
Akhir pekan besok saat yang ditunggu Kenan, Raymond berhasil membujuk Nanta untuk menginap di rumahnya. Tentu saja dengan syarat Raymond dan Roma ikut menginap juga.
"Sebenarnya aku malas, setiap hari ketemu Om, akhir pekan ini harus ketemu Om lagi." Raymond menepuk jidatnya, membuat Tari tertawa mendengarnya.
"Kamu kan keponakan kesayangan Ray." kata Tari masih tertawa-tawa.
"Tentu saja kesayangan, keponakan Om Kenan hanya aku." dengus Raymond sedikit kesal.
"Berjuang sedikit untuk Om, sampai Nanta mau menginap atau bertemu Om tanpa kamu." bujuk Kenan sedikit memohon.
"Baiklah, karena aku juga sayang sama Om, jadi aku dan Roma akan menginap disana. Kita barbeque ya Om, jangan lupa belanja." kata Raymond.
"Iya nanti Om suruh Bibi di rumah untuk belanja, tulis saja apa yang harus di beli." Kenan menuruti keinginan keponakan kesayangan yang hanya satu-satunya itu.
Esok harinya Bi Wasti pagi-pagi sudah ke pasar untuk membeli bahan-bahan yang sudah ditulis Raymond.
"Aku jemput Nanta dulu." kata Raymond pada Kenan via telepon. Rumah Raymond padahal hanya beda beberapa blok dengan Kenan dan Oma Opa.
"Mau ditemani?" Kenan menawarkan diri.
"Tidak usah, aku sama Roma, Om jemput Nona saja." kata Raymond serius.
"Apa sih Nona terus." dengus Kenan kesal.
"Nanta mengundang Nona, tanya saja kalau tidak percaya." kata Raymond
"Ya sudah kamu setelah jemput Nanta, jemput Nona saja." kata Kenan memberi perintah.
"Ini Om yang suruh loh ya." kata Raymond tersenyum pada Roma.
"Iya, kalau Om yang jemput Nona berarti kamu yang suruh Om." kekeh Kenan puas karena berhasil mengerjai keponakannya.
"Om kasih tau Nona ya suruh siap-siap."
"Nanta saja yang bilang, kan dia yang undang."
"Om bagaimana sih, yang punya rumah siapa? Tadi Nanta bilang Om yang mau jemput." kalau sebut nama Nanta pasti tidak menolak pikir Raymond.
"Iya iya, nanti Om bilang pada Nona." Kenan akhirnya mengalah. Benar saja dugaan Raymond.
Setelah menutup sambungan telepon Raymond, Kenan segera meminta ART lainnya menyiapkan peralatan barbeque untuk nanti malam, dengan dibantu Mang Ali tukang kebun di rumahnya agar membawa dan menata peralatan barbeque berikut gelas, piring dan sendok, di atas.
barbequenya disini
setelah itu Kenan mengirim pesan pada Nona, ia sudah bertukar telepon dengan Nona saat pertemuan dengan Baron beberapa hari yang lalu.
Siap-siaplah, setelah menjemput Nanta, Raymond sekalian menjemput kamu.
pesan dikirim, tak lama tampak tanda biru centang dua tanda telah dibaca.
Nona tampak bingung membaca pesan dari Kenan. Ia sedang asik leyeh-leyeh diakhir pekan karena tidak ada acara. Karena Kenan menyebut nama Raymond, maka Nona langsung menghubunginya.
"Memang mau kemana, Mas Kenan kirim pesan main suruh siap-siap saja." tanya Nona pada Raymond melalui sambungan telepon.
"Om Kenan suruh aku jemput Kak Nona, nanti malam aku, Nanta, Roma akan menginap disana dan kita akan barbeque."
"Aku diundang?" tanya Nona.
"Tentu saja diundang kalau Om Kenan sudah suruh siap-siap. Sekarang aku sedang menjemput Nanta." jawab Raymond.
"Ya sudah aku mandi dulu. Nanti malam antar aku pulang lagi loh ya."
"Iya tenang saja."
Raymond dan Roma langsung tertawa saat menutup sambungan telepon.
"Sayang, kamu sih parah ya. Nanti Om Kenan marah tidak?" Roma sedikit khawatir.
"Nanti kompakin Nanta dong, jadi tidak ada acara marah-marah." jawab Raymond dengan wajah menyeringai.
Sementara setelah melihat pesannya sudah terkirim dan dibaca, Kenan kembali sibuk dengan email yang belum sempat dibacanya. Baru saja Tari mengabarkan kalau Nanta sudah menunggu dan ada beberapa Email yang harus Kenan tindak lanjuti hari ini.
Sibuk dengan pekerjaannya Kenan sudah tidak memikirkan balasan pesan dari Nona, yang penting Kenan sudah memberitahu agar Nona siap-siap sehingga Raymond tidak terlalu lama menunggu.
Sementara Raymond sudah tiba dirumah Tari, setelah mampir sebentar, lalu makan siang karena dipaksa Tari dan Bagus, mereka pun berangkat dengan perut kenyang, sementara Kenan setiap sebentar menelepon karena Raymond belum juga sampai, padahal sudah dari pagi berangkat dari rumah. Dalam pikiran Kenan, mereka akan makan siang bersama. Karena sudah diberitahu kalau Raymond dan Roma makan siang di rumah Tari, maka pada akhirnya Kenan minta diantarkan makan siangnya ke kamar.
"Kita jemput Kak Nona dulu ya." kata Raymond pada Nanta.
"Loh Kak Nona ikut?" tanya Nanta bingung.
"Ih bukan aku." Nanta protes.
"Iya, sebenarnya aku dan Roma yang mengundang, disuruh Oma." kata Raymond pada Nanta.
"Tapi Oma pesan supaya kamu saja karena Papa pasti tidak menolak kalau pinjam nama kamu dek."
"Ih tidak mendidik, Abang mengajarkan aku berbohong." dengus Nanta
"Tapi kan kamu juga kenal Kak Nona. Orangnya asik."
"Iya sih jadi seru kalau ada Kak Nona."
"Nah itu, deal ya kamu yang mengundang."
"Deal."
"Bang ini benar Oma yang suruh?" tanya Nanta curiga.
"Hehehe..." Raymond menggaruk kepalanya.
"Kak Roma, bagaimana ini?" tanya Nanta dengan mata memicing.
"Terserah kamu mau diapakan." kekeh Roma karena Raymond ketahuan bohong.
"Hati-hati punya suami tukang bohong." kata Nanta pada Roma.
"Betul juga ya, apa kamu biasa berbohong seperti ini, Ray?" suara Roma mulai terdengar sumbang.
"Ck.. kamu kan tahu ini dalam rangka apa. Agar Om Kenan mendekat pada Nona. Nanta kamu juga setuju kan kalau Papa kamu sama Kak Nona?" Raymond membela diri.
"Yang penting bukan Mak Lampir." kata Nanta menyenderkan kepalanya pada jok kursi.
"Nah itu, Kalian tahu kenapa aku seperti ini? Aku kasihan sama Om Kenan, kemarin waktu dirawat di rumah sakit, tidak ada yang urus. Sementara kaki tidak bisa bergerak sempurna, jadi aku pikir Om Kenan harus punya istri. Setuju kan Nan?"
"Iya." jawab Nanta pasrah.
"Jadi siapa yang mengundang Nona hari ini?" tanya Raymond.
"Iya aku." jawab Nanta lebih pasrah.
"Bagus." Raymond mengacungkan jempolnya tersenyum pada Nanta melalui kaca spion. Roma menggelengkan kepalanya.
"Tetap saja berbohong itu tidak boleh. Awas ya kalau keterusan." ancam Roma pada suaminya.
"Iya sayang, kapan aku pernah bohongi kamu sih?"
"Mana kutahu." dengus Roma.
"Kalau suami bohong, pasti istri tahu lah. Kan kontak batin." kata Raymond sambil fokus menyetir. Roma menganggukkan kepalanya tak ingin memperpanjang, yang penting ia sudah mengingatkan Raymond, agar tidak menjadi kebiasaan.
Raymond menelepon Nona saat sudah mendekati rumahnya, tidak lama setelah Mobil putar balik, Nona muncul dengan kemeja gombrong dan celana jeans.
"Bawa baju lebih, acaranya sampai malam. Nanti bau asap saat barbeque." kata Raymond mengingatkan.
"Sudah bawa." jawab Nona.
"Sudah persiapan menginap?" tanya Roma.
"Tidak, aku memang biasa bawa baju ganti kalau pergi-pergi, karena gampang keringatan." jawab Nona, kemudian menepuk bahu Nanta yang duduk disebelahnya.
"Aku loh yang mengundang Kak Nona hari ini." kata Nanta pada Nona seperti menghafal dan menjalankan perintah Raymond.
"Oh kukira Mas Kenan." jawab Nona mencibir.
"Iya sama saja kan, Anaknya atau bapaknya yang mengundang, bapaknya saja sudah suruh jemput loh." kata Raymond nyengir.
"Hmm.. tapi pesanku tidak dibaca lagi." dengus Nona sedikit kesal.
"Memang Kirim pesan apa?"
"Aku tanya mau dibawakan apa?"
"Oh tidak usah, kamu datang saja Om Kenan sudah sangat senang, iya kan Nan?"
"Iya, aku juga senang." jawab Nanta tersenyum lebar.
"Ya sudah kita beli es krim ya buat tambahan stock disana nanti bagaimana?"
"Mau mau." jawab Roma cepat. Raymond tersenyum lebar karena rencananya mendekatkan Kenan dan Nona segera di mulai.