
Makan malam berjalan sukses, masakan Tante Mita sudah tidak perlu diragukan lagi, semua pada bilang enak. Tapi Nona tidak bisa konsentrasi makan, berpikir keras melihat keluarga Kenan berkumpul lengkap tanpa Nanta, sudah dipastikan mereka akan melamar, Nona mulai kegeeran.
Belum lagi tangan Kenan yang tidak bisa diam, saat ini sedang menggenggam erat tangan Nona di bawah Meja. Nona jadi salah tingkah, walaupun sudah selesai makan, tapi genggaman tangan itu selain menenangkan juga membuat jantungnya tak karuan. Malu juga rasanya khawatir Roma melihat perlakuan Kenan terhadap Nona.
"Alhamdulillah, kenyang ya Om." kata Raymond pada Kenan, tentu saja membuat Nona panik dan berusaha melepas genggaman tangan Kenan.
"Iya, masakan siapa dulu." jawab Kenan semakin menahan tangan Nona agar tidak terlepas. Duh seperti abege saja, pikir Nona dengan wajah seperti udang rebus.
"Langsung saja ya, Dek Baron. Nanti kemalaman. Ayo, Pa." Mama Nina mulai bersuara. Mulailah Papa Dwi menyampaikan niat keluarganya datang malam ini, untuk melamar Nona menjadi menantunya.
Dengan sedikit berbasa-basi langsung saja menentukan hari pernikahan yang akan berlangsung setelah sholat jumat. Yang benar saja empat hari lagi, Nona semakin pusing saja tapi sudah tidak ada daya untuk berdebat.
"Pengantar numpang menikah sedang dalam perjalanan." kata Baron saat Mama Nina meminta kelengkapan persyaratan Nona untuk KUA.
"Menikah mendadak begini, bikin pusing juga ya. Untung kamu tidak mengalami." bisik Nona pada Roma.
"Hmm Kak Nona belum tahu saja, kami disidang keluarga hari ini besoknya langsung menikah." bisik Roma mengenang kisahnya dengan Raymond.
"Ternyata kamu lebih parah ya." kekeh Nona pada Roma. Roma mencebikkan mulutnya.
"Maaf terlambat." kata Deni yang baru saja datang diikuti Samuel dibelakangnya. Menyerahkan berkas yang diminta pada Baron. Lalu tersenyum lebar menatap Nona yang sedang bergandengan tangan dengan Kenan. Tentu saja Deni dapat melihat dengan jelas karena ia berdiri dibelakang Nona dan Kenan.
"Adik Ipar, tolong tangan kondisikan." bisik Deni terkekeh pada Kenan. Kenan terbahak dan melepaskan genggaman pada Nona.
"Kelihatan ya." bisiknya pada Deni.
"Sangat jelas." sahut Samuel yang ternyata juga melihatnya. Sementara Nona jadi salah tingkat, tidak pernah-pernahnya jaga image begini didepan Deni dan Samuel.
"Ok, persyaratan sudah lengkap ya. Besok tinggal di proses. Kami hanya proses sampai kalian halal. Hanya keluarga yang kita undang, selanjutnya jika kalian ingin resepsi, bisa urus sendiri." kata Mama Nina pada Kenan dan Nona.
"Kamu mau resepsi?" tanya Kenan pada Nona.
"Tidak usah." jawab Nona cepat.
"Yakin?" Kenan memastikan. Nona mengangguk pasti.
"Cukup sampai akad nikah." kata Kenan pada Baron sambil menunjuk Nona. Ia tidak mau disalahkan oleh calon mertuanya.
"Ikuti saja maunya." jawab Baron pada Kenan.
"Besok kamu kerumah Om Dan Tante ditemani Deni, Non." kata Papa Baron pada Nona.
"Pulang kantor ya." tanya Nona pada Deni.
"Iya, langsung saja urus cutimu. Mau mulai kapan kamu cuti?"
"Mulai jumat saja, cuti satu hari." kata Nona pada Papanya.
"Biasanya juga tidak masuk berminggu-minggu tanpa cuti." Deni membuka rahasia, membuat Baron tertawa.
"Adikmu sudah berubah." katanya masih terbahak. Mama Nina dan Papa Dwi ikut tertawa, tahu betapa seringnya Baron mengeluh soal putri tengilnya yang ternyata Nona sejak dulu.
"Nona, Mama bukan mengusir, tapi mulai malam ini sampai akad nikah, kamu tinggal disini ya. Nanti setelah menikah boleh kembali ke paviliun atau langsung kerumah suamimu." kata Mama Nina sebelum pulang. Ia memeluk Nona erat kemudian membelai rambut Nona.
"Terima kasih, Ma." bisik Nona pada Mama Nina.
"Saya belum boleh peluk ya." canda Kenan pada Baron.
"Coba saja kalau berani." ancam Baron membuat yang lain terkekeh.
"Makanya saya paksa menikah, bahaya ini mereka berdua." kata Mama Nina pada Baron dan Mita. Semua lagi-lagi tertawa dibuatnya.
"Pulang sama saya, motornya dirumah saya." kata Kenan pada Nona.
"Tadi tidak disuruh makan, tega sekali." Nona jadi tidak enak hati melihat Pak Supir yang terlihat lelah.
"Dia bawa bekal, pasti sudah makan." jawab Kenan santai kemudian mengetuk kaca Mobil hingga Pak Supir terbangun.
Mama Nina dan rombongan berangkat lebih dulu, tinggal Kenan yang masih ditunggui Nona dan keluarganya.
"Saya pulang dulu, kalian takut betul saya peluk Nona sampai ditunggu begini." keluh Kenan pada Baron dan lainnya. Baron terkekeh mendengarnya.
"Sabar-sabar empat hari lagi." candanya pada Kenan.
Kenan melambaikan tangannya, begitu mobil melaju meninggalkan kediaman Nona. Kenan yang terlihat santai sebenarnya tidak menyangka akan menikah secepat ini. Besok ia berencana menemui Nanta, menyampaikan rencana Opa dan Oma. Semoga saja Nanta tidak terkejut karena semua serba mendadak. Selalu saja begini, saat menikah dengan Tari pun Mama dan Papa yang bergerak, hanya saja rasanya berbeda, dengan Nona, Kenan merasa hatinya merasa senang, tanpa memikirkan Sheila. Waktu dengan Tari masih ada rasa sedikit menyesal, kenapa bukan Sheila yang menjadi istrinya.
"Pak, kamu sudah makan?" tanya Kenan pada supirnya, kepikiran perkataan Nona tadi.
"Tadi sebelum jemput Nona sudah, Pak." aih itu sih mungkin makan siang.
"Ya sudah belok saja nanti kalau ketemu rumah makan, kamu mau makan apa?" tanya Kenan.
"Nasi padang ya, Pak." kata Pak Supir
"Boleh, itu rumah makan padang "xxxx" makan disitu saja."
"Mahal Pak."
"Saya yang bayar."
"Alhamdulillah uang makan utuh." katanya tertawa senang dan membelokkan kendaraan kerumah makan yang dimaksud.
"Loh Pak Kenan ikut makan?" tanyanya heran ketika Kenan ikut turun.
"Saya mau minum teh hangat, kamu pesankan ya." kata Kenan ikut masuk kedalam restaurant dan duduk dibangku yang tampak kosong. Sementara Pak supir mendatangi pelayan dan memesan makanan untuknya dan minuman untuk bosnya.
"Kenan, sendirian?" Kenan menoleh saat suara yang dikenalnya terdengar begitu dekat.
"Hai shei, masih di Malang? sama orang kantor." tunjuk Kenan pada pak Supir yang masih memilih menu.
"Masih, bulan depan baru ke Jakarta." jawab Sheila senang bertemu Kenan. Kenan hanya mengangguk tidak mau terlalu lama bicara dengan Sheila.
"Boleh gabung?" tanya Sheila pada Kenan. Entah kenapa Sheila seperti tidak mengerti permasalahan Kenan dengan keluarganya. Kenan menggelengkan kepalanya.
"Handphoneku kamu blokir, kenapa sih?" tanya Sheila tidak terima.
"Saya jumat ini menikah, kamu sama siapa Shei? Suami kamu tidak ikut? lain kali kalau kita bertemu sebaiknya sama keluarga supaya tidak ada yang salah paham." kata Kenan pada Sheila.
"Aku dan Farhan sudah pisah beberapa bulan yang lalu. Kamu menikah dengan gadis yang kemarin itu. Aku kira dia bohong bilang calon istri kamu. Aku kira kamu masih mengharapkan aku, sampai berpisah dengan Tari. Kamu cari pelarian lagi Ken? Kita masih bisa bersama, belum terlambat kan, Ken?"
"Shei, Nona bukan pelarian. Doakan pernikahan saya bahagia, saya juga akan mendoakan kamu semoga hidupmu lebih bahagia. Maaf kalau saya ada salah sama kamu." Kata Kenan tegas pada Sheila kemudian melambaikan tangan pada Pak Supir yang tampak ragu duduk didekat Kenan karena melihat kehadiran Sheila disana.
Biasanya Kenan akan tidak tega melihat Sheila seperti sekarang, wajahnya tampak ingin menangis. Sahabat kecilnya, cinta pertamanya, tetangganya yang sangat Kenan lindungi dulu. Tapi itu dulu, sekarang Kenan sangat takut kehilangan Nanta lagi dan juga Nona yang hampir dalam genggamannya.
"Sampai jumpa, Ken. Selamat berbahagia." kata Sheila meninggalkan Kenan yang tidak juga memintanya duduk. Bisa-bisanya bertemu Kenan disini, di restaurant padang seberang hotel Sheila menginap. Sheila tidak menyangka Kenan benar-benar bisa melupakannya, bahkan berani memblokir nomornya.
Kenan sudah berubah, bukan lagi Kenan yang dulu. Sheila menyesali mengabaikan tulusnya Kenan dulu saat ia terfokus pada Reza. Bahkan Sheila yakin saat pisah dengan Farhan, Kenan akan menyambutnya, karena Sheila tahu Kenan berpisah dengan Tari. Andai saja dulu Mamanya tidak merendahkan Kenan dan menyuruh Sheila merusak rumah tangga Reza, pasti Mama Nina mendukung hubungan Sheila dengan Kenan. Andai saja dulu Sheila tidak mengikuti saran Mama Retno pasti ia sudah bahagia bersama Kenan yang selalu siap mendampingi saat Sheila membutuhkannya.
Ah andai saja ini membuat Sheila menangisi nasibnya. Menangisi Kenan yang akan menikah dengan gadis lain, menangisi keputusannya meninggalkan Farhan dan anaknya, ketika menyadari perasaan nyaman hanya ada saat ia bersama Kenan.