I Love You Too

I Love You Too
Seiqa



Saatnya Deni kembali Ke Cirebon, tapi kali ini ia pulang bersama istrinya, tentu saja ini merupakan hari yang membahagiakan untuk Deni. Terlebih arak-arakan rombongan heboh juga akan mengantar Deni dan Dini ke Cirebon, sudah bisa dibayangkan bagaimana ramainya yang ikut mengantar mereka pulang kekota kelahiran Deni. Keluarga besar Dini dan juga kedua sahabat Doni.


Nanta memutuskan untuk tidak ikut mengantar Om nya ke Cirebon, mengingat istrinya masih merasakan lelahnya setelah liburan ke Abu Dhabi kemarin, belum lagi hari senin Nanta harus kembali kuliah. Ijin tugasnya sudah habis, sudah tidak ada alasan bagi Nanta untuk tidak masuk kelas.


"Nanti kalau Dania sudah aman, aku ajak ke Cirebon ya Om." kata Nanta pada Om Deni.


"Iya menginaplah beberapa hari jangan hanya sebentar saja disana." jawab Deni berharap ada kunjungan dari keluarga Jakarta.


"Iya nanti aku ajak Papa dan Mamon juga deh." jawab Nanta. Padeh Baron sudah kembali ke Malang saat Nanta dan Deni di Abu Dhabi.


"Ini rombongan pengantar menginap semua Om?" tanya Nanta melihat ada sekitar lima mobil yang akan konvoi ke Cirebon.


"Tidak, mereka hanya mengantar lanjut kuliner." jawab Deni terkekeh.


"Tapi ada yang menginap kan Om?" tanya Nanta melirik sahabatnya Larry dan Mike.


"Oh iya kalau yang ini karena ada proyek." jawab Deni lagi-lagi terkekeh. Mereka berdua cengengesan memandang Nanta.


"Doakan ya senior, kami segera menyusul." kata Mike sambil bergaya ala pemain silat menangkupkan kedua tangannya sambil membungkuk pada Nanta.


"Iya, semoga saja ada yang nyangkut." jawab Nanta terbahak.


"Layangan kali nyangkut. Bahasanya yang betul dong." protes Larry membuat semua terbahak.


"Sudah bilang anak buah Om belum kalau mereka mau dikenalkan dengan dua orang ini?" tanya Nanta pada Om Deni menunjuk kedua sahabat tampan dengan dagunya.


"Belum." jawab Deni menggelengkan kepalanya.


"Wah bilang dulu dong Om, biar tidak sia-sia, kalau bisa perintahkan mereka untuk ikut kita kuliner seharian ini." langsung saja Mike ambil inisiatif.


"Sudah diatur semua sama Samuel, kalian tenang saja." jawab Deni, Nanta jadi nyengir lebar Om Samuel pun ikut sibuk demi mengenalkan kedua temannya dengan dokter muda di rumah sakit Om Deni. Semoga saja berhasil, pikir Nanta.


"Jadi penasaran mereka seperti apa sih?" Dini langsung membayangkan gadis yang akan dikenalkan dengan Mike dan Larry.


"Cantik kan Om?" Mike menaikkan alisnya cengar-cengir.


"Cantik itu relative." jawab Deni membuat Mike memonyongkan mulutnya. Cantik ya cantik saja, pakai bilang relative lagi mencurigakan, pikir Mike.


"Betul kata Mas Deni, kalau cantiknya kamu sama Mas Deni kan beda." Dini membela suaminya begitu melihat ekspresi wajah Mike.


"Tapi menurut aku Kak Dini itu cantik." Sahut Larry tersenyum manis pada Dini.


"Sorry sudah sold out." jawab Dini pada Larry sambil tersenyum sok cantik gitu deh.


"Nah iya aku juga bilang begitu Kak Dini ini cantik." Mike manggut-manggut setuju dengan ucapan Larry.


"Kalian terlambat kalau merayu aku, karena aku sudah ada yang punya." kata Dini lagi-lagi sok cantik, Deni terkekeh melihat kelakuan centil istrinya, beda betul saat pertama kali kenal, senyum saja jarang-jarang.


"Menurut Om juga sih, istri Om sangat cantik." Deni terkekeh memandangi Dini dengan mesranya.


"Ish jangan begitu lah, kasihan kita yang jomblo ini melihat lope lope berterbangan." sungut Mike melihat kedua suami istri itu saling memandang mesra. Deni terbahak dan mengacak anak rambut Mike, lucu sekali sepupu Dania ini.


"Nah berarti selera cantik kita sama kan Om?" Mike tersenyum dengan semangatnya memandang Deni tanpa lope lope berterbangan.


"Waduh bagaimana ya? Mungkin pertama lihat biasa saja ya, tapi kalau sudah ngobrol banyak baru bisa kalian nilai deh, Jangan membayangkan seperti model-model yang pernah kalian pacari itu loh" kata Deni serius pada keduanya.


"Yakin lu masih perjaka?" tanya Larry terkekeh, menggoda sahabatnya.


"Menurut anda kakak?" tanya Mike kembali sok imut.


"Kalau saja sabun bisa ngomong." jawab Larry membuat semuanya terbahak. Entah apa maksud mereka, Dini melengos saja, mungkin itu bercandaan para lelaki.


"Sembarangan, gue tidak begitu." kata Mike membela diri, berusaha membersihkan nama baiknya tapi ia ikut tertawa sambil menoyor dahi Larry.


"Ya kali gue kan cuma bilang kalau sabun bisa ngomong." Larry tertawa sambil mengusap dahinya, ia senang saja menggoda Mike.


"Om jangan khawatir soal cantik, tadi itu aku hanya bercanda. Yang penting kami kenalan saja sebagai teman, kalau selanjutnya berjodoh itu berarti memang sudah ada garis jodohnya." kata Mike kemudian pada Deni, wajahnya tampak serius.


"Tumben benar bicaranya." goda Doni yang sedari tadi menyimak sambil lewat, ia sibuk mondar-mandir, ada saja yang diurusnya. Mereka memang saat ini sedang di rumah orang tua Doni. Setelah sholat shubuh tadi Nanta mengantar Om Deni tanpa Dania, jadi bisa ikut berkumpul dan ngobrol bersama sebentar.


"Memang aku benar terus kan Aban Doni." jawab Mike terkekeh, meniru gaya bahasa Balen. Larry balas menoyor dahi sahabatnya itu. Mike tertawa sambil mengusap dahinya pasrah menerima perlakuan Larry.


"Berangkat jam berapa sih? kalau kesiangan nanti tidak bisa banyak macam kulinernya." tanya Nanta mengingatkan sambil melihat pergelangan tangannya.


"Iya sebentar lagi ya, kalian ngobrol saja dulu." jawab Doni kembali meninggalkan sahabatnya, ada lagi yang harus diurusnya.


"Dia ngapain sih, sibuk betul dari tadi?" tanya Larry tertawakan Deni.


"Butuh bantuan tidak?" tanya Mike pada Dini.


"Tidak usah, Doni lagi urusi para peserta yang masih single siapa tahu ada yang mau dijodohkan sama kalian." kata Dini pada Mike.


"Dari tadi aku belum lihat gadis-gadis, laki-laki semua itu, masa mau dijodohkan sama kami, aku maunya perempuan Kak." kata Mike kesal, Dini terbahak.


"Bukan yang itu Mike, coba lihat itu yang baru turun dari mobil, dia masih single." kata Dini menaikkan alisnya tersenyum pada Mike.


"Eh, belum sampai Cirebon sudah bertemu bidadari." Mike terkekeh menepuk bahu Larry.


"Mana yang mau curi selendang?" tanya Larry konyol.


"Mau apa tanya selendang, memangnya mau ngaji." tapi Mike terkekeh kemudian terdiam sejenak lalu,


"Itu yang pakai hijab, bisa tidak ya dikenalkan sama Aban Mike?" tanya Mike lagi pada Dini memandang gadis cantik berjilbab sedang menyalami Om Jonas.


"Langsung minta kenalkan saja." Deni terkekeh melihat Mike membetulkan kerah bajunya ketika gadis itu berjalan bersama Doni kearah mereka.



"Halo..." sapa Mike ketika Doni dan sang gadis mendekat, langsung saja tebar persona, Doni cengar-cengir melihat gaya Mike yang konyol itu.


"Halo." sapa gadis itu tersenyum ramah lalu menyalami Dini dan memeluknya erat ucapkan selamat.


"Ini Seiqa, sepupu aku. Kemarin saat kita menikah dia tidak datang." kata Dini mengenalkan gadis yang berjilbab itu pada Deni suaminya. Mike menyolek Larry kemudian berbisik,


"Seiqa gue take ya." kalimatnya membuat Larry terbahak lalu merangkul dan menepuk bahu sahabatnya pelan.


"Lanjutkan." balasnya berbisik kemudian menjauh dari Mike dan mendekati Nanta. Larry kasih kesempatan sama sahabatnya biar bisa berkenalan dengan Seiqa rupanya.