I Love You Too

I Love You Too
Jangan Sampai



Pagi ini Nona berangkat ke kantor bersama Raymond. Tadi setelah sholat shubuh menurut Raymond Ayah Eja dan Om Kenan berangkat ke bandara, mereka akan ke lima kota besar beberapa hari ini.


"Kamu tidak ikut, Ray?" tanya Nona dalam perjalanan menuju kantor.


"Kalau aku ikut, Kak Nona bagaimana, Om Kenan menugaskan aku selain dikantor juga menjaga Kak Nona."


"Maaf Ray, jadi merepotkanmu." Nona jadi tidak enak hati.


"Santai saja, Kak. Kantor dan rumah dekat dan tidak merepotkan sama sekali. Kamu sensitif juga ya ternyata." Raymond terkekeh melihat ekspresi Nona.


"Aku selalu takut menjadi beban orang lain Ray. Sebisa mungkin aku tidak ingin merepotkan, tapi Papa selalu saja membuat orang disekitarku jadi repot."


"Tidak apa, yang direpoti Om Kenan. Aku hanya mewakili sebentar. Sudah ah, kak Nona kalau serius begini, tidak asik." kata Raymond sambil tertawa. Nona pun ikut tertawa jadinya.


"Kak Nona mau tidak jadi istri Om Kenan?" tanya Ray tiba-tiba.


"Ray, kamu bilang tidak mau serius, tiba-tiba tanya yang lebih dari serius. Aku tidak bisa jawab."


"Kenapa? malu ya?"


"Ray, sabtu aku janjian sama Nanta loh, kamu mau ikut tidak?" Nona mengalihkan pembicaraan.


"Nonton Nanta main basket ya, aku absen dulu, mau ajak Bunda jalan-jalan."


"Nanta ditemani Papa dan calon Mama saja." goda Raymond tertawa puas.


"Ray kamu bercandanya selalu mengarah kesana." wajah Nona kembali memerah menahan malu.


"Aku tidak bercanda, aku mendoakan." kekeh Raymond


"Terserah kamu saja. Tapi aku risih juga lama-lama. Aku khawatir Mas Kenan terganggu dan kalau ternyata dia punya calon sendiri, pasti akan jadi masalah."


"Ok, aku minta maaf, tidak ganggu Kak Nona lagi deh, ganggu Om Kenan saja." kekeh Ray lagi. Nona menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Dari pagi hingga sore ini, walaupun sibuk dengan pekerjaannya, Nona tidak pernah lelah melirik pada handphonenya, berharap Kenan akan menghubunginya, menanyakan kabar atau sekedar mengajak ngobrol. Sepertinya memang tidak boleh berharap lebih sama Mas Kenan, seminggu tanpa kabar sudah terlewati, sekarang kumat lagi, keluh Nona membuat moodnya rusak. Bodohnya gue, kalau terus begini bakal gue yang bertekuk lutut bukan Mas Kenan, batin Nona.


Menunggu Raymond menjemputnya, Nona menghubungi Samuel.


"Baru ingat sama Samuel lu? baru menghubungi sekarang." semprot Samuel pada Nona


"Ih Judes."


"Ada apa telepon? gue lagi banyak pasien." kata Samuel terburu-buru.


"Huhu mau curhat padahal. Kamu ya sibuk oh, sebel aku." kata Nona sok sopan gitu, tapi terdengar Manis ditelinga Samuel.


"Hahaha kenapa? Mas Kenanmu apa kabar?"


"Mas Kenanku? Mas Kenanku. Lagi ke luar kota orangnya."


"Kasihan, sepi ya?"


"Hmmm...Sam kacau nih." Nona meringis.


"Kenapa?"


"Tidak jadi, nanti saja ya. Ray sudah jemput." Nona segera mematikan sambungan teleponnya begitu melihat pesan dari Raymond yang mengabarkan ia sudah di lobby.


Nona menghampiri Raymond, segera memasuki Mobil, tapi sempat terhenti karena ternyata ada Tari bersama Raymond.


"Loh Mbak Tari, apa kabar?" sapa Nona ramah begitu duduk dibangku penumpang belakang.


"Jadi tebenger dulu nih Non, Mas Bagus lagi menemani Nanta ke pameran buku, jadi aku minta Ray drop aku kesana, sekalian lewat." kata Tari pada Nona dengan senyum manisnya.


"Nanta suka baca juga ya?"


"Dari kecil dipaksa suka membaca sama Papanya, jadi kebiasaan sampai sekarang." Nona mengangguk saja, jadi kangen Papanya Nanta, Nona menepuk dahinya.


Drrrtttt....drrrtttt handphone Raymond berbunyi.


"Iya Om."


"Kamu sudah jemput Nona?"


"Sudah Om."


"Sudah jalan pulang?"


"Iya, ini lagi dijalan."


"Berdua saja?"


"Oh Tari tumben ikut kamu, ada apa?"


"Mau menyusul Nanta dan Om Bagus ke pameran buku."


"Oh ya sudah, hati-hati Ray."


"Ok, Om."


Raymond menutup sambungan teleponnya tanpa berkata apapun. Mas Kenan bisa telepon Raymond, tapi tidak bisa telepon aku ya, kesal Nona dalam hati. Salahnya aku sih berharap lebih, padahal bukan siapa-siapanya Mas Kenan. Wajah Nona seketika tampak mendung. Bagaimana mau bikin Mas Kenan bertekuk lutut, kalau Mas Kenan saja tidak menanyakan kabarku. Nona sibuk berkata-kata dalam hatinya tanpa tahu isi pembicaraan Kenan dengan Raymond. Yang Nona tangkap tadi, Kenan menanyakan Tari bukan Nona, padahal Raymond sudah menyebut nama Nona juga tadi.


Raymond sudah membelokkan mobilnya disalah satu gedung penerbit buku yang mengadakan pameran. Tampak banyak orang lalu lalang.


"Kak Nona mau mampir dulu atau kita langsung?" tanya Raymond pada Nona.


"Langsung saja ya, Nanti Roma dan Bunda menunggumu." Nona mengingatkan, lagi pula Nona sedang tidak mood.


"Tidak mau bertemu Nanta?" Tari menawarkan.


"Sabtu saja, aku janji menonton Nanta lomba basket."


"Oh iya, kebetulan aku dan Mas Bagus berhalangan, jadi kamu dan Mas Kenan yang wakilkan ya." Tari menepuk bahu Nona pelan.


"Salaam untuk Nanta dan Mas Bagus ya Mbak." kata Nona kemudian pindah kebangku penumpang depan. Tari menganggukkan kepalanya.


Setelah Tari menghilang dari pandangan, Raymond melajukan kendaraannya.


"Ada yang mau dibeli?" tanya Raymond, Nona menggelengkan kepalanya.


"Lesu sekali, baru ditinggal sehari." Raymond mencibir pada Nona.


"Apa sih Ray, aku mengantuk saja." kata Nona tak mau jujur.


"Benar kata Om Kenan, Kak Nona tidak bisa dibiarkan menyetir sendiri kalau moodnya cepat berubah seperti ini."


"Kalian membahas aku dibelakangku ya?"


"Hahaha curhat para lelaki." Raymond terbahak.


"Kalian saling curhat?" Nona tampak tidak percaya.


"Memangnya perempuan saja yang bisa curhat. Sebenarnya bukan curhat sih, hanya pembicaraan ringan hingga berat hahaha." Raymond kembali terbahak ingat Om Kenan yang sempat meminta saran Raymond tentang Nona.


"Jadi benar ya, Kak Nona lesu kalau tidak ada Om Kenan?"


"Kata siapa?" Nona ingin menyangkal.


"Kata Oma dan Opa." Raymond terkekeh.


"Ray turunkan aku di toko buah ya, nanti kamu langsung pulang saja, aku bisa jalan kaki ke rumah." Nona teringat stok buah dirumah Mama Nina sudah hampir habis.


"Toko buah dekat rumah kan? aku tunggu saja, hanya membeli buah toh, bukan membantu abangnya melayani pelanggan."


"Rese.. iya hanya beli buah." Nona tertawa mendengar hayalan Raymond menjadikannya ikut aktif bekerja di toko buah.


Tak lama Nona datang dengan membawa dua plastik besar buah yang baru saja dibelinya.


"Untuk di rumahmu satu ya Ray." katanya memisahkan plastik buah untuk dirumah Raymond.


"Tahu saja dirumah tidak ada buah." kata Raymond senang.


"Tadi pagi pada sarapan berat semua kan?" Nona tertawa teringat tadi pagi tidak bisa minum jus di rumah Raymond, padahal Kiki sudah penuh percaya diri menawarkan Nona jus melon.


"Lulus jadi calon istri Om Kenan." kata Raymond tersenyum jahil.


"Lulus apanya." dengus Nona kesal mengingat sampai sekarang, Kenan tidak juga menanyakan kabar Nona.


Andai saja Nona tahu, dari tadi dikantor Raymond sudah cukup pusing mengatur jadwal pekerjaannya dengan jadwal Nona, karena Kenan pesan jangan sampai Nona menunggu lama, jangan sampai Nona pulang sendiri, jangan sampai Nona diantar orang lain dan banyak jangan sampai yang lainnya.


Raymond mengantarkan Nona sampai didepan rumah Oma, tak mampir lagi setelah Nona menghilang dari pandangan, Raymond segera kembali kerumahnya, Salah satu pesan Om Kenan pastikan Nona masuk kedalam paviliun, baru Raymond boleh pulang. Keponakan dan anak buah yang baik pastinya menuruti perintah tanpa membantah.


"Sudah sampai Ray?" tanya Kenan via telepon.


"Om, telepon langsung saja Kak Nona, aku capek." kata Raymond malas. Kenan terkekeh dibuatnya.


"Om lagi sibuk, tanya saja ayah." kata Kenan berdalih.


"Sibuk apanya, setiap sebentar mengecek posisi aku terus. Kalau memang kangen Kak Nona telepon saja, Ray rasa Kak Nona juga kangen sama Om, tadi wajahnya tampak sendu." kata Raymond apa adanya.


"Tidak, tanya kamu saja." kata Kenan menolak, entah kenapa tidak mau menghubungi Nona, tapi lebih suka menanyakan pada Raymond.