalkan." jawab Kiki santai.


"Iya juga sih. Aku juga mau dihalalkan." kata Nona setengah bergumam.


"Sama Samuel?" tanya Mama Nina. Nona menggelengkan kepalanya.


"Tidak mungkin, Tante."


"Hei, kemungkinan selalu ada."


"Iya sih."


"Kamu nyaman kan sama Samuel?"


"Iya."


"Samuel juga nyaman sama kamu."


"Perasaan kamu saja. Jangan sensitif "


"Tidak, aku menikmati semua perhatian mereka kok, cuma jadi kasihan sampai sekarang mereka belum punya pacar."


"Oh ya? ganteng-ganteng begitu, karir Bagus, pasti banyak yang mau."


"Iya memang banyak yang mau. Tapi mereka mundur semua karena aku mengganggu. Aku sering bikin ulah saat mereka berkencan."


"Nakal." celutukan Kenan menghentikan percakapan mereka.


"Memang." jawab Nona terkekeh.


"Bagaimana Mas Kenan, apa sudah enakan? jangan dikursi roda terus, Mas. Kamu harus latihan jalan pakai walker atau tongkat." celoteh Nona seakan sudah kenal lama dengan Kenan.


"Akan saya coba." jawab Kenan kaku.


"Mau minum jus apa sayang?" tanya Mama Nina yang selalu siap melayani anak bontotnya.


"Buah potong saja ma, aku ingin mengunyah."


"Nanta mana, Ma?" tanya Kenan mencari bujangnya.


"Mungkin masih tidur." jawab Mama.


"Apa tidak sholat shubuh, sudah jam segini masih tidur." tanya Kenan rewel.


"Aku sudah sholat." teriak Nanta dari lantai atas. Kenan tersenyum lebar, walau suara anaknya dengan nada seperti membentak, setidaknya dia merespon pertanyaan Kenan.


"Mau sarapan apa? Papa makan buah potong, kamu mau?" tanya Kenan berusaha menjalin percakapan dengan Nanta. Tidak ada jawaban, kumat lagi, batin Kenan.


"Nanta, Papa tanya tuh, dijawab Nak." Kiki ikut bersuara.


"Nasi goreng saja, Bunda." jawab Nanta pada Kiki. Kenan menghela nafas panjang.


"Sabar." kata Kiki dengan gerakan mulut agar tidak terdengar oleh Nanta. Kenan mengangguk dan tersenyum miris. Nona merasa kasihan pada Kenan, teringat hubungannya dengan Papa. Dulu juga ia sering mengabaikan Papa jika sedang kesal. Sekarang malah sudah berminggu-minggu diabaikan Papa. Sepertinya rasa sedih kita sama dengan cerita yang berbeda, pikir Nona menatap Kenan yang berwajah sendu.


"Kamu kenapa?" tanya Kenan pada Nona yang terlihat melamun.


"Tidak." jawab Nona kemudian tersenyum lebar.


"Mas Kenan mau latihan jalan? aku bantu." katanya mengalihkan konsentrasi Kenan, malu juga tertangkap basah menatap wajah sendu Kenan.


"Belum sekarang, nanti saja. Masih takut saya." kata Kenan jujur.


"Oh sudah ada walkernya?" tanya Nona.


"Ada." sahut Raymond yang turun dari tangga bersama Nanta. Benar sama Raymond dia nurut, batin Kenan.


"Mau makan sekarang?" tanya Kenan pada Nanta.


"Mau." jawabnya melewati Kenan Dan segera menghampiri Oma Nina.


"Peluk." katanya manja. Bujang 16 tahun ini tetap saja seperti bocah dihadapan Oma. Dihadapan Papanya seperti jagoan, dengus Kenan dalam hati. Iri melihat Mama memeluk Kenan dengan puasnya.


"Jangan judes-judes dengan Papa, dosa tau." bisik Oma pada cucunya.


"Iya." jawabnya malas dan melepaskan pelukan Oma.


"Nanta kamu suka nonton film tidak, nonton yuk." ajak Nona berfikir Nanta bisa jadi teman ngemalnya, sebelum dijemput Deni abangnya untuk pulang ke Cirebon.


"Berdua saja?" tanya Nanta curiga.


"Ajak saja yang mau ikut." kata Nona lagi.


"Kalau berdua saja aku tidak mau." dengus Nanta.


"Aku, Roma sama Papamu ikut." jawab Raymond.


"Ray yang benar saja, mana bisa kondisi begini Om ke bioskop." bisik Raymond kesal.


"Om mau quality time sama Nanta tidak?" bisik Raymond tak kalah kesal.


"Hmm... ya sudah." jawab Kenan pasrah. Keponakannya yang satu ini memang suka menyebalkan, kesal Kenan tak bisa menolak.


"Okee aku pesan tiketnya ya." Nona tampak bersemangat.


"Ada lagi yang mau ikut?" tanya Nona lagi benar-benar bersemangat.


Kalian saja anak muda." jawab Mama Nina.


"Ish Om Kenan sudah tidak muda, Oma." sahut Raymond konyol. Kenan menarik bahu keponakannya dan rasa ingin memiting dari kemarin akhirnya tersalurkan.


"Om nanti Om jatuh." teriak Raymond sambil tertawa geli karena Kenan menggelitiki lehernya seperti akan menyembelih kambing.