I Love You Too

I Love You Too
Sayur dan Ikan



"Baen kamu sih pulangnya besok, kita ndak bisa main lama deh." keluh Ulan pada Balen.


"Ulan tamu nomonna udah ancal tok, ajain atu don." ingin selancar Ulan juga karena umur mereka tidak juh beda.


"Gimana ajarinnya aku kok bingung?" Ulan sedikit berpikir.


"Dimana ya? binun juda atu. Tamu matanna apa emanna?"


"Nasi sama sayur dan ikan."


"Ndak matan sop?"


"Makan juga kok."


"Tapi ada itan ama sayun ya? atu ndak penah matan sayun ama itan sih. Talo ayam penah atu."


"aku juga pernah makan ayam." Nanta terkikik geli mendengar pembahasan kedua adiknya ini


"Tapi Baen kamu kan pintar berenang, aku ndak." gantian sekarang ulan yang ingin bisa seperti Balen.


"Beenang mah dampang, beajal aja." kata Balen pada Ulan.


"Kamu diajari Masanta ya?" tanya Ulan iri karena Masantanya dekat dengan Balen, mereka bisa bertemu setiap hari. Balen gelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Ndak, atu yan ajain Aban Leyi atu don." bangga punya Abang selain Nanta.


"Aban Leyi siapa?" tanya Ulan bingung.


"Aban atu juda, temenna Aban." tersenyum bangga menunjuk Nanta.


"Mas aku jauh semua, Mas Vicky di Osrali. Masanta di Jakarta." bibir Ulan mengerucut.


"Tamu pindah Jatata aja, nanti itut beenang sama Aban Leyi, eh tamu nomonna udah ancal, bisa beajal beenangna ama Aban Ledi." kata Balen acungkan jempolnya.


"Ledi setolah Baen, Ulan beajal ama atu aja talo Jatata." Ichie menawarkan dengan senang hati.


"Maa..." langsung ulan panggil Mamanya


"Kenapa sayang?" tanya Tari pada anaknya.


"Aku mau sekolah di Jakarta seperti Baen." Balen anggukan kepalanya memandang Tari dengan hidung kembang kempis, karena Ulan ingin seperti dirinya.


"Oalah, kenapa tiba-tiba minta pindah ke Jakarta. Di Jakarta tidak ada Bang Raymond loh." kata Tari pada gadis kecilnya.


"Kenapa kok Bang Raymond?" tanya Kenan.


"Ulan senang sekali kalau ada Raymond dan Roma, pengganti Nanta mungkin." Bagus terkekeh.


"Tuh tamu ada Aban Lemon disini." kata Richie pada Ulan.


"Aban Lemon tita ya." dengan senyum mengembang Balen bilang pada Ulan jika itu Abang Raymond kita, supaya Ulan tahu kalau Abang Raymond milik mereka bersama.


"Iya, Masanta juga ya Masanta kita." kata Ulan, ikut menegaskan kalau Masanta juga milik mereka bersama.


"Iya, tapi Aban Leyina, Aban Leyi atu." jawab Balen tidak mau berbagi Larry, menurutnya Ulan tidak kenal Larry.


"Roma sudah melahirkan, anaknya perempuan." kata Mama Nina pada Tari.


"Tuh Ulan, kamu punya adek tuh." Tari tersenyum.


"Jadi dipanggilnya sekarang Mbak Wulan deh." kata Nanta terkekeh.


"Ante don. Ante Ulan taya atu Ante Baen." tegas Balen.


"Bulek Ulan." Nanta meralat.


"Ndak mau Ulan Masanta. Anak Bang Raymond panggil Ulannya Mbak aja." kata Wulan.


"Padahan hausna Ulan pandilna Ante juda taya Baen." Balen gelengkan kepalanya, kenapa tidak mau dipanggil Ante sih? padahal memang Ante-ante, pikir Balen menerawang. Semua tertawa melihat Balen kecewa.


"Ayo makan dulu, Baen ini sopnya." kata Nona pada Balen.


"Ada sayunna ndak?" tanya Balen.


"Sudah Mamon pisahkan." kata Nona tahu Balen tidak suka sayur.


"Baen mo pate sayun ama itan." katanya pada Mamon. Nanta kembali terkikik geli karena sudah menguping sebelumnya jadi tahu alasan Balen ingin makan pakai ikan dan sayur.


"Eh tumben." Nona mengerutkan dahinya, tapi ambilkan juga keinginan Balen dengan porsi sedikit, khawatir tidak habis.


"Ditit amat." keluh Balen.


"Suta tok." jawab Balen sok tahu.


"Kalau suka nanti bisa tambah." kata Kenan yang juga khawatir Balen tidak menyukainya.


"Yah." jawab Balen tidak membantah kalau Papon sudah bersuara. Benar saja yang Nona dan Kenan khawatirkan, Balen habiskan makanan dipiringnya dengan susah payah, tapi tekatnya sudah kuat ingin makan seperti Ulan supaya bisa lancar bicaranya.


"Baen, kalau aku ke Jakarta memangnya Bang Ledi itu mau ajarkan aku berenang?" tanya Ulan pada Baen.


"Talo Ledi ndak mau atu tasih tau Aban Leyi atu." kata Balen bersiap mengadu pada Larry.


"Aban Leyi kamu bosnya?"


"Iya." jawab Balen asal saja. Nanta kembali tertawa.


"Tapan tamu Jatata?" tanya Balen.


"Nanti dirumah aku bujuk Mama sama Papa lagi supaya mau pindah ke Jakarta." kata Ulan, pikirnya gampang saja membujuk untuk pindah. seperti cerita yang didengarnya, Abangnya dan Papa Kenan dulu juga bisa pindah ke Jakarta. Pasti Papa Bagus dan Mama Tari juga bisa.


"Oma, Baen beenangna udah pinten tau." kata Balen pada Oma ketika mereka sudah sampai di rumah.


"Iya Oma lihat videonya yang dikirim Abang." jawab Oma tersenyum bangga.


"Baju beenang Baen catep ndak?" tanya baju berenang yang dipakainya saat di video yang Oma maksud.


"Cakep." jawab Oma.


"Talo Aban Leyi Baen, catep ndak?" eh balik lagi bahas Aban Leyinya.


"Duh Larry keselek terus deh nih, Dari tadi kamu bahas dia terus." kata Nanta mencubit pipi adiknya gemas.


"Tan tana aja." jawab Balen mengusap pipinya.


"Larry yang ajari Balen berenang ya? cakep kok." jawab Oma apa adanya.


"Oma suju ndak?" tanya Balen.


"Eh ini tadi kan Papon sudah bilang, kamu lupa Balen?" Nona mulai naik satu oktaf.


"Tan cuma tana aja, Mamon." katanya tersenyum manis.


"Kenapa dia?" tanya Oma Nina pada Nona.


"Mau jadi istri Larry kalau sudah besar." jawab Nona meringis.


"Larry temannya Nanta itu?" tanya Oma terkekeh.


"Iya Oma suju ya?" langsung saja seperti dapat angin lihat Oma tertawa.


"Balen masih kecil sih, jadi Oma tidak bisa jawab. Tapi kalau Balen besar nanti dapat lelaki yang seperti Abang Nanta, Abang Raymond atau Abang Leyi itu, pasti Oma setuju." jawab Oma pada Balen.


"Masutna apa sih?" tidak mengerti kenapa bawa-bawa Nanta sama Raymond.


"Maksudnya Balen besar saja dulu, nanti baru mengerti." jawab Nanta pada adiknya.


"Ote, besot Baen matan nasina pate sayun sama itan ladi." jawabnya ingin cepat gede.


"Centil sekali dia Ma, setelah ini akan aku daftar kan ke Playgroup supaya bisa bermain dengan anak seusianya. Biar berpikirnya sama sesuai usia." kata Nona pada Oma Nina.


"Wah Baen sudah mau sekolah ya." Oma tersenyum pada Balen. Oma belum pernah punya anak perempuan sih jadi bingung juga hadapi bocah centil.


"Iya don." Balen tersenyum senang.


"Atu setolah juda, Mamon?" tanya Richie.


"Iya sekalian saja ya?" minta persetujuan Richie.


"Ada lobotna ndak di sekolah?" tanya Richie.


"Sepertinya tidak ada, itu kan sekolah masa ada robot sih." Nona terkekeh.


"Talo ditu atu bawa lobot te setolahna, itu syalat dali atu, Mamon halus boleh." tegas Richie pada Mamon.


"Mas Kenan kecil seperti Richie tidak Ma?" tanya Nona pada Mama Nina.


"Tidak." jawab Mama Nina tertawa.


"Bingung aku ini berdua kenapa kaya orang tua gayanya." kata Nona membuat Oma dan Opa tertawa, melihat tingkah lucu cucunya, tapi sedikit khawatir juga, kalau tidak pikirkan Raymond ingin rasanya Oma Nina ikut ke Jakarta, temani tumbuh kembang Balen dan Richie.