
"Aban, matatih ya." kata Balen pada Nanta sambil memeluk bonekanya.
"Kan yang beli bukan Abang." kata Nanta, mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Micko.
"Tapi tan Aban tasih tau bonetana yan ini." kata Balen lagi bikin yang dengar senyum-senyum.
"Ichi, mindu tita beajal beenang deh." kata Balen lagi pada Ichi, Richi tergelak senang, sudah siap mau berenang juga
"Ichi, Kak Dania kangen kamu loh." kata Nanta menjawil pipi Richi yang sedang dipangku Ncusss di kursi belakang.
"Ada yang kangen juga kamu, Nak. Biasanya Kakak Balen saja yang di kangeni orang." kata Nona melihat Richi dari kaca spion. Lagi-lagi Ichi tergelak senang.
"Sini pangku Abang." Nanta mengulurkan tangannya pada Richi, langsung saja Bocah itu menurut dan melompati kursi agar bisa dekat dengan Abangnya.
"Enak tidak di Amerika?" tanya Kenan kemudian pada Nanta yang sibuk menciumi Richi.
"Enak sih, tapi lebih enak di rumah sendiri lah." jawab Nanta terkekeh.
"Dua minggu kedepan sudah berangkat lagi Abangnya, Nak." kata Nona menoleh pada Nanta dan Richi.
"Iya tapi tidak lama kok, hanya dua minggu." jawab Nanta.
"Kita ikut dong, Pa." ajak Nona pada Kenan. Kenan langsung saja meringis malas, membayangkan harus naik pesawat sekitar sepuluh jam.
"Ah Papa sih." sungut Nona tahu suaminya tidak tertarik.
"Mamon saja sama Dania." kata Nanta pada Nona. Ia ingin Dania ada yang menemani ke Abu Dhabi nanti.
"Boleh Pa?" tanya Nona pada Kenan.
"Boleh, bawa tuh Balen dan Richi." kata Kenan menyeringai, antara mengijinkan dan tidak. Nona langsung memonyongkan bibirnya, membayangkan ke Abu Dhabi tanpa Kenan tapi membawa duo bocah, lebih baik tidak berangkat.
"Aban, itu mobin Aban Leyi." tunjuk Balen saat melewati Mobil jemputan Larry.
"Iya." jawab Nanta tersenyum pada Balen.
"Takson... takson Papon." pinta Balen pada Papanya, tentu saja Kenan menolak. Nanta tertawa jadinya.
"Biarkan saja, tidak usah klakson." jawab Nanta memeluk Balen, meskipun videocall setiap hari tetap saja bikin kangen, membuat posisi Balen tidak nyaman karena ada Richi dipangkuan Nanta.
"Dania masih tidak enak badan loh." Nona memberi tahu Nanta.
"Iya, tapi sudah lebih baik dibanding kemarin." jawab Nanta pada Mamon, ia belum menghubungi Dania memberi tahu jika ia sudah dalam perjalanan pulang.
"Tidak mau ke dokter lagi." lapor Nona pada Nanta.
"Nanti biar sama aku saja ke dokternya." jawab Nanta menyandarkan kepalanya, baru terasa lelah sekarang, Balen mulai memberontak karena Nanta sudah berubah posisi.
"Mau apa? Abang masih mau peluk." kata Nanta pada adiknya.
"Tapi Baen tapek Aban, ada Ichi tan." keluh Balen karena ruang geraknya tidak bebas.
"Bagaimana biar tidak capek, tapi Abang mau peluk?" tanya Nanta terkekeh, Kenan ikut terkekeh melihat keduanya.
"Tundu..." jawab Balen mulai mencari posisi agar bisa memeluk Abangnya, ia berdiri sambil memegang bahu Nanta, kemudian memeluk Abangnya dari samping.
"Udah ya." katanya melepas pelukannya pada Nanta
"Ah belum." kata Nanta bersungut.
"Baen mo main boneta don, janan peuk teus." katanya pada Nanta.
"Abang ganggu Balen ya?" tanya Nona.
"Butan dandu sih, tapi Baen mo main duu." katanya memandang Nanta berharap bebas dari pelukan Abangnya. Nanta pun akhirnya membiarkan Balen bermain boneka dan Nanta bermain dengan Richi.
Kenan memarkirkan kendaraannya di sebelah mobil Micko seperti biasa kalau Kenan berkunjung. Kehadiran mereka terutama Nanta sudah ditunggu-tunggu sedari tadi.
"Lama sekali?" tanya Micko pada semuanya.
"Tadi makan dulu di parkiran, teman Nanta ada yang mau lontong sayur juga." Kenan menjelaskan.
"Oh Abang Larry yang ganteng itu?" tanya Lulu menggoda Balen.
"Iya don." jawab Balen bangga. Larry yang dibilang ganteng, Balen yang kembang-kempis hidungnya.
"Dania mana Pa?" tanya Nanta setelah menyalami Papa Micko, Oma Misha dan Mama Lulu.
"Dikamar tuh, ditemani Winner dan Lucky." kata Lulu pada Nanta.
"Manja sekali ditemani. Ayo kita kekamar." ajak Nanta pada Balen, sementara Richi digendongnya.
"Nah iya tuh, Ichi ditunggu Kakak Dania." kata Oma Misha pada Richi sambil menjawil pipinya. Saat masuk ke kamar tampak Winner dan Lucky sedang basil ngobrol entah apa yang mereka bahas, sementara Dania tertidur pulas.
"Jangan diganggu, baru saja tidur." kata Winner pada Nanta, kemudian berdiri tos ala pemain basket mengikuti gaya Nanta dan teman satu timnya.
"Bangunkan saja ya, ada Ichi nih, kakak kangen Ichi katanya." Nanta memandang Winner.
"Jangan, dudukkan saja Richi dekat Kak Dania. Walaupun tidur tapi kan sudah dekat Kakak." kata Lucky ikut melarang.
"Sakit apa sih? masih belum ke dokter juga?" tanya Nanta pada Winner dan Lucky.
"Sudah sih, tadi. Makanya sekarang tidur." jawab Winner, Nanta mengangguk dan meletakkan Richi duduk disebelah istrinya.
"Ichi tiss Tania don." perintah Balen pada Richi, ia sudah ambil posisi duduk antara Winner dan Lucky. Dasar Richi, ikut saja lagi mulai menciumi Dania dan menepuk-nepuk bahu Dania pelan, seakan tahu Dania sedang sakit.
Mungkin karena pengaruh obat, Dania tidak juga terbangun. Sudah cukup lama Nanta dan adik-adik Dania ngobrol panjang lebar, Winner dan Lucky menanyakan pengalamannya saat di Amerika.
Papa menghubungi Nanta via telepon, mereka menunggu Richi dan Balen, karena sudah cukup lama Kenan dan Nona ngobrol bersama Micko.
"Balen, Papon ajak pulang nih." kata Nanta pada adiknya, menyerahkan handphonenya pada Balen.
"Baen masih ngobol." jawab Balen belum mau pulang.
"Ini bilang langsung sama Papon." kata Nanta pada Balen yang enggan mengambil telepon Abangnya.
"Belum mau pulang Balen, Pa." kata Nanta pada Kenan.
"Loudspeaker saja, Boy." kata Kenan pada Nanta, Nanta mengikuti perintah Papanya .
"Sudah Pa." kata Nanta lagi.
"Balen, Papon dan Mamon sudah mau pulang."
"Baen masih ngobol Papon, Ichi Juda masih jadain Tania."
"Oh kalau begitu Balen dan Ichi tinggal saja ya, Biar Papon dan Mamon saja yang pulang."
"Baen bobo sama Aban?"
"Iya, tapi hari minggu tidak usah belajar berenang ya."
"Tok ditu?"
"Iya karena Abang Larry datang kerumah, tapi Balennya bobo disini." kata Kenan tenang sekali.
"Tundu ya." Balen menyerahkan handphone pada Abangnya, menyalami Winner dan Lucky lalu keluar kamar meninggalkan Richi yang masih mengasuh Dania.
"Balen tunggu." Winner mengejar Balen sambil tertawa, sebut nama Larry semua langsung tak dihiraukan. Nanta terkekeh mengangkat Richi dari samping Dania dan langsung menggendongnya.
"Aku antar Richi dulu." kata Nanta pada Lucky.
"Aku juga ya, Kakak kan sudah pulas." kata Lucky pada Nanta.
"Ayo." ajak Nanta lalu mereka pun keluar kamar sambil mentertawakan Balen yang cepat sekali terpengaruh.
"Ichi mau pulang juga ya?" tanya Nanta bercandai Richi.
"Baban, Bai." jawab Ichi mencium Nanta.
"Bye sayang, nanti sabtu Abang bobo dirumah ya." Nanta balas mencium Richi. Lucky senyum-senyum mencubiti Richi pelan, giginya saja yang merapat gemeretak.