
drrrrtttt...drrrrrtttt.... gantian handphone Reza yang berdering, "Ibu Negara" begitu tertulis dilayar handphonenya.
"Nan, kamu nanti jemput Sheila sekalian jemput Kiki ya, ajak kerumah, jangan bilang Reza kalau kamu jemput Kiki. Surprised biar dia kaget pas pulang nanti" Kata Nina pada anaknya via telepon.
"Mama salah telepon. Ga suprised lagi deh." Jawab Reza sambil tertawa geli.
"Duh nenek-nenek gagal surprised, Ah jadi ga seru, ya sudah mama telepon Kenan dulu." Nina segera menutup teleponnya. Dasar mama, Reza masih tertawa walau telepon sudah dimatikan.
"Kenapa kak?" tanya Kiki penasaran
"Kocak nih mama, suruh kenan jemput kamu tapi nelponnya ke aku. Pakai bilang jangan kasih tau Reza lagi biar surprised hahaha." Reza menceritakan sambil tertawa geli. Kiki ikut tertawa mendengarnya.
"Nanti aku pulang malam de, kamu ga usah nungguin." kata Reza percaya diri.
"Iya, ngapain nungguin kan bukan suami aku."
"Eh..calon suami kan."
"Iya masih calon jadi ga usah ditungguin." cetus Kiki.
"Ih ga romantis." protes Reza, kembali mengacak poni Kiki, reflek Kiki membenarkan rambutnya sambil berkaca.
Tak lama mereka pun tiba dikampus, Kiki segera berpamitan dan turun dari mobil, tak lagi banyak ngobrol karena tau Reza mengejar waktu agar tak terlambat meeting pagi ini bersama rekan-rekannya.
Suasana dikampus sudah tampak ramai, Kiki langsung menuju kelas, ternyata masih terisi mahasiswa mata kuliah pagi. Tapi beberapa teman Kiki sudah berkumpul didepan kelas. Ada yang duduk dilantai, ada juga yang duduk di atas meja yang tersandar didinding koridor kampus. Kiki memilih duduk dilantai bergabung bersama teman-temanya yang sedang mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan pagi ini.
"Sudah bikin ya Ki?" tanya farida sambil merevisi tugasnya.
"Sudah, tapi ga tau bener ga."
"Ayo baca ulang daripada bengong" ajak Farida. Walaupun agak malas, Kiki mengeluarkan makalahnya, membaca ulang.
"Sudah dijilid ya, wah gue belum print nih." Farida tampak panik melihat tugas Kiki. Lalu mengeluarkan printer kecil dari tasnya, niat sekali benerin tugas dikampus, sampai tempat duduk dilantaipun dipilih yang dekat saklar. Good job far hehehe
"Kenapa ga kerjain dirumah sih?" tanya kiki heran melihat Farida membawa komplit peralatan tempurnya.
"Wah far gue numpang ngeprint ya." Kata Rino yang baru saja datang melihat farida yang sedang sibuk.
"Nanti ya kalau gue udah selesai." jawab farida sambil menunggu hasil print outnya.
"Eh Rin tinta gue kayanya mau habis nih, ga tau nanti lu kebagian ga." farida memberitahu Rino saat pemberitahuan tinta mau habis muncul di laptopnya.
"Type apa? gue turun deh beli dulu." jawab Rino. Toko buku komplit ada di kampus mereka, tak perlu jauh-jauh mencari keluar kampus. Sebenarnya bisa sewa print di bawah tapi pasti antri. Lebih baik beli tinta printer dibawah. Farida memberikan kotak tinta printernya pada Rino.
"Enak si Kiki nih sudah selesai." Komentar temannya yang lain, sepertinya ingin meminjam printer farida juga. Begitulah hiruk pikuk didepan kelas pagi ini.
"Gue kerjain dari minggu lalu, takut lupa." jawab Kiki yang terbiasa rapi mengatur pekerjaannya. Terlebih sekarang sering terima endors, sudah pasti harus lebih detail mengatur aktifitas hariannya. Supaya tidak terburu buru seperti teman temannya sekarang, mengingat Kiki orangnya panikan.
"Monik, Intan mana Ki?" tanya Farida, printoutnya sudah selesai, sekarang farida sibuk menyusun tugasnya untuk dilaminating sendiri, lagi lagi Farida sudah siap dengan cover biru, lakban, stapler dan gunting. Hebat Farida, Kiki kagum dibuatnya.
"Belum sampai, tadi sih sudah dijalan." Jawab Kiki sambil membantu Farida mengguntingkan lakbannya mengukur supaya pas dan tidak miring.
"Gileee, ga kasian sama tukang fotocopy ya ngejilid sendiri." Kata Rino yang baru saja datang dari membeli tinta meledek Farida. Kiki hanya tersenyum melihat temannya sibuk.
"Ada lagi ga covernya bagi dong," kata Rino sambil sibuk mengutak atik laptop Farida.
"Butuh juga kan lu." kata Farida sambil mengeluarkan cover yang tersisa pada Rino. Membuat Rino tersenyum senang karena merasa sangat terbantu.
Tugasnya selesai, Farida menarik nafas lega lalu memasukkan tugasnya ke dalam tas, takut ketinggalan. Sekarang tinggal menunggu peralatan tempurnya yang sedang dipinjam Rino.
"Berapa lembar Rin, banyak juga." komentar Farida sambil melihat hasil print Rino.
"30 lembar hehehe, ga papa ya kertas lu gue pakai. Nanti gue ganti."
"Ga usah, masih banyak kan ini." Farida menunjuk sisa kertas yang dibawanya didalam map plastik. Akhirnya Rino selesai ngeprint lanjut menjilid makalahnya, Farida ikut membantu. Sementara Kiki sudah sibuk ngobrol dengan Intan dan Monik yang ikut duduk melantai disebelahnya. Mereka membentuk lingkaran.
"Kita berapa orang nih? Anto mau pesan tiketnya." tanya Intan sambil menunjukkan handphonenya.
"Kita aja kan?" kiki balik bertanya
"Ya sudah cuma berempat aja ya." Intan mulai mengetik pesan menjawab pesan Anto.
"Iya lah kita aja." jawab Monik. Mereka sudah tak pusing memikirkan tugas, karena sudah dikerjakan dari minggu lalu.
"Makalah lu jangan lupa nih Tan." Monik menyerahkan makalah Intan yang diletakkan sembarangan. Selalu saja diingatkan. Monik sudah paham sekali dengan temannya ini.
"Kalian mau kemana habis kelas ini?" tanya Rino pada tiga sekawan yang sibuk sendiri.
"Mau nonton.Nunggu jam empat nanti lumayan." jawab Monik.
"Ga terburu buru nanti?" tanya Rino ingin tahu.
"Ga bawa mobil Rin, nanti dijemput pacarnya Intan. Jadi ga pusing mikirin parkir." jawab Monik. Intan melotot pada Monik, tak terima Anto dibilang pacarnya. Karena memang bukan, mungkin lebih tepat kalau disebut musuh sehati hehehe.
"Kenapa melotot?" tanya Monik tak terima.
"Anto bukan pacar gue." Intan protes masih sedikit melotot walau sedikit mengecil.
"Siapa bilang yang jemput Anto." jawab Monik lagi sambil menahan tawa.
"Siapa memang nanti yang jemput?" tanya Kiki ingin tahu sambil tersenyum penasaran.
"Supirnya, Anto kan urusin tiket dulu. Sekalian ada interview radio di mal yang sama." Jawab monik masih menahan tawa.
"Maksud lu pacar gue si bapak supir. Sembarangan," Intan langsung menggelitik pinggang Monik. Tawa mereka langsung berderai tak perduli di dalam sedang ada kelas yang sedang berlangsung, Rino dan Farida pun ikut tertawa, beneran kocak.
Pintu kelas terbuka, tampak dosen wanita dibibir pintu.
"Tolong jangan berisik ya, ada yang lagi belajar." Katanya tegas tanpa senyum.
"Maaf bu." jawab Rino sopan. Sementara yang cewek cewek sibuk kasak kusuk sambil menutup mulut menahan tawanya.
"Tengkiu Rin." Kata Monik sambil menahan tawa begitu dosen sudah menutup pintu dan mulai kembali menjelaskan. Rino pun ikut menahan tawa sambil mengangkat tangan tak berani mengeluarkan suara.