I Love You Too

I Love You Too
Tiga hari



"Aban tewewawuan." omel Balen pada Nanta via video call. Hubungi Abangnya pakai handphone Mami Regina karena Papon lagi setir kendaraan, tadi Balen merengek minta hubungi Nanta, sementara handphone Nona habis baterai. Semua tertawa dengar omelan Balen.


"Keterlaluan kenapa?" tanya Nanta sambil tertawa.


"Puan duuan ndak tasih tau Baen, Baen tunduin Aban ampe kingetan."


"Iya maaf ya, Abang lupa kabarin Balen."


"Aban teenaktan nih, pedi-pedi teus ama temenna, adena tindalin sendiian."


masih mengomel.


"Mateng loh temannya disalahin." Mike terbahak.


"Iya maaf ya Abang lagi setir nih jangan dimarahi dong." kata Nanta, Daniel yang pegangi handphonenya mengarah pada Nanta.


"Teus Baen nomonna ama sapa don, talo dini?" tanya pada Nanta.


"Nanti saja dirumah kita ngomongnya." kata Nanta fokus menatap kedepan.


"Ya udah Baen nomon ama Aban Leyi aja." kata Balen meminta bicara sama Larry, dasar Balen paling bisa.


"Adanya Abang Mike sama Abang Daniel." kata Nanta, Mike lambaikan tangannya pada Balen, lalu Daniel arahkan kamera pada wajahnya.


"Aban Leyi mobilnya beda, sama Abang Daniel saja ya." kata Daniel tersenyum manis.


"Ama sapa aban Leyina, dimobin?" tanya Balen pada Daniel.


"Sama Kakak Rumi." jawab Daniel.


"Pacawan, meka pacawan, iya?" Semua kembali terbahak, Regina mengacak anak rambut Balen gemas, tahu-tahunya pacaran.


"Tidak hanya satu mobil saja." jawab Daniel terkekeh.


"Aban, tapan beenang ladi?" tanya Balen pada Daniel, padahal ia tetap diajari Larry. Lupa kalau tadi sedang mengomel.


"Iya tapan don Ban, atu tunduin." Richie ikutan menagih waktu berenang


"Sabtu ya, minggu Abang kembali Ke asrama." jawab Daniel, main sabtu saja tidak tanya jadwal Larry.


"Benen ya, Baen tunduin nih." kata Balen.


"Iya dong." Daniel menganggukkan kepalanya.


"Balen kamu jangan mau dipanggil singkong rebus ya. Kamu kan cantik." kata Daniel pada Balen.


"Napa emanna, Aban Leyi pandil cantit juda?" tanya Balen.


"Kamu sudah lihat singkong rebus belum sih?" tanya Daniel.


"Udah, enat." jawab Balen acungkan jempolnya.


"Kalau enak nanti semua mau loh sama kamu, jangan ya. Balen sama Abang saja." kata Daniel tanpa sadar kalau Balen sedang bersama Kenan dan yang lainnya.


"Maksudnya apa Daniel?" tanya Nona.


"Tante, aku kira tidur." jawab Daniel terkekeh seakan tidak bicara apapun.


"Kalau tidur mau apa?" tanya Nona.


"Tidak apa. Bolehkan sabtu berenang lagi?" Daniel minta ijin Nona.


"Boleh dong, ajak adikmu tuh Redi." kata Nona pada Daniel.


"Oke Tante."


"Panggil Mamon saja." pinta Nona.


"Asik, ok Mamon." malah senang disuruh panggil Mamon.


"Aban janan ajat Ledi deh." kata Balen keberatan.


"Kenapa?" tanya Daniel pada Balen.


"Baen beum bisa nomon ancal, nanti cembeut aja Ledina." Balen sampaikan kekhawatirannya.


"Oh kalau dia cemberut, Abang smackdown." jawab Daniel, Nanta menoyor kepalanya. Daniel langsung tertawa mengusap kepalanya.


"Aban udah duu ya, Baen pate henpon Mami soanna." katanya pada Daniel.


"Oke." jawab Daniel.


"Baen masih marah tidak sama Abang?" teriak Nanta.


"Baen kesal tapi Abang sayang kok." jawab Nanta.


"Sayan apaan, puang aja ndak tasih tau Baen. Nyebein." omelnya, rupanya masih emosi.


"Maaf ya." kata Nanta merayu Balen.


"Baen pitiin duu, Maapin apa ndak." katanya kemudian menutup sambungan. telepon.


"Eh bocah bisa ngambek juga." Mike terbahak.


"Bilang nyebelin lagi." Nanta ikut terbahak.


Nanta dan Dania akhirnya tiba dirumah dengan selamat, Daniel menunggu dirumah Nanta karena Larry harus mengantar Doni pulang dulu setelahnya baru mengantar Rumi dan menjemput Daniel dirumah Nanta.


"Leyi besok antar Daniel ke kantor ya tanda tangan kontrak." pesan Rumi saat turun dari mobil Larry. Mereka sudah di depan rumah Papi Mario.


"Iya, kalau Mama tidak bisa antar, aku yang antar." kata Larry pada Rumi.


"Terima kasih ya Leyi, jangan lupa rabu." Rumi tersenyum.


"Besok aku kabari begitu dapat jadwal dari Nanta." janji Larry pada Rumi. Rumi anggukan kepalanya


"Yumi, semangat sehat ya. Tinggalkan minuman keras." Larry semangati Rumi.


"Kalau sudah berhasil, mau jadi pacarku?" tanya Rumi tersenyum jahil, nothing to lose, mau syukur tidak pun tidak apa-apa.


"Sahabat." Larry tegaskan pada Rumi sambil tertawa.


"Tidak mau ya punya pacar mantan pecandu?" tanya Rumi.


"Aku maunya cari istri." jawab Larry.


"Aku juga siap jadi istri." tantang Rumi.


"Keluargaku agak rumit. Mungkin kamu akan dibiarkan jadi pacarku tapi belum tentu bisa jadi Istriku." jawab Larry apa adanya.


"Begitu ya? karena aku pecandu?" tanya Rumi.


"Bukan itu saja, pasti ada hal lain lah. Selama ini sih tidak pernah komentar soal mantan pacarku." jawab Larry.


"Kalau Femi bagaimana?" tanya Rumi.


"Tidak tahu juga, baru mau aku tanyakan." jawab Larry.


"Tanyakan aku juga dong, jangan Femi saja." kata Rumi. Larry tertawa jadinya.


"Yumi, Fino cocok loh sama kamu, aku doakan kalian berjodoh." kata Larry tulus.


"Aku tidak mau doakan kamu dengan Femi berjodoh." jawab Rumi jujur.


"Hahaha, masuklah. Kamu harus istirahat." Larry terbahak. GR? tidak. Rumi bukan wanita yang pertama, yang bilang mau jadi pacar Larry.


Tapi Femi wanita yang pertama menolak Larry, bahkan abaikan telepon Larry. Padahal Femi bukan type Larry dan awalnya Larry pikir akan pertimbangkan Femi jadi istrinya. Malah Femi abaikan Larry.


Tadi waktu Femi hubungi Larry rasanya senang bukan main, tapi Larry masih ragukan perasaannya, benar suka Femi atau hanya penasaran karena ditolak. Cinta rasanya belum ya, karena Larry lebih pusing jika singkong cantiknya menghilang, dibanding Femi tidak menghubunginya sama sekali.


Setelah ini bagaimana? apa masih biasa saja kalau Femi tidak hubungi Larry. Larry jadi bertanya-tanya.


"Leyi, kamu melamun." Rumi sadarkan Larry.


"Kamu belum masuk, kan sudah ku suruh masuk." kata Larry pada Rumi. Pikirannya agak kacau kali ini, bisa-bisanya di depan Rumi melamun pikirkan Femi. Bukan pikirkan Femi sih, hanya berpikir apa benar dirinya suka Femi.


"Iya aku mau masuk, tapi kamunya bengong." Rumi tertawa.


"Sorry."


"Bingung ya mau pilih aku apa Femi." kata Rumi lagi menggoda Larry.


"Hahaha kabari kalau Fino hubungi kamu ya, aku berharap komunikasi kalian bagus." kembali Larry sebutkan Fino.


"Kamu beneran mau aku sama Fino?" tanya Rumi pandangi Larry.


"Iya tapi telusuri dulu Fino itu seperti apa." jawab Larry.


"Aku tidak peduli masa lalu, yang penting sekarang dan kedepan." jawab Femi.


"Iya sekarang dan ke depan tetap harus ditelusuri. Baru kenal beberapa jam. Teman lama saja sifat aslinya baru keluar setelah liburan bersama sekitar tiga hari." Larry tertawa.


"Aku ajak liburan saja Fino?" tanya Rumi membuat Larry tertawa.


"Ajak saja menginap dirumah Papi tiga hari." jawab Larry konyol menunjuk rumah Papi Mario. Gantian Rumi yang tertawa.