
"Paket buat Nenek sudah sampai, Dan?" tanya Nanta saat menghubungi Dania, sementara Micko, Kenan dan Raymond menguping pembicaraan mereka.
"Aku masih dikampus, Mas. Kenapa di paketi takut overload ya?" tanya Dania tertawa.
"Kan Kirimnya lewat kantor Papa juga." kata Nanta jujur.
"Mas Nanta, Papaku itu juga kerjanya di perusahaan shipping loh, makanya kenal Papa kamu ya." kata Dania teringat Papanya.
"Iya lah." jawab Nanta terkekeh, bahkan. Papa mereka berada di perusahaan yang sama.
"Dania, ayo ke Malang lagi, hari sabtu ada pertunjukan Ice Skating dari New Zealand. Itu juara international yang tampil. Terus ada pertunjukan Disney juga." Nanta mulai menjalankan perintah Micko.
"Mas Nanta jualan ticket kah?" Dania terbahak.
"Tidak aku punya free ticket, Kalau kamu mau, berangkat ke Malang sama Ando dia juga mau Nonton." kata Nanta pada Dania.
"Sorry sepertinya tidak bisa gabung, tabunganku menipis kemarin habis travel seminggu di Malang. Kalau dua bulan lagi baru bisa deh." kata Dania apa adanya.
"Ticket, penginapan dan semuanya free." kata Nanta, Micko mengacungkan jempolnya.
"Ah tidak mau dibayari. Aku tidak mau hutang budi." Dania menolak dengan tegas.
"Budi anak mana ya itu hahaha, ini ada jatah gratis untuk undangan VIP, kebetulan ada tiga orang yang berhalangan hadir, jadi aku kasih ke sahabatku saja, Kamu, Ando dan Wilma." jawab Nanta sesuai arahan Micko dan Kenan sebelum menghubungi Dania.
"Kok bisa?"
"Kan penyelenggaranya Om Bagus, suami Mamaku, sayang tidak terpakai dari pada mubazir." kata Nanta lagi, Kenan terkekeh bisa juga Nanta cari cara membujuk Dania.
"Kapan berangkatnya?" tanya Dania.
"Acaranya sabtu siang, berangkat jumat juga boleh." kata Nanta.
"Aku atur sama Kakak Ando dulu ya, Mas Nanta." kata Dania akhirnya menerima tawaran Nanta menitipkan pesan untuk Ando.
Sebelumnya Nanta sudah membahas lebih dulu dengan Ando, supaya bisa ikut ke Malang dalam rangka mempertemukan Dania dengan Om Micko, hanya saja mereka sepakat tidak bilang Dania, khawatir Dania langsung menolak di awal.
"Beres ya Om." kata Nanta pada Micko.
"Tahap pertama sementara beres." jawab Micko terkekeh, karena masih banyak tugas Nanta sampai acara selesai.
"Dipanggilnya Mas loh." Raymond berdecak menggoda Nanta sambil menyeringai jahil.
"Kan bertemunya di Malang." jawab Nanta terkekeh, ingin sekali memiting leher Abangnya yang dari tadi selalu mengeluarkan komentar menyebalkan, tapi sungkan karena ada Om Micko.
"Nanti kasih data Dania dan temanmu yang dua lagi ke sekretaris Raymond ya, Boy. Kita proses tiketnya." kata Micko pada Nanta.
"Iya Om, mereka menginap dimana Om?" tanya Nanta pada Micko.
"Di Hotel tempat Om dan Tante menginap saja ya." kata Micko pada Nanta.
"Berarti aku juga menginap di hotel, Om?" tanya Nanta pada Micko.
"Modus, mau dekat Dania." Raymond terkekeh.
"Bukan begitu, kan aku yang mengundang." kata Nanta pada Raymond.
"Kamu di rumah saja." kata Kenan pada Nanta.
"Jadi bagaimana aku menjamu tamuku? Aku lebih senang mereka menginap dirumah kita saja." Nanta menatap Kenan, berharap Papanya mengijinkan teman-temannya menginap di rumah.
"Om susah mau bertemu, Dania." kata Micko pada Nanta.
"Tidak susah lah Bang, Abang bisa menginap dirumahku juga." Kenan menawarkan pada Micko.
"Atau dirumahku, Om. Tinggal salto kalau mau bertemu Dania dirumah Om Kenan." kata Raymond ikut menawarkan rumahnya.
"Dihotel saja." kata Micko bersikeras.
"Tidak bisa, anak-anakku pasti komplen liburan tidak menginap di hotel." Micko terkekeh ingat anaknya yang dua orang.
"Biar saja Nanta ikut menemani Ando menginap di hotel." kata Micko.
"Tidak, siapa yang mengawasi dua laki-laki dan dua perempuan, cinta lokasi nanti mereka." kata Kenan posesif.
"Papa mulai seperti Oma."
"Sudah tua ya begitu lah." Raymond terkekeh melihat Nanta dan Kenan bergantian.
"Ih Papaku masih muda loh." Nanta membela Papanya.
"Mau minta apa kamu sama Papa?" tanya Kenan memicingkan matanya pada Nanta. Micko tertawa saja melihat mereka.
"Jadi temanku bagaimana di hotel apa di rumah?" tanya Nanta pada Papanya.
"Tanyakan saja pada mereka, mau di rumah boleh, di hotel pun boleh." jawab Kenan membiarkan tamu Nanta yang memilih.
"Oke nanti aku tanya, aku pamit ya." ijinnya pada Kenan, kemudian berdiri menyalami semua yang ada satu persatu, sudah terlalu sore bisa magrib sampai di rumah Mama, sementara kalau jadi berangkat, besok sore sahabatnya sudah datang, maka Nanta hanya bisa menginap di rumah Mama malam ini, selebihnya mendampingi teman-temannya sebagai tuan rumah dan pihak yang mengundang.
"Hati-hati Boy." Kenan ikut berdiri berjalan mengiringi Nanta.
"Papa mau kemana?" tanya Nanta pada Kenan.
"Antar kamu ke lift." Kenan tersenyum pada Nanta.
"Ih tidak usah, Papa disini saja sama Om Micko dan Bang Ray."
"Sekalian pulang saja yuk Om." Raymond ikut berdiri dan Micko pun menyusul.
"Nanta, terima kasih ya. Jangan lupa kabari Om, mereka berangkat kapan." Micko merangkul Nanta, senang sekali berkat Nanta ia akan segera bertemu Putri sulungnya, entah nantinya bagaimana, yang penting ia bertemu dulu dengan Dania.
"Iya Om, sama-sama." jawab Nanta tersenyum.
"Nanti Dania mau langsung dikenalkan dengan Tante Lulu, Om?" tanya Nanta pada Micko dalam perjalanan mereka menuju parkiran.
"Tidak, Om dulu saja. Kalau Dania sudah bisa menerima Om, baru Om kenalkan." kata Micko pada Nanta.
"Boy, berarti kamu menginap di rumah Mama hanya malam ini kan? besok teman-temanmu sudah disini." Kenan mengingatkan.
"Iya, Pa. Tadi juga aku mikirnya begitu." jawab Nanta yang masih dirangkul Micko.
"Mau kamu ajak kemana mereka?" tanya Kenan pada Nanta.
"Wilma sama Ando saja yang belum pernah ke Malang, aku tidak tahu mereka minta ke bromo apa tidak." jawab Nanta, mencoba membayangkan tujuan wisata untuk sahabatnya, ia memikirkan Wilma dan Ando, kalau tidak Ke Bromo sayang sekali, mumpung mereka di Malang, tapi apa sempat waktunya, mengingat acara ice skating dimulai sabtu siang, belum lagi memikirkan pertemuan Om Micko dengan Dania. Kenan menganggukkan kepalanya mendengar jawaban Nanta.
"Om, bagaimana skenario pertemuan Om dengan Dania nanti?" tanya Nanta kemudian pada Om Micko.
"Harus pakai skenario kah?" tanya Micko memandang Kenan.
"Aku tidak tahu Dania seperti apa, kalau mereka menginap di rumah, Abang datang saja, bisa kan kita bilang kebetulan. Tapi kalau di hotel, apa Abang akan mengundang Dania makan siang atau ada ide lain?" Kenan ikut bepikir.
"Om ikut Nanta jemput ke Bandara." kata Raymond terkekeh.
"Seperti jemput aku dulu ya?" Nanta ikut tertawa ingat pertemuan pertama dirinya dengan Papa setelah beberapa tahun tidak bertemu.
"Iya berkesan kan?" Raymond terkekeh.
"Dalam hati nangis aku tuh, lihat Papa dikursi roda begitu." kata Nanta pada Raymond.
"Oh ya? kamu sedih lihat Papa dulu?" tanya Kenan tak percaya, ingat betapa ketusnya Nanta setiap kali menjawab pertanyaannya dulu.
"Sedih lah, namanya juga Papa aku, untung saja panjang umur." kata Nanta tertawa, Kenan jadi berkaca-kaca karena terharu.
"Tuh kalau sudah tua begitu, gampang sekali terharu." kata Raymond merusak suasana yang ada, Kenan jadi tertawa dan menjewer telinga keponakan kesayangannya.