I Love You Too

I Love You Too
Lady Di



"Sudah berenangnya?" tanya Kenan tersenyum pada teman-teman Nanta saat mereka pamit pulang.


"Sudah Om." Larry tersenyum dan mengenalkan adik-adik pada Kenan.


"Loh ini adik kamu Leyi, beda sama Abangnya." Kenan terkekeh.


"Catep semuana Papon." celutuk Balen, tahu-tahunya cowok cakep.


"Iya cakep semua, tapi Aban Larry beda sendiri, yang berdua ini mirip." kata Kenan pada putrinya.


"Tapina Aban Ledi tatain Baen nomonna ndak ancal." lapor Balen pada Papon, Kenan terbahak jadinya.


"Tenan Baen, atu udah bilanin Ledi tamu tuh catep." Richie menenangkan Balen. Richie memang selalu pasang badan untuk Balen.


"Iya biain Aban Ledi ndak tau sih Baen mo masut tipi banak-banak." Balen membanggakan diri.


"Apa tuh maksudnya?" tanya Daniel pada Larry.


"Balen sudah dikontrak eksklusif Unagroup untuk bintangi iklan sepuluh produk tahun ini." kata Larry pada Daniel.


"Loh kamu tahu dari mana Larry?" tanya Kenan bingung merasa tidak cerita.


"Dari Rumi, Om." Larry terkekeh.


"Keren juga nih kecil-kecil." Daniel mengacak anak rambut Balen yang masih basah.


"Benean tewen?" tanya Balen pada Daniel.


"Benar dong, masa bohong sih." Daniel kembali tertawa, ia menyukai Balen dan tidak heran Abangnya pun begitu.


Redi menjaga jarak karena Abangnya juga sih tadi sampaikan bahwa Redi besar harus menikah dengan Balen, tentu saja Redi menolak. Tidak menyangka akan dijodohkan dengan anak kecil. Yang Redi khawatirkan kalau Abangnya sudah bicara sama Papa dan Mama sudah pasti akan dipertimbangkan. Jelas-jelas Larry anak kebanggaan orang tua mereka.


"Aban pulang ya." Larry berjongkok dan memeluk Balen, seperti tidak rela harus pulang cepat tapi Redi dari tadi sudah rusuh saja minta pulang dengan alasan mau mandi dengan sabun kesayangannya di rumah, tadi hanya bilas saja. Lain kali kalau ajak Redi harus bawakan sabun mandinya yang tidak pernah ganti dari kecil, fanatik dengan merk yang itu saja.


"Aban tapan beenang ladi?" tanya Balen memeluk Larry.


"Dua minggu lagi oke." Larry mengajak Balen tos.


"Tamu itut ndak dua mindu ladi?" tanya Richie pada Redi.


"Aku sudah masuk sekolah, tidak bisa ikut." jawab Redi.


"Talo libul setolah sini ladi ya." kata Richie pada Redi.


"Iya." jawab Redi tersenyum pada Richie.


"Aban Ledi, Ichie juda nomonna ndak ancal tapi Aban senum, ama Baen ndak mo senum." protes Balen pada Redi, semua tertawakan Redi yang salah tingkah.


"Kamu kan perempuan." kata Redi tanpa ketus.


"Eman napa talo Baen pempuan?"


"Aku tidak senyum sama perempuan." kata Redi asal bicara.


"Eman ditu Papon?" tanya Balen pada Papanya.


"Ada yang begitu." Kenan terkekeh, lucu melihat Redi dan Balen.


"Teseah Aban Ledi deh, mo senum ama Baen apa ndak."


"Nanti juga lama-lama Lady Di tersenyum." celutuk Daniel membuat Redi semakin memberengut, panggilan ini bikin Redi tambah kesal saja. Semua tertawa mendengarnya.


"Daniel, jangan begitu sama adikmu." kata Kenan disela tawanya.


"Lady Di memang begitu Om, suka merajuk." kata Daniel bertambah saja menggoda adiknya.


"Nanti aku minta Papa sekolahkan aku di Ohio biar ikut kamu loh." ancam Redi pada Daniel.


"Duh masa gue harus ngasuh Redi lagi sih, Bang bantu ya bilang Papa, Redi tetap saja di boarding school." kata Daniel pada Larry.


"Iya." jawab Larry tertawa, mana mungkin biarkan Redi ikut sekolah di Ohio, kecuali kalau Redi kuliah nanti.


"Mike ikut gue?" tanya Larry pada Mike.


"Sebentar lagi Seiqa jemput." jawab Mike karena mobilnya tadi dibawa Seiqa membeli keperluan persiapan menikah mereka beberapa minggu kedepan.


"Yang sibuk Seiqa sih Tante, Mike mah santai saja tinggal kasih kunci mobil." Larry terkekeh, memang begitu adanya.


"Bahkan Mamon, Doni yang antar Seiqa kesana kemari. Mike sih benar-benar deh." Nanta gelengkan kepalanya. Kembali Mike cengengesan. Akhirnya mereka bubar begitu Seiqa datang menjemput Mike.


"Oke siap-siap kita ke Malang siang ini." kata Kenan pada semuanya.


"Sekarang?" tanya Nanta bingung.


"Iya sekarang, ayo sepuluh menit lagi kita ke Bandara." tegas Kenan pada Nanta yang kebingungan, Papa kasih tahu mendadak siang ini harus ke Malang.


"Aku begini saja, tadi sudah mandi." kata Nanta dengan celana sedengkul dan poloshirt yang baru dipakainya setelah berenang tadi.


"Balen, Richie ayo ganti Baju." kata Nona persiapkan Balen dan Richie.


"kenapa sih pa berangkat sekarang?" tanya Nanta bingung.


"Roma mau melahirkan, Raymond harus didampingi, dia tidak kuat lihat Roma kesakitan." kata Kenan membuat Nanta langsung ingin Salto saja ke Malang, bayangkan Abangnya yang sedang membutuhkan mereka. Dania muncul dengan koper ditangannya, sudah siap rupanya. Dania juga bawakan tas selempang dan jacket Nanta.


"Koper isinya apa?" tanya Nanta pada istrinya.


"Obat-obat dan segala keperluan Ibu hamil." jawab Dania tersenyum.


"Ayah sama Bunda sudah dikasih tahu?" tanya Nanta pada Papa.


"Sudah berangkat dari tadi jam delapan." kata Kenan.


"Mestinya Papa kasih tahu saja tadi, jadi Balen dan Richie tidak usah berenang." kata Nanta sedikit menyesal tidak datang lebih cepat.


"Papa tidak menyangka begini, Papa pikir sih melahirkan ya melahirkan saja, kita berangkat minggu depan, tapi ternyata kata Ayah, Abangmu kacau. Ayah sampai bingung harus bagaimana."


"Memangnya Kak Roma parah?" tanya Nanta ingin tahu.


"Tidak tahu, makanya daripada penasaran kita berangkat saja, tadi Papa sudah langsung pesan tiket untuk kita."


Pak Atang sudah siap dimobil, barang-barang semua sudah masuk kedalam Mobil. Mereka pun berangkat ke Bandara diantar oleh Pak Atang. Ncusss ikut keduanya. Siapa tahu di Malang dibutuhkan.


"Ncusss tadi iat cowo catep ndak?" tanya Balen pada Ncusss dalam perjalanan menuju Bandara.


"Lihat yang kecil cakep sekali." jawab Ncusss, Nona gelengkan kepalanya anak gadis empat tahunnya seperti abege sudah membahas cowok cakep sama Ncusss.


"Itu namana Ledi, dia penah masut majaah tau." Balen menjelaskan seakan kenal dekat dengan Redi.


"Oh Redi yang tidak pernah senyum itu?" tanya Nanta ikut menimpali.


"Senum tau ama atu." Richie malah ikut-ikutan.


"Napa sih pada itutan nomonin Ledi, ini uusan pempuan tau." oceh Balen membuat semuanya tertawa.


"Masih kecil sudah bahas cowok cakep." omel Nona pada Balen.


"Baen cuma tana Ncusss aja tok." jawab Balen.


"Memang iya Redi cakep?" tanya Nona padaa Balen.


"Iya benen catep dia." jawab Balen polos.


"Tapi kok tidak mau senyum sama Balen?" tanya Nona.


"Soanna Baen pempuan." jawab Balen.


"Butan Baen, soanna tamu nomonna ndak lancal." celutuk Richie bikin semua kembali tertawa.


"Ncusss ajain Baen deh bian nomonna ancal." pinta Balen pada Ncusss.


"Suka ya sama Redi?" Dania menggoda Balen.


"Suta don." jawab Balen polos.


"Ish suka lagi" Nanta gelengkan kepalanya.


"Ledi tan adenna Aban Leyi, Haus suta don. Tata aban Leyi nanti Ledi yan jadain Baen talo Aban ama Aban Leyi ndak detet Baen." kata Balen pada Nanta. Beneran nih Larry niat betul jodohkan adiknya dengan Balen.