
Acara berenang berakhir hingga pukul sebelas. Seharusnya pukul sepuluh sudah selesai, tapi karena Nanta dan ketiga temannya banyak bercanda, jadi waktunya mundur.
"Tapan ladi beenangna, Aban?" tanya Balen, ia senang sekali sudah bisa gaya luncur tadi. Setelah mandi dan berganti pakaian ia kembali menempel pada Larry.
"Nanti ya kalau Abang sudah pulang dari Abu Dhabi, sementara Balen berlatih sama Abang Nanta ya." kata Larry pada Balen yang sedang dalam gendongannya.
"Tidak usah digendong terus, manja dia nanti." tegas Nanta pada Larry.
"Kasihan kakinya pegal bro." kata Larry tidak tega. Dipijitnya pelan betis Balen.
"Nanti minta pijit Bibi sebelum tidur ya." kata Nanta pada Balen yang terlihat menikmati pijitan teman Abangnya itu.
"Yah." jawab Balen nurut.
"Nan, tanya Om Deni deh. Nanti antar pulang Kak Dini atau bagaimana?" Doni minta Nanta menghubungi Om Deni, mesti ditunggu di rumah Nanta atau Om Deni akan antar pulang.
"Diantar lah." jawab Nanta cengengesan.
"Tanya dulu dong, kan mereka baru kenal." pinta Doni lagi. Ia takut Kak Dini bersikap aneh.
"Oke." Nanta mengambil handphonenya dan segera menghubungi Deni.
"Dimana Om?" tanya Nanta begitu Deni mengangkat teleponnya.
"Ini masih di ruang tunggu."
"Belum selesai ya?"
"Belum, mungkin sebentar lagi."
"Om nanti antar Kak Dini pulang atau kembali kesini?" tanya Nanta.
"Menurut kamu bagaimana?" Deni minta pendapat keponakannya.
"Antar saja atau ajak jalan-jalan dulu baru antar pulang." Nanta menyeringai jahil, memberi ide pada Om nya.
"Yoo, Om bilang apa ya?" Nanta terbahak, Om Deni malah seperti abege yang baru pertama kali kencan.
"Ajak ke pameran alat kesehatan saja, gantian minta temani." kata Nanta dengan ide baru.
"Pintar juga kamu, pantas masih kecil sudah menikah." Deni tertawa menggoda Nanta.
"Ish itu sih lain cerita, sukses ya Om." Nanta terbahak mendengarnya.
"Oke, salaam buat Doni." langsung saja kirim salam buat Doni yang lagi cengengesan. Senang berhasil mengenalkan Kakaknya dengan pria mapan, semoga berjodoh.
"Aman." kata Nanta setelah menutup sambungan teleponnya. Matanya berkeliling mencari keberadaan istrinya yang entah berada dimana.
"Kalian makan siang dulu ya, baru boleh pulang." kata Nona melihat Nanta dan sahabatnya yang sedang berkumpul diruang keluarga. Balen dan Richi sudah diambil alih pengasuh, Mereka berempat juga sudah kembali berpakaian normal, tapi tetap berdiri saling ngobrol, kalau duduk bisa lama lagi.
"Waduh, kita makan terus dari tadi Tante, temani Balen yang tiap sebentar teriak matan ladi." kata Mike sambil tertawa, ingat berapa kali Balen teriak minta makan. Kecil-kecil gembul juga, semua dilahap habis.
"Balen sih memang begitu kalau berenang." Nona terkikik geli, sudah tahu kelakuan Balen seperti apa.
"Makanan sudah disiapkan loh, kalau kalian tidak makan pasti akan berakhir di kulkas." kata Nona setengah membujuk teman-teman Nanta, sayang sekali kalau tidak ada yang makan, kalau bermalam dikulkas ujung-ujungnya akan terbuang karena Kenan tidak suka menyantap makanan yang dipanaskan, pola hidup sehatnya sudah mendarah daging.
"Nan, kita di paksa loh." kata Mike konyol, Nanta tertawa jadinya, Mike ini banyak gaya beda sekali dengan Dania padahal mereka sepupu. Tapi tadi Dania sudah mulai seperti Mike sampai membuat Doni tersandung secara alami.
"Iya lah makan dulu." kata Nanta lagi pada sahabatnya. Ia pikir kasihan juga Mamon sudah susah payah memasak untuk tamu adiknya, ya hari ini mereka jadi tamu Balen dan Richi karena kedatangan sahabatnya untuk mengajari keduanya berenang.
"Oke Tante. Tapi makannya nanti saja setelah Sholat, kita masih kenyang kalau sekarang." jawab Larry sambil memegangi perutnya, membuat Nona mengangguk senang.
"Kalian butuh sarung untuk ke Mesjid?" tanya Nona lagi ketika melihat ketiganya hanya memakai celana sedengkul. Mana mungkin sholat seperti itu.
"Bawa kok Tante di mobil." jawab Larry, Doni mengangguk ia juga bawa dimobilnya. Mereka selalu membawa sarung dan sajadah dimobil untuk menunaikan kewajiban sholat lima waktu, apalagi mereka sering diluar rumah.
"Aku butuh Tante, karena tadi aku nebeng Larry." kata Mike jujur, ia tidak bawa pikirnya sebelum Dzuhur sudah kembali kerumah, tapi ditahan karena harus makan siang dirumah Nanta.
"Loh kok yang baru, Tante."
"Adanya yang baru." jawab Nanta tengil, langsung saja Mike meringis. Kadang Nanta suka sombong deh minta di jitak.
"Dania mana Mamon." tanya Nanta pada Nona.
"Ada di kamar sama Ichi." jawab Nona menunjuk kamar Ichi.
"Sejak hamil dia maunya sama Ichi terus." Nanta terkekeh ingat Dania yang rindu Richi.
"Papa dan Om Samuel?" tanya Nanta lagi melihat rumah sepi.
"Kerumah Ayah Eja." jawab Nona tersenyum,
"Tadi Samuel ingin mengenalkan keluarganya pada Reza." kata Nona lagi menjelaskan.
"Mamon tidak ikut?" tanya Nanta bingung.
"Mana bisa tinggalkan duo bocah yang merepotkan kalian." sungut Nona kemudian tertawa.
"Mana ada merepotkan, malah menghibur." jawab Larry jujur, ia benar-benar terhibur dengan Balen.
"Iya apalagi karena barusan jomblo." celutuk Mike, semua tertawa jadinya. Mentertawakan Larry pastinya.
"Rese." sungut Larry kemudian ikut tertawa, mana bisa marah sama sahabatnya ini.
"Ini jomblo sesat Tante." kata Mike membocorkan rahasia Larry.
"Ish jangan percaya Tante, mereka selalu jadikan aku bulan-bulanan." adu Larry pada Nona.
"Sembarangan." sangkal Doni tapi cengengesan.
"Tante doakan dong Om Deni sama Kak Dini." kata Doni lagi penuh harap.
"Kalau mereka berjodoh, kamu panggil aku Kakak ya." Nona terkekeh benar saja Doni dan Nona akan jadi saudara Ipar jika semuanya lancar. Mari doakan agar prosennya lancar hingga mereka berjodoh.
"Mulai deh Mamon sok muda." celutuk Nanta, ia ingat Nona lebih suka dipanggil kakak.
"Memang masih muda Nanta." jawab Nona terbahak. Ia menolak tua meskipun sudah ada Balen dan Richi.
"Masih mudah sudah mau punya cucu." Nanta tertawakan Nona.
"Nanta yang bikin Tante dan Om cepat tua." Nona menggelengkan kepalanya.
"Masih kecil sudah menikah." sungut Nona lagi.
"Doni juga loh Tante, malah lebih dulu dari Nanta." kata Doni bangga.
"Kenapa sih kalian menikah muda?" tanya Nona meringis.
"Takut bablas Tante." jawab Doni jujur. Nona mengangguk cepat. Benar juga bisa bablas kalau anak muda banyak duit pacaran.
"Tante dipanggil Doni kakak, dipanggil Larry mama itu nanti." celutuk Mike konyol tertawakan Larry.
"Maksud lo?" Larry mendelikkan matanya.
"Manggil gue Abang gitu?" timpal Nanta lagi sudah tahu arah pembicaraan Mike menggoda Larry.
"Kacau memang Mike ini otaknya, masa gue mau dijodohin sama bocah tiga tahun. Pelipur Lara gue itu Balen." kata Larry membuat semua terbahak. Sejak ada Balen, ribut sama pacar hubungi Balen ajak bercanda. Bisa lupa semua masalahnya dengar celotehan bocah tiga tahun itu.
"Kalian ini bercandanya." Nona menggelengkan kepalanya tertawakan mereka berempat.
"Doakan kami yang jomblo ini supaya segera menikah Tante." kata Larry penuh harap, ia juga capek pacaran tidak pernah lama.
"Makanya pilih pacar yang betul, lihat yang kinclong sedikit langsung saja ja..." cerocos Mike membuat Larry membekap mulutnya hingga tidak lagi bisa bicara, hahaha semua jadi tertawa dan ikut menganiaya Mike yang memang kadang-kadang lebih menggemaskan dibanding Balen, Nona jadi tertawa sendiri, seperti muda lagi bergabung dengan mereka.