I Love You Too

I Love You Too
sadap



"Pit.. !!" panggil Andi saat Pipit akan meninggalkan rumah Erwin. Pipit yang sedang membuka pintu mobilnya berhenti, kembali menutupnya, lalu menoleh ke arah Andi. Ia hafal sekali suara Andi.


"Iya Bang." jawab Pipit, jantungnya serasa bertalu-talu, melihat Pria impiannya ada didepan mata, pria yang sekarang berstatus sebagai calon suaminya.


"Kamu sendiri?" tanya Andi menghampiri Pipit.


"Iya, Papa dan Mama menginap."


"Kamu?"


"Besok aku harus ke kampus, aku tak membawa buku dan lainnya?"


"Ada yang harus kita bicarakan. Ayo kuantar pulang." Andi mengambil kunci ditangan Pipit, segera mengambil alih membuka pintu mobil, "Naiklah." katanya sambil masuk kedalam Mobil. Seperti terhipnotis Pipit mengikuti perintah Andi.


"Kenapa tadi tak menolak?" tanya Andi saat mobil sudah melaju perlahan.


"Kalau abang keberatan, abang saja yang menolak, kenapa harus aku." jawab Pipit ketus, segera dipasangnya earphone lalu menyalakan musik pada handphonenya. Cara yang paling baik untuk menghindari pertanyaan Andi. Andi segera mencabut earphone dari telinga Pipit.


"Dengarkan aku. Jangan sekali-kali menghindar."


"Abang maunya apa? aku menolak? Baiklah mulai dari mana? Aku menghadap Om dan Tante?" tanya Pipit resah.


"Cerewet sekali kamu, aku hanya bertanya kenapa kamu tidak menolak?" Bukan menyuruhmu untuk menolak."


"Aku harus bagaimana?" tanya Pipit. Andi tak tega untuk mencecar Pipit, "Kamu tahu ceritaku dan Cindy?" tanya Andi seraya menarik nafas panjang.


"Kudengar dari Bang Erwin, Abang akan melamar Cindy. Kenapa tak jadi?"


"Orang tuanya tidak setuju."


"Oh Abang patah hati?" tanya Pipit sendu. Andi menggelengkan kepalanya.


"Pit, ada yang belum aku luruskan dengan Cindy. Sepulang dari Kuala Lumpur aku hanya menjauh dan menghindar darinya. Belum ada komunikasi lagi diantara kami."


Pipit hanya diam mendengarkan, tak mau berkomentar.


"Aku butuh waktu, Aku harap kamu mengerti jika aku masih akan berkomunikasi dengan Cindy untuk menyelesaikan dan mengakhiri hubungan kami." kata Andi pada Pipit.


"Kami memang baru mengenal sebentar, tapi setiap malam kami online sampai pagi. Pasti Cindy merasa kehilangan."


Pipit melamun, ia kenal Cindy, pernah menjadi sahabatnya dan kini mereka berada dalam satu lingkaran, harus berhadapan dengan pria yang sama.


"Pit..!!!" Andi menepuk bahu Pipit, membuat Pipit tersadar.


"Kamu melamun? apa yang kamu pikirkan?" tanya Andi kemudian.


"Jangan hubungi aku, kalau persoalan Abang dengan Cindy belum selesai." kata Pipit tenang.


"Kita harus banyak komunikasi, aku harus menjagamu mulai dari sekarang."


"Tapi hati Abang masih bercabang. Jangan libatkan aku untuk menata hati Abang. Bagaimanapun Cindy pernah menjadi sahabatku, walaupun sekarang kami seperti orang yang tak saling mengenal."


"Akan kuselesaikan secepatnya." Andi mengusap bahu Pipit lembut, membuat desiran halus dihati Pipit.


"Kalau Abang masih mencintai Cindy, perjuangkanlah. Jangan jadikan aku pelarian untuk menyembuhkan luka hati Abang." kata Pipit pelan dibuat setenang mungkin. Tak ingin Andi tahu kalau suaranya sedikit bergetar.


"Aku akan memperjuangkan hubungan yang sudah direstui kedua orang tua. Lebih berkah." jawab Andi tersenyum tipis. Walau dihatinya masih ada Cindy, Andi tak mau membuang waktunya hanya untuk melawan Orang Tua Cindy yang kemarin sangat baik melayaninya sewaktu di Kuala Lumpur.


"Kamu sendirian di rumah?" tanya Andi saat mereka tiba dirumah Pipit. Rumah Orang tuanya. Pipit mengangguk sambil tersenyum.


"Berani?" tanya Andi memastikan, tak tega meninggalkan Pipit sendiri.


"Aku harus membiasakan diri. Bang Erwin sudah pindah, nanti kalau punya cucu, Mama dan Papa pasti akan sering menginap." kata Pipit segera keluar dari mobil.


"Abang bawa saja pulang mobilku, besok pagi supir sebelum menjemputku, kuminta kerumah abang mengambil mobil." kata Pipit


"Buka saja pagarnya, Pit. Akan kumasukkan mobilmu. Aku sebentar lagi ada yang menjemput."


"Sekarang aku sedang menjaga calon istriku, cepatlah terlalu lama diluar dimalam hari, bisa membuat kamu masuk angin."


Pipit segera membuka pagar rumah, kemudian mempersilahkan Andi masuk sambil menunggu jemputan Andi.


"Masuklah, Bang. Jangan seperti tamu." gerutu Pipit melihat Andi berdiri diteras rumah.


"Kamu hanya sendiri didalam, khawatir aku khilaf kalau aku masuk. Kamu masuklah, jangan lupa kunci pintu." Jawab Andi menggoda Pipit, Pipit segera masuk dan mengunci Pintu sesuai perintah Andi. Mobil Gilang, Papanya Andi sudah mendekati rumah Pipit. Tadi Pak Permana memberitahu kalau Pipit pulang sendiri. Dengan tegas Gilang meminta Andi untuk mengantar Pipit pulang. Gilang dan istrinya akan mengikuti mereka dari belakang. Sesuai perkiraan tak lama mobil Gilang pun sampai didepan rumah Permana. Andi segera mengunci pagar dan menyetel gembok rumah Permana. Karena terlalu sering menginap dirumah Erwin, Andi hafal bagaimana kondisi rumah Erwin.


"Terima kasih ya, Nak." sambut Gilang saat Andi masuk kedalam mobil.


"Aku juga terimakasih, karena Papa dan Mama menjemputku." jawab Andi santai.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Mama.


"Bagaimana apa?"


"Pipit, kalian cocok?"


"Aku kenal Pipit dari dia masih ingusan. Rasanya lucu ternyata malah kami dijodohkan."


"Kamu keberatan?" tanya Gilang pada putra tunggalnya.


"Kalau tanya keberatan, seharusnya dari sebelum Papa bicara dengan Om Permana, Papa tanya pendapatku dulu." sungut Andi.


"Sebenarnya dari sebelum kamu ke Kuala Lumpur kami sudah merencanakannya. Tapi Papa kasih kamu kesempatan mendekati gadis pilihanmu, Pipit pun akan dijodohkan dengan yang lain. Ternyata tidak berhasil, jadi kami lanjutkan rencana kami."


"Mulai sekarang jangan jalan dengan gadis lain, apalagi artis pendatang baru itu." ketus Mama menoleh kebelakang.


"Mama dengar gosip dari mana?" tanya Andi mencurigai sahabatnya, tapi bagaimana mungkin mereka mengadu pada Mama dan Papa.


"Apa yang kami tidak tahu tentang kamu, Ndi? Selama ini aman-aman saja jadi kami tak khawatir."


"Sekarang juga aman, Ma. Dia hanya teman."


"Jadi teman pun Mama tak setuju."


"Mama belum mengenalnya, jangan menilai seseorang terlalu cepat." kata Andi pada Mama.


"Jangan menggurui Mama!!!" Mama mulai tak mau dibantah. Susah sekali bicara santai sama Mama, pasti ada emosinya.


"Ingat ya, jangan lagi jalan sama wanita lain, atau mama seret kamu didepan umum." ancam Mama tak main-main.


"Aku sudah besar, Ma." sungut Andi


"Kamu tetap anak Mama, sebesar apapun kamu. Bahkan kalau gigimu sudah ompong semua pun, kamu tetap anak Mama." seketika Andi tertawa mendengar ucapan Mama.


"Apanya yang lucu?" tanya Mama tak mengerti.


"Aku membayangkan gigiku sudah ompong semua, pasti aku sudah sangat tua dan Mama menyeretku dimuka umum." Andi masih terkekeh.


"Itu tak akan terjadi, selama kamu menjadi anak Mama yang penurut. Lihat semua sahabatmu, semua bahagia sekarang."


"Iya aku tahu, makanya tadi aku tidak menolak. Aku tahu Mama dan Papa pasti memberikan yang terbaik untukku, aku hanya perlu waktu untuk menyelesaikan masalahku dengan Cindy. Hubungan kami belum berakhir," kata Andi pada Papa dan Mama. Mereka hanya mendengarkan.


"Aku hanya menghindar darinya selama dua minggu ini. Aku tak mau dianggap pengecut, lari dari masalah. Aku sedang mencari cara menjelaskan pada Cindy. Belum aku menjelaskan, ternyata ceritanya begini aku sudah punya calon istri." Andi menarik nafas panjang.


"Selesaikan sebelum kamu bertunangan dengan Pipit." titah Mama pada Andi.


"Selesaikanlah malam ini juga." perintah Gilang.


"Besok saja, ini sudah terlalu malam." jawab Andi.


"Bukannya kalian sering online sampai pagi?"


"Ck, Papa menyadap handphoneku lagi?" gerutu Andi, sudah bisa menebak, dari mana Papa Gilang bisa tahu mereka online sampai pagi, sementara kamar Andi kedap suara. Gilang terkekeh tak menjawab pertanyaan Andi. Hal yang mudah baginya sebagai pakar IT di Indonesia.