I Love You Too

I Love You Too
Janji



Makan siang berlangsung lancar, tidak ada satupun yang menggoda Nanta dan Dania, para orang tua sibuk membahas urusan mereka, Winner dan Lucky bergabung mendekati Balen karena memang Balen sangat menyita perhatian.


Nanta boleh menarik nafas lega karena Papa menepati janjinya.


Pertunjukan segera dimulai, mereka menempati bangkunya masing-masing, lagi-lagi Wilma bicara akrab dengan Salah seorang pengisi acara, membuat Ando sedikit kesal karena mereka tertawa akrab saat ini.


"Are you nervous (apa kamu gugup)?" tanya Wilma saat melewati teman barunya.


"No sweety, more nervous when I see your smile." Wilma terbahak, semakin kesal saja Ando mendengar ketika bule itu berkata dia lebih gugup jika melihat Wilma tersenyum.


"Jadi orang jangan terlalu ramah." ketus Ando pada Wilma.


"Aku kan cuma basa-basi. Lagipula aku tidak mengerti dia jawab apa." jawab Wilma konyol, tentu saja dia berbohong. Nanta menarik kecil rambut Wilma dari belakang sambil terkekeh, ada saja kelakuannya.


"Baen dudukna sama Aban ya." pinta Balen yang sudah melunak pada Nanta karena dijanjikan akan diajak jalan-jalan setelah ini.


"Iya dong sama Abang." jawab Nanta yang sedari tadi menggendong Balen. Richi tidak diajak, ia tinggal bersama pengasuh dirumah, karena Nona mau melihat pertunjukan dengan santai tanpa rengekan bocah yang harus diberi asi. Kalau Balen sih sudah bisa dipegang siapa saja dan sudah tidak rewel soal makan dan minum.


"Dan, kamu mendekatlah sama Papamu dan Tante Lulu. Mereka merindukan kamu selama ini." kata Nanta pada Dania, karena sedari tadi Dania selalu menempel pada Nanta.


"Begitu?" Dania tampak bingung.


"Memangnya kamu tidak rindu sama Papa? nanti setelah acara kan kita bareng lagi." kata Nanta pada Dania.


"Ya sudah, kamu sendiri dong Mas Nanta?"


"Hahaha kan ada Balen dan keluargaku yang lain." Nanta terbahak.


"Hahaha iya aku lupa, oke aku ke Papa ya, nanti aku jangan ditinggal." pesan Dania segera menghampiri Papanya. Jadilah Om Micko duduk diapit Tante Lulu dan Dania.


"Kenapa Nanta ditinggal?" tanya Micko tersenyum jahil pada Dania.


"Mas Nanta minta aku dekat Papa, karena sudah lama tidak bertemu." jawab Dania jujur.


"Hanya karena itu?" pancing Micko.


"Iya, apalagi? hanya itu sih tadi yang Mas Nanta bilang." jawab Dania tersenyum. Micko merangkul anak gadisnya, terlihat sekali rindunya. Ia padahal ingin tahu apa Nanta membahas masalah perjodohan dengan Dania, tapi rupanya tidak.


Pertunjukan segera dimulai, kelima pasang peserta tampil bersama saat pembukaan acara. Meriah sekali membuat penonton takjut dan bertepuk tangan. Balen berdiri dipangkuan Nanta sambil terperangah.


"Badus." katanya pada Nanta.


"Balen suka?"


"Yah."


"Mau seperti itu?"


"Yah."


"Nanti kursus ya."


"Yah."


Kembali Nanta menciumi adiknya, terlihat Wulan dari kejauhan memandangi Balen yang sedang dipangku Nanta. Nanta pun melambaikan tangannya pada Wulan.


"Kiss bye Wulan." kata Nanta pada Balen.


"Mana?" Balen langsung celingukan.


"Itu." Nanta memutar kepala Balen kearah Wulan. Balen pun bersorak senang dan melambaikan tangannya pada Wulan.


"Setelah ini kita kerumah Wulan, mau ikut?" tanya Nanta pada Balen yang kembali fokus ke acara.


"Pain?" tanyanya acuh.


"Makan Pempek, terus pulang."


"Ote." jawab Balen mengacungkan jempolnya. Nanta terkekeh dan memeluk Balen, gemas.


"Pacal Aban mana?"


"Apa sih pacal itu?" tanya Nanta terkekeh.


"Taya Baen sama Ichi." jawab Balen sok tahu.


"Hahaha ayo nonton lagi Bagus tuh." Nanta mengajak Balen untuk kembali menikmati pertunjukan.



Semua bertepuk tangan melihat kedua pasang menari dengan sepatu rodanya, meliuk bahkan melompat Dan berputar tanpa takut terjatuh, benar-benar menakjubkan.


"Keren." Nanta mengajak Balen bertepuk tangan.


"Banget, keren pakai banget." jawab Wilma takjub.


Tanpa terasa pertunjukan yang memakan waktu kurang dari tiga jam itu pun berjalan sukses, semua penonton berdiri dan bertepuk tangan diakhir acara.


"Mau kenalan lagi sama penarinya?" Ando kembali ketus.


"Ish cemburu." Wilma terkekeh.


"Nanti aku kenalkan kamu sebagai pacarku."


"Ish menggelikan." kata Nanta pada keduanya.


"Iri lu?" tanya Ando sombong.


"Hahaha tengil, tidak lah." Nanta terkekeh.


"Makanya pacaran." kata Wilma tak kalah tengil.


"Tuh pacal Aban." tunjuk Balen pada Dania.


"Bukan, ini nih pacal Aban, singkong Rebus, gigit ya." Nanta gemas sekali menjahili Balen. Balen terkekeh geli sendiri ketika tangannya akan digigit Nanta.


"Aku kerumah Mama dulu ya Pa." pamit Nanta pada Papa ketika mereka sudah keluar ruangan.


"Mau apa?" tanya Oma yang jadi merasa Nanta menghindar dari mereka.


"Dania mau makan Pempek." jawab Nanta apa adanya.


"Menginap di rumah Oma kan?" tanya Oma pada cucunya. Nanta memandang Papanya yang hanya tersenyum memandang Nanta.


"Lihat nanti Oma." jawab Nanta mengambang.


"Kamu marah sama Oma?"


"Marah kenapa?"


"Karena mau dijodohkan?"


"Tidak, karena aku menolak." tegas Nanta tersenyum pada Oma.


"Kamu tidak suka Dania?" tanya Oma penasaran, hanya ada Nanta, Kenan, Nona, Balen dan Oma saat ini.


"Suka."


"Kenapa marah dijodohkan?"


"Karena kami baru kenal satu minggu."


"Ada yang belum kenal langsung dijodohkan."


"Jangan mutar-mutar Oma, Oma larang Nanta pacaran kan, Oke Nanta terima. Tapi jangan dijodohkan juga, kenapa dulu aku dijodohkan dengan Wilma, sekarang dengan Dania besok dengan siapa lagi? Aku bukan barang dagangan." Nanta bersungut kesal. Oma dan Kenan tertawa.


"Tapi kalian pegang-pegang tangan, Oma khawatir." Oma mencari alasan.


"Situasi darurat makanya pegang tangan, itu juga ada Papa dan Om Micko." Nanta berargumen, belum pernah Nanta seperti itu.


"Tapi kan Om Micko minta kamu menjaga Dania." kata Oma lagi.


"Iya, kan aku jaga dari semalam, Ame minta aku jaga Wilma juga aku jaga, aku antar jemput."


"Kamu jawab terus sekarang." Oma mulai kesal.


"Jadi Nanta harus bagaimana Oma? Nanta tidak mau dijodohkan, nikahkan saja sekalian." Nanta jadi ikut kesal.


"Hahaha benar ya dinikahkan."


"Iya nanti kalau sudah lulus kuliah, tugas aku banyak Oma, belum lagi semester depan mulai aktif di Warung Elite, jangan ditambah beban Nanta dengan. perjodohan. Biarkan saja mengalir, Nanta janji akan jaga diri dan jaga Dania. Please dong Oma." Nanta mulai membujuk Oma.


"Kalau kamu atau Dania tertarik dengan orang lain bagaimana?"


"Berarti memang kami tidak berjodoh, Ayolah Oma, aku tahu semua lelaki di rumah ini dijodohkan, tapi Nanta jangan sekarang, nanti saja kalau sudah lulus langsung menikah." bujuk Nanta lagi.


"Sama Dania?" Oma mesem-mesem.


"Apanya sama Dania?" sekarang Nanta yang mutar-mutar.


"Menikahnya Nanta, jangan mutar-mutar dong Oma pusing." Nanta terbahak dibuatnya.


"Nanta sayang Oma." langsung memeluk Oma.


"Nanti Nanta dan teman-teman menginap di rumah Oma, tapi jangan dijodohkan ya Oma, Papa sudah janji tuh, Oma juga ya, Please."


"Terserah kamu saja, awas ya kalau pegangan tangan diluaran, langsung kami paksa menikah kalian."


"Nah Oma ancam begitu nanti didepan Dania ya, dia yang suka minta pegang tangan hehehe."


"Nah kamunya mau saja."


"Hahahaha habis bagaimana dong Oma. I Love you." Nanta mencium pipi Oma dan langsung memisahkan diri.