I Love You Too

I Love You Too
Rumah Papa



"Nanti siang saya dan Nanta yang akan menemani kamu ke rumah Papamu." kata Kenan pada Nona, membuat Nona terkejut, ia kemarin sudah bilang Papa kalau ia belum siap dan itu artinya Nona tidak akan datang ke rumah Papa hari ini. Tadi malam Raymond tidak jadi mengantar Nona pulang, mereka ngobrol sampai tengah malam. Acara panggang memanggang terus berlanjut seperti tidak pernah kenyang, padahal semalam perut terasa penuh, tapi tengah malam lapar lagi, jadi tetap saja habis tak tersisa. Papa Dwi meminta Nona untuk menginap saja mengingat hari sudah terlalu larut, sesuai rencana Kenan saat meminta ijin Baron agar Nona menginap.


"Aku belum siap, Mas Kenan." jawab Nona setelah sekian lama termenung.


"Kapan mau siap kalau kamu tutup diri, cobalah sekali ini saja berdamai, kalau memang tidak cocok dengan Mbak Mita, selanjutnya kalian tidak usah bertemu lagi dan hanya kali ini saya mau menemani kamu untuk urusan seperti ini." tegas Kenan sedikit memaksa.


"Memang mau kemana Om?" tanya Raymond Kepo.


"Kerumah Pak Baron, kamu dan Roma boleh ikut kalau mau." ajak Kenan seperti perintah.


"Tidak bisa, kebetulan sekali Chico dan istrinya nanti sore datang dari Yogya, aku mau menjemput mereka." kata Raymond yang baru saja mendapat telepon dari Chico.


"Nah Kak Nona, Chico itu salah satu dari si kembar tiga. Besok kalau mau kenalan, akan ku ajak makan siang bersama, mau bergabung?" Raymond menawarkan.


"Bicarakan itu nanti Ray, Nona harus memutuskan acara siang ini. Bagaimana Nona?" tanya Kenan lagi. Nona menghela nafas panjang, kenapa gaya bicaranya penuh penekanan sih, pemaksaan. Gue harus bilang apa? Nona tampak berfikir.


"Kalau tidak mau ya sudah, saya tidak memaksa. Nanta kita dirumah saja ya, tidak jadi pergi. Atau kamu mau ajak Papa kemana?" kata Kenan pada Nanta. Sementara Nanta menggelengkan kepalanya, ia hanya ingin leyeh-leyeh hari ini.


"Mas Kenan ih menyebalkan." dengus Nona kesal.


"Loh???" Kenan menatap Nona bingung, lalu memandang Raymond dan mereka berdua terkekeh.


"Kenapa?" tanya Kenan pada Nona sambil menahan tawa.


"Aku kan masih mikir, langsung saja bilang tidak jadi." dengus Nona lagi.


"Jadi bagaimana? mau berfikir berapa lama?" tanya Kenan meminta kepastian.


"Ya sudah aku mau, tapi temani jangan hanya di drop. Disana jangan lama-lama, kalau masih lama Nanta misscall aku, nanti aku langsung minta pulang." Nona menyusun skenario.


"Iya." jawab Nanta masih dengan roti ditangannya.


"Mau pulang nanti tinggal pulang saja, jangan pakai drama." kata Kenan pada Nona. Nona mengerucutkan bibirnya, Pagi ini Kenan sepertinya lebih galak.


Siang hari mereka berangkat ke rumah Baron, sebelumnya Kenan sudah memberi tahu Baron kalau Ia, Nona dan Nanta dalam perjalanan ke sana. Agar Baron menyiapkan kemungkinan yang ada. Dengan bekal baju seadanya Nona pergi, sebenarnya ia tidak terlalu memikirkan penampilan, apalagi sekarang weekend.


Perjalanan ke rumah Baron hanya memakan waktu tiga puluh menit Dari rumah Kenan. Sepertinya Kenan cukup sering ke rumah Baron, karena perjalanan sangat lancar tanpa nyasar.


"Ayo turun." ajak Kenan pada Nona dan Nanta.


"Ini rumah Papanya Kak Nona. Bagus loh rumahnya." kata Nanta pada Nona.


"Aku saja baru kali ini kesini " bisik Nona pada Nanta takut terdengar Kenan yang lagi jutek.


"Kenapa baru kali ini?" tanya Nanta polos.


"Sama seperti kamu yang baru kemarin menginap dirumah Papa kamu kan?" Nona menjulurkan lidahnya pada Nanta, mereka pun tertawa bersama, seperti merasa senasib.


"Kenapa tertawa, seru sekali?" tanya Kenan menoleh ke arah Nanta dan Nona, sedari tadi ia melangkah lebih dulu, Nona dan Nanta berjalan dibelakangnya.


"Ada deh." jawab Nona dengan muka tengil, Kenan terkekeh Dan mengusap wajah Nona dengan telapak tangannya.


"Ih Mas Kenan." teriak Nona sambil menyelamatkan wajahnya sambil memegang tangan Kenan, Nanta tertawa-tawa melihatnya.


"Tengil." kata Kenan sambil menggelengkan kepalanya.


"Mas, mana satpamnya?" tanya Nona merasa heran Kenan dengan mudah membuka gerbang rumah Papanya. Tampak Mobil Deni sudah terparkir disana.


"Tidak ada satpam, pakai sensor." jawab Kenan, kemudian membuka pintu rumah dengan password yang sudah diberitahu Baron tadi.


"Jangan ngomel terus, ayo senyum." tegur Kenan ketika mulai mendekati semua yang sudah berkumpul di meja makan.


"Sayang, kamu datang juga." Baron tampak semangat menyambut Nona, sementara Deni dan Samuel tersenyum sumringah melihat Nona bersama Kenan dan Nanta.


"Nanta, kamu ikut sayang. Kok bisa?" tanya wanita yang sedari tadi berdiri disamping Papa Baron.


"Ya bisalah, kan anak Saya." jawab Kenan tertawa.


"Iya aku tahu anak kami, Ken. Tapi ini langka loh." kekeh Mita yang tahu cerita Kenan dan Nanta.


"Semalam menginap dirumah Papa, Bude." jawab Nanta setelah menyalami semuanya. Mita mengangguk sambil merangkul Nanta.


"Halo Nona." sapanya ramah. Nona hanya tersenyum kaku, menganggukkan kepalanya lalu duduk disebelah Deni.


"Keluarga bahagia." bisik Deni menggoda Nona.


"Maksudnya? jangan cari gara-gara deh." dengus Nona sebal.


"Sombong ya, sudah tahu kita mau datang, tidak telepon." kata Samuel pada Deni dengan dagu mengarah pada Nona.


"Hehehehe." Nona nyengir sambil menggaruk kepalanya, ia baru sadar sama sekali tidak menghubungi Samuel dan Deni selama berada dirumah Kenan.


"Sudah ada yang jaga, jadi kita sudah tidak dibutuhkan." kata Deni lagi pada Samuel.


"Terus saja menggoda Nona, awal kalau dia ngambek." ancam Baron pada Deni dan Samuel. Mereka terkekeh dibuatnya, Deni langsung merangkul adik kesayangannya.


"Kangen gue. Betah ya disini, kapan Ke cirebon lagi?" tanya Deni pada Nona.


"Bukannya kalian senang ya, waktu itu bukannya teriak Horee bisa cari pacar." balas Nona menirukan teriakan Deni saat Nona berangkat ke Malang.


"Ternyata kita kesepian Non, asli." jawab Samuel jujur.


"Makanya cepat cari pacar." kata Nona menggoda Samuel.


"Belum ada yang mau." jawab Samuel dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin.


"Nona siap jadi pacar kamu, Sam." sahut Kenan ikut menggoda Nona dan Samuel.


"Oh tidak bisa." jawab Deni dan Samuel berbarengan, kemudian mereka tertawa bersama. Walaupun tidak mengerti kenapa tidak bisa, tapi Kenan ikut tertawa bersama mereka, karena gaya Samuel dan Deni sangat kompak dan lucu sekali.


"Jodohnya Nona sudah didepan mata, Samuel sudah seperti abangnya sendiri." timpal Baron, yang membuat Kenan tegang karena tahu kemana arah pembicaraan Baron.


"Samuel itu tidak mau sama aku, Mas. Aku sih mau saja kalau Samuel Lamar aku sekarang." jawab Nona terkekeh memandang Samuel.


"Percuma di Lamar, tapi dia tidak ada getaran saat bersama aku." timpal Samuel seperti curcol.


"Memang harus ada getaran?" tanya Nona.


"Setidaknya ya ada rasa debar-debat atau bagaimana gitu kalau dirayu atau digandeng tangan, ini santai saja seperti menggandeng pelepah Pisang." dengus Samuel dan lagi semua tertawa.


"Mungkin karena mereka terbiasa bersama sedari ingusan, lagi pula Samuel sudah menjadi anak Saya juga dari dia kecil. Mereka adik kakak semua, bagaimana mau dijodohkan." kata Baron menjelaskan pada Kenan.


"Oh anak angkat kamu ternyata Samuel ya." kata Kenan yang baru mengerti kenapa Deni tidak merestui hubungan Samuel dengan Nona.


"Iya. Saya punya tiga anak. Sekarang sedang mencari menantu untuk anak perempuan Saya. Sepertinya kamu cocok." jawab Baron tanpa sungkan berbicara dihadapan semuanya, membuat Nona jadi salah tingkah.