I Love You Too

I Love You Too
Saklek



"Kisay doakan aku." kata Kenan ketika sudah siap berangkat ke Cirebon. Kiki pun sudah siap berangkat ke Kampus karena Pak Min tampak sudah standby di mobil.


"Hati-hati nak nyetirnya, kalau ngantuk kamu tidur di rest area ya. Jangan ngebut." pesan Nina pada Kenan. Ada rasa khawatir karena Kenan berangkat sendiri.


"Iya ma, nanti tiap mampir aku telpon mama."


"Doa terus Ken, siapa tau dijalan ketemu jodoh." Kiki menggoda Kenan.


"Aamiin." jawab Kenan sambil tertawa melihat Kiki sudah bisa menggodanya.


"Salaam buat papa." kata Kiki lagi.


Kenan mengacungkan jempolnya, setelah mencium tangan dan pipi Nina, Kenan langsung menuju ke mobil dan melajukan kendaraannya. Disusul Kiki yang sudah menyalami dan mencium pipi Nina, segera berangkat ke kampus bersama Pak Min.


" Nanti dijemput Reza kan Ki?" tanya Nina sebelum Kiki berlalu.


"Iya ma, nanti kak Eja katanya mau jemput, tapi mobilnya disini."


"Paling nanti dia pulang dulu, baru jemput kamu."


Aku jalan ya ma, Assalamualaikum."


"Waalaikumusalaam."


Rumah kembali sepi, tinggal Nina dan pekerja dirumah, tapi Nina tak pernah kesepian, ada saja idenya. Sepeninggalan anak-anak beraktifitas, Nina kembali menjadi miss ring ring, menelpon sahabatnya Ririn, ingin tahu bagaimana kabar Wina dan Herman dan dengan bangga menceritakan Kiki yang sudah berhasil memasak sarapan nasi goreng.


"Wah hebat, dirumah ga pernah megang penggorengan, baru sehari dirumahmu sudah bisa memasak nasi goreng." Ririn ikut senang mendengarnya.


"Rin, apa ga dipercepat saja pernikahannya?"


"Kenapa begitu? aku masih mengurus Wina disini."


"Justru itu, kalau mereka cepat menikah kamu bisa fokus mengurus Wina dan Herman, aku juga ingin fokus menemani Kenan di Malang. Tadi pagi dia merengek minta melamar Sheila. Duh aku ga bisa bayangin harus berbesan sama Retno. Bisa ribut terus aku. Yang ada kalau mereka jadi menikah aku bisa jarang kerumah Kenan, malas bertemu Retno. Aku yakin pasti Retno dirumah Sheila terus nanti. Apalagi Sheila anak satu-satunya" Nina menyampaikan alasannya ingin mempercepat pernikahan Reza dan Kiki, ia juga menyampaikan unek-unek dihatinya soal Kenan.


"Aku ngobrol dulu sama mas Ryan ya. Kamu juga sudah membahas masalah ini ke mas Dwi belum?"


"Belum, nanti aku telepon mas dwi."


............


Di Warung Elite cabang selatan yang sedang dibangun tampak Reza dan Andi sedang mengamati hasil pekerjaan kontraktor, Pada bagian dapur ada sedikit kesalahan , beberapa layout dapur dirubah atas permintaan Reza.


"Mas Reza detail juga ya." Kata Ranti perwakilan dari kontraktor pada Andi, sementara Reza masih menunjuk apa yang harus dirubah pada Maila rekan kerja Ranti.


"Memang ini bagiannya Reza, mbak Ranti. Kaget ya?." Andi tertawa melihat kedua wanita itu, tak berhasil merayu Reza karena kesalahan pekerjaannya. Kemarin mereka bernegosiasi dengan andi dan Mario, tapi kewenangan ada pada Reza karena terkait penempatan produksi nantinya. Bisa-bisanya kesalahan dibagian dapur. Habislah sudah diamuk Reza.


"Menarik." Andi mengamati sambil tersenyum.


"Mas Reza kalau layout dirubah berarti tambah biaya." kata Maila pada Reza.


"Coba mbak Maila cek ulang, sesuai ga sama gambar yang sudah dikerjakan. Ada perbedaan saya lihat. Salah siapa kalau begini? Soal biaya dihitung saja, jangan ada yang dirugikan. Yang pasti kalau ga sesuai gambar kami yang dirugikan."


"Tapi kemarin Mas Mario ga komplain." kata Maila membela diri.


"Kalau ga komplain berarti boleh salah kerjanya mbak?" cetus Reza, sedikit kesal.


"Proyek managernya siapa, boleh saya bicara langsung?" tanya Reza lagi


"Saya." Ranti segera maju.


"Ada masalah pada struktur tanahnya mas."


"Kalau ada masalah seharusnya di info ke kita mbak, jangan ambil keputusan sendiri."


"Maaf mas Reza, tapi boleh dong jangan dirubah. Karena biayanya ga murah."


"Nah sudah tahu ga murah, kerjanya jangan asal mbak. Sekarang kalau posisi dapur seperti ini, koki dan anak buahnya nanti akan direpotkan karena harus memutar. Yang pasti akan menambah waktu mereka berjalan dari wastafel ke lemari pendingin dan juga ke kompor. Pekerjaan jadi selesai lebih lama dan yang pasti pelanggan jadi butuh waktu untuk menunggu." Ranti yang awalnya merasa yakin dengan sekali rayuan Reza akan luluh pun ternganga. Andi tersenyum miring dibuatnya. "Gue bilang juga apa." gumamnya tak terdengar.


Reza menghela nafas panjang, sesekali memijit kepalanya. Sedikit berfikir bagaimana supaya biaya yang sudah dikeluarkan tidak terbuang percuma.


"Win win solution dong mas. Bantu mikir." Ranti masih bernegosiasi.


"Mbak Ranti kan punya tim, silahkan bicarakan dengan tim mbak Ranti. Saya cuma mau dibangun sesuai gambar yang sudah ada. Lebih sedikit mana biayanya rubah layout atau kembalikan seperti gambar semula."


"Untuk kembali ke gambar semula ga memungkinkan karena struktur tanah tidak mendukung."


"Bukannya kalau sebelum dibangun, dilihat dulu struktur tanahnya mbak?


kembali Ranti terdiam, tak menyangka yang dia kira anak ingusan yang baru mau lulus S1, pasti bisa diatur ternyata saklek luar biasa.


"Baiklah nanti akan saya perbaiki." Ranti mengalah.


"Setiap ada perubahan di info kan mbak, supaya ga seperti ini. Jangan ada lagi yang dirugikan."


"Siap mas Reza. boleh minta kontaknya mas?


Reza menyebutkan nomor handphonenya. "Saya misscalled ya." kata Ranti sambil menekan nomor yang Reza berikan.


"Simpan nomor saya ya mas, Ranti."


Reza pun segera menyimpan nomor handphone Ranti.


"Tolong ya mbak, jangan ada kesalahan lagi." pesan Reza


"Iya mas, nanti gambar layout terbaru saya kirim via email. Kalau perlu dijelaskan, nanti kita janjian lagi."


Reza mengangguk sambil melihat jam ditangannya. Sudah pukul dua siang, sampai lupa makan siang karena sibuk komplain.


"Balik friend?" ajak Reza pada Andi.


"Ok mbak Ranti, ditunggu gambar terbaru ya." Kata Andi menyalami Ranti dan Maila.


"Ga makan siang dulu kita mas?" ajak Ranti. Andi memandang Reza meminta persetujuan. Reza menggeleng.


"Makan dikantor aja friend, kita mesti bahas sama Mario dan Erwin. Ambil mobil kerumah dulu ya, nanti jam lima gue mesti cabut kan, jam enam gue udah mesti dikampus."


"Lain kali ya mbak ranti. Banyak urusan nih. Kalau mau makan di cabang utama hayuk." Kata Andi pada Ranti berbasa basi.


"Ga usah mas, kejauhan sudah keburu lapar." sungut Ranti, niatnya mendekati Reza untuk makan siang bersama, supaya Reza luluh, gagal total.


"Ok sampai ketemu lagi." Andi menyalami Maila dan Ranti, Reza mengikuti tanpa berkata-kata.


"Judes amat tuh bocah." kata Ranti pada Maila saat mereka dimobil, sudah pasti Reza tak mendengar.


"Iya gue kira yang sulit Mario, ternyata Reza. mateng deh hari ini." jawab Maila sambil tertawa miris memikirkan kerugian yang harus ditanggung mereka.