I Love You Too

I Love You Too
Banyak Berdoa



"Aku mau ke toilet kak." bisik Kiki pada suaminya.


"Yuk aku antar." jawab Reza cepat tanggap, langsung berdiri dari bangkunya. Kiki yang awalnya ingin menolak mau tak mau mengikuti Reza beranjak dari bangkunya.


"Ke toilet dulu." pamit Kiki pada semua yang ada di sana, lalu berjalan keluar VIP Room.


"Aku ikut." teriak Enji menyusul Kiki dan Reza.


"Oh kalian berdua aja kalau begitu ya." Reza menghentikan langkahnya meminta persetujuan Kiki.


"Iya, Aku sama Enji aja." jawab Kiki menarik lengan Enji dan menggandengnya, akrab sekali. Reza pun kembali ke posisi semula, membiarkan Kiki bersama Enji ke toilet.


Setelah menunaikan hajatnya Kiki menunggu Enji di depan wastafel sambil membetulkan lipstiknya yang mulai tak rata karena banyak makan dan minum. Sementara Enji masih didalam belum selesai.


"Eh ketemu lagi." tiba-tiba Kiki melihat Ranti masuk ikut berdiri disebelahnya. Kiki hanya tersenyum tipis menjaga jarak tak mengeluarkan sepatah katapun.


"Selera Reza begini aja? Biasa banget ya." Ranti sepertinya mencari gara-gara. Tak mau meladeni Kiki bergeser menjauh. Sesekali melihat ke pintu yang dimasuki Enji tadi.


"Tolong jauhi Reza!!!" kata Ranti memandang Kiki tajam.


"Maksudnya?" tanya Kiki dengan kening berkerut.


"Saya calon istri Reza, masih ga ngerti?"


"Kamu gila ya? Kamu suruh Reza menjauhi istrinya, mengaku sebagai calon istri. Ga malu?" jawab Kiki tanpa menoleh.


"Jangan ngaku-ngaku Istri deh, saya tahu Reza belum menikah. Kamu merebut Reza dari saya!!!"


Byuuuuurrrrrr ......


Enji datang membawa air segayung dari toilet dan menyiram ke kepala Ranti. Kiki terperangah sementara Ranti pun menjerit kaget.


"Yuk Ki." Enji segera menggandeng Kiki meninggalkan Ranti yang basah kuyub.


"Sebel banget gue dengernya dari dalam." kata Enji sambil terbahak dan kiki pun ikut terbahak.


"Kasihan kak, bagaimana dia pulangnya."


"Biarin aja, biar dingin tuh otaknya gue siram air. Jangan cerita-cerita ya hahaha." Enji kembali terbahak. Kiki pun ikut terbahak sampai keluar air matanya. Sampai diruangan VIP mereka masih tertawa bersama membuat yang lain bertanya-tanya.


"Kenapa dek?" tanya Reza penasaran. Kiki memandang Enji meminta persetujuan. Enji membuang muka pura-pura tak melihat. Kiki berbisik membuat Reza membelalakan matanya tak percaya. Entah apa kalimat Kiki pada suaminya.


"Kamu bikin kelakuan lagi Nji?" tanya pak Burhan menduga-duga. Sepertinya sudah mengerti sepak terjang anak gadisnya. Enji hanya tersenyum dengan mata menyipit, semakin membuat pak Burhan dan istrinya yakin, anaknya membuat ulah.


"Papa lihat tuh cewek yang basah kuyub , kayanya dia mau kesini." Enji menunjuk Ranti yang sedang berjalan cepat dengan wajah tak karuan, sepertinya sangat marah. Semua mata menuju ke arah Ranti.


"Tadi aku siram pakai air segayung, dia kurang ajar sama Kiki. Nanti dengerin aja dia mau ngadu apa. Ga tau malu, aku kira dia langsung pergi dari sini."


Ranti semakin mendekat tapi tak bisa masuk karena Ruang VIP dijaga pengawal. Tak bisa sembarang orang bisa masuk kesana. Tak lama salah seorang pengawal masuk.


"Ijin pak, ada tamunya pak Reza." kata pengawal tersebut, membuat Reza menggelengkan kepalanya.


"Suruh masuk aja pak, takut bikin ribut diluar. Tapi saya minta dua orang dari kalian ikut masuk ya, kalau dia cari masalah tolong kalian amankan." jawab Pak Burhan mengambil keputusan menahan reza yang akan beranjak menghampiri Ranti.


"Parah, kenapa bisa begitu." gumam Mario memandang Ranti yang sedang menjinjing sepatunya.


"Cepat deh dilamar Enji Win, bingung Ibu jaganya." Bisik bu Burhan pada Erwin. Ah ibu.. Erwin kan jadi cengengesan.


Ranti masuk keruangan sambil menangis terisak. Eye linernya mencair sehingga air matanya tampak menghitam.


"Mas Reza, saya dilabrak sama perempuan yang katanya istri kamu." katanya sambil terisak, sungguh menyayat hati bagi yang tak tahu dan tak kenal Kiki. Reza merangkul istrinya dan menahan badan Kiki yang akan bangun dari bangku.


"Dilabrak bagaimana mbak Ranti?" tanya Mario memancing.


"Dia minta saya menjauhi mas Reza dan menyiram saya dengan air sampai kuyub begini. Hiks saya dijambak mas..Hiks.."


Sungguh tak tahu malu pikir Kiki. Bisa-bisanya Ranti memutar balikkan fakta dan melebihkan cerita. Reza bingung harus menanggapi bagaimana. Reza tahu betul istrinya tak mungkin melakukan itu. Nada suara Reza sedikit menekan saja air mata Kiki sudah mengembang.


"Bohong!!!" teriak Enji. Mungkin tadi saat basah kuyub Ranti tak melihat Enji karena disiram dari belakang.


"Kamu ga usah ikut campur mbak, saya korban disini."


"Saya yang siram kamu, kenapa jadi Kiki yang kamu fitnah. Kamu yang minta Kiki menjauhi Reza kenapa malah cerita sebaliknya. Pembohong kamu, perempuan tak tahu malu. Usir dia pak." Teriak Enji pada pengawal yang menunggu didepan pintu.


"Saya bisa jalan sendiri, saya akan tuntut kepengadilan. Kalian mempermalukan saya." teriak Ranti histeris saat pengawal menarik tangannya keluar dari ruang VIP.


Semua yang diruangan tampak tegang. Enji segera meneguk air yang ada didepannya. Ingin sekali menerkam Ranti tadi kalau saja tangannya tidak ditahan bu Burhan. Emosi Enji memang cepat sekali meledak.


"Beresin tuh orang pa. Aku punya rekaman video dia di toilet tadi. Sayang aja pas aku siram aku ga bisa rekam."


Burhan menggelengkan kepala sambil tertawa menonton video yang Enji rekam. Terbahak melihat emosi anaknya saat ini karena membela Kiki.


"Kiki ini sahabat kamu ya berarti" kata Pak Burhan masih tertawa melihat anak gadisnya.


"Kalau sudah membela teman, guling-guling dijalan, jambak-jambakan pun dia pernah." Bu Burhan menceritakan kelakuan Enji pada Erwin.


"Bagus ya bu, total dan loyal itu." jawab Erwin.


"Tapi ujungnya tetap Bapak yang membereskan." sungut Bu Burhan. Reza yang ikut menonton video dari handphone Enji terbelalak, seperti dugaannya istrinya pasti lebih memilih menjauh dibanding meladeni. Cuma Reza tak habis fikir dengan tingkah laku Ranti, sepertinya ada kelainan. Bukan sekedar penggoda saja.


"Putus kerja samanya friend, gue ga mau dia masih kerjain cabang selatan." kata Reza pada sahabatnya.


"Ok." jawab Mario cepat, Erwin dan Andi pun menyetujui.


"Maaf ya pak Burhan, Enji jadi terlibat." Reza yang tak enak hati pada pak Burhan meminta maaf.


"Ga papa, Ja. Semakin tinggi akan semakin banyak godaannya. Yang penting kalian kuat mental dan pertebal Iman. Perempuan seperti Ranti tuh bukan hanya seorang dua orang, banyak yang menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya. Apalagi kalian masih muda, ganteng dan sukses, banyak duit kan pastinya" jawab Pak Burhan.


"Banyak yang lebih sukses pak, kita masih merintis." jawab Erwin apa adanya. Memang kekayaan mereka belum terhitung luar biasa lah. Masih banyak yang lebih kaya, seperti Alex dan Anto.


"Tapi kalian bibit unggul dan ga banyak gaya. Istrinya mesti banyak-banyak berdoa supaya suami ga tergoda ya." pesan pak Burhan pada Kiki dan Regina.


"Iya nanti aku rajin berdoa juga pa." jawab Enji.


"Kamu kan belum jadi istri." sahut Bu Burhan.


"Win kita nikah yuk." ajak Enji membuat Erwin terbelalak, sekalipun Enji bercanda jantung Erwin saat ini berdegup lebih kencang mendengar ajakan Enji.