I Love You Too

I Love You Too
Abimana Suryadi Syahputra (End)



"Leyi terima kasih ya, sudah mau temani aku terapi." Rumi tersenyum bahagia karena hari ini terapinya ditemani Larry.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Larry tanpa menggubris ucapan terima kasih Rumi.


"Hari ini terapi terakhir, Alhamdulillah." Rumi tampak bahagia.


"Bagus deh, jadi kamu jangan minum alkohol lagi ya. Kasihan keluarga kamu, lebih kasihan diri kamu sendiri sih. Kamu juga harus periksa kesehatan Rum, khawatir ada masalah dengan organ tubuhmu, aku mau kamu sehat." kata Larry lagi, ia lajukan kendaraannya perlahan.


"Iya, minggu depan Papi ajak aku MCU di S'pore." jawab Rumi, Larry anggukan kepalanya.


"Femi kenapa blokir handphone aku Leyi?" tanya Rumi.


"Tidak tahu." Larry gelengkan kepalanya.


"Kamu di blokir tidak?" tanya Rumi lagi, Larry mengedikkan bahunya.


"Kalian ribut?" tanya Rumi.


"Tidak." jawab Larry lagi.


"Aku pikir kalian ribut, aku salah apa ya? kamu tanyakan kalau bertemu Femi ya." pinta Rumi yang belum tahu cerita.


"Iya nanti aku tanyakan." jawab Larry, entah kapan mau bertemu Femi, rasanya tidak lagi.


"Kamu mau makan dulu?" Larry menawarkan.


"Pulang saja." jawab Rumi yang tidak sabar ingin segera sampai di rumah.


"Temani aku makan, aku dirumah sendiri." ajak Larry pada Rumi.


"Oh iya boleh, kamu mau makan apa?" tanya Rumi pada Larry.


"Tidak tahu, kamu mungkin ada ide?" tanya Larry.


"Kamu harus makan sehat kan?" Rumi tersenyum pandangi Larry.


"Yah."


"Warung Elite yuk." ajak Rumi, Larry terkekeh, itu restaurant andalan sepertinya.


"Tidak mau?"


"Mau. Ayo..." Larry putarkan kendaraannya menuju Warung Elite, sepertinya Nanta masih berada dikantornya.


Larry parkirkan kendaraannya, masih ada kendaraan Nanta disana. Ia dan Rumi pun turun dari Mobil segera masuk kedalam, tapi terlihat Nanta berjalan cepat menuju mobilnya.


"Kenapa Nan?" tanya Larry melihat sahabatnya terburu-buru.


"Dania melahirkan." kata Nanta, segera masuki kendaraannya.


"Nan, rumah sakit mana. Sini gue setiri, elu panik." Larry ambil alih segera setir kendaraan Nanta. Rumi duduk dibangku belakang, mereka tidak jadi makan tapi temani Nanta datangi istrinya yang melahirkan.


"Anak gue sudah lahir, gue tidak temani Dania." Nanta menghela nafas panjang.


"Alhamdulillah sehat kan Nan?" tanya Larry.


"Kata Mamon sehat, tapi kenapa mereka tidak kabari gue ya?" Nanta jadi bingung.


"Mungkin begitu datang langsung keluar anaknya." Rumi berasumsi.


"Selamat ya Nan." Rumi selamati Nanta.


"Apa anaknya Laki apa perempuan?" tanya Larry.


"Laki." jawab Nanta membuat Larry terkekeh.


"Punya jagoan kita." Larry langsung bersorak senang.


"Kalian dari mana?" tanya Nanta setelah agak tenang.


"Rumi terapi."


"Oh iya gue lupa." Nanta tertawa.


"Alhamdulillah terapi sudah selesai Nan." kata Rumi senang.


"Syukurlah." Nanta menarik nafas lega.


"Selamat datang Panta." sambut Raymond saat Nanta masuki ruangan rawat istrinya.


"Siapa yang temani kamu lahiran tadi? kok tidak kabari aku?" protes Nanta pada istrinya.


"Tadi cuma mau kontrol karena mules, Mamon yang temani." jawab Dania.


"Ajaib deh tiba-tiba anakmu keluar Nan, kita semua terkejut di ruangan dokter." Nona terbahak.


"Papa mana Mamon?" tanya Nanta.


"Lagi di jalan, semua baru kita kabari. Untung saja Raymond belum masuk kantor." kata Oma peluki cucunya.


"Tidak ada drama suami menangis disini." kata Oma menyindir Raymond.


"Ada drama suami kecewa karena anaknya lahir duluan, tidak tunggu Papan" Raymond terbahak.


"Kok Papan?" Nanta protes.


"Panta protes, Papan protes, jadi adik menurut saja sih." kata Raymond seenaknya, semua jadi tertawa.


"Mike sama Doni lagi Kesini." Larry kabarkan Nanta.


"Rumi, ini calonmu kah?" tanya Raymond pada Rumi.


"Iya." jawab Rumi santai.


"Ini Larry." Nanta terbahak.


"Iya Abangnya Balen kan?" Raymond terbahak, Larry ulurkan tangan pada Raymond dan perkenalkan diri.


"Kapan menyusul kalian?" tanya Raymond pada Larry.


"Tunggu hasil medical check up Rumi." jawab Larry tersenyum.


"Leyi..." kening Rumi berkerut.


"Kamu?"


"Ikuti Papa."


"Femi?"


"Kita sudah selesai." jawab Larry, Rumi jadi pandangi Larry tidak mengerti.


"Bingung." jawab Rumi garuk kepala.


"Iya tidak romantis makanya kamu bingung." Nanta terbahak.


"Kita berempat mana ada yang romantis sih." kata Larry membuat Nanta tertawa.


"Anakku mana Oma?" tanya Nanta yang belum melihat anaknya.


"Masih diruang rawat, sebentar lagi akan dibawa kesini." jawab perawat yang kebetulan ada diruangan.


"Duh namanya siapa aku belum siapkan." Nanta kebingungan.


"Mas Nanta bagaimana sih, kalau laki-laki kan Mas Nanta yang kasih nama." Dania langsung merengek kesal.


"Duh asli otak gue buntu." Nanta menghela nafas. Larry terbahak melihat sahabatnya kebingungan.


"Abang saja yang kasih nama ya?" Raymond tawarkan diri.


"Enak saja." Kenan yang baru datang langsung protes.


"Papa dan Papa Micko sudah siapkan nama untuk cucu kami." kata Kenan bangga. Rembukan berdua saja tidak ajak Nanta untuk berembuk.


"Abimana Suryadi Syahputra." Micko sebutkan nama cucu mereka.


"Tidak boleh protes itu artinya Bagus." kata Kenan lagi pandangi Nanta dan Dania.


"Iya aku tidak protes." jawab Nanta pasrah.


"Kebanggaan keluarga Suryadi dan keluarga Syahputra." kata Micko tersenyum bangga.


"Alhamdulillah urusan nama sudah beres ya." Nanta tertawa.


"Apalagi yang belum beres?" tanya Kenan.


"Mama belum ke Jakarta." Nanta meringis.


"Mamamu tidak bisa ke Jakarta baru melahirkan." kata Kenan.


"Ah iya aku lupa." Nanta menghela nafas.


"Mama Maya belum tahu." kata Nanta lagi.


"Tadi sudah telepon." jawab Dania, ah Nanta ketinggalan lagi.


Bayi lelaki putih tampan menggemaskan akhirnya datang menghampiri Papa dan Mamanya. Nanta langsung saja menangis haru saat melihat kehadiran putranya.


"Ya Allah..." kembali menangis memandangi putranya.


"Aku sudah punya anak ya." gumamnya membuat seruangan tertawa.


"Samat datan." Richie yang baru masuk ruangan bersama Bunda langsung hampiri keponakannya.


"Namana sapa nih Aban?" tanyanya pada Nanta.


"Abimana." jawab Nanta.


"Kok dicaiin, tan ada sini masih aja tanain mana." protes Richie semua jadi terbahak.


"Ah Papa tuh anakku dicariin katanya." Nanta mendengus kesal, Kenan tertawa geli dibuatnya.


"Abimana itu namanya Ichie, bukan karena dicariin." Kenan terbahak peluki Ichie gemas.


"Abi, ante Baen nih." Balen sapa keponakannya yang masih tertidur.


"Catep banet anat Baen nih." kata Balen pandangi Abi.


"Ante juga cakep." kata Larry pada Balen.


"Iya don." malah bangga bilang Iya, Larry jadi gemas dan mengacak anak rambut Balen.


"Bantakan ambut ante nih." katanya tengil, semua langsung terbahak.


"Duh mau punya baby." kata Rumi bicara pada diri sendiri.


"Medical check up di Jakarta saja, tidak usah di S'pore. Besok ya aku temani." kata Larry pada Rumi.


"Begitu?"


"Iya aku tidak sabar menunggu hasilnya." jawab Larry bujuki Rumi.


"Leyi kamu serius, mau menikah sama aku kalau aku sehat?" tanya Rumi memastikan. Larry anggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Ah Leyi..." Rumi langsung saja memeluk Larry menahan haru.


"Yumi, banyak keluarga Nanta nih." Larry ingatkan Rumi.


"Iya maaf." Rumi terkekeh.


"Ayo." katanya menarik tangan Larry.


"Kemana?"


"Temani aku daftar MCU." kata Rumi tidak sabaran. Nanta terkekeh melihat kedua orang itu.


"Semoga kalian berjodoh." kata Nanta tersenyum bahagia. Bahagia punya anak, bahagia juga sahabatnya sudah yakin dengan pilihannya. Nanta memandang Dania lalu ciumi pipi istrinya.


"I Love You." katanya membelai mesra Dania yang masih terbaring dikasur.


"I Love you too Mas Nanta sayang." jawab Dania ulurkan tangan minta dipeluk suaminya. Nanta pun memeluk Dania dengan hati-hati tidak peduli Papa dan yang lainnya pandangi keduanya yang sedang luapkan rasa bahagia dihati mereka.


Thank you sudah temani Nanta dan Dania. Kisahnya sampai disini ya. I Love you allπŸ’•πŸ’•